Waktu Itu

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Romantis, Cerpen Galau, Cerpen Penantian
Lolos moderasi pada: 18 December 2018

DETIK demi detik berlalu begitu lamban. Jarum panjang jam paris di pergelangan tanganku tak juga mau bergerak cepat. Entah sudah yang keberapa kali aku melihat, menghitung dan berharap. Adakah setitik kebahagiaan untuku malam ini?

Waktu itu, tepatnya satu tahun yang lalu 5 Agustus 2016 aku berulang tahun. Sejak pukul satu dini hari sudah banyak temanku yang mengucapkan selamat dan memberikan doa untukku. Tetapi, ada yang masih kutunggu, dia yang jauh di mata. Kutunggu doanya untuk menyejukan hatiku. Aku tidak berharap banyak darinya. Hanya telepon dan ucapan selamat.

Hingga pagi hari aku terbangun dari tidurpun, kulihat ponselku, tetap saja tidak ada panggilan telepon ataupun bbm masuk darinya. Setiba aku di kantor, aku sangat terkejut saat ponselku berdering telepon masuk, Aku berharap sekali dia yang aku tunggu, tapi ternyata?
“Ahh, sudahlah bukan dia. Melainkan dosenku. Aku tak menyangka, dosenku saja meneleponku untuk mengucapkan selamat padaku. Memang sih, dulu aku sempat dekat dengan dosenku itu. Hmmm, ahh sudahlah, waktu itu yang aku pikirkan dia. Dia? Dia yang jauh di sana yang selama ini menjadi orang terdekatku, malah tidak mengucapkan selamat.

Bahkan hari itu dia pun tidak ada kabar seharian. Hingga keesokan pagi harinya pun dia juga masih tidak ada kabar, menghubungiku juga tidak. Jujur, aku sedih sekali. Rasanya ingin menangis. Dia benar-benar lupa, tidak tahu sama sekali atau sengaja? Atau mungkin dia sibuk dengan pekerjaanya di sana?. Aku terdiam dan tak mampu lagi berkata-kata. Hingga air mata mengalir di pipiku.

Tapi aku masih menunggu. Kurebahkan diriku diatas kasur di kamarku. Masih kugenggam erat ponselku yang berwarna hijau tosca ini. Keinginananku besar sekali untuk menghubunginya dan bertanya padanya. Jantungku bergerak cepat, namun jari-jemari ini terasa begitu lemah untuk menekan tombol panggil ponselku.
Aku masih bertahan untuk tidak menelepon ataupun bbmnya terlebih dahulu. Sampai keesokan pagi harinya, dia juga tidak menghubungiku. Aku mulai lelah menunggu dan enggan untuk berharap.

Aku memang enggan untuk berharap lagi, tetapi dalam lamunanku tak sengaja terlintas di benakku teringat tahun yang lalu 2015. Tepat di hari ulang tahunku dia juga tidak mengucapkan selamat padaku, padahal waktu itu kami masih satu rekan kerja di salah satu instansi pemerintah daerah kabupaten musi rawas. Hanya, pada waktu itu aku berfikir, mungkin karna kami belum terlalu dekat dan itu pun juga tahun kedua kami bertemu dan kenal. Tapi, meskipun aku berfikirnya begitu, tetap saja dalam hatiku masih berharap dia mengucapkan selamat padaku.

Masih dihari yang sama, sore harinya di parkiran motor di kantorku. Ketika kami hendak pulang dengan mengendarai motor aku terkejut sekali melihat ada boneka hellokitty mungil yang lucu dengan beberapa coklat silverqueen di box kecil motorku. Mataku langsung melirik ke arah teman-temanku yang ada diparkiran, mereka senyum-senyum sambil menyorak “Ciee, ciee”. Akupun tersipu malu. Aku tak berkata apa-apa pada mereka, hanya senyum mengembang yang terus kusebarkan.

Entah, dengan begitu pede-nya berkata dalam hati “aku yakin ini pasti dari dia” yang aku tunggu. Kegalauan dan kesedihan itu hilang dalam sekejap dan bunga-bunga indah seolah berjatuhan di atas kepalaku dan mengelilingi seluruh tubuh ini saat aku tahu ternyata memang dia yang meletakan boneka lucu hellokitty dan beberapa coklat silverqueen dimotor tanpa sepengetahuanku itu. Sampai aku kembali ke rumah, kulihat ponselku dia mengirimkan pesan singkat bbm yang berisi “Hellokittnya pasang dikaca ya, biar tiap ngaca selalu inget abang”. Uwaahh…

Tak sengaja dengan lamunanku itu, aku pun berfikiran bahwa dia akan melakukan hal yang sama dengan memberikan kejutan untuk kedua kalinya seperti tahun lalu 2015. Ahh, tapi waktu itu aku tidak terlalu berharap sih, karena aku dan dia sudah tidak satu rekan kerja lagi, jadi tidak mungkin dia melakukan hal yang sama seperti tahun lalu. Walaupun terkadang khayalanku itu menjadi nyata.

Ehh, tiba-tiba sekitar pukul 13.00 Wib siang hari bolong dengan trik sinar matahari yang begitu luar biasa. Tersadar dari lamunanku yang lumayan jauh, ketika ponselku berdering telepon masuk. Aku fikir dari dia. Ternyata nomor tak dikenal yang meneleponku waktu itu. Sempat ragu untuk mengangkat telpon itu, tapi tanpa berfikir panjang aku terima telponya karna aku fikir mungkin saja itu penting dan ternyata itu telpon dari Kurir JNE yang akan mengantarkan paketan dari dia orang yang aku tunggu.

Hah! Jantungku berdetak kencang, setelah menerima telepon dari kurir JNE itu. Aku jadi tidak sabar dan penasaran kira-kira paketan apa yang dia kirimkan kepadaku. Tapi waktu itu aku tidak mau senang dulu sebelum aku tahu isi paketan yang dia kirim. Takutnya, paketan itu bukan untukku melainkan untuk orangtuanya ataupun orang lain yang sengaja dititipkan padaku.

Tak lama, kira-kira sepuluh menit kemudian tibalah kurir JNE yang mengantarkan paketan itu. Dan ternyata paketannya memang untukku yang berisi kado yang indah, dan tentunya itu dari orang yang aku tunggu. Ohh, aku bahagia sekali waktu itu, Sungguh! dia penuh kejutan. Ternyata paketan kado yang dia kirimkan padaku, memang sudah lama dia persiapkan untukku. Dia kreatif sekali, aku nya saja yang tidak sadar. Dan waktu itu merupakan kejutan yang kedua kalinya. Tanpa menunggu lama aku langsung menghubunginya. Lalu dia bilang begini “Selamat hari kelahiran ya, semoga ini menjadi moment yang tepat untuk menjadi pribadi yang lebih hebat, sengaja ngucapinnya terakhir biar jadi orang yang terakhir juga”. Bahagia sekali aku waktu itu.

Cerpen Karangan: Indah Yurniza G
Facebook: Indah ‘Ndah’ Indah
Cuma penulis awal yang dulu pernah karya tulisku yang pertama berjudul “Mama”, diterbitkan dalam buku Benny Arnas “Tuhan Tahu dan Tidak Menunggu” tahun 2015 bersama penulis-penulis hebat di Kota Lubuklinggau.

Cerpen Waktu Itu merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


(Bukan) Untukku

Oleh:
Lagi. Lagi dan untuk kesekian kali aku hanya bisa menatapmu dari kejauhan. Menggapaimu melalui mimpi, merasakan cinta ini dengan cara yang semu, menanti tanpa sebuah kepastian. Tahukah kamu? Kamu

Bersamamu

Oleh:
“Untung kamu sudah datang, pembukaan lomba bentar lagi mulai tuh.” Pak Sartono – guru agama di SMP 2 Mataram tempat aku sekolah – mengomeliku yang datang tergopoh-gopoh berlari kecil

Cinta Tak Pernah Salah (Part 1)

Oleh:
Senyum manisnya, suaranya dan gerak tubuhnya begitu menarik di mataku, entahlah ada apa denganku tapi melihat pria itu datang setiap pagi dan sore membuatku selalu betah memandanginya. Seperti sore

Akankah Menjadi Nyata?

Oleh:
Tak tahu apa yang akan ku lakukan lagi. Di sekolah aku hanya diam dan tersenyum saat temanku membuat adegan lucu. “kamu sakit, cit?” tanya sari kepadaku. Aku hanya memandangi

Inikah Cinta? Tapi Mengapa?

Oleh:
Kenalin saja nama ku raya adinata masih duduk di kelas 2 sma, kehidupanku? Yah sama seperti kalian, aku yang memang dari awal menginjak masa remaja tidak pernah ngerasain yang

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *