“A” Kingdom

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Gokil
Lolos moderasi pada: 16 May 2016

Suatu hari Raja Koko terserang penyakit komplikasi yang membuat dia harus dirawat di rumah sakit kerajaan. Setelah diperiksa tabib kerajaan, ternyata penyakit itu adalah penyakit yang sangat mematikan dan harus dicari segera obatnya. Bahkan saking mematikannya tidak ada yang berani memberi nama penyakit itu. Orang-orang hanya menyebutnya Penyakit Mematikan. Atas pernyataan itu Alfred pun dipanggil untuk diamanahi mencari obat itu.

“Tapi bagaimana caranya?”
“Carilah obat itu di puncak Gunung Laya-Laya. Di sana terdapat bunga yang sangat indah, namanya bunga Tijan. Ambillah satu dan sirami bunga yang lainnya agar bunga itu tetap hidup dan bisa menolong orang lain. Dulu gunung itu bernama Gunung Laya-Laya, namun kini namanya sudah berubah menjadi Gunung Lalalayeyeye karena sekarang sedang diserang oleh makhluk berspesies Alayer Ngerusakterus. Orang-orang menyebutnya ‘alay’. Kamu harus cepat bertindak atau Ayahmu tidak akan terselamatkan.”

“Kamu memiliki dua misi pada kali ini, yaitu mengambil bunga Tijan dan juga menyelamatkan gunung Lalalayeyeye. Jika gunung itu punah maka penyakit-penyakit yang sulit diobati tak akan bisa diobati lagi. Gunung itu adalah peninggalan raja pertama kerajaan ini, Raja Miharja. Pergilah sekarang juga. Selamatkan semua orang.”
“Sendirian banget?”
“Ambillah ini. Ini adalah sebuah tongkat sakti. Kalau kamu patahkan menjadi dua, maka akan menjadi dua buah tongkat sakti. Hahaha.” Tabib kerajaan tertawa. Alfred tidak tertawa.

“Di sana mungkin kamu akan bertarung dengan alay-alay yang bersenjata tongsis, smartphone, dan gear. Prinsipnya, rusak saja smartphone mereka dengan tongkat ini dan bertarunglah dengan mereka secara laki-laki. Mereka sebenarnya lemah. Mereka berbadan kekar tetapi bermental mawar. Mereka berwajah garang tetapi bernyali kacang. Maka dari itu, dalam keadaan tersudut, mereka akan bersatu dan berubah menjadi Monster Alay XII fighting mode. Hanya itu yang aku tahu, Tapi konon makhluk itu belum ditemukan kelemahannya. Itulah tugasmu sebagai putra raja satu-satunya. Oh, satu lagi informasi yang aku tahu. Monster Alay XII Fighting Mode memiliki senjata berbahaya, yaitu tongsis++. Tongsis yang bukan hanya berfungsi sebagai tongsis. Titi Dije.”

Alfred pun memutuskan pergi dan membawa tongkat sakti pemberian tabib kerajaan yang sebentar lagi mungkin akan pensiun. Dia sudah menyiapkan bekal-bekal makanan bergizi dan minuman isotonik secukupnya. Kepergian Alfred disaksikan oleh seluruh rakyat dengan rasa takut dan penuh harap. Dia mulai melangkahkan kakinya satu per satu, diikuti teriakan, “Eeaa!!!” di setiap langkahnya.

Di tengah jalan, dia melihat sekelompok orang yang sedang makan siang. Melihat sekelompok orang itu, dia tidak bereaksi apa-apa dan tetap melanjutkan perjalanan. Beberapa langkah kemudian, dia melihat sebuah pohon yang biasa-biasa saja, daunnya normal seperti pada umumnya, warna batangnya juga seperti pohon pada umumnya. Jadi dia berlalu begitu saja. Nah, baru ini yang serius. Setelah agak lama berjalan kaki, dia melihat buah, bukan buah mengkudu buah pepaya, sudikah kamu jadi pacar saya, tetapi itu adalah BUAHaya!! Rombongan orang yang tadi sedang makan berjamaah berbondong-bondong lari ke arah Alfred sambil berteriak, “AAAAWWW!!! ALFRED!!! ITU KAN ANAK DARI RAJA KOKO!! SELFIE BENTAR DONG!!!!”

Alfred berusaha tenang, tampan, dan berani. Tongkat pemberian tabib kerajaan dia ayunkan ke arah rumput di sekitarnya. Rumput itu tetap menjadi rumput biasa-biasa saja. Bukan rumput bergoyang yang ditanyai setiap orang. Sekelompok orang asing itu berhenti sejenak, mengeluarkan smartphone, bersiap mengabadikan kejadian kalau-kalau rumput itu bisa berubah menjadi benda yang menakjubkan seperti hutan, cagar alam, atau benda hijau lainnya. Tapi ternyata tidak. Momen itu langsung dimanfaatkan Alfred untuk mengambil langkah seribu satu. Lima tahun menjadi atlet bulu tangkis pantai membuat lari Alfred menjadi konstan, terjaga, dan memiliki akselerasi yang baik serta bisa bermanuver dengan mantap. Dia pun lolos.

Setelah mendapat kepastian dirinya aman dari serangan sekelompok makhluk tak dikenal, dia beristirahat sebentar di bawah pohon. Baru beberapa detik saja dia duduk, tercium bau yang tidak sedap, bahkan bisa dikatakan busuk, lebih busuk daripada busuknya orang yang menikung temannya. Setelah melihat sekitar, ternyata banyak sekali sampah di tempat itu. Kebanyakan sampah adalah sampah kertas bertuliskan,

“Kapan Kita Ke Sini Bareng?”
“Aku Pengen Jodoh.”
“Tingginya Gunung Ini Tak Sebanding Tingginya Harapanku Memilikimu.”
“Turunkan Harga Cabe-cab*an!”
“Kami Butuh Renovasi, Bukan Relokasi,”
“Aku Ganteng,”
“Saras 008,” Dan ribuan tulisan-tulisan aneh lainnya.

Alfred mengeluarkan tongkat sakti pemberian tabib kerajaan, mengayunkannya ke arah sampah itu, dan PROK! PROK! PROK!!! Sampah-sampah itu tidak menunjukkan reaksi apa-apa. Ya, terpaksa ia harus melanjutkan perjalanan sambil membawa beberapa sampah yang dimasukkan ke dalam kantung plastik. Selangkah demi selangkah lama-lama menjadi lelah. Dalam keadaan lelah, akhirnya ia sampai di puncak gunung Lalalayeyeye. Bunga di sana cukup banyak, tapi masih lebih banyak bunga yang sudah rusak terinjak-injak. Banyak sekali orang yang menginjak-injak bunga itu sambil berfoto-foto. Itulah spesies alay itu. Ckckck.

Ratusan pasang kaki terus-menerus menginjak-injak hamparan bunga Tijan. Sungguh benar-benar makhluk yang membahayakan. Saatnya beraksi. Sambil berlari-lari kecil, ia mengeluarkan tongkat saktinya dan memukulkan pada tongsis yang dipakai alay itu. Hasilnya kamera yang ada di tongsis jatuh dan makhluk alay itu menangis dengan penuh kemenyean. Suaranya memekakkan telinga, menyayat hati, merajut kasih, menjalin cinta. Berada di pelukanmu mengajarkanku apa artinya kenyamanan. Mereka lari turun ke bawah sambil terus menangis dengan nada-nada yang sumbang.

Hal itu Alfred lakukan berulang kali kepada makhluk lainnya hingga habislah spesies alay itu. Semua menangis turun ke bawah. Waktu yang tepat untuk mengambil bunga itu.. Dipetiklah dua buah bunga (loh, buah atau bunga sih?) untuk dibawa pulang. Baru mau menginjakkan langkah pertama untuk pulang. Muncul sebuah monster yang sangat besar. Tingginya setara 20 kali tinggi kucing yang tingginya 100 cm. Lebarnya proporsional. WOW. Dia adalah monster alay XII Fighting Mode. Sebuah makhluk yang sama seperti spesies alay yang telah diusir tadi, hanya saja namanya lebih keren. Alfred bingung kenapa dia bisa disebut monster, ternyata di kaus bagian belakangnya ada tulisan “Aku monster loh. Gak mau jalan sama aku, tak makan kamu!” Dia bersenjatakan barang-barang hebat. Kalau puisinya Chairil Anwar sih, Pedang di kanan keris di kiri, tapi yang ini tongsis di kanan, smartphone di kiri.

Alfred bersiap dengan tongkat saktinya. Ia menyadari ternyata ada sebuah tombol pada tongkat itu. Dia penasaran dan memencetnya. Saat dipencet, terdengar bunyi “ADUH!!” Kaget sekaligus heran, itu yang dia rasakan. Ia coba pencet lagi. “ADUH!!” Suara itu muncul kembali. Begitu juga saat dipencet puluhan kali. Namun pada pencetak ke-100, bunyi yang keluar berbeda. “WOY!! PUNYA OTAK GAK SIH? UDAH DIBILANGIN ADUH BERKALI-KALI MASIH DIPENCET AJA!” Lalu ujung tongkat itu keluar api. Ternyata itu adalah tongkat api. Setelah tahu apa sebenarnya benda yang ia pegang, ia langsung fokus ke monster alay itu, berjaga-jaga apabila makhluk itu tiba-tiba melakukan tindakan yang di luar dugaan seperti melafalkan dasadarma pramuka, nyanyi nina bobo dalam bahasa Korea, atau goyang ubur-ubur tapi pakai kostum ikan paus. Dia memasang kuda-kuda, tapi sulit untuk dilakukan karena kuda-kuda yang dia pasang adalah kuda-kuda liar.

Monster alay menggerakkan tubuhnya, mengisyaratkan akan melakukan sesuatu. Dia memasangkan smartphone ke tongsis di tangan kanan. “Alay Photo Fire!!!” diayunkan seperangkat alat itu ke Alfred namun dia tetap lancar menghindarinya. Sesekali Alfred mengayunkan tongkat api ke monster itu, tapi juga bisa dihindari. Pertarungan berlangsung sangat seru. Saat ayunan terakhir, smartphone monster itu terlepas dari tongsis dan melayang ke arah Alfred. Dengan sigap Alfred mengayunkan tongkatnya hingga balik ke arah monster itu. Monster itu mengembalikkan dengan tongsisnya dan terjadilah pertandingan badminton smartphone. Dan smash! Pukulan monster itu terlalu kencang hingga terkena dada Alfred. Dia jatuh pingsan. Bunga di tangannya terlepas. Ternyata menjadi atlet profesional tidak menjanjikan kemenangan.

Setelah siuman, dia sudah berada di sebuah gubuk. Ia mencoba ke luar untuk memastikan di mana dia sekarang berada. Masih di puncak. Masih ada hamparan bunga Tijan. Alay kembali berfoto di atasnya. Bunga yang rusak semakin banyak. Namun wajah alay itu tetap tanpa dosa. Entah kenapa, melihat pemandangan itu dia tidak merasa terganggu. Lama dia terus memandangi alay-alay yang sedang berfoto. Tiba-tiba tangannya gatal, lalu seakan bergerak sendiri mengambil sebuah benda. Tongkat sakti pemberian tabib kerajaan. Tapi ada yang aneh. Ujung tongkat itu terdapat sebuah smartphone. Benar-benar seperti bergerak sendiri, dia mengambil foto selfie. Kemudian sesuatu terjadi pada tubuhnya. Dia kehilangan kendali. Sambil berteriak-teriak, dia berlari ke hamparan bunga Tijan dan ikut berfoto dengan alay lainnya. Ikut merusak bunga-bunga.

Kabar dari negeri yang dipimpin Raja Koko. Berhari-hari Alfred tak pulang, penyakit raja semakin ganas, keadaannya memburuk hingga raja jatuh sakit dan tutup usia. Semua orang bersedih. Semua penghuni kerajaan menghujat Alfred karena gagal mendapatkan obat dan tidak kembali berbulan-bulan. Satu tahun kerajaan itu tanpa dipimpin seorang raja. Belum ada pengganti yang tepat. Kabar buruk belum habis. Sepertinya virus alay sudah mulai menyebar, termasuk ke kerajaan itu. Setiap bulan purnama, orang yang terkena virus alay akan berteriak dan melakukan foto selfie. Di jidatnya akan muncul cahaya berbentuk huruf “A”. Dunia sedang gempar. Konon, ada sebuah kerajaan alay. Letaknya di puncak gunung Lalalayeyeye. Dipimpin oleh seorang raja bernama Raja Walfred. Akankah alay akan menguasai dunia? Ataukah akan ada seorang pembasmi alay yang tangguh? Ada atau tidak, dunia sedang membutuhkannya.

Cerpen Karangan: Listya Adinugroho
Facebook: Listya Adinugroho
Nama Listya Adinugroho. Salam kenal ya, oh ya beli juga buku saya, www.tinyurl.com/gawangmerah

Cerpen “A” Kingdom merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Cerita Akhir Pekan

Oleh:
“Mbak, lontongnya 1 berapa?”, “1500 mas!”, “Mahal amat sih bak!, kemarin saya beli di tempat lain harganya cuma 1000 ada bonusnya lagi!”, “Saya mau nanya mas?, mahalan mana lontong

Jokomen

Oleh:
Joko senang bukan kepalang ketika mendapatkan CD Super Hero dari tukang CD bajak*n terdekat, dia terus melihat-lihat cover CD itu dengan kagum, joko langsung mengeluarkan dompet dan membayar CD

Nagnatnat

Oleh:
Minggu pagi, gue lari, bukan lari dari kenyataan yang kata orang selalu menyakitkan, tapi gue lari pagi untuk menyehatkan badan. “Men Sana Incorpore Sano” kata guru olahraga gue artinya

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

2 responses to ““A” Kingdom”

  1. Sorano Mato says:

    Kak Listya ini ada lanjutannya gak ? atau blm keluar ? Aku nge-fans jadi ama kak Listya … Semangat terus jadi penulis cerpenmu.com y kak … ntar ceritanya aku baca semua … tetap jadi Author terbaik ya ! Ganbatte !
    LovenhugSoranoMato

  2. hahaha anjay. menghibur bgt. invite D10F8210

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *