Bukan Petak Umpet

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Gokil, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 10 February 2017

Cit ciit cuitt suara merdu burung Pipit di balik pepohonan membuat pagi hari ini terasa sangat istimewa. Ini hari minggu. Ada sesosok anak remaja sedang asyik melaju bersama motor bebeknya. Namanya Hasan. Saat melintas di jalan raya dia melihat sebuah papan bertuliskan ‘Foto Kopi’. Hasan pun berhenti. “Mbak, fotokopi satu, tidak pake susu. Nih kameranya pake HP ku saja!” Katanya lalu duduk di kursi. “Mana yang difotokopi?” Tanya penjaga toko fotokopi tersebut. “Ya aku lah mbak, memangnya siapa lagi? Mau aku pamerin pada teman temanku” Jawab Hasan. “Mas mau difotokopi?” Tanya penjaga itu keheranan. “Iyalah mbak! Kopinya jangan banyak-banyak gulanya ya!” Kata Hasan. Penjaga toko pergi ke warung sebelah untuk membeli kopi, lalu disuguhkan pada Hasan. Cekrek cekrek cekrek Hasan berpose mirip Justin Bieber, Indro Warkop, Tukul Arwana, Dan artis-artis yang lain saat penjaga toko fotokopi itu mengambil gambar lewat HP milik Hasan.

Yess! Sukses!! Hasan gembira. “Berapa Mbak?” Tanya Hasan. “Kopinya lima ribu, fotonya sepuluh ribu, dan obat jengkelnya sepuluh ribu. Jadi semua dua puluh lima ribu!”

Nama: Hasan. Tinggi Badan: 165 cm. Berat Badan: 80 kg. Kelas: X a. Sekolah: SMA Masa Depan. Peringkat Kelas: 42 (dari 48 siswa). Hobi: K-Pop (Korea Pop). Golongan Darah: B. Tipe: Gendut.

Matahari memayungi belahan bumi. Sinarnya menerangi segenap kehidupan saat ini. Teriknya siang ini tidak membuat semangat Edo menjadi kendor. Dia sedang membonceng Aulia bersama motor 250 cc nya. “Kita cari rumah makan yang paling mewah yuk untuk tempat ngobrol!” Ajaknya pada Aulia. “Yang sederhana saja” Jawab Aulia lembut. “Tidak ah! Masa di tempat sederhana? Kita cari Rumah Makan yang paling mahal saja untuk tempat ngobrol, biar asyik!” Ajak Edo.

Mereka berdua berhenti di sebuah Restaurant Mewah. Pelayan datang. “Mau pesan apa? ini daftar menunya!” Kata pelayan itu ramah. “Air putih dua Mbak!” Jawab Edo. “Terus apalagi?” Tanya sang pelayan. “Sudah itu saja cukup!” Kata Edo menirukan bos-bos gedean. Pelayan itu pergi, lalu kembali membawa pesanan Edo, dua gelas air putih.

Bla bla bla Edo ngobrol kesana kemari, Namun Aulia cuman diam seribu kata sambil menahan mukanya yang berubah warna jadi merah jambu karena malu. Edo memanggil pelayan, “Mana bonnya? Berapa semuanya mbak?” Tanya Edo sambil mengeluarkan dompetnya. “Air putihnya gratis mas!” Jawab pelayan. “Wah enak! Kalau begitu setiap hari akan aku ajak teman-teman ngobrol di sini aja mbak, biar restaurantnya rame terus!” Kata Edo kegirangan sambil melompat-lompat kayak anak kecil. “Tapi mulai besok restaurantnya tutup mas!” Kata pelayan itu. “Dan juga mulai besok kita putus!” Kata Aulia pada Edo.

Nama: Edo. Tinggi Badan: 175 cm. Berat Badan: 40 kg. Kelas: X a. Sekolah: SMA Masa Depan. Peringkat Kelas: 36 (dari 48 siswa). Hobi: Anime Jepang (meme). Golongan Darah: A. Tipe: Kurus.

Hari hampir senja. Mentari berwarna jingga di ufuk barat. Satria sedang melaju bersama motor antiknya membawa 25 bungkus nasi pesanan Bu Tuti di kota Daun. “Bu Tuti! Ini pesanannya 25 bungkus nasi” Kata Satria. “Duduk dulu Satria. Perasaan saya cuman pesan 24? Kok lebih satu? Bawa pulang saja yang satu. Biar ibumu tidak rugi!” Kata Bu Tuti sambil membawa segelas teh hangat, lalu sibuk membawa kotak-kotak nasi ke dalam rumah. Lebih satu? Satria membuka satu kotak yang tersisa, Lalu memakannya nyam nyam, memang enak masakan ibukku… Batin Satria sambil makan dengan lahap. “Oh iya benar!! 25 kotak seharusnya. Sebab Bu Ana juga ikut arisan. Dia anggota baru!” Kata Bu Tuti tiba-tiba berada di samping Satria. Buuuhhff! Satria memuntahkan makanan di mulutnya. 25? Yang benar 25?? Satria menengok ke arah Bu Tuti pelan-pelan sambil mulut masih mengunyah makanan yang tersisa di mulutnya.

Nama: Satria. Tinggi Badan: 170 cm. Berat Badan: 60 kg. Kelas: X a. Sekolah: SMA Masa Depan. Peringkat Kelas: 1 (dari 48 siswa). Hobi: Bola. Golongan Darah: AB. Tipe: Sedang.

Malam mulai datang. Satria, Edo, Hasan dan Zahra sedang berkumpul di lapangan kampung. Mereka hendak maen petak umpet. Hom pim pah!! Hasan kalah. Dia dihukum. “Aku hitung sampai 10, aku akan membuka mata untuk mencari kalian! Satu, Dua, Tiga…!” Teriak Hasan sambil menutup matanya di sebuah tembok rumah. Mereka bertiga langsung lari. Satria pulang ke rumahnya, masuk ke kamar dan nonton bola. Edo juga lari pulang ke rumahnya. Dia maen game di ruang tamu. Zahra yang cewek juga ikut lari pulang. Dia langsung membantu ibunya bikin kue di dapur. “Sembilan, Sepuluh…!” Teriak Hasan lalu membuka matanya. Hasan menuju semak-semak dan mencari-cari ketiga temannya tetapi tidak ada. Hasan mencari ke pinggir sungai juga tidak ada. Di sudut-sudut rumah kampung, pos kamling, warung, sawah, kebun, semua sudah dicari. Tetap saja ketiga temannya tidak dia temukan.

Malam semakin larut. Satria, Edo dan Zahra telah tertidur lelap. Nampak Hasan berputar-putar mengelilingi kampung mirip orang ronda. Sepi, Sunyi… Sampai pagi.

Cerpen Karangan: Y. Endik Sam
Facebook: Yenva Endik Sam
Nyalakan lentera hati agar hidup kita lebih terang untuk menyongsong masa depan! :v

Cerpen Bukan Petak Umpet merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Putus, Move On

Oleh:
Lepas dua hari setelah aku putus dari Dika. Rasanya seperti baru kemarin Kami pacaran. Masih terbayang di ingatanku saat-saat yang kami lewati bersama, namun itu semua pupus hanya dengan

Sahabat

Oleh:
Gubraakkk!! Huuh, cape seharian sekolah. Nama gue Tasya sering dipanggil Caca. Gue punya sahabat nama Eza dan Cinta. Dan gue punya Teman yang kurang senang sama gue namanya Mikha,

Kehidupan Baru Clara

Oleh: ,
Suatu hari.. Sebuah mobil ditemukan di jurang yang diduga korban kecelakaan. Para polisi yang menemukannya terkejut melihat seorang anak perempuan berumur 10 tahun yang masih hidup. Anak itu dibawa

Halaman Terakhir

Oleh:
Kicauan-kicauan burung di balik jendela pun membangunkan tidurku. Ku lihat matahari mulai beranjak naik, ku tengok jam dinding yang menggantung tepat di atasku. Ah ternyata sudah jam 07.00. Aku

Kisah Seorang LDR

Oleh:
Namaku Amalia, Sekarang aku duduk di bangku kelas VIII di salah satu sekolah yang cukup terbilang biasa biasa saja. Namun, aku mempunyai banyak teman karena aku tergolong orang yang

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *