Nagnatnat

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Gokil
Lolos moderasi pada: 9 August 2015

Minggu pagi, gue lari, bukan lari dari kenyataan yang kata orang selalu menyakitkan, tapi gue lari pagi untuk menyehatkan badan.

“Men Sana Incorpore Sano” kata guru olahraga gue artinya bukan mencret di sana ceboknye di sono tapi di dalam tubuh yang kuat terdapat jiwa yang sehat.

Gue Reza Fadilah tapi biasa dipanggil Kote, dari mana tuh panggilan gue gak tahu dan gue gak mau tahu karena gue sukanya tempe.

Balik ke lari, itu pagi jadi hari yang apes buat gue. Kenapa? Karena hujan turun tiba–tiba membuat gue terpaksa berteduh (kalo orang betawi bilang mah ngaup, tapi orang betawi kayaknye kagak ada yang pake “mah”) di bawah pohon.

Gue lihat handphone, jam 05.26. Bukannya gue salah lihat jam, tapi emang guenya yang larinya kepagian. Tumben–tumbenan habis sholat subuh gue pengen lari, ya gue lakonin aja deh. Sekalian lihat jam gue ganti lagu, “Yahk Hen Nah Koon-nya Loso” yang artinya I Want To See Your Face yang jadi OSTnya Suck Seed (I Need You).

Gue emang suka denger musik jadi kemana–mana gue selalu bawa handphone (karena di handphone gue ada musiknya, meskipun dimana–mana ada musik tapi musik gue jarang ada dimana–mana jadi gue bawa aja tuh musik kemana–mana) gak makan, tidur, ke kantor, gue pasti bawa handphone kenapa gue bawa handphone? Soalnya gue gak mau disamain sama Ayu Ting Ting yang kesana-kemari membawa alamat.

Balik ke hujan. Rimbunnya pohon tidak menghalangi hujan untuk menetes ke tubuhku (tadi “gue”), dinginnya hembusan angin terasa menusuk kulit dikarenakan pakaian yang kukenakan hanyalah kaos dan celana pendek selutut. Keringat campur air hujan membuat badan ini terasa lengket selengket anak sekolah jaman sekarang kalau pacaran, Hyuuh.

Di kejauhan kulihat seseorang memakai payung hitam, wajahnya tertutup oleh payung yang digunakannya.

“Tampaknya dia berjalan mendekatiku” pikirku karena saat itu aku sedang berada di bawah satu satunya pohon yang ada di pinggir jalan kosong itu.

Tidak lama dia berhenti di depanku, mengangkat sedikit payungnya dan membuatku dapat melihat wajahnya. Cantik, itu yang kupikirkan.

“Lagi neduh Mas?” dia bertanya.
“Iya Neng, tiba–tiba hujan turun nih,” jawab gue. Kulihat di tangannya ada kantung plastik berisi sayuran dan bumbu dapur, sepertinya baru pulang dari warung.
“Kalau mau Mas neduh di rumah saya saja, gak jauh kok,” tawarnya sambil menunjuk ke arah jalan yang ditujunya.
“Wah, gak ngerepotin nih Neng?” tanya gue.
“Enggak kok Mas,” jawabnya

Sepayung dengannya membuat gue malu, Padahal gue ganteng, tapi ternyata itu gak cukup untuk menghadapinya, senyumnya yang manis, tutur katanya yang lembut membuat gue jatuh hati ke dia (Cikiprett).

“Ngomong–ngomong gue Reza, kalau boleh tahu nama Neng siapa ya?” gue mulai bertanya daripada diam tapi dag-dig-dug gak karuan.
“Saya Rena Aulia tapi panggil aja Rena, nah kita sudah sampai,” katanya.

Rumah yang kulihat begitu sederhana, rumah tingkat dua bergaya arsitektur Belanda dengan pagar berwarna hijau terang dan di depannya terparkir Corolla Altis dan Fortuner, sederhana? (maaf itu rumah tetangganya) yang saya maksud adalah rumah berbilik bambu tanpa hiasan tanpa lukisan beratap jerami beralaskan tanah namun semua ini punya kita. Hehehe.

“Assalamualaikum, Mbah Rena pulang,” kata Rena.

Terlihat seorang Nenek tua keluar dari rumah, dilihat dari usianya mungkin sekitar 17 tahun, 17 tahun lagi wassalam, ISTIGFAR COY!

“Waalaikumsalam,” kata si Mbah. Si Mbah terlihat bingung karena cucunya pulang bersama dengan seorang pria tampan yang sepertinya tampak kelelahan (kayaknya mah gitu)
“Loh nduk, uangnya kurang?,” Tanya si Mbah. Alamat kagak enak nih.
“Bukan Mbah, kenalin ini Reza. Tadi Rena ketemu dia di jalan, karena hujan Rena ajak aja Reza buat berteduh di sini,” kata Rena.
“Oh, Mbah kira tukang becak nduk. Maafin Mbah ya,” si Mbah minta maaf. Gue cuma bisa senyum dibilang begitu sama si Mbah, mau bagaimana lagi namanya juga orang tua.

Setelah dipersilahkan duduk, gue duduk lain ceritannya kaau gue disuruh ngaduk semen gue pasti nawar harga dulu. Si Mbah sama cucunya yang cantik jelita lagi aduhai mempesona masuk ke dalam, meninggalkan gue yang duduk sambil memperhatikan rumah mereka. Tidak lama Rena ke luar membawa segelas the hangat (maksudnya teh hangat) dan menaruhnya di atas meja.

“Silahkan diminum Mas,” kata Rena.
“Terima kasih Ren,” balas gue. Gue ambil gelas berisi teh yang ada di atas meja dan..
“Kyaaaaa,” si Mbah teriak, gue sempat mikir kenapa teriaknya harus “Kyaaaa” gitu.

Tanpa dikomando gue dan Rena lari Masuk ke dalam melihat Mbah. Terlihat si Mbah berdiri di pojok dapur, memegang sodet dengan wajah ketakutan.

“Kenapa Mbah?” tanya Rena.

Si Mbah cuma bisa menunjuk penggorengan yang ada di atas kompor yang sedang menyala. Penasaran, gue melihat ke dalam penggorengan. Seekor kecoa tampak matang mengambang di atas minyak panas.

“Gak usah khawatir Ren, cuma kecoa doang,” kataku mencoba menenangkan. Gue berpikir kenapa si kecoa bisa ada di dalam penggorengan, apakah dia terjatuh dari dinding dapur? Melihat bentuknya yang tergoreng gue jadi berpikir lagi, kenapa gak pakai tepung? Padahal sepertinya bisa dijadikan peluang usaha yang cukup menjanjikan. Gue bisa membuat KFC gue sendiri alis Kote Fried Cockroach, tapi pikiran itu segera gue lupakan karena gue gak punya modal dan menyelamatkan si Mbah harus lebih diprioritaskan.

Setelah si Mbah dibawa ke ruang tengah dan diberi minum dia mulai tenang, dan karena jiwa kepedulian gue yang besar gue menawarkan diri untuk memasak dan karena gue gak bisa masak gue pun minta tolong Rena buat Masak. Loh?? yang penting niat.

Setelah kejadian itu gue jadi deket sama Rena. Karena kesibukanku kerja dari senin sampai jumat (pakai aku lagi), dan kuliah di hari sabtu membuatku susah untuk bertemu dengan sang pujaan hati, Neng Rena.

Baru kali itu gue (balik ke “gue”) bahagia dengan status gue yang single tanpa pacar. Gue emang belum punya pacar tapi gue gak mau dibilang jomblo, karena menurut gue single itu prinsip sedangkan jomblo itu nasib (maaf buat yang jomblo).

Tiap minggu gue sempatin buat main ke rumah Rena, alasannya mah mau tengokin Mbah. Rena pernah bilang kalau gue ini “cowok spesial” buat dia. Entah apa maksudnya mungkin dia ada rasa sama gue seperti halnya gue yang demen banget sama dia, tapi yang pasti bukan spesialnya martabak telor. Hingga akhirnya gue beranikan diri ini untuk menembaknya.. YAY!

Minggu itu seperti biasa gue main ke rumah Rena, dengan pakaian rapi dan yang pasti wangi gue kendarai motor kesayangan gue. Rencananya hari ini mau gue ajak Rena jalan ke Dufan, menikmati indahnya pemandangan pohon di kiri dan kanan, menghirup sejuknya udara pegunungan serta menikmati sedapnya jagung bakar (itu dufan apa puncak??), yang penting asik-asikan lah.

Sampai di rumah Rena gue kaget dikarenakan banyaknya orang berkumpul. Gue lihat Rena di depan seseorang yang sedang memegang sebuah sepatu kaca, usut punya usut ternyata orang itu adalah seorang pangeran yang sedang mencari calon istri. Gue lihat sepatu itu pas di kaki Rena dan seketika itu juga gue lihat sang pangeran melompat kegirangan.

“Maukah kamu menjadi istriku?” kata sang pangeran sambil jongkok dan menengadahkan tangan (bukan bukan, dia bukan pengemis. Maksud gue kayak orang lagi menyatakan cinta gitu dengan penuh pengharapan memegang tangan wanita yang dicintainya, tapi berhubung gue gak tahu dan gak mau bingung mikirin itu apa, ya gue tulis aja gitu.)

Terlihat wajah bingung Rena menatap sang pangeran, dia pun melihat ke kanan dan ke kiri dan seketika itu pula pandangan kami berdua bertemu. Terlihat senyum di wajahnya yang mengembang melihatku (atau mungkin tukang cireng di belakang gue?) segera dia melepas genggaman sang pangeran dan berlari ke arahku membuat orang–orang yang melihat dan juga sang pangeran menjadi bingung.

Dia berdiri di hadapanku, memegang tanganku dan menatapku. Pandangan matanya menggambarkan kegembiraan, mungkinkah kehadiranku begitu dinantikan olehnya? Kutersenyum menatapnya.

Tiba–tiba sang pangeran berdiri di samping gue dan Rena, matanya menatap tajam ke arah gue setajam, setajam golok.

Melihat matanya yang menatapku tajam ditambah gayanya yang tengil kayak anak sekolah yang suka tawuran, membuat gue agak takut tapi segera kutepis perasaan itu demi cinta gue ke Neng Rena. Gue gak masalah kalau harus duel dengannya, gue rela kalau darah ini harus menetes karena memperjuangkan cinta ini tapi yang pasti gue gak rela kalau sampai orang yang gue cintai dipaksa menikah dengan orang yang tidak dicintainya.

Seperti mengerti sang pangeran mengulurkan tangannya dan meminta maaf kepadaku, sorot matanya yang tajam berubah menjadi normal kembali. Dia pun pergi.

“Don’t judge a book by it’s cover,” biar pun gue kira tengil namun ternyata sang pangeran juga anak majlis ta’lim.

Seperti yang sudah kuduga, cintaku diterima oleh Rena. Semua usaha yang kulakukan tidaklah sia–sia sehingga membuahkan hasil yang menyenangkan pula. Seperti kata pepatah “Aynah itah gnay hisreb gnay tapad amirenem nagnatnat”

Cerpen Karangan: Fafah
Facebook: kuroba_21[-at-]yahoo.com

Cerpen Nagnatnat merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


The Quirky Life Of Beang

Oleh:
Namaku Beang. Tadinya aku suka namaku. Lalu secara kebetulan kemarin aku nonton sebuah anime. Di dalamnya ada karakter Lalat bermuka penguin yang suka makan kotoran. Mungkin karenanya akhir-akhir ini

Absurdity

Oleh:
Nama gue Abigail. Sebut saja Bi atau Abi atau Abigail. Gue adalah seorang pemimpi yang gak tau kapan harus berhenti bermimpi. Semua orang tau, bumi itu bulat, tidak berujung

Absurd

Oleh:
Cerita Pendek atau cerpen, itulah kata kata yang membuatku pusing belakangan ini. Tugas Bahasa Indonesia yang diberikan Bu Yarmis, yang ngebikin otakku berpikir keras sampai berasap hitam tebal dan

Sehun Bukan Bihun

Oleh:
Hidupnya selalu mengambang di antara kebahagiaan juga kepedihan. Nia, berada di pertengahan gejolak perasaan yang menggebu, bukanlah cinta. Sebagai seorang yang mudah baper, Nia adalah yang paling mudah menangis

Kisah 2 Sahabat

Oleh:
Part 1, Siapa bidadari itu “Whoamhh” sambil menguap Bambang melihat jam di hpnya. Seketika itu juga dia ingat ada janji tanding futsal dengan Asep di lebak bulus, dia temen

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *