Nina Gak Bobo

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Gokil
Lolos moderasi pada: 31 January 2017

Satria berjalan melewati pinggiran lapangan bola dekat alun-alun kota Atap. Dia hendak ke rumah Novi teman sekolahnya. “Bang! Ambilkan bolanya…!” Teriak anak-anak kecil yang sedang asik main bola. Bola itu menggelinding ke arah pohon beringin. Satria melihat sebuah benda bundar putih mengkilat di dekat semak semak di bawah pohon beringin itu. Dia pegang dan ditarik, “Auhh!” terdengar suara orang mengaduh. Ditarik lagi oleh Satria, “Aduhh!!” Terdengar suara lagi. Aneh? Pikir Satria. Dia tidak sabar dan ditariknya sekuat tenaga benda itu, “Ahh hoyyy apa-apaan nih!!!” Suara itu semakin jelas, dan ternyata berasal dari kepala ‘Gundul’ tukang bakso yang lagi tiduran di bawah pohon. Hah?? Satria kaget, badan tukang bakso itu sampe keliatan keluar dari semak-semak. Satria tersadar dan melepaskan kepala gundul itu, dia lari sekencang-kencangnya meninggalkan TKP (Tempat Kejadian Perkara). “Bang..!!! Ambilkan bolanya dong!!” Teriak anak-anak kecil itu lagi. Satria sempat menoleh, “Bodo!!!” Jawabnya sembari mempercepat larinya secepat laju motor Valentino Rossi di balapan Moto GP. (Haha rasain lu!)

Akhirnya Satria sampai juga di rumahnya Novi. Dia dipersilahkan masuk. Satria meletakkan sepasang sandal jepit kesayangannya di depan pintu. “Hai Satria! Mau minum apa nih?” Sapa Novi ramah. “Es jeruk Nov!” Jawab Satria semangat lalu duduk di sofa. “Sirupnya tidak ada!” Kata Novi lembut. “Kalau begitu susu panas saja deh!” Kata Satria setelah berpikir sejenak. “Aduh susunya habis!” Jawab Novi. “Teh hangat saja tidak apa-apa deh Nov!” Kata Satria lesu. “Tehnya tidak punya, mama belum beli!” Jawab Novi lagi. “Waduh!! Air gula saja Nov… Yang penting ada manis manisnya, manis kayak kamu!” Kata Satria ribet mirip gombal. “Oke tunggu sebentar yaa!” Jawab Novi lalu melangkah menuju dapur. Tak berapa lama Novi balik lagi, “Aduh ma’af gulanya habis juga! Bagaimana ini?” Kata Novi sedikit kebingungan. “Yahhh… Air putih aja deh tidak apa-apa! Kalau tidak ada juga, gelasnya doang tidak apa-apa bawa ke sini. Buat hiasan meja!” Jawab Satria setengah sadar setengah enggak. “Oke! Kalau air putih pasti ada!” Jawab Novi berlalu dan kembali dengan membawa segelas air putih untuk Satria. Bla bla bla mereka ngobrol kesana kemari hingga lupa waktu, padahal waktu saja masih ingat pada mereka.

Hari menjelang sore Satria pamit pulang. Dia kaget karena sandalnya tinggal satu, yang sebelah kanan. Mereka berdua berputar-putar mengelilingi rumah Novi untuk mencarinya. Tapi tidak ada. Saat kembali ke depan pintu, sandal yang satunya hilang juga. Yang aneh justru sandal-sandal milik keluarga Novi masih tetap ada. Satria pulang dengan tidak memakai sandal, karena dia tidak mau dipinjamin sandal milik bapaknya Novi yang super galak. Di samping rumah Novi seekor anjing jenis Pudel sedang asik menggigit-gigit sandal baru berwarna cokelat muda… Sambil sesekali berlari-lari ceria.

Hari telah sore, Satria sakit perut. Dia menuju kamar mandi namun ada ibunya (Bu Ratna) sedang mandi. Dia tahu ibunya pasti lama kalau mandi. Satria ke rumah Edo, tapi kamar mandinya juga sedang antri. Satria tak patah semangat, dia datangi rumah Hasan. Di sana malah terjadi antrian panjang di depan pintu kamar mandi Hasan oleh saudara-saudaranya. Malah pakai nomer urut segala. Perut Satria makit sakit, dia lari sekencang-kencangnya menuju sungai kampung yang terdapat sebuah wc umum yang terbuat dari triplek. Ternyata ada orangnya. Mau tak mau Satria harus menunggu sambil memegangi perutnya. Lama Satria menunggu akhirnya orang di wc umum itu berdiri hendak keluar pintu. Seperti pepatah mengatakan Orang sabar itu rejekinya banyak. Pintu dibuka, yang keluar adalah Pak Aryo. Masih selangkah Pak Aryo melangkah, terlihat sebuah bayangan masuk menuju wc itu. Yang ternyata Pak RT yang terlihat terburu-buru, “Saya duluan nak Satria! Kamar mandi bapak lagi antri buat mandi anak-anak bapak!” Teriak Pak RT lega dari dalam WC. Satria terbelalak dan pingsan seketika, “Toloooongg!!”.

Malam ini Nina lagi galau. Dia menanti seseorang yang tak kunjung datang. Padahal dia sangat mendambakan seseorang itu untuk mau datang ke rumahnya. Siapakah yang dinanti Nina? Ternyata Satria, teman di belakang bangkunya sekolah. Tok tok tok, pintu rumah Nina diketuk Edo. “Nina udah bobo!” kata Papa Nina. Sebab Nina sudah pesan sama Papanya, kalau bukan Satria bilang saja sudah bobo. Hasan mengetuk pintu, “Nina sudah bobo!”. Anto, Angga, Renald, Danu, Ikwan… “Nina sudah bobo!”. Padahal di dalam kamarnya Nina sedang sibuk menepis nyamuk-nyamuk yang menggigitnya. Meskipun sudah dipasang obat nyamuk bakar dan obat nyamuk elektrik sekaligus. Tapi nyamuk-nyamuk itu tetap beringas menggigit-gigit kulit putihnya. Kenapa nyamuk-nyamuk itu menggigit Nina yang tidak bersalah? Karena… ‘Nina bobo oh Nina bobo, kalau tidak bobo digigit nyamuk!’ (heleh)

Cerpen Karangan: Y. Endik Sam
Facebook: Yenva Endik Sam
Aduh… Digigit nyamuk nih! :v

Cerpen Nina Gak Bobo merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


The Quirky Life Of Beang

Oleh:
Namaku Beang. Tadinya aku suka namaku. Lalu secara kebetulan kemarin aku nonton sebuah anime. Di dalamnya ada karakter Lalat bermuka penguin yang suka makan kotoran. Mungkin karenanya akhir-akhir ini

Tragis

Oleh:
Saat itu terjadi perampokan di sebuah pabrik celana dalam terbesar di dunia, tepatnya pabrik KOLORA. Garis polisi sudah di pasang di tempat kejadian, dan rugi di perkirakan sebesar 10

Bukan Binatang Lajang

Oleh:
Akhirnya, bukan binatang lajang… Jatuh cinta pada pandangan pertama itu memamang indah, apalagi kalau kita bener-bener bisa mendapatkan tuh cintanya. Mungkin ini yang gue rasaain saat untuk pertama kalinya

Kamu Idolaku

Oleh:
“Terus.. Katanya dia jadi nggak suka aku lagi. Habis, aku kan penasaran hubungannya dengan teman masa kecilnya itu..” Airmata membanjiri pipi Merry. Dunia ini benar-benar nggak adil. Sahabatku diputusin

Lima Jari Segenggam Cinta

Oleh:
Suatu hari seorang kakek sedang berbincang-bincang dengan cucu laki-lakinya, Bramastra Arjuna. “Cu, mau denger dongeng bagus gak?” “Mau, Kek. Cepet, Kek! Aku dah gak tahan niech.” “Oke. Here we

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *