Pada Hari Minggu

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Gokil, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 10 September 2019

Bangun tidur aku terus mandi. Habis mandi, aku tidur lagi. Ibu datang marah-marah dan menyuruhku merapikan tempat tidurku.

Ini hari minggu. Selesai merapikan tempat tidur, aku pergi ke kota, naik delman istimewa. Tiba-tiba di tengah perjalanan kudanya pingsan, mungkin belum sarapan. Terpaksa aku turun dan memanggil tukang becak, kereta tak berkuda. Tapi tukang becaknya memang mirip kuda.

“Becak..! Becak..! Tolong bawa saya”

Becak datang. Aku naik dan melanjutkan perjalanan.

Tiga jam, aku nyampe kota. Eh tukang becaknya juga pingsan, mungkin karena kejauhan. Tanpa peduli aku langsung lari masuk perumahan. Aku teringat kuda pingsan, jadi kepikiran dari pagi aku belum sarapan. Lantas kuputuskan untuk mendatangi rumah makan. Masuk, duduk dan tanya seorang pelayan…

“Kamu, makannya apa?”
“Tempe!”
“Saya juru masaknya”
“Gak nanya!” Sewotku.

Selesai makan, aku lanjut perjalanan. Oiya, tujuanku ke kota ini adalah untuk bertemu teman. Tapi bingung alamatnya. Maka aku tanya siapa aja yang kutemui di sana. Kebetulan ada tukang bakso. Aku memanggilnya.

“Abang tukang bakso!”
Tukang bakso menoleh.

“Mari mari sini!”
Lalu ia menghampiri.

“Aku, mau tanya”
Tukang bakso mengkerut. Kepalanya botak seperti bulat baso yang bertumpuk di gerobaknya. Hanya saja dia ada mulut, dan dari mulutnya itulah keluar bunyi gerutu.
“Kirain mau beli, Dek”

Aku tersenyum, kemudian langsung mempertanyakan sebuah alamat padanya. Mana di mana, rumah teman saya? Rumah teman kamu, di bawah pohon waru.

Ah, tukang bakso yang baik hati. Ternyata dia benar. Aku sudah sampai di pohon waru, dan di sanalah ada rumah temanku. Namanya, Parman. Tak kusangka, ternyata Parman memiara burung kakatua, dan sedang bertengger di dahan pohon. Sementara Parman kulihat sedang hinggap di jendela.

“Hey, Dit!” Songsong Parman.
“Hay, Man” aku melambai.
Aku masuk tanpa dipersilahkan, lalu duduk tanpa ditawari. Aku haus, pengen minum tapi gak disuguhi apa-apa. Nelen ludah tapi kering rasanya. Parman malah ngajak basa-basi.

“Susah gak nyari alamatnya?”
“Susah, hauuss banget”
Aku mau bilang ‘jauh banget’, tapi lidahku keserimpet. Mungkin akibat dehidrasi yang mengakibatkan kepalaku tidak seimbang. Gagal fokus. Si Parman sudah terlambat menyadari dari tadi.

“Ooh, iyaa,” Parman tepuk jidat “mau minum apa? Sori, lupa”
“Air aja”
“Iya, air apa?”
“Apa aja” jawabku acuh.

Parman pun ke dapur. 120 menit kemudian dia kembali, menghidangkan minuman es jus ke hadapanku. Wah!
“Jus apa, Man?”
“Jussss ketela”
“Singkong?”
“Iyaaaaa”

Kedengarannya aneh. Jangan-jangan rasanya juga ajaib. Tapi bodo amat, aku sangat kehausan. Kuhabiskan juga jus itu tanpa jeda. Benar-benar tidak enak, Parman! Gertak batinku.

“Enak ya?”
“Lumayan”
“Aku ambil singkongnya langsung dari kebun sendiri, lho. Kamu, mau lihat kebunku?”
“Penuh dengan bunga?”
“Iya”
“Enggak, ah”
“Lho kenapa?”
“Dari awal aku sudah bernarasi dengan banyak lagu anak-anak. Bosen. Sekarang aku pulang aja. Udah sore. Kambing-kambingku belum dikasih makan. Kasian, nanti kelaparan”

Aku pamit pada Parman. Dan Parman mengucapkan hati-hati di jalan. Kususuri jalanan dengan setengah berlari, mengingat hari hampir malam. Keluar dari gang, kutemui lagi tukang becak yang membawaku tadi siang. Rupanya dia sudah siuman.

“Mang, anterin pulang!”
Dia menoleh, setelah melihat wajahku dia langsung kembali pingsan. Aku menggaruk bingung. (*)

Cerpen Karangan: Aditya Ramadhan
Blog / Facebook: Aditya Ramadhan

Cerpen Pada Hari Minggu merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Lembayung Senja (Part 1)

Oleh:
Suara bel yang nyaring dan panjang adalah alunan kebahagian bagi setiap murid. Mereka akan langsung mengemas barang-barangnya. Ini adalah waktu yang tepat untuk pulang setelah seharian menyebu akal dengan

Selalu Ingin Bersamanya

Oleh:
Namaku Rian Febryansyah, aku bersekolah di SMA Tunas Bangsa. Hari itu, hari pertamaku masuk sekolah lagi. Sekarang aku duduk di kelas VIII yaitu VIII D. Aku tak sabaran melihat

Contekan Berjalan

Oleh:
Setelah hari liburan sekolah Anton, Samsul dan Ucup kembali untuk meneruskan sekolahnya dimana mereka berlibur bersama ke kota tua. Kami di sana berjalan-jalan menelusuri kota yang penuh dengan suasana

Apakah Ia Seorang Psikopat? (Part 2)

Oleh:
Aku mengantongi HP di saku celanaku, aku terkejut mendapati ada dompet di sakuku. Ternyata itu dompet Rukov, aku lupa mengembalikannya saat ia mengembalikan HP-ku. Aku merasa orang yang paling

Cinta itu Memberi, Bukan Meminta

Oleh:
“aku sayang sama kamu. Tolong jangan sering marah-marah ke aku, aku takut…” ucap laki-laki bermata sipit ini lirih sambil menatapku. tatapan mata itu. hening, redup, berbinar, aku seperti menemukan

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

One response to “Pada Hari Minggu”

  1. moderator says:

    Ga nyangka kumpulan lagu anak bisa dibuat jadi cerpen segokil ini di tangan Adit ^_^ jarang jarang nemu yang beginian…

    ~ Mod N

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *