The Stranger (Part 1)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Gokil, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 30 December 2015

Kamis, 08 Oktober 1998 adalah hari dimana anak tertampan dari kedua orangtuaku dilahirkan. Ya, itu aku. Kenapa disebut tertampan? karena aku adalah anak laki-laki satu-satunya. Aku terlahir di Kalianda, Lampung Selatan. Tapi entah mengapa di Akta Kelahiranku tertulis bahwa aku terlahir di Tangerang, mungkin sang pembuat aktaku sedang lelah. Ini adalah cerita seorang anak yang hidupnya berpindah-pindah ke sana-sini, atas-bawah, timur-barat, amerika-rusia (lah?). Pahit manisnya kehidupan telah ku cicip sedemikian mungkin sehingga terbentuklah kepribadian absurd ini.

Entah bagaimana ceritanya aku dilahirkan di Kalianda dan tiba-tiba aku dibesarkan di Tangerang, Aku tak ingat apa pun pada waktu itu, yang ku ingat aku hanyalah seekor bayi yang hanya bisa ngompol dan BAB di celana sambil nyengir setan. Itu adalah kali pertamaku berpindah tempat tinggal tanpa ku ketahui sedikit pun. Aku tinggal di Tangerang entah dari umur berapa aku tak tahu, yang aku tahu dulu aku tak pernah merasakan indahnya masa-masa TK.

Sebenarnya cuma sehari aku masuk TK dan tak sedikit pun ku rasa keindahannya maka dari itu aku tidak mau lagi masuk TK karena aku merasa tak ada teman. Dan aku patut diberi julukan “The Invisible Boy.” (bocah tak terlihat). Karena aku tak pernah dianggap ada oleh siapa pun kecuali orangtuaku. Dan orangtuaku pun memutuskan aku langsung sekolah di MI (Madrasah Ibtidaiyah) pada umur sebelia itu, 5 tahun setengah kalau tidak salah ya pasti benar.

“Woy!” teriak anak yang berada tak jauh dariku.
“Apa?” jawabku.
“Anak mana lo?” tanya anak tersebut.
“Anak encle, ngontrak di belah sananya masjid yang ada pohon serinya.” jawabku.
“Oh, kenalin nama gue Dimas, anak (lupa nama daerahnya).” katanya.
“hmm, Nama gue Alen, lo kelas 1 juga?” tanyaku.
“iya.” jawabnya singkat. Dan itu adalah kesan hari pertamaku sekolah di madrasah tersebut dan sekaligus hari dimana aku mendapatkan teman pertama di sekolah baruku. Dan dengan sangat kebetulan aku pun sekelas dengannya.

“Mas.” panggilku.
“Eh, lo Alen kan?” tanyanya.
“iya, Mas.” jawabku sambil nyengir.
“Alen? Kayak nama cewek hahaha.” celetuk nona kecil yang duduk di sebelah Dimas.

Saking kerasnya dia berkata seperti itu, hingga anak-anak yang berada di kelas pun menertawaiku sambil melihatku dengan tatapan yang membuatku kesal bukan kepalang. Tapi ku lihat ada satu anak yang hanya tersenyum melihatku. Setelah ku cari tahu ternyata namanya adalah Rina. Dan ternyata rumahnya pun tidak jauh dari kontrakan yang ku tempati. Usut punya usut ternyata Ayahnya ternyata kenal dengan Papaku (Nah lo).

Singkat cerita, aku pun sering diantar jemput oleh Ayahnya Rina menggunakan Vespa yang saat itu sedang keren-kerennya. Dan Rina biasanya duduk di depanku saat di atas motor. Ku cium harum rambutnya “huaaahhh.” batinku (nih anak kurang ajar). Dan seiring waktu berjalan aku pun mulai akrab dengannya. Aku sering main ke rumahnya, dan biasanya kami main boneka barbie miliknya, dan terkadang main masak-masakan di depan rumahnya. Dulu kami belum mengerti apa itu cinta, yang kami tahu hanya main sampai menjelang maghrib. Jujur, dari kecil aku tak menyukai sepak bola, tapi aku selalu hanya ikut-ikutan dengan teman-temanku yang lain bermain bola.

“Woy tangkep!” teriakku sambil menendang bola sekuat tenaga. Saking kuatnya hingga aku terjatuh dan dengkulku membentur hidungku sampai berdarah. Dan bola yang ku tendang malah melambung tinggi dan melewati tembok pabrik yang berada di dekat kontrakan.
“Ambil lo len!” teriak Ipan sang kiper.
“entar pan, hidung gue berdarah nih.” jawabku sambil meringis.
“bego lo, males gue maen sama lo.” jawab Ipan sambil berjalan untuk mengambil bola yang nyasar ke pabrik. Sepanjang jalan si Ipan bersungut memancungkan mulutnya. Tinggal aku seorang diri, dijauhi teman-temanku yang lain.

Aku tak pernah jago dalam hal apa pun, tak seperti teman-temanku ada yang jago main kelereng, main sepak bola, main karet dan lainnya. Aku hanya bisa main game. Ya, “GAME.” itu adalah hobi yang paling kekal dalam hidupku. Aku hanya bisa memandangi dari jauh teman-temanku yang sedang main kelereng, sedangkan aku tak pernah mengerti bagaimana aturan mainnya. Setiap malam minggu, Papaku selalu mengajakku ke Timezone, di situlah skill gamingku diasah, bahkan tanpa melihat panduan pun aku langsung bisa mengerti cara mainnya.

“Ayok 1..2..3!!” Kata Papaku. Kami pun dengan semangatnya berlomba-lomba memasukkan bola-bola basket ke keranjangnya. Lemparanku hanya ada beberapa bola yang masuk begitupun Papaku. Dan setelah time up kami tersengal-sengal sambil tertawa. Tak lama kemudian keluar 2 tiket dari mesin game tersebut. “Cuma 2!?” kata Papaku sambil tertawa. Aku pun ikut tertawa dan mengajak pindah ke Game lain.

Aku tak terlalu akrab dengan Mamaku, hanya kadang-kadang kami akur dalam beberapa hal. Tak seperti dengan Papaku yang sangat akrab denganku. Dan menurutku hanya dia yang mengerti perasaanku (ciee). Seiring waktu berjalan, tak terasa aku sudah berada di hari kenaikan kelas. Riuh suara anak-anak madrasah ditambah dengan suara para wali murid yang lain membuatku pusing. “perhatian.” ucap suara dari Speaker tingginya melebihi badanku. Dan tak butuh waktu lama untuk membuat para tuyul dan para walinya diam sejenak.

Saat itu Papaku tak bisa menghadiri acara tersebut dan digantikan Mamaku. Saat pengumuman Juara kelas, aku sangat fokus mendengar suara speaker tersebut walaupun para tuyul sibuk mengoceh. Walaupun aku sudah sangat berkonsentrasi sampai urat kepalaku ke luar seperti cacing sawah, masih saja tak terdengar jelas suara di speaker tersebut. Aku berlari ke depan panggung dan malah kupingku terasa mau lepas saking kerasnya suara speaker yang berada di depan wajahku. Aku agak mundur sedikit dan hampir menginjak kucing di belakangku.

“Ini adalah para juara kelas 1, mari kita sebutkan nama-namanya.” ujar Ibu guru yang menjadi moderator pada acara tersebut.
“Juara 3, dimenangkan oleh… Dwi Putriani.” kata ibu guru tersebut, aku sudah yakin tidak akan mendapatkan juara dan mulai berbalik badan untuk menjauh karena kupingku sudah hampir lepas. “Juara 2, dimenangkan oleh… Alena Alen Okta!” kata ibu tersebut. Sekejap langkah dan napasku terhenti, badanku mematung dengan kaki kanan seperti ingin melangkah, aku masih tak percaya atas apa yang ku dengar.

“Ada gak orangnya nih?” kata ibu guru tadi, aku pun segera berlari dengan senangnya dan melompat ke atas panggung seperti atlet panjat tebing. Setelah aku naik ke atas panggung aku baru menyadari kalau ada tangga di sebelah aku melompat tadi. “Ah bodo amat!” gumamku.
“Kamu Alen?” tanya ibu guru tadi.
“iya.” jawabku singkat.
“bukan cewek ya?” tanyanya lagi.
“bukanlah bu, astaga.” jawabku mengerutkan dahi.
Lalu ibu guru tadi bertanya pada wali kelasku, wali kelasku hanya tertawa sambil menganggukkan kepala.
“hahaha, maaf ya, Ibu gak tahu.” ujar ibu guru tadi sambil ketawa jahat.

Aku hanya berpura-pura senyum, dan lalu menerima hadiah dari ibu tadi. Selama Aku di atas panggung aku masih saja bengong dan tak percaya kalau aku menjadi juara 2 di kelas. Dan tak lama kemudian aku dicolek oleh ibu guru tadi, “Nak, temen-temen kamu udah bubar.” ku lihat semua orang sudah banyak yang pulang. Ternyata aku sudah 2 jam berdiri disitu (hadeh). Begitulah kali pertamaku mendapatkan juara.

Dan entah mengapa aku harus pindah sekolah meninggalkan Dimas, Rina, dan teman-temanku yang lain. Aku pindah dan menjadi orang yang seperti terasingkan lagi, cuma 1 orang yang ku kenal, Hendri namanya. Dia tinggal tepat di samping kontrakan yang ku tempati, orangnya besar dan lebih tinggi dariku dan kami berbeda 2 tahun. Aku saat itu baru naik kelas 2 SD sedangkan dia kelas 4 SD. Aku bersekolah di “SDN Sukabakti.” tepatnya di Curug, Tangerang.

Hari pertamaku di sekolah itu tak ada bedanya seperti masa-masa hari pertamaku di TK, dan sebagai penyandang gelar “The Invisible boy.” Aku tetap tak terlihat di mata siswa lainnya. Aku duduk di belakang walaupun aku sudah disuruh duduk di depan oleh Mamaku. Sebelum guru memasuki kelas, sudah tak asing lagi kalau para siswa bermain, lari sana-sini, joget-joget, lempar-lemparan meja (lah?). Tanpa disengaja mataku tertuju ke Nona Manis yang duduk di baris kedua dekat pintu. Dia saat itu sedang duduk menyamping, ku pandangi wajahnya begitu manis. Senyumnya membuat jantungku berdegup kencang. “kenapa nih gue?” batinku. Aku mulai merasa ada yang aneh, mataku tak mau lepas darinya, dan ternyata aku telah jatuh hati pada si Nona Manis dengan umur sebelia ini.

“Plak!!” kepalaku digaplok.
“ngelihatin siapa lo?” tanya orang yang menggaplok kepalaku tadi.
“nggak ngelihatin siapa-siapa kok.” jawabku bohong.
“jangan bohong lo.” katanya lagi.
“gue cuma lagi ngelihatin daftar pelajaran tuh, gak kelihatan dari sini.” kataku. Aku memang tak bisa membuat alasan yang masuk akal.

“yaelah, lo ngelihat dari sini gak bakal jelaslah bego.” katanya sambil menggelengkan kepala.
“iya ya.” kataku sambil nyengir. Dengan terpaksa aku harus mencatat ulang jadwal pelajaran yang sudah ku catat sedari tadi. Dan mataku tetap tak luput memandangi si Nona manis tadi dan si Nona Manis menengok ke arahku. Kalang kabut aku dibuatnya, wajahku memerah dan langkahku menjadi agak berat. Mungkin si Nona Manis tadi heran melihat tingkah anehku tadi sehingga dia menghampiriku.

“Kamu Alen ya? Anak baru kan?” tanyanya. Tanganku gemetar, keringatku mengucur derasnya seperi air terjun cibodas.
“I..iya.” jawabku singkat.
“hmm, kok namanya kayak cewek?” tanyanya lagi.
“hehehe.” Aku ketawa jelek. Dia hanya tersenyum melihat tingkahku yang absurd.
Tak lama kemudian, seorang guru pun memasuki kelasku dan mengabsen kami satu persatu. Dan aku tak aneh lagi saat Ibu guru tersebut keheranan saat mengabsen nama, “Alena Alen Okta.” dan ternyata pemilik nama itu adalah aku.

“Kamu Alen?” tanya Ibu guru itu heran.
“Iya Bu.” kataku sambil nyengir kuda.
“kok namanya kayak cewek?” tanyanya lagi.
“gak tahu Bu.” jawabku singkat. Setelah ku tunggu-tunggu ternyata nama Nona Manis tadi adalah Rani Nurmala. Mataku mulai lagi tak mau lepas dari dirinya. Tanpa ku sadari, Didit yang duduk di sebelahku memperhatikanku sedari tadi.

“kenapa lo?” tanyanya.
“nggak apa-apa.” jaawabku.
“beneran gak apa-apa?” tanyanya lagi.
“nggak kok, sumpah.” kataku lagi.
“buktinya lo dari tadi nge…” belum selesai dia bicara. Langsung ku potong omongannya. “gue gak ngelihatin si Mala kok, gue tadi ngelihatin papan tulis.”
“..lamun.” katanya menyambung ucapan yang terpotong tadi sambil bengong melihatku.
“Hadeehh.” kataku sambil mengusap dahiku. Ku lihat Didit nyengir setan sambil menggelitikku.
“Hahay, hahay.” katanya sambil menggelitikku.

Ya, cuma didit yang Akrab denganku di kelas. Sedangkan yang lain? Tidak ada sama sekali. Aku yang pendiam di kelas, menjadi sosok misterius bagi teman-teman di kelas. Dan bukan hanya pendiam, aku pun sangat payah dalam hal olahraga. “lempar ke sini len!” teriak si Ipul. Lalu bola kasti itu ku lempar ke arahnya dan malah bolanya melenceng ke luar gerbang dan mengenai kuali penggorengan abang-abang yang jualan cimol di depan sekolahku. Dan percikan minyak di kuali itu tumpah mengenai tangannya.

“hadddoooh.” teriak abang penjual cimol.

Aku buru-buru berlari ke dalam kelas, dan menganggap hal itu tak pernah terjadi. Napasku tersengal-sengal “hahaha.” ku dengar suara yang tak asing di telingaku. Ku tengok ternyata sedari tadi menonton pertandingan kasti yang konyol tadi lewat jendela.
“nah lo, abang tukang cimolnya kasihan tuh.” katanya sambil tertawa.
“gue gak sengaja, mal.” kataku masih tersengal-sengal. Dia hanya tertawa mendengar jawabanku.
“kenapa gak olahraga lo, mal?” tanyaku.
“lagi gak enak badan nih.” jawabnya singkat.
“len, tolong ambilin minum ya di kantor?” katanya memohon padaku.
“oke.” jawabku. Sebuah kehormatan tersendiri bagiku untuk menolong Nona Manisku satu ini, hehehe.

Saat ke luar kelas, ku percepat langkahku dan bisa disebut “Berlari.” Dan sialnya saat kembali dari kantor aku tak bisa berlari karena aku membawa segelas air minum untuk permaisuriku yang sedang menunggu di kelas. Akhirnya, aku pun sampai di kelas tanpa terlihat oleh abang penjual cimol yang sial tadi.
“nih mal.” kataku sambil menyodorkan air minum tadi.
“makasih ya len.” katanya sambil tersenyum.

Sejak saat itu kami sangat dekat, kami membicarakan hal-hal mulai dari hal yang bersifat basa-basi sampai ke hal tentang keluarga. Dan dari situ ku ketahui bahwa dia adalah keturunan orang jawa tulen. Rambutnya yang panjang dan agak ikal, tahi lalat di dagunya seperti Rano Karno, matanya yang bulat, dan bibirnya yang mungil selalu menarik perhatianku di kelas. Saat kelas 3, pelajaran Bahasa Inggris sudah diterapkan di kelasku. Dan aku bisa dibilang jago dalam pelajaran itu soalnya game yang ku mainkan itu juga bahasa inggris semua, ya jadinya ngertilah dikit-dikit hehehe.

Dan bukan hanya bahasa inggris, saat itu pelajaran TIK (teknologi komputer dan informasi) sudah diterapkan di kelas. Dan aku juga menguasai hal itu karena yang digunakan bahasa inggris.
Dan walaupun demikian aku tak pernah lagi mendapatkan juara kelas. Yang selalu mendapatkan nilai sempurna di kelas adalah Rani Nurmala. Ya, si Nona Manisku, dia ahli dalam segala bidang pelajaran. Tak heran kalau dia mendapatkan juara 1 di kelas.

Rabu, 31 Oktober 2007 adalah hari lahirnya anak tercantik dari orangtuaku, Namanya dulu adalah Aulia Nela Adam. Aulia adalah nama panggilannya. Nela adalah kebalikan dari nama panggilanku, dan Adam adalah nama almarhum kakekku. Tapi, saat umur 2 bulan (kalau tidak salah) dia terkena demam selama seminggu dan lalu diganti namanya menjadi “Naila Agustin.” Cukup simple. Saat itu aku menduduki kelas 4 SD. Dan aku sudah disunat (ceritanya sangat menyakitkan untuk diketik pada cerpen ini). Dan saat kelas 5 SD ada anak baru bernama “Muhammad Catra Bintang.” Aku duduk di sampingnya, dan sepertinya kami mempunyai hobi yang sama, “GAME.” Kami selalu bertukar pikiran tentang game.

Dan lama kelamaan aku baru menyadari seperti ada yang hilang di kelas ini. “Kemana Nona Manisku?” mataku mencari-cari dan setelah bertanya-tanya ternyata Mala pindah ke bogor ikut orangtuanya. Hatiku sangat murung saat itu, membuatku jadi serba malas. Malas makan, malas mandi, malas sekolah, malas tidur, malas minta jajan (pasti orangtuaku senang). Dan lama kelamaan aku mulai merelakannya pergi, dan keakrabanku dengan Bintang semakin menjadi. Kami selalu main Game di rumahnya walaupun aku mempunyai PS 1 di rumahku. Kami menonton DVD di rumahnya, dan kami bersahabat cukup lama sampai kelas 6 SD.

“Abang pindah ke lampung ya SMP nanti?” pinta Papaku.
“iya Pa.” jawabku dengan lunglai. Aku tak pernah membantah kemauan Papaku. Aku hanya bisa menurut asalkan Papaku bahagia.

Dan lagi-lagi aku bepindah tempat tinggal setelah beberapa kali pindah kontrakan di Tangerang. Saat SMP aku tinggal di Srimenanti, Lampung Utara. Aku bersekolah di SMPN 3 Tanjung Raja, berada di pemukiman yang dihiasi persawahan di sekitarnya. Berbeda sekali dengan di Tangerang yang Sesak oleh bangunan warga. Dan kali ini aku tak lagi menyandang gelar “The Invisible Boy.” akan tetapi menjadi “The Stranger.” (Orang yang Asing).

Aku menjadi pusat perhatian anak-anak di sana dikarenakan gaya bahasaku yang menggunakan “Elu-Gua.” Dan aku agak kaku menggunakan bahasa “Saya-Kamu.” membuatku tak banyak bicara di sekolah. Tanpa memakan waktu lama, semua orang di sekolahku mengenal namaku yang unik tersebut. Dan sekaligus menjadi primadona para wanita di sekolahku itu. Kebanyakan hanya orang pribumi sana yang bersekolah di SMP ini, dan rata-rata bersuku Sunda, Ogan, dan Semendo.

Aku sudah cukup banyak mendapatkan teman di hari pertama MOS. Diantaranya adalah “Wildan Effendi.” dan “Widodo Saputra.” tak banyak sih, tapi itu sudah cukup banyak bagiku hehe.
Kerjaanku saat istirahat hanya duduk-duduk di kantin dan terkadang hanya nongkrong di depan kelas, akan tetapi mengapa banyak yang mengenal namaku, aneh bukan? Seperti biasa, saat istirahat aku hanya duduk-duduk di depan kelas, ku lihat para kakak kelas memandangiku.

Tak ku hiraukan malah mataku tertuju kepada seorang wanita hitam manis di kejauhan. Ku lihat sepertinya dia memandangiku sejenak lalu berlalu ke kelas. Setelah ku selidiki ternyata dia kelas 7-B sedangkan aku di kelas 7-D, dan namanya adalah “Ayu Wulandari.” setiap ku memandanginya bagaikan ada angin segar dari konoha yang menjulur ke tubuhku. Huaaahhh.

Setelah ku cari tahu lagi ternyata rumahnya berada kira-kira 1,5 km dari rumahku. Tepatnya di desa Sindang Agung. Ku cari tahu tentang profilnya, mulai dari tanggal lahirnya, sampai tanggal menstruasinya (lah?). Dan ternyata dia belum punya pacar alias jomblo! nah lo, ini kesempatanku mendekatinya. Dan saat itu aku sudah dibelikan HP cina saat itu, walaupun cina tapi saat itu sudah seperti Iphone 6 mewahnya bro.

Ku cari tahu nomor hp-nya dari pacarnya tetanggaku yang berteman dengan Ayu. Setelah beberapa hari berjuang hasilnya tak sia-sia, ku dapatkan nomornya dengan segala macam alasan yang ku lontarkan kepada temannya itu. Saat mengetik SMS pun aku sangat grogi, tanganku gemetar, keringat dingin mengalir di keningku, bibir pecah-pecah, kencing manis, mata merah, gusi bengkak, stroke ringan (lah?).

Cerpen Karangan: Mr. X
Facebook: Adam McLawless

Cerpen The Stranger (Part 1) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Melodi Cinta Penuh Makna (Part 2)

Oleh:
Hari berganti hari dan tiba saatnya dimana hari ini aku memiliki janji bersama sahabat-sahabatku untuk berkumpul tetapi lagi-lagi aku lebih memilih bersama Arif dan membatalkan janjiku. “Maaf aku tidak

Cahaya Senja Sekejap Hilang

Oleh:
Pagi ini, burung-burung kecil nampak berkicau menyapaku. Aku mulai membuka mataku dan terbangun dari mimpi indahku semalam. Kubuka jendela imutku dan ku pandang langit yang seakan tersenyum menyambut hari

Cinta Pertama (Pacar Sehari)

Oleh:
Banyak yang bilang bahwa cinta pertama akan selalu diingat sampai kita tua nanti. namaku mas ming umurku 26 tahun tepatnya bulan september 2016. cinta pertamaku hadir saat aku masih

Ketika Cinta Bertanya

Oleh:
Sudah 5 tahun lebih, aku mengagumi gadis itu, gadis yang humoris, selalu ceria, tersenyum, walaupun ketika ia bersedih. Dia sahabatku sejak 5 tahun lalu, namanya cantika ayu pratiwi, sebenaranya

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *