Warung Internet (Part 1)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Gokil, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 28 May 2016

Gue terbangun dari tidur cantik, eh salah, tidur ganteng gue. Sialan! gue kaget bukan main setelah mendapati diri gue yang masih di warnet! Di depan umum! Di kursi kehormatan gue sebagai orang yang diamanahi sebagai penjaga warnet pula! Sh*t! jam udah menunjukkan jam 6 malem, sebentar lagi gue harus ganti shift dengan orang lain! Dan anj*r, apa-apaan komputer yang di depan mata gue ini?! Baru gue tinggal sebentar udah muncul beberapa bejibun angka-angka tumplek-tumpah-ruah-duar yang bikin gue depresi aja. Dan di depan gue juga udah banyak orang yang ngantre buat bayar tagihan warnet mereka. Seakan-akan gue udah tidur setahun atau lebih, antrean mereka udah sepanjang Tembok Besar Cina! Gue sontak langsung ngerapiin tampilan gue yang udah mulai kucel ini, dan siap melayani mereka yang mau bayar.

Namun ada beberapa hal yang bikin kelima indra gue jadi gak karuan. Pertama, mata gue terpana oleh pandangan kedua bola matanya yang kecokelatan itu, serta rambut ikal panjangnya yang tampaknya halus dan gak berketombe itu. Kedua, telinga gue terasa nyaman begitu mendengar suara langkah kakinya yang lembut itu. Ketiga, hidung gue, hidung gue bisa menghirup bau parfum bunganya yang begitu feminin. Keempat, lidah gue gak mampu membantu mulut gue untuk merangkai kata-kata. Dan yang terakhir ini paling sialan menurut gue, kulit gue merasa merinding begitu merasakan langsung aura mempesonanya yang menusuk-nusuk kulit gue hingga ke tulang. Sialan, sialan, cewek macam apa doi ini?

Melihat cewek ini, gue langsung membandingkannya dengan diri gue. Pertama, lo pada akan mengalami gangguan mata berupa katarak setelah melihat penampilan gue yang kucel abis-abisan ini. Kedua, gendang telinga kalian akan pecah kalau denger suara gue yang kelewat nge-bass ini. Ketiga, hidung kalian bisa kena polip atau sinusitis kalau menghirup semerbak bau badan gue yang belum mandi ini. Keempat, lidah kalian gak akan mampu berkata-kata setelah melihat gue yang kumel ini. Dan terakhir, kulit kalian akan merinding akibat aura gue yang menakutkan bin horror ini. Kesimpulannya, gue dan doi bagai langit dan bumi! Jauh bangeetttt!

“Kak, tolong bantu aku ya, mulai hari ini, aku magang buat jaga warnet di sini…” Sesuai dugaan gue, suaranya selembut sutra yang udah disetrika pake pelicin. Bikin telinga gue nyaman banget. Doi terus menatap mata gue, bikin gue tambah salting, melting, korsleting, dan bentar lagi jadi sinting!
“I.. iyaa,” gue tergagap menjawab kata-katanya yang lembut. Gue tatap terus raganya dari ujung kepala sampe ujung kaki. Bukan maksud jorok, gue berusaha mencari-cari pelet apa yang dia pake karena udah bikn gue terpesona begini. Terakhir, gue tatap terus matanya dalam-dalam.. Lebih dalaamm.. Dalam bangeett…

Siang ini cukup terik karena matahari sedang mengamuk di atas sana. Walaupun matahari sedang gencar-gencarnya menunjukkan perlawanan seolah lagi menyemprot gue, gak mengizinkan gue buat pergi, tapi gue sih memilih untuk tetap bandel. Dan tetap ke luar rumah, mencari-cari di mana rumah cewek yang udah berhasil bikin gue terpesona itu. Tatapan mata, wangi badannya, rambutnya, auranya, bener-bener bikin gue gila dan kebelet ingin segera mendapatkannya, jadiin dia pacar gue. Ah… Namun dari tadi gue terus mencari-cari, gue baru sadar gue hanya berputar-putar ke tempat yang sama. Gue terus menemui ibu-ibu rumpi yang sepertinya sedang asyik ngumpul di sana.

Mereka dari tadi terheran-heran melihat gue yang terus muter-muter kayak gosokan. Padahal jelas-jelas temen-temen gue bilang rumah Khanza, si cewek itu ada di dekat sini. Rumah blok A6/11, kata temen-temen gue. Ibu-ibu rumpi itu makin membuat gue salting ketika mereka rame-rame ngetawain gue secara massal karena gue belagak gak tahu jalan (karena emang sebenernya gue gak tahu jalan kaleee!). Aduuhh, malu-maluin banget nih. Apalagi jarum barometer motor gue udah menunjukkan bensin gue dalam keadaan F, fuel please, f*ck, artinya bensin motor gue udah mau sekarat gilaa! Dan tandanya, bentar lagi gue harus ngegandeng motor gue dengan mesra.

“Mas, dari tadi kok muter-muter terus, cari rumahnya siapa ya, Mas?” celetuk seorang ibu-ibu yang dari tadi sibuk ngerumpi sambil milihin daster baru buat dibeli. Ibu-ibu ini rupanya lagi bertransaksi jual-beli daster, bro!
“Hehe, saya lagi cari rumahnya Khanza, Bu. Mau ngasih tahu laporan kas hasil pendapatan warnet kemarin ke dia,”

Gue cengar-cengir salting sambil garuk-garuk hidung gue yang tiba-tiba jadi gatel. Gue rasa bakteri di dalem hidung gue juga jadi ikutan salting karena mau mengadakan konser untuk ngerayain kemenangan gue sejauh ini, makanya mereka reramean bikin hidung gue gatel. “Oh, cari Khanza. Saya Ibunya Khanza, Mas. Mari, saya anter ketemu Khanza,” Hah, what, what, what, what?! Ibu-ibu berambut sebahu dan berbadan mungil tapi berisi ini ternyata Ibunya Khanza. Pantesan, cantiknya nurun. Aduuhh.. Makasih banyak ya, Bu. Bu, boleh gak anaknya saya lamar hari ini, terus saya bawa pulang? dalem hati gue bergumam sendiri sambil cekikikan sendiri.

“Boleh Bu, Naik aja di motor saya..” Ibu Khanza, eh, calon ibu mertua gue yang bongsor ini langsung naik di boncengan gue yang sedari tadi gak ada yang ngisi. Beliau juga gak lupa pegangan ke pinggang gue. Dan itu juga yang bikin gue langsung melesat, memacu motor gue lebih cepat (dalam upaya menghindari peristiwa ironis berupa menggandeng motor dengan mesra saat mogok) untuk menuju ke tempat yang ibu itu tunjukan. Yang tak lain tak bukan adalah.. Rumah Khanza, pujaan gue.

Lima menit kemudian, gue langsung sampe di rumah Khanza berkat bantuan calon ibu mertua gue. Gue pandangi rumah warna hijau yang kelihatan asri karena dipenuhi tanaman-tanaman dan bunga-bunga cinta gue buat Khanza (halah!). Gue pandangi juga nomor rumahnya yang ternyata bukan blok A/11, tapi blok A/21. Sialan, gue dikerjain temen-temen gue lagi! Calon ibu mertua gue senyum-senyum melihat gue mematung kayak patung lutung buntung. Abis itu, doi dengan tangan terbuka, iklas, tabah, dan ramah mempersilahkan gue masuk ke ruang tamu untuk bertemu (dan selanjutnya ngelamar, hoho) Khanza. Lagi-lagi gue mematung sambil memandangi ruang tamu yang benar-benar tampak nyaman karena dibalut warna putih. Ditambah hiasannya semuanya berwarna cokelat jati. Dan lagi, aroma semerbak bunga lavender yang dipajang di sini, menghipnotis gue dan memprovokasi gue untuk tertidur. Sialan, kenapa gue jadi ngantuk gini?

Gak lama setelah itu, Khanza, si bidadari, ke luar dari tirai pintu depan ruang tamu dengan anggunnya. Haduuh hidung gue tambah gatel, pipi gue rasanya memerah membara seperti semangat gue yang pengen ngedapetin doi, tapi gue juga jadi ngantuk gara-gara aroma lavender itu. Untungnya ada wajah cantik Khanza, badan indah Khanza, dan parfumnya yang gue rasa wangi rosemary ini, jadi gue bisa tetep melek memandangi doi. Doi ke luar dengan baju rajut panjang warna peach, dan rok jeans selutut warna cokelat tua. Rambutnya yang ikal panjang dikuncir kepang ke belakang. Haduuhh.. Khanzaa.. andai lo tahu, gue bener-bener merona, terpana, terpesona karena lo hari ini.

“Hmm.. Oh iya, ini laporan kas pendapatan warnet kemaren. Gue kasihin ini karena lo gak ke warnet kemarin,”
“Hehehe, iya, Kak. Sorry, Kak, kemarin aku gak masuk, kepala aku pusing, demam pula,” Haduuh… Za, Zaa.. Senyum doi itu loh. Manis banget. Lebih manis dari gula termanis di seluruh dunia. Bibirnya yang merah merekah dan matanya juga ikut tersenyum. Haduuhh.

Karena gue gak mampu jawab kata-kata Khanza, gue terdiam mematung lagi. Menatap wajah ke bawah, bayangin wajah Khanza yang baru aja tadi gue lihat. Sambil nyampirin tangan kiri gue ke leher gue. Gue salting dan juga mikir gimana caranya buat bisa dapetin doi sekarang juga. Si doi yang di samping gue juga nampaknya ikutan salting, pipinya merona merah, sambil malingin muka dari gue. Gue kemudian natap doi yang terus malingin muka, sambil menerka apa yang dipikirkan sambil malu-malu kucing. Walhasil, karena kami berdua sama-sama salting, kami diem-dieman sejenak. Hufft, gue menghela napas dalem-dalam, mempersiapkan jurus pamungkas gue. Pokoknya, gue harus ngedapetin Khanza, sekarang, harus sekarang juga, gue bergumam dalam hati seakan mau modar besok. Ya, sekarang waktunya gue keluarin jurus pamungkas bro-bro sekalian!

“Eh, Za.. Lo mau gak jadii…”
“Jadi apa hayo?” Calon ibu mertua gue tiba-tiba nongol dari ‘gerbang’ yang tampaknya dapur itu. Sialan, padahal tinggal dikit lagi! Doi ke luar bawa nampan bunga-bunga yang di atasnya ada dua gelas ramping berisi cairan warna merah, atasnya gelas itu dihiasi potongan buah jeruk nipis. Namun walaupun tampilan gelas-gelas itu emang kelihatan manis, tapi entah kenapa gue curiga bahwa yang dibawa calon ibu mertua gue isinya darah, bukan sirop. Warnanya pekat banget! “Hehehe….” gue cuma bisa cengar-cengir sendiri untuk menjawab pertanyaan calon ibu mertua gue. Salting banget lah, bro!

“Za, Ibu ke luar dulu ya, mau beli daster. Moga langgeng ya kalian! hahaha” Calon ibu mertua gue yang berbadan berisi itu melenggang ringan dengan gelak tawa yang bikin gue makin salting. Baguslah, sepertinya usaha gue akan terbayar dengan naik ke pelaminan bareng Khanza kalau gue berhasil ngedampingi dan menjaga Khanza dengan baik nantinya. Tapi tetep aja salting.
“Ih, Ibu apaan sih..” Ciee.. ciieee.. akhirnya gue bisa lihat senyum malu-malu kucingnya Khanza yang tiba-tiba muncul saat calon ibu mertua gue melenggang ke luar rumahnya. Indah banget rasanya duniaa. Setelah itu gue dan Khanza diem-dieman lagi karena lagi-lagi sama salting.

“Oh iyaa. Hmm.. Kak Yoga tadi mau bilang apa?” Haaduuuhh.. Khanzaaa.. Lo bikin gue gilaaa.
“Oke, hmm.. mau gak, jadi.. hmm.. hhmm.. pa.. pacar gue?” Gue terpaksa ngulang lagi apa yang harusnya gue udah bilang lagi dengan terbata-bata karena udah saking melting, salting, korsleting, dan sintingnya gara-gara Khanza.
“Hmm.. aku.. aku gak.. gak.. gak keberatan kak,” Haah?! Gue gak salah denger nih? Telinga gue masih normal kan? Telinga gue gak ada masalah kan? Gue melongo kayak kambing congek setelah itu. Gak percaya sekaligus berharap kalau kejadian yang barusan terjadi itu bener-bener nyata.

Gue dan Khanza turun dari motor secara perlahan, takut ngejengkal. Well, well, well, bro-bro sekalian, hari ini gue umumkan kepada dunia kalau hari ini adalah hari pertama gue jaga warnet bareng Pacar baru gue, Khanza! Setelah memohon-mohon dengan sangat ke orangtuanya doi tadi, akhirnya gue berhasil membawa Khanza mengarungi lautan, melintasi daratan, mendaki gunung untuk sampai ke warnet ini. Entah kenapa hari ini perjalanan gue ke warnet terasa sangat panjang dan begitu menantang. Ehm.. Mungkin karena ada seorang bidadari cantik yang harus gue jaga supaya gak lecet sedikit pun sepanjang jalan ke sini. So, setelah kami turun, kami langsung membuka pintu Warung Internet tempat kami mencari pendapatan yang masih terutup. Hawa warnet yang tenang karena masih sepi dan bau kabel-kabel yang menjulur mulai tercium dari luar. Ehm.. Ngomong-ngomong, kenapa gue jadi puitis banget gini sih?! Apa karena kehadiran Khanza yang telah merubah hidup gue?!

Cepet-cepet gue dan Khanza langsung beberes warnet yang kotornya minta ampun ini. Maklum, tadi malem itu malem minggu, para jomblo yang ngenes, merana, dan kesepian pada mengadukan nasibnya di sini. Jadilah, sampah-sampah bermacam rupa bertebaran di mana-mana kayak begini. Bungkus makanan ringan yang masih ada isinya, tutup pulpen, rok*k, plastik, botol minuman bekas, dan hei, lihat! Gue menemukan gunungan-gunungan tisu! (yang entah gak tahu bekas dipake buat apaan aja. Tapi, gue yakin, beberapa ada yang dipakai buat.. Ah sudahlah.. -if you know what I mean). Ngelihatnya aja bikin gue mendadak pengen howeekk! Walaupun sebenernya gue benci beberes, tapi senyuman Khanza bener-bener bikin jiwa pembantu gue yang udah berabad-abad terpendam mendem ini jadi bangkit lagi.

Bersambung

Cerpen Karangan: Risti Fauziyah Habibie
Blog: tishaxandria.blogspot.com
Akhirnya setelah sekian lama bias nulis cerpen lagi. Pake nama pena pula! XD. Ini adalah cerpen pertamaku yang punya sad ending dan juga karakter utama cowok. Cerpen ini dibuat karena terinspirasi oleh seorang teman yang namanya Yoga Adhityara Ramadhany. Minta kritik dan sarannya, ya!. Enjoy! Facebook: Re Xandria. Twitter: @tshxandria. Instagram: tshxandria. E-mail tshxandria[-at-]gmail.com. Blog: http://tishaxandria.blogspot.com

Cerpen Warung Internet (Part 1) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


6 Desember

Oleh:
“Ya ampun.. Kakak belum bangun juga!” Terdengar suara Viza sedikit kesal karena melihat tempat tidur kami yang masih berantakan. Ditambah dengan sekujur tubuh yang tergeletak masih terlelap di atasnya.

Menggapaimu Bukanlah Mimpiku

Oleh:
Ku tak bisa menggapaimu Tak kan pernah bisa Walau sudah letih aku Tak mungkin lepas lagi Lagu itu menggambarkan perasakanku kepada pemain basket di sekolahku, namanya Rizky, siswa yang

Datang Dan Kembali

Oleh:
“Huaaah…” rasa ngantukku kalah dengan semangatnya hari ini. Namaku Reina. Hari ini adalah hari pertamaku masuk ke dunia SMA. Rasanya benar-benar nggak sabar. Ingin sekali merasakan SMA tuh seperti

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *