A Demit Love Story

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Segitiga, Cerpen Fantasi (Fiksi), Cerpen Horor (Hantu)
Lolos moderasi pada: 19 January 2016

Langit jingga mulai berpadu dengan kegelapan. Ku lihat jam yang melingkar di tanganku menunjukan pukul 17:35. Ku rasakan titik-titik air berjatuhan dari langit. Aku berjalan pelan, merasa bersalah dengan semuanya. Cinta, perasaan, harapan. Dua wanita, yang satu menjalin hubungan tapi tak ada cinta di dalamnya, wanita yang lain baru hinggap di kehidupanku tapi telah ku ukir namanya dalam hatiku. Cinta, dilema, ingin ku bakar semuanya dengan api yang ku miliki.

Aku adalah Banaspati, Demit yang berkeliaran di senja hari dan haus akan darah manusia. Api adalah kekuatanku dan air menjadi sumber kelemahanku. Tapi, aku lebih baik tenggelam dalam air daripada jatuh dalam jurang penderitaan cinta manusia. Entah apa yang ku pikirkan saat bertemu dengan Marni. Dia mengutarakan perasaannya padaku dan parasnya yang cantik menawan tak mungkin membuatku untuk menolak. Hingga waktu terus berjalan dan mengungkapkan rahasia di balik sosok Marni. Ia pun sama denganku, Demit. Tapi ia berasal dari keturunan Kuntilanak yang dikenal dengan gelar mahluk munafik. Kuntilanak selalu mempunyai maksud di balik sikapnya dan parasnya yang cantik.

Saat aku tahu dia seorang Kuntilanak, saat itu juga kami kehilangan komunikasi. Hubungan kami retak, dan kami pun tak lagi bertemu di danau saat bulan purnama, juga tak lagi mencari mangsa bersama. Aku tak tahu apa dia menyimpan dendam padaku, apakah ia akan balas dendam. Yang jelas, aku jauh darinya sekarang. Bahkan aku merasa lebih baik jauh darinya, karena aku memang tak pernah menyimpan rasa untuknya.

Aku masih berdiri di trotoar. Memandangi langit yang beberapa menit kedepan akan berubah gelap. Hingga di seberang jalan sana, seorang gadis mengusikku. Ia menatapku dan ku tahu tatapan itu adalah tatapan kesedihan. Matanya sayu dan sesekali ia mendesah. Wajahnya tampak ayu dengan pancaran sinar senja. Ia melontarkan senyumnya padaku dan wajahnya semakin tampak cantik. Aku berjalan melewati zebra cross ketika lampu lalu lintas menyala merah dan ku hampiri dia.

“Ha-hai..” sapaku agak canggung.
“Hai.” ia menyapa balik dengan hangat, tersenyum meskipun aku tahu kalau dia tengah dilanda kesedihan. Kami berjalan pelan berdua. Tak ada yang bicara baik dia ataupun aku. Kami hanya menatap jalan di depan sekali-kali mencuri pandang satu sama lain. Tiba-tiba wajahku memerah, detak jantungku berdegup kencang. Ku pikir aku akan mati jika terus diam seperti ini.

“Mmm.. Aku belum pernah melihatmu sebelumnya,.” ujarku membuka pembicaraan.
“Iya.. aku baru pindah kemarin. Aku ditugaskan oleh Dokter di Puskesmas.” jawabnya.
“Oh.. Kamu Dokter?”
“Bukan, aku hanya perawat magang.”

Percakapan kami berhenti sampai di situ. Kami larut dalam diam lagi, hanya saling menatap menebar senyum. Wajah merona karena malu, gugup, dan canggung melanda kami. Hingga akhirnya kami harus berpisah. “Oh.. Aku sudah sampai di Apartemen-ku, sampai jumpa lagi.” Gadis itu berjalan menaiki tangga seraya tersenyum melambaikan tangan padaku. Aku membalas lambaiannya juga senyumnya. 10 menit terasa sangat cepat berlalu, tapi ialah momen paling indah selama aku hidup ribuan tahun membaur dengan manusia.

Senja berikutnya kami bertemu lagi, di depan restoran yang menyediakan meja untuk sekedar duduk santai sambil meminum kopi. Di meja no. 21 kami duduk berhadapan. Suasana saat ini tak seperti tempo hari. Canggung dan perasaan malu mulai hilang dan kami terasa akrab seperti sudah saling kenal sejak lama. Kami pun sudah bertukar nama. Yang tak berubah adalah pandangannya, ia terus menampakkan mata kesedihan. Hal itu cukup menggangguku.

“Sarah, ku lihat pandanganmu selalu nampak sedih. Apa ada masalah?” tanyaku penasaran.
“Ah, tidak…” Jelas sekali ia menyembunyikan sesuatu.
“Ayolah, aku tahu kau menyembunyikannya. Katakan saja.” ujarku.

Ia menarik napas seraya berkata.

“Akhir-akhir ini, aku mulai percaya dengan mahluk mitos. Mungkin ini terdengar gila, tapi aku selalu memimpikan hal aneh.” percakapan kami mulai serius, apalagi Sarah mengusik tentang Demit. “Aku melihat darah, air mata. Juga gadis yang mengenakan gaun hitam dengan tawanya yang memekakkan. Gadis itu berparas cantik, matanya berwarna perak bagaikan rembulan tapi seakan dialah sumber kejahatan dalam mimpi itu.” Sambungnya.

“Marni..” gumamku saat mendengar keterangan Sarah tentang wanita bergaun hitam di mimpinya itu.
“Apa?” Sarah mendengarku bergumam.
“Ah, tidak. Jadi, apa yang sekarang kau percayai?”
“Apa kau pernah mendengar legenda Demit? Itulah yang aku percayai sekarang. Aku tahu ini gila tapi..”
“Tidak.” aku memotong. “Kau memang benar, mereka hidup berbaur bersama kita..” ujarku.
“Bagaimana kamu tahu?” Ia bertanya, tapi saat itu aku harus pergi. Matahari hampir tenggelam dan wujud asliku akan muncul.

Rembulan tepat berada di tengah langit. Dupa yang dari tadi telah mengirim asap berterbangan ke udara. Aku sendiri dalam wujud Banaspati tengah duduk di tengah-tengah rumput gajah dan wadah-wadah berisi organ-organ manusia hasil perburuanku tadi. “Apa kamu membawanya?” tanya Dukun itu yang juga seorang Demit. Ia adalah Leak dengan kemampuan supernatural. “Iya, ini Puang..” aku memberikan barang yang dimintanya.

Leak ini pun memulai aksinya, ia terlihat seperti orang kesurupan setelah menaburkan sesuatu ke dalam dupa yang menambah tebalnya asap. Jari-jarinya bermain diatas dupa. Ia nampak lebih seperti orang kejang dari pada seseorang yang membaca jampi.

“Kuntilanak…. Kuntilanak..” Leak ini bergumam sembari menatap bulan. Tangannya terus gemetar hingga ia menatapku dengan mata merahnya seraya berkata.
“Kuntilanak. Yang menganggu gadis itu adalah Kuntilanak.”

Sudah ku duga bahwa Marnilah di mimpi itu.

“Terima kasih Puang. Aku bawakan hadiah untukmu.” tentu saja aksi Leak tadi harus dibayar, dan organ-organ tubuh manusia adalah kesukaan para Leak. Hati, empedu, ginjal, otak. Malam ini Dukun Leak ini berpesta pora.

Senja demi senja berlalu, keanehan demi keanehan pun terjadi dalam kehidupan Sarah. Ia bercerita padaku, bahwa sosok gadis bergaun hitam itu atau lebih tepatnya Marni, tak hanya muncul dalam mimpi saja tapi juga mulai mengganggu dalam keseharian Sarah. Hubunganku dengan sarah pun berlanjut semakin serius. Kami saling menyerahkan perasaan satu sama lain, cinta. Tapi aku masih merasa takut, khawatir akankah perasaan Sarah hancur saat tahu siapa aku sebenarnya.

Kami tengah berjalan berdua di tepi danau yang indah, suara cicitan burung dan angin yang berhembus lembut membuat suasana semakin romantis. Di danau ini kami berjanji untuk saling mencintai, selalu ada satu sama lain hingga maut memisahkan. Tiba-tiba…

“Rian… Sarah.. Ah, manis sekali.” seseorang muncul tiba-tiba menganggu percakapan kami, aku tak merasa asing dengan suaranya tapi harus ku pastikan lagi.
“Ah… Rian! dialah gadis bergaun hitam itu.” Ujar Sarah sembari berlari ke arahku, ke pelukanku. Marni menampakkan dirinya dari balik pepohonan yang mulai bergoyang.

“Apa kau mengingatku Rian, wanita malang yang kau tinggalkan di antara penderitaan dan penyesalan?” ujar Marni menampakkan amarahnya, suara alam semakin berisik. Kabut tebal menghalang sinar mentari. Aku tak pernah menduga kekuatan kuntilanak sekuat ini. Hingga mampu mengubah siang menjadi malam.

“Apa yang kau lakukan di sini Marni?” tanyaku sembari memeluk kuat Sarah.
“Kau mengenalnya?” tanya Sarah di waktu tak tepat.
“Tentu saja Sarah, dia adalah pacarku..” Ujar Marni membuat Sarah melepaskan pelukanku. Kemudian Marni mendekat ke telinga Sarah dan berbisik.

“Dan dia adalah Demit.” lalu tersenyum sinis.
“Apa!?” Sarah terlihat sangat syok, ia berlinang air mata.
Aku berusaha mengenggam tangannya tapi ia menolak.
“Sarah, aku.. Aku ingin memberitahumu sejak awal tapi… ta–”
“Riaaaaan!!”

Jantungku terasa sakit, sebilah pisau tembus menggapai jantungku. Sakit sekali, aku merasa lemas. Ku dengar Marni mengatakan sesuatu di belakangku sambil terus mendorong lebih dalam pisau yang dihunuskannya ke dalam tubuhku. “Aku masih mencintaimu, Rian. Diam-diam aku terus mengawasimu dalam keseharian. Hingga Sarah, manusia yang merebut cintaku datang. Kau tahu betapa sakitnya hati yang kau tinggalkan ini. Sekarang semuanya sirna, hanya dendam dan amarah yang sekarang menyatu bersama pisau dan jantungmu.”

Pandanganku buram. Hingga tubuhku basah dan ku dengar suara Marni tertawa dan berkata lagi. “Darah Manusia, mungkin darah Banaspati lebih aman.” Aku tak melihat Sarah lagi, aku hanya melihat tubuhku bersimbah darah larut dalam air. Larut dalam kematian akibat cinta dan dendam.

The End

Cerpen Karangan: Hidayatullah
Facebook: Day Young

Cerpen A Demit Love Story merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Lonely

Oleh:
“sekolah lagi.. sekolah lagi… Hufft membosankan!!” aku menghardik diriku sendiri di dalam kesunyian. Alunan suara jangkrik masih terdengar di antara sejuknya pagi. Baju seragam putih kukenakan beserta rok kotak-kotak

Sebuah Kisah

Oleh:
Tanganku meraba-raba sekitar. Basah. Perlahan, aku menyadari aroma yang menguar dari tempatku berada. Daun. Kelopak mataku terbuka. Pupil mataku mulai menyesuaikan diri dengan cahaya sang surya yang masuk. Setelah

Gadis Penunggu Di Senja Hari

Oleh:
Ketika matahari mulai meredup, sang awan pun dengan seksama menjadi penguasa langit, menyisingkan senja yang berlinang jingga. Di sekolah itu hanya kesunyian yang menyelimuti, tak ada guru yang sering

Kudoakan Yang Terbaik Untukmu

Oleh:
Aku memandang mentari senja di sebuah pelataran. Gedung kampus ini memang mengizinkan mahasiswanya untuk bersantai-santai di atap. Sehingga tempat ini menjadi salah satu tempat favorit bagi para muda-mudi yang

Operasi Outlone (Part 3)

Oleh:
“Badan Inteligen Negara membentuk program pelatihan sipil yang bernama ‘Outlone’. Program ini dijalankan oleh para dokter yang ahli di bidangnya dan diawasi oleh tentara dan polisi terpercaya, tujuan program

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *