Aku adalah Kamu

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Horor (Hantu), Cerpen Misteri
Lolos moderasi pada: 3 June 2017

Derap langkah kaki terdengar begitu nyaring menemani sepinya malam ini. Entah kenapa, aku merasa malam ini begitu sangat berbeda dengan malam sebelumnya, detak jantungku tiba-tiba berdebar dengan ritme yang cepat, dan angin dingin malam berhembus berbisik pada telinga.

Terdengar seseorang menangis tidak jauh dari tempat aku berjalan saat ini, aku berhenti melangkah dan menengokan kepala ke segala arah mencari sumber suara itu. Semakin jelas suara tangisnya saat kakiku dengan refleks berjalan menuju tempat yang begitu sepi dengan pohon rindang dimana-mana membuat bulu kudukku seakan tambah meremang katakutan.

Kuputuskan untuk berbalik arah dan kembali melanjutkan perjalanan pulangku yang tertunda. Namun, saat kakiku mulai melangkah dan memutar balik arah, mataku tidak sengaja menangkap sosok objek yang membuatku penasaran. Seorang gadis kecil sedang menangis di bawah salah satu pohon rindang di tempat itu. Ia mengenakan pakaian tidur bewarna putih, rambutnya ia biarkan tergerai menutupi wajahnya. Tapi, apa itu di bajunya? Berwarna merah, seperti… darah?

Aku pun mulai penasaran, kenapa gadis itu menangis sendirian di bawah pohon rindang di malam hari dan di tempat sepi seperti ini, dengan bercak darah di baju tidur putih motif bunganya itu.
Tanpa rasa takut sedikitpun, aku menghampiri gadis kecil itu. Setelah jarak kami sangat dekat, aku pun berjongkok di depannya mensejajarkan posisi kami. Lantas meraih pundak gadis yang bergetar mungkin karena tangisnya.

Tapi, apa ini? Mataku menyipit melihat begitu banyak sekali luka di tangan dan kakinya. Siapa yang tega melakukan hal seperti ini kepada gadis yang aku yakini baru berumur 8 tahun ini. Sungguh malang nasib gadis ini, masih kecil sudah dianiyaya dengan keji seperti ini.

“Dek?” kuraih pundak tangan gadis ini, ia berjengit. Mungkin kaget melihat kedatanganku yang tiba-tiba? Gadis itu menatapku dengan tatapan takut, seketika tubuhnya bergetar.
“Siapa kau?! Tolong jangan bawa aku pulang!! Aku tidak ingin pulang!! Aku tidak ingin pulang!!” teriak gadis itu histeris, membuatku berjengit kaget. Dapat kurasakan ketakutan yang melanda gadis itu. Terlihat dari mukanya yang mendadak pucat sepucat mayat, dan tangan, kaki, serta badan yang bergetar hebat.
“Tunggu, jangan salah paham dulu” ucapku meraih tangan gadis itu, mencoba menenangkannya. “Oke, saya tidak akan membawamu pulang, karena saya tidak tau siapa dan berasal dari mana kamu. Tapi, saya hanya ingin bertanya, kenapa kau bisa ada di sini? Gadis kecil sepertimu tidak baik berada di tempat yang sepi seperti ini. Bagaimana jika ada yang melihatmu dan berniat jahat kepadamu?”.
Gadis itu terdiam, menatapku dengan air mata yang mengalir. “Siapa namamu?” tanyaku dengan lembut, barangkali ia ingin berbicara. “Arylin” jawabnya, membuat aku menautkan kedua alisku. Jika ditelaah dengan seksama, gadis ini memiliki hampir setiap lekukan yang mirip denganku.
“Arylin?” beoku. Gadis itu mengangguk dan menatapku, “Nama kakak juga Arylin kan? Kakak cantik, dan mirip denganku” ucap gadis itu tersenyum manis ke arahku, aku pun tersenyum ke arahnya. Entah mengapa, melihat Arylin kecil, seperti melihat diriku sendiri.
“Baiklah jika kamu tidak ingin aku antar pulang, bagaimana jika kamu ikut saja denganku ke rumahku” sebenarnya itu lebih ke pernyataan bukan pertanyaan. Gadis itu terdiam, mungkin sedang berfikir. Beberapa detik kemudian ia mengangguk, dan aku anggap itu sebagai jawaban.

Kami pun sampai di rumahku tepat pukul 21.00 WIB. Kupersilahkan dia untuk menenangkan diri di kamar yang dikhususkan untuk tamu. Sementara aku pergi ke kamarku untuk mandi dan beristirahat.

Waktu telah menunjukan pukul 23.00 tengah malam. Aku masih terjaga, tidak bisa tidur. Aku masih gelisah dangan pikiranku. Siapa gadis itu? Dari mana asalnya? Kenapa dia menangis? Kenapa dia tidak ingin pulang? Kenapa tubuhnya dipenuhi dengan luka?

Saat mataku mulai kupaksakan untuk terpejam, suara ketukan pintu kamarku membuatku untuk menunda tidurku. “masuk!” teriakku mempersilahkan masuk. “Apa aku mengganggu kakak?” Tanya gadis yang tadi mengetuk pintu kamar setelah ia membuka sedikit celah untuk masuk ke dalam kamarku.
“Oh kamu. Tidak Lin, ayo masuk” ia pun masuk setelah menutup kembali pintu kamarku. “Sini duduk” ucapku menepuk kasur tidurku agar dia duduk di sebelahku. Ia pun menurut. “Ada apa?” tanyaku to the point.
“Aku ingin bercerita kenapa aku berada di tempat itu malam-malam dengan keadaan menangis dan baju yang dipenuhi bercak darah. Pasti kakak bertanya-tanya, kan?” Dia menatapku dengan mata yang berkaca-kaca. Aku tak menjawab apapun, dan juga tidak memberi respon apapun padanya. Jujur, aku pun penasaran dengan gadis ini.

“Namaku Arylin, umurku 8 tahun. Saat aku kecil, aku hidup dengan gelimang kasih sayang yang orang uaku berikan padaku. Aku sangat dimanja oleh mereka, dan mereka akan memberikan apapun yang aku inginkan. Sampai suatu saat, ibu mengandung adikku. Saat usia kandungan ibu menginjak usia 5 bulan, sebuah tragedi menimpa ibuku, yang membuat kandungan ibu keguguran. Itu semua gara-gara ibu yang menyelamatkanku saat aku hendak tertabrak oleh motor. Sejak saat itu, ibu berubah sikapnya padaku, ia menjadi lebih keras, dan tak jarang aku dipukuli. Tak ada lagi senyuman hangat yang ibu berikan untukku, tak ada lagi hadiah, pelukan, canda tawa, dan kasih sayang. Yang ada hanyalah tangisan pilu yang berasal dariku, saat ibu memukul dan menyiksaku.

Suatu hari, aku membuat kesalahan dengan memecahkan vas bunga kesayangan ibu. Biasanya, ibu selalu menegurku dengan nada lembut agar aku tidak lagi mengulangi kesalahan yang sama. Tapi hari itu, ibu memarahiku, memukulku, menamparku, bahkan memakiku dengan berbagai makian ‘anak pembawa sial, anak tidak tau diuntung, dan berbagai makian lain yang membuat hatiku seolah tercubit’.
Aku hanya bisa menangis menerima semua siksaan yang ibu berikan padaku. Ayah pun hanya diam saja melihat ibu menyiksaku, aku tidak mengerti dengan ayah, kenapa semuanya jadi begini? Bahkan aku sudah memanggilnya sambil menangis, “ayah tolong aku! Ayah sakit! Sakit sekali! Tolong aku, ibu maafkan aku!” Ayah tetap diam, lalu meninggalkanku tanpa mengucapkan sepatah katapun. Aku takut ibu.

Sampai suatu ketika, aku mendengar pembicaraan ayah dengan seseorang, yang mengatakan bahwa ibu sudah gila karena depresi. Aku tidak percaya, tapi jika dilihat dengan kelakuan ibu selama 2 tahun kebelakang, aku akhirnya mempercayai fakta bahwa ibu depresi.

Suatu hari, aku membuat kesalahan lagi dengan memecahkan piring di dapur. Aku yakin, ibu mendengar suara pecahan yang dihasilkan piring itu. Saat aku membalikan badan, di sana, di ambang pintu, berdiri sosok yang paling aku takutkan, berdiri dengan belati di tangan dan seringai menakutkannya.
Tubuhku bergetar, apa yang akan ibu lakukan padaku kali ini? Tidakkah cukup 2 tahun dia menyiksaku? Saat aku berniat kabur, di belakang ayah sudah memiting tanganku ke belakang.
Ibu mendekat ke arahku, membuat keringat dingin bercucuran layaknya hujan yang tidak bisa dihentikan di seluruh badanku, ia mengacungkan belati itu ke arahku. Aku meronta meminta untuk dilepaskan, tapi aku tak cukup kuat.

Ibu sudah berada tepat di hadapanku, dan mulai menyayatkan belati ke atas kulitku yang mulai memucat. Aku berteriak kesakitan, kupikir aku akan mati di tangan ibu dan ayah kandungku malam ini. Tapi, aku merasakan, sesuatu yang hangat menetes di dahiku, sebutir air. Kudongakan kepala, ternyata ayah menangis dalam diam melihatku disiksa.
Ayah kemudian membisikkan seseuatu di telingaku, “Tendanglah tulang kering ayah sekuatmu, nak. Larilah secepat dan sejauh yang kau bisa. Ayah janji, suatu saat nanti ayah akan menemukan dan membawamu pulang kembali setelah ibu sembuh. Maafkan ayah yang selama ini hanya diam melihatmu disiksa oleh ibu kandungmu sendiri. Tapi, perlu kamu ketahui satu hal, ayah begitu menyayangimu.” Bisiknya sambil mengecup pucuk kepalaku, membuatku terharu.

Tanpa berpikir lagi, aku pun segera menuruti semua perkataan ayah dan segera lari. Sekarang aku sadar, selama ini ayah diam saja karena tidak tahu cara untuk menyelamatkanku. Ia hanya menunggu waktu yang tepat saja.
Ayah… aku juga sangat menyayangimu dan juga ibu, walaupun ibu sering menyiksaku dua tahun ini, tapi tetap jasanya tidak akan pernah aku lupakan.

Aku berlari tanpa arah dan tujuan dengan air mata yang mengalir di atas pipi yang tersayat belati. Sesekali kutengokan kepala ke belakang, takut-takut ibu mengejarku dan membawaku kembali ke rumah laknat itu. Aku tidak mau pulang sebelum ibu sembuh dan ayah menjemputku, sesuai dengan janji ayah.

Aku menangis, air mataku tak bisa berhenti, air mata itu meluruh di atas sayatan luka yang masih baru membuat rasa perih yang luar biasa. Bau amis darah tercium di seluruh tubuhku yang dipenuhi darah. Aku ingin berhenti menangis, tapi tak bisa, mengingat nasib ayahku yang membiarkanku pergi. Apa ayah tidak apa-apa?

“Arylin jangan lari kamu!!” tubuhku menegang, sungguh aku tidak kuat untuk berlari lagi. Kakiku sudah tidak kuat. Kulihat ibu berlari sambil membawa belati yang kini sudah penuh dengan darah, dengan rambut acak-acakan dan kaki tanpa alas kaki.

Di belakangnya, kulihat ayah mengejar ibu dengan kaki pincang dan luka di mana-mana. Tunggu… pincang? Luka? Apa yang telah ibu lakukan pada ayah? Apa ibu melukai ayah yang membiarkanku pergi? Ayah… maafkan aku… itu semua gara-gara aku.

Kini, aku pasrah, menunggu ibu di bawah pohon rindang dan tempat sepi nan gelap gulita itu. Aku pasrah, dan sekarang… ibu sudah berada di hadapanku dengan seringainya yang menakutkan.

Tubuhku meluruh di atas tanah, kupeluk kaki ibu, dan mulai menangis di sana. “ibu… aku mohon… maafkan aku. Aku tidak bersalah bu, saat itu aku masih sangat kecil. Aku yakin, adik sudah bahagia di sisi Tuhan. Jika ia melihat ibu yang seperti ini, dia juga pasti akan sangat sedih… ibu tolong… aku juga anak ibu, seorang ibu tidak akan pernah tega menyiksa anaknya. Ibu… aku sayang ibu… sangat” Ucapku disela tangis, semakin erat memeluk kaki ibu.

Lama tak ada reaksi yang ibu berikan, kudongakan kepala menatap ibu. Ibu hanya terdiam, menatap kosong ke depan. Air matanya menetes di atas keningku. Apakah ibu sekarang sudah mengingat bahwa aku adalah anaknya?

Tapi, beberapa saat kemudian ibu tertawa dengan kesan yang menakutkan di telingaku, dengan air mata yang menetes di pipi cantiknya. Ia menatapku tajam, “kau bukan anakku! Kedua anakku sudah mati! Dan kau penyebabnya! Nyawa dibayar nyawa!” setelah kata-kata itu diucapkan ibu, aku tak tahu apa yang terjadi pada diriku.

Setelah kejadian itu, aku terbangun di tempat itu, awalnya aku bingung, kenapa aku bisa ada di tempat itu. Setiap malam aku terbangun di tempat itu, dan menangis.
Sampai saat kau menghampiriku, barulah aku ingat apa yang terjadi, dan kenapa aku bisa berada di tempat itu, dan alasan itu adalah kau, Arylin. Apa kau tahu, bahwa hanya kaulah yang bisa melihatku?”

Aku menggelengkan kepala menatap gadis yang sekarang sedang menundukan kepalanya. Tunggu… apa katanya? Hanya aku yang bisa melihatnya? Jadi…
Lama menunggu, gadis itu tak kunjung juga menjawab. Dengan keringat dingin, aku menyentuh pundak gadis itu. Dia pun mendongak.

Betapa kagetnya aku saat dia mendongakan kepala, sampai-sampai aku memundurkan badanku. Apa yang terjadi? Mengapa sekarang gadis itu menjadi sangat mengerikan? Tatapannya menjadi kosong, wajah sepucat vampire, bibir putih kering dan dari sudut bibirnya keluar darah. Darah mengalir di leher karena luka dengan sayatan besar yang menganga sampai tulang lehernya pun terlihat. Bajunya yang putih, kini berubah menjadi merah darah, bau amis tercium di hidungku.

Sekarang aku mulai takut, keringat dingin semakin bercucuran di seluruh tubuhku. “Apa kau takut padaku, Arylin?” bahkan suaranya pun terdengar mengerikan di telingaku. Aku tak menjawab karena tiba-tiba lidahku terasa sangat kelu, dan susah untuk mengucapkan kata walau satu huruf saja.

“Aku sudah lama menunggumu di tempat itu. Aku hanya ingin menyampaikan pesan padamu. Jika suatu saat kau terlahir kembali, jadilah anak yang baik dan jangan nakal. Jika hari itu tiba, aku pasti akan membisikan sesuatu yang membuatmu menurut pada perintahku. Aku ingin mengubah takdir Arylin di masa depan. Sebelum kau benar-benar menjadi diriku, ingatlah kata-kata yang baru saja aku katakan. Ini semacam kutukan. Kita di dimensi berbeda. Perlu kau tau, bahwa kau adalah aku, dan aku adalah… kamu. Aku pasti akan membuatmu ingat dengan kejadian hari ini. Pasti. Dan bersiaplah Arylin”

Arylin pun menghilang seiring dengan angin yang berhembus masuk ke dalam sunyinya kamar Arylin.

Tamat

Cerpen Karangan: Rini Rindiyani
Facebook: Rini Rindiyani
Nama: Rini Rindiyani
Alamat: kp.Cigadog RT/RW 01/13, desa. Kutawaringin, kec. Kutawaringin, kab. Bandung, Jawa Barat
Tempat, tanggal lahir: Bandung, 05 Oktober 2000
Sekolah: SMKN 1 SOREANG jurusan TKJ
Hobby: membaca, menulis
Cita-cita: penulis, orang sukses dan menjadi orang yang berguna untuk orang banyak.
Agama: islam

Cerpen Aku adalah Kamu merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Luku Berdarah

Oleh:
Awal mula terungkapnya cerita ini dari anak bernama Nila yang lagi liburan di desa tempat tinggal pamannya bersama kedua temannya yaitu Ani dan Niya. Keduanya mempunyai kelebihan melihat makhluk

Gadis Misterius

Oleh:
Siapakah gadis yang memakai gaun bercahaya dan bermahkotakan rangkaian bunga mawar dan bunga melati itu… ia melangkah dengan anggunnya menulusuri padang rumput juga melintasi sungai biru nan jernih, lalu

Pemutar Waktu

Oleh:
Aku menyesal. Kenapa? Karena banyak masalah semenjak aku ada di SMA ini. Rasanya aku ingin sekali kembali ke SMP. Sekali saja waktu setelah UN SMP itu terulang. Aku bisa

Derita Annamarie

Oleh:
Mentari pagi yang telah membangunkan tidurku, segera aku bergegas menuju kamar mandi dan bersiap menginggat Hari ini hari kedua ku melaksanakan MOS di SMA Tunas Bangsa yang dilaksanakan selama

Rumah Tua

Oleh:
Mentari mulai merengsek naik dari peristirahatannya. Warna kejinggaan memperindah langit timur yang dihiasi oleh bintang-bintang kecil. Hari ini hari minggu dan kebanyakan orang lebih memilih bangun siang dibanding menikmati

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

5 responses to “Aku adalah Kamu”

  1. Anggun salsabila says:

    Hebat… Sampai deg-degan membacanya. Terus berkarya ya kak!

  2. Bagus banget ceritanya sampai bikin deg-degan….

  3. David Aji says:

    Secara tersirat, cerpen ini mengajarkan tentang kita apa itu reinkarnasi.

  4. Gheena Adzihnie says:

    Cerpen nya serem tapi lama lama jadi sedih bacanya ok
    Terus berkarya ya kak….

  5. namaku says:

    wahhh seram sekalii aku jadi takuttt hahhhahahah.
    cerpen ini seru mantaf

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *