Alas Pati

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Horor (Hantu)
Lolos moderasi pada: 21 January 2023

Pada suatu hari ada lima orang sahabat yaitu Raya, Jessie, Vega, Rio, Dan Rendi. Mereka ini tengah dibuat dilemma karena sudah lama meraka upload video ke youtube namun view mereka segitu gitu aja. Ditengah kebingungan Raya tiba tiba mendapatkan sebuah ide dan mengajak yang lain pergi vlog di sebuah hutan yang bernama Alas Pati dimana hutan tersebut merupakan hutan keramat disana ada sebuah tempat yang dijadikan pemakaman.

Pada saat itu Rio, Rendi, dan Vega langsung setuju raya pun segera menghubungi, keesokan harinya mereka berlima on the way Alas Pati, dalam perjalanan mereka menghampiri sebuah warung. Pada saat itu Rio bertanya kepada ibu pemilik warung
“Apakah sudah dekat bu, dari hutan Alas Pati” Tanya Rio “Alas Pati sudah tak jauh lagi, kalian tinggal menyeberang saja” jawab ibu pemilik warung
Tak lama kemudian mereka melanjutkan perjalanan.

Setelah beberapa menit mereka telah sampai di kawasan Alas Pati, mereka semua Nampak gembira tanpa mengetahui apa yang akan terjadi pada mereka nantinya, sambil menelusuri hutan tersebut tiba tiba alat penangkap suara rio berdengung samar samar terdengar seperti orang teriak kesakitan.

“Teman teman apakah kalian dengar suara yang samar samar tadi nggak?” Tanya Rio “Kami tidak mendengar apa apa” jawab Rendi “Kamu jangan nakut nakutin dong!” ujar Jessie “Aku tidak menakut nakuti kalian tadi aku memang mendengar orang teriak kesakitan” ujar Rio

Mereka pun tidak memikirkan perkataan Rio dan langsung melanjutkan perjalanan di tengah perjalanan mereka melihat sebuah pemakaman yang aneh karena semua mayat tidak dikubur tetapi digeletakkan diatas dipan bambu yang kurang lebih tingginya lima meter dan ditutupi tikar.

Mereka berlima malah main main dengan mayat tersebut, Raya tiba tiba menaiki dipan bambu tersebut dan Raya pun melihat mayat yang berada di atas dipan, kemudian Raya melihat sebuah kalung yang dipakai mayat tersebut, karena Raya tertarik dengan kalung tersebut Raya pun memutuskan untuk mengambil kalung tersebut. Namun Rio melihat Raya yang sedang mengambil sesuatu di mayat tersebut.
“Apa yang kau ambil dari mayat tadi?” Tanya Rio “Aku tidak mengambil apa apa” jawab Raya dengan rasa panik “Tapi aku melihat kamu seperti sedang mengambil sesuatu dari mayat itu” jawab Rio yang curiga dengan Raya
Rio pun memberi tahu kepada teman temanya agar tidak mengambil barang barang yang berada disini.
“Teman teman kalian jangan ambil barang barang yang ada disini dan jangan main main dengan mayat yang berada di sini!” ujar Rio

Namun hanya Jessie yang mendengarkan perkataan Rio dan yang lain tidak mendengarkan perkata Rio mereka malah main main dengan mayat tersebut, lalu Raya dan yang lain memaksa agar Jessie naik ke atas dipan yang berisikan mayat, dengan rasa terpaksa Jessie menaiki dipan bambu tersebut, disaat yang bersamaan Raya merekam Jessie yang sedang menaiki dipan bambu tersebut.

Tak disangka tiba tiba dipan bambu tersebut rubuh disaat Jessie menaiki dipan tersebut sehingga Jessie tertancap pada penyangga dipan tersebut hingga menembus badan Jessie, sontak mereka semua panik dan lari meninggalkan mayat Jessie yang berlumuran darah.

Dengan rasa takut mereka memutuskan untuk pergi meninggalkan hutan itu, saat ditengah perjalanan mereka mendengar suara Jessie dengan samar samar yang meminta untuk tidak ditinggalkan
“Jangan tinggalkan aku disini”
Tetapi mereka mengabaikan suara tersebut, dan merekapun pergi menuju ke mobil.

Setelah mereka sampai di mobil, merekapun bergegas dan mengemas barang barang mereka. Mereka semua langsung pergi pulang, disaat perjalanan mereka membahas kejadian yang telah ditimpa Jessie
“Bagaimana cara kita berbicara kepada orangtua Jessie?” Tanya Rio dengan rasa panik “Kita jangan memberi tahu dulu kepada orangtua Jessie jika Jessie telah meninggal” ujar Rendi “Iya sebaiknya jangan memberi tahu dulu ke orangtua Jessie” kata Vega “Iya sebaiknya kita mencari waktu yang tepat untuk memberi tahu orangtua Jessie” kata Raya
Namun Rio tidak setuju atas usulan teman temannya
“Aku tidak setuju Karena nanti malah jadi besar urusannya” kata Rio.

ADVERTISEMENT

Sesampainya di rumah merekapun termenung seakan tidak percaya apa yang terjadi. Berkali kali mereka melihat video rekaman dimana Jessie terjatuh hingga terbunuh di Alas Pati.

Pada keesokan paginya mereka beraktivitas seperti biasa seolah olah lupa kejadian kemarin. Dua hari berlalu keluarga Jessie mulai kawatir dengan keadaan Jessie, mama Jessie selalu menelfon teman teman dekat Jessie ditambah lagi Rio dan Rendi diteror dengan arwah Jessie. Karena mereka sering diteror arwah Jessie, merekapun memutuskan untuk jujur kepada orangtua Jessie atas kejadian yang telah menimpa Jessie. Rendi dengan rasa terpaksa menelfon mama Jessie bahwa Jessie telah meninggal di Alas Pati karena kesalahan mereka yang telah menyuruh Jessie agar naik ke dipan tersebut. Sontak mama Jessie marah dan menangis mendengar perkataan Rendi, kemudian mama Jessie menyuruh mereka untuk mengantar ke tempat Jessie meninggal.

Keesokan harinya mereka berempat mengantar keluarga Jessie menuju Alas Pati. Setelah sampai di Alas Pati mereka menunjukkan tempat dimana Jessie meninggal, kemudian keluarga Jessie membawa pulang jasad Jessie untuk dikuburkan di tempat kediamannya. Disini mereka berempat menangis melihat jasad Jessie yang membusuk mereka lalu meminta maaf kepada keluarga Jessie, dengan rasa terpaksa keluarga Jessie memaafkan mereka berempat dan iklas atas berpulangnya Jessie.

Beberapa bulan pun telah berlalu, namun Raya tetap diteror dengan penunggu Alas Pati, Raya tidak sadar bahwa ia sudah mengambil kalung dari mayat yang ada di hutan Alas Pati. Raya ingat bahwa ia telah mengambil sebuah kalung dari mayat yang ada di alas Pati. ia berniat ingin mengembalikan kalung tersebut akan tetapi Raya takut dan trauma atas kejadian yang menimpa dia dan teman teman.

Dengan rasa takut ia menelfon Rio agar mengantarnya pergi ke Alas Pati Rio bertanya
“Rio tolong antarkan aku pergi ke Alas Pati” kata Raya “Kenapa kamu ingin pergi ke Alas Pati” tanya Rio “Aku ingin mengembalikan kalung yang telah aku ambil dari Alas Pati” jawab Raya “Kan aku sudah bilang jangan mengambil apa apa dari hutan itu” kata Rio “Iya maaf, tapi tolong aku mengembalikan kalung ini” kata Raya “Ya besok saja kamu datang kerumahku” kta Rio “Ya besok aku datang ke rumahmu” jawab Raya

Keesokan harinya Rio pun mengantar Raya untuk pergi ke Alas Pati. Sesampainya disana mereka mencari tempat mayat yang mereka temukan dan raya mencari mayat yang telah ia ambil kalungnya, tak lama kemudian mereka menemukan yang sedang Raya cari, Raya pun bergegas untuk mengembalikannya, setelah mengembalikan kalung tersebut Raya dan Rio meninggalkan hutan dan langsung pergi pulang.

Disaat perjalanan Raya berharap agar tidak diteror lagi
“Semoga aku tidak diteror oleh mayat itu lagi” kata Raya “Ya semoga kamu tidak diteror lagi” jawab Rio

Beberapa bulan sudah berlalu mereka sudah hidup dengan tenang tanpa gangguan dari penunggu Alas Pati atau kegelisahan dan mereka melupakan kejadian yang telah mereka alami di Alas Pati

Cerpen Karangan: Mervino Justin S

Cerpen Alas Pati merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

WhatsApp


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Teror Boneka Itu

Oleh:
Pada hari itu Vivian membantu ibunya membongkar gudang yang ada di rumahnya. Tiba-tiba ia menemukan boneka beruang warna pink, ia melihat di telapak kaki boneka itu ada angka 12

Misteri Elang dan Panji Legiun

Oleh:
Hari ini adalah hari yang istimewa bagi John, sebab Ayahnya baru pulang dari Jerman dan membawa hadiah baginya. “Selamat datang Papa, bawa hadiah nggak?” ujar John. Ayahnya menjawab, “bawa

Boneka Tua

Oleh:
Aku bernama Rindu aku seorang anak kecil yang tinggal bersama dengan sang nenek. Aku diberi boneka saat ulang tahun oleh Ayahku boneka itu aku kasih nama Mimi. Suatu hari

Sang Penolong (Part 3)

Oleh:
Matahari bergerak semakin turun, mengubah langit jingga menjadi gelap, para orang tua menarik lengan anak mereka agar memasuki rumah dan sekarang menyisakan jalanan yang begitu sepi. Adzan berkumandan, bergema

Where Are You? (Part 2)

Oleh:
Diriku lalu termenung di dalam kesunyian. Dedaunan di pepohonan berjatuhan dengan lambat mengenai air di rawa yang kecil. Angin mulai bertiup dan suara nyanyian mulai terdengar. Nyanyian itu terdengar

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *