Ambulans

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Horor (Hantu), Cerpen Misteri
Lolos moderasi pada: 11 November 2015

Tap… tap…
Terlihat seorang gadis yang berlari tergesa-gesa di tengah rintikan hujan. Air matanya tersamar oleh air hujan yang menimpa pipinya, tetapi hal tersebut tidak menyembunyikan raut wajahnya yang ketakutan. Sambil sesekali menoleh ke belakang ia terus berlari melewati jalan sepi di tengah hutan. Langkahnya terhenti tepat di atas sebuah tebing. Ia tak bisa kemana-mana lagi. Seorang pria dengan seringainya yang mengerikan berjalan perlahan mendekati gadis itu. Di tengah keputusasaanya ia memutuskan untuk melompat dari tebing.
“Ah rupanya aku hanya bermimpi,” Nadia terbangun dengan napas yang tersengal-sengal dan keringat membanjiri seluruh tubuhnya.

“Kau tahu Nadia? aku benci sekali dengan Edwin. Memang dia pikir siapa dia? bisa datang dan pergi begitu saja. Aku bukan boneka yang masih bisa tersenyum, meski sudah pernah dibuang ke tong sampah dan dipungut lagi. Hei Nad kau mendengarkanku bukan?” tanya Keyla yang melihat Nadia tidak menanggapi curhatannya dan hanya melamun sambil menatap ke arah jalan raya. Di tengah lamunannya Nadia melihat sebuah ambulans yang melaju dengan kecepatan tinggi dan tepat di depannya sebuah sedan melaju dengan kecepatan yang sama.

Keduanya akan bertabrakan. “Awas!!!” spontan Nadia berteriak. Namun sebelum hampir bertabrakan ambulans tersebut menghilang begitu saja.
“Hei ada apa Nadia?” tanya Keyla yang terkejut dengan teriakan Nadia.
“Tadi.. aku melihat sebuah ambulans yang akan bertabrakan dengan sebuah sedan,”
“Mana aku tak melihat, lagi pula jalanan juga sedang macet,” Keyla celingukkan.

Nadia berlari menuju kampus meninggalkan Keyla. Ia masuk ke toilet menyalakan keran lalu membasuh mukanya.
“Kau tak apa-apa kan Nad?” Keyla masuk menyusul Nadia.
“Tidak, aku baik-baik saja Key,”
“Aku tahu kamu orang yang tertutup, aku juga tidak bermaksud untuk ingin tahu. Aku hanya khawatir. Akhir-akhir ini aku sering melihat kau melamun semenjak…”
“Sudahlah Keyla,” potong Nadia, “Sudah kubilang aku baik-baik saja!” bentak Nadia.
“Oke, baiklah kalau memang begitu,” Keyla mengalah lalu meninggalkan Nadia.

Malam ini Nadia kembali bermimpi. Ia berada di tengah hutan yang gelap dan sepi. Tidak beda jauh dari mimpinya yang semalam. Dari kejauhan ia melihat sesosok laki-laki berseragam putih. Jantungnya berdebar dengan cepat. Baru saja ia ingin berlari, tetapi sebuah tangan terasa mencekik lehernya. Laki-laki tersebut hanya berjarak beberapa sentimeter dari dirinya. Wajahnya gosong dan kedua bola matanya yang tidak ada sehingga menimbulkan lubang hitam yang sangat menyeramkan. Nadia masih berusaha untuk melepaskan tangan laki-laki tersebut dari lehernya dan akhirnya berhasil. Ia segera berlari menjauh. Namun laki-laki tersebut berhasil mendapatkan kembali Nadia. Ia menarik tangan Nadia dengan keras hingga kukunya yang panjang menembus kulitnya. Nadia mengerang kesakitan.

“Mau kemana Nadia? Kau adalah korban terakhir. Seharusnya kau sudah mati bersama teman-temanmu waktu itu. Aku belum tenang jika korban terakhirku belum mati. Maka dari itu aku akan membunuhmu sekarang!” ucap laki-laki tersebut. Ia memegang sebuah pisau bersiap membunuh Nadia.
“Jangan… aku mohon jangan…” Nadia terbangun. Ia merasakan sakit dan perih di tangannya dan ia begitu terkejut mendapati tangannya yang berlumuran darah dan penuh luka. Segera ia menuju wastafel untuk membersihkan tangannya. Lukanya terlihat begitu jelas seperti bekas cakaran dan kulitnya yang agak sedikit robek. Nadia meringis kesakitan sambil mengambil kotak obat lalu membalut lukanya.

Pagi ini Nadia pergi ke kampus dengan tangannya yang diperban. Ia melihat jalanan sepi lalu hendak menyeberang, namun tiba-tiba ia melihat sebuah ambulans yang muncul dengan kecepatan tinggi dan langsung menabraknya. Nadia terpental beberapa meter dan mendarat di atas taman depan kampusnya. Keyla yang melihat langsung menghampirinya.
“Hei jangan melihat saja cepat bawa ia ke rumah sakit,” ucap Keyla kepada kerumunan orang-orang yang mengelilingi Nadia. Keyla terlihat begitu panik melihat sahabatnya sekarat.

Keyla menunggu di depan ruangan tempat Nadia dirawat. Sesekali ia mengintip melalui jendela yang tertutup setengahnya dengan gorden hijau. Ia terlihat begitu cemas dengan keadaan Nadia.

“Kau tahu apa yang terjadi pada temanmu?” seorang lelaki berwajah cukup tampan dan berperawakan tinggi menghampiri Keyla lalu duduk di sebelahnya.
“Kau ini siapa?” tanya Keyla mengernyitkan dahinya.
“Perkenalkan namaku Ardan,” ucap laki-laki itu sambil menyodorkan tangannya.
“Aku Keyla,”
“Apa kamu nggak melihat apa yang terjadi dengan temanmu?” tanya Ardan kembali.
“Aku hanya melihat Nadia tiba-tiba terpental begitu saja,”

“Temanmu itu sebenarnya tadi ditabrak sebuah ambulans,”
“Ambulans? kau ini bercanda tadi aku tak melihat ambulans di sana,”
“Tentu saja kau tak melihatnya, ambulans itu bukan berasal dari dunia kita. Ambulans itu berasal dari dunia lain dan hanya orang-orang tertentu saja yang dapat melihatnya,”
“Aku semakin tidak mengerti dengan apa yang kamu katakan,”
“Kau memang tidak mengerti, tapi aku yakin temanmu itu pasti tahu,”

Seorang perawat masuk untuk memeriksa keadaan Nadia. Ia sudah sadar, tetapi keadaannya masih sangat lemah. Nadia terus memperhatikan perawat yang dia pikir agak sedikit aneh. Wajahnya pucat seperti tidak ada setetes pun darah yang mengalir dalam tubuhnya.
“Kenapa Nadia? apa ada yang aneh denganku?” tanya perawat itu yang kemudian berubah menjadi sesosok laki-laki seperti yang ada di dalam mimpinya. Laki-laki tersebut langsung mencekik leher Nadia. Ia meronta-ronta berusaha melepaskan diri.
“Nadia, kamu kenapa?” Keyla masuk dan terkejut melihat Nadia meronta-ronta sambil memegangi lehernya.

Ardan yang ikut masuk segera menolong. Ia menarik makhluk yang sedang mencoba membunuh nadia. Makhluk itu terlihat marah dengan apa yang dilakukan Ardan, ia pun mencoba menyerang Ardan, namun gagal. Ardan berhasil mencengkeram bahu makhluk itu. Seketika makhluk itu menghilang menjadi kepulan asap beraroma daging terbakar.
“Kamu nggak apa-apa Nad?” tanya Ardan. Nadia menggeleng, ia masih terlihat ketakutan.
“Hei sebenarnya ada apa ini?” tanya Keyla yang terlihat bingung.
“Nadia, sepertinya makhluk itu sudah berani mengganggumu di dunia nyata. Sebaiknya kau harus cepat melenyapkan makhluk itu atau kau…” Ardan menggantung kata-katanya.
“Ya aku tahu,”
“Makhluk apa? melenyapkan apa? Bisakah kalian menjelaskan kepadaku?” tanya keyla yang semakin bingung.
“Semua ini ada kaitannya dengan kejadian satu bulan lalu, petugas ambulans yang menabrak semua temanmu hingga tewas. Ia sepertinya bersekongkol dengan iblis. Tugasnya untuk membunuh ketujuh remaja tidak berhasil dan menyisakan kamu. Namun pria tersebut sudah tewas sebelum menyelesaikan tugasnya. Dan kini ia sedang memburumu sebagai korban terakhirnya,” jelas Ardan.

“Tapi bagaimana kau tahu? aku bahkan tidak mengenalmu sebelumnya,”
“Aku ada di sana saat kejadian itu terjadi termasuk saat mayat pria yang dibakar masa itu bangkit. Nadia tepat malam ini kau harus menyelesaikan semuanya,”
“Tapi bagaimana caranya?”
“Kau harus ke sana tepat tengah malam dan mengubur mayat pria itu,”

Jam 12 tepat tengah malam Nadia, Keyla dan Ardan tiba di tempat pembunuhan keenam teman-teman Nadia yang sedang berkemah pada saat itu. Masih terekam jelas dalam ingatannya saat mereka sedang membuat api unggun, lalu mencul sebuah ambulans yang langsung menabrak semua teman-temannya. Warga yang melihatnya segera memanggil masa lalu membakar ambulans tersebut bersamaan dengan pengemudinya.

Nadia berjalan menuju ke arah bangkai ambulans yang hanya menyisakan kerangkanya saja. Matanya menangkap sesuatu yang membuatnya mual. Mayat petugas ambulans itu masih di sana. Ternyata tidak ada warga yang sudi untuk menguburnya secara layak. Tiba-tiba terdengar suara sirine ambulans.
“Nadia awas!” Keyla mendorong Nadia hinnga akhirnya ia yang tertabrak ambulans tersebut,”
“Keylaa!!” Nadia segera menghampiri Keyla yang terbaring dengan luka parah di kepalanya,”

“Ardan, bagaimana ini? Kita harus cepat membawanya ke rumah sakit,” ucap Nadia sambil terisak.
“Jadi menurutmu aku harus melakukannya?” tanya Ardan sinis.
“Kenapa kau berkata seperti itu?” tanya Nadia kesal.
“Untuk apa aku menolong temanmu sedangkan aku juga ingin membunuhmu korban terakhirku?”
“Ja… jadi kau…” seketika itu sebuah ambulans tanpa pengemudi menabrak Nadia dengan kecepatan tinggi.

Cerpen Karangan: Intan Hanana
Facebook: Intan Hanana

Cerpen Ambulans merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Wanna Play With Me?

Oleh:
Malam semakin larut, ini disetujui oleh jarum jam yang menunjukkan pukul 23.07. Aku masih bergeming menonton film action yang kuputar melalui laptopku. Walau sudah kutonton beberapa kali, aku tetap

Mawar Berdarah

Oleh:
Jam sudah menujukkan waktu 07.00 tapi sandra belum bangun juga suara mama yang dari tadi membangunkannya pun sudah mulai geram. “San.. Sandra! Denger gak sih udah siang nih buruan

Mengungkap Kasus Pembunuhan Jenny

Oleh:
Lantunan ayat suci masih bergema di ruang utama itu. Sedang suara tangisku tidak kalah keras. Ini adalah hari ke-40 kembaranku pulang ke Rahmatullah. Isyarat yang ia berikan kepadaku cukup

Who Is Deathya

Oleh:
Namanya Deathya Girla. Orang-orang biasa memanggilnya Deathya. Gadis pendiam yang menurutku selalu sedih. Setiap jam istirahat Deathya menangis di bangkunya, tidak ada yang tahu akan hal itu. Aku tahu

Hantu Pohon Beringin

Oleh:
Ada sebuah Pohon Beringin, di desa Laila, konon katanya Pohon Beringin itu memiliki arwah penunggu, karena Pohon itu milik seorang Dokter. Suatu hari Dokter itu, pergi berbelanja ke mall,

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

3 responses to “Ambulans”

  1. Raihanur says:

    Ceritax seru, n menakutkan….
    Aku sukaa ama crita ni 🙂

  2. nadia says:

    suka ceritanya, lanjut cerita horor yang lebih serem

  3. Malika Sekar R. says:

    Hiiii merinding serem bgt ceritanya n bagus bgt

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *