Anak Lutung Anak Lutung

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Bahasa Sunda, Cerpen Horor (Hantu), Cerpen Ramadhan
Lolos moderasi pada: 20 July 2016

Percaya gak percaya, namun hal ini terjadi. Orangtua kita dulu selalu menasihati kepada para anaknya yang menggendong bayi di malam hari, diharuskan menutup kepala bayi tersebut dengan kain sambil mengucapkan “anak lutung, anak lutung”. Hal ini dimaksudkan agar supaya bayi tersebut tidak diganggu makhluk halus karena mereka (makhluk halus) mengira bahwa bayi tersebut memang anak lutung.

Kejadiannya kira-kira tahun 2001an dimana ketika itu bayu bersama istri dan anaknya mau pulang kampung alias mudik lebaran ke bandung ikut mobil pamannya, maklum bayu dan istrinya adalah kaum perantau. Bapak bayu asli sukabumi sementara ibunya asli cianjur, sementara sutini, istri bayu asli bandung. Mereka merantau ke karawang karena alasan tempat bekerja dimana tempat kerja bayu adalah di karawang. Umumnya kaum perantau apabila menjelang lebaran maka rasa rindu untuk berkumpul bersilaturahim dengan orangtua dan sanak saudara sangat begitu terasa. Sama halnya dengan keadaan bayu pada saat itu dimana tetangga kanan kiri sudah pergi pulang kampung, yang tinggal hanya beberapa keluarga saja yang memang asli kelahiran setempat sehingga menjelang hari-hari terakhir bulan ramadhan kampung terasa sepi, jamaah sholat tarawih pun mulai berkurang dan shafnya makin maju.

Dua hari menjelang lebaran tiba bayu dan sutini masih di rumah, di karawang. Mereka ragu untuk mudik karena saat itu mereka punya bayi yang masih kecil. Kebayang kan betapa repotnya bepergian sambil membawa bayi dimana situasi menjelang lebaran penumpang bus antar kota antar propinsi begitu berjubel berdesak-desakkan, maklum saat itu mereka adalah rumah tangga baru yang masih dalam proses perjuangan menuju kemapanan rumah tangga dimana segalanya masih serba kekurangan dan keterbatasan. Jangankan punya mobil, motor saja mereka tidak punya, semuanya serba memprihatinkan. Namun berkat keyakinannya dan keikhlasannya menerima takdir sambil terus berusaha bekerja akhirnya mereka tetap sabar dan bertahan menjalankan bahtera rumah tangga apa adanya, mereka yakin suatu saat nasib akan berubah, laksana roda pedati, tidak selamanya selalu di bawah. Dalam berusaha bayu selalu teringat tausiyah pak ustadz di pengajian rutin tiap malam minggu bahwa Allah melarang orang beriman berputus asa dari rahmatNya karena orang yang berputus asa dari rahmat Allah adalah orang kafir sebagaimana firman Allah dalam ujung ayat 87 surat yusuf. Selain itu Mereka juga berpikiran bahwa di luar sana masih banyak lagi yang lebih menderita daripada mereka.
“Ayah, ibu, maafkan anakmu ini jika lebaran tahun ini tidak bisa berkumpul bersilaturahmi di rumahmu, demi keselamatan cucumu” gumam bayu dalam hati. Kadangkala bayu merasa rendah diri apabila melihat keluarga lainnya mereka begitu nyaman pulang kampung sambil membawa mobil pribadinya masing-masing. Bayu membayangkan mungkinkah hal itu akan terjadi pada dirinya dimana ia akan merasakan nikmatnya berkendara sendiri, membawa serta keluarganya tampa harus bersusah payah berebutan dan berjejalan dengan penumpang lain di bis umum. Saat itu bayu hanya bisa mengkhayal.

“tin-tin”, terdengar suara klakson mobil di depan rumah bayu. Sebenarnya bukan rumah bayu, tapi rumah milik pamannya. Bayu dan keluarganya untuk sementara waktu tinggal di rumah pamannya. Mendengar suara klakson, Bergegas bayu dan sutini membuka pintu dan melihat siapa gerangan yang datang. Ternyata sang paman yang datang.
“tini, teu acan mudik (tini belum mudik)?” tanya sang paman.
“teu acan mang, rupina mah moal mudik boboran siam warsih ieu mah mang, manawi bilih repot di jalannya (belum paman, barangkali enggak mudik lebaran tahun ini sih, karena repot di jalannya)” jawab sutini.
“hayu sareng amang, kaleresan amang ayena bade ka garut sareng deuih mobil kosong (ayo ikut paman, kebetulan paman sekarang mau ke garut dan mobil kosong)” ajak sang paman.
Sesaat bayu dan sutini saling berpandangan. Mereka ragu untuk mengambil keputusan apakah mudik atau tidak, atau apakah ini jalan keluar yang ditawarkan Tuhan agar mereka bisa bersilaturami dengan keluarga. Akhirnya mereka mengambil keputusan untuk mudik tahun itu.
“hatur nuhun pisan atuh sateuacana, antosan sakedap abdi bade beberes heula (terima kasih banyak sebelumnya, tunggu sebentar saya mau berkemas dulu)” jawab bayu dengan senang hati.
“mangga diantos (ya, saya tunggu)” jawab sang paman.
Akhirnya bayu dan sutini berkemas mempersiapkan segala sesuatunya untuk pergi mudik ke kampung halamannya diantaranya peralatan bayi seperti popok, pamper, kain planel dan lain-lain.

Selepas ashar mereka berangkat ke bandung. Jalan yang dilalui tidak melalui jalan tol tetapi jalan umum, yaitu melalui walahar, curug, terus tembus ke maracang purwakarta. Katanya sih biar santai di perjalanan. Bayu dan sutini hanya bisa mengikuti saja, maklum Cuma nebeng, ikut saja kemana yang membawa. Sebenarnya kalau lewat jalan tol waktu tempuh bisa lebih cepat, paling lama dua jam, tapi kalau lewat jalan biasa bisa-bisa lima jam baru sampai di bandung, bisa-bisa jam sepuluhan malam baru sampai di bandung, pikir bayu.

Dugaan bayu benar, tepat pukul enam sore atau saatnya sholat magrib, perjalanan baru sampai di perkebunan teh panglejar. Segera saja mobil kijang super yang ditumpangi bayu sekeluarga menepi dan memasuki halaman parkir mesjid panglejar. Suasana agak remang-remang ditambah lagi gerimis yang turun rintik-rintik. Mereka semua turun dari mobil dan memburu masjid untuk menunaikan sholat magrib kecuali sutini yang saat itu memang sedang “kedatangan tamu bulanan”. Sambil menggendong bayinya, sutini berteduh di bawah pohon beringin yang lebat menghindari gerimis tipis. Pohon beringin itu terlihat lebat, besar dan menghitam karena gelap malam, namun ada sedikit berkas cahaya yang sampai menempus sela-sela ranting dan dedaunan. Sementara akar hawanya menjuntai panjang dan lebat laksana rambut terurai. Disanalah sutini dan bayinya terlindung dari gerimis yang terus mengguyur.

Setelah menuaikan sholat magrib dilanjutkan dengan makan berbuka puasa dengan nasi timbel yang memang mereka bawa dari rumah. Setelah selesai sholat magrib dan makan berbuka puasa perjalanan pun dilanjutkan kembali. Di tengah perjalanan sesuatu yang aneh terjadi dimana mobil terasa berat lajunya.
“pak haji, kenapa ya mobil kok terasa berat, apakah sudah diservice?” tanya sang supir kepada paman.
“masa sih, kan sebelum mudik sudah diservice dulu di bengkel” jawab sang paman.
“barangkali bannya kurang angin” kata bayu memberikan sangkaannya.
“ia, mungkin bannya kempes” kata sang paman lagi.
Akhirnya mobil menepi dan sang sopir turun untuk memeriksa ban, namun tidak lama sang supir pun naik kembali ke mobil.
“gimana bannya jang (nama sang supir)?” tanya sang paman kepada sang supir.
“bannya bagus mang” jawab sang sopir.

Akhirnya mereka pun melanjutkan kembali perjalanan. Selain terasa berat, ada hal lain yang terasa aneh, dimana mereka merasa ada penumpang di bangku baris belakang, padahal bangku belakang kosong. Sesekali sutini maupun bayu menengok ke belakang namun tidak ada siapa-siapa, yang ada hanya remang-remang terlihat tumpukan tas. Bayu dan sutini merasa ada aliran udara yang berhembus dari arah bangku belakang, terasa dingin dan membuat bulu kuduk meremang. Tidak berapa lama sang bayi pun terbangun, dan mulai rewel nggak mau diam, seperti merasakan sesuatu yang tidak enak. Sutini sudah berusaha menenangkannya dengan memberikan p*ting susunya ke bulut bayi tersebut namun ditolaknya. Sepanjang jalan terus merengek dan menangis seperti tidak tenang. Hal ini membuat sutini dan bayu merasa tidak enak hati, telah mengganggu kenyamanan perjalanan sang paman.
“cup, cup sayang, sebentar lagi sampai, jangan menangis terus sayang” sutini mencoba menenangkan bayinya.
“barangkali kegerahan” sangka sang paman.
Sutini mencoba mengipas ngipas bayinya, tapi tetap sang bayi terus menangis, bahkan semakin keras. Namun ketika disusui lagi akhirnya bayi itu berhenti menangis, sutini merasa bayi tersebut menghisap p*tingnya dengan kuat tidak seperti biasanya. Setelah menyusu akhirnya sang bayi pun tertidur pulas dan mereka semua pun merasa tenang.
“mungkin lapar” kata sang paman.
“ia, barangkali lapar” tambah sang bibi menguatkan.

Tepat seperti dugaan bayu, pukul sepuluh malam mereka baru sampai di bandung. Sang paman terlebih dahulu mengantarkan bayu dan sutini ke rumah mertua bayu. Sang paman tidak lama di rumah mertua bayu hanya sedikit berbasa-basi karena masih harus melanjutkan perjalanan ke garut.

Akhirnya Rombongan paman bayu meninggalkan rumah mertua bayu menuju garut. Di perjalanan menuju garut sang supir merasakan perbedaan kondisi mobil. Kini mobil terasa ringan dibawanya dan suasana terang dan hangat melingkupi mobil tersebut.
“mang, mobil teh ayeuna mah asa hampang gening, teu jiga tadi (paman, mobil ini sekarang terasa ringan, tidak seperti tadi)” kata sang sopir.
“nya heueu atuh, pan penumpangna geus ngurangan (ya iyalah, kan penumpangnya sudah berkurang)” jawab sang paman.

Berbeda dengan suasana rumah mertua bayu, sejak kedatangan bayu suasana rumah mendadak mencekam. Ketika semua memasuki ruangan, terasa seperti ada yang mengikuti dari belakang yang ikut masuk ke dalam rumah, dan tiba-tiba pintu ruang tamu tertutup dengan sendirinya. Takut terjadi hal-hal yang tidak diinginkan alias kedatangan tamu tak diundang, bayu memeriksa pintu ruang tamu, dan ternyata tidak ada apa-apa dan tidak ada siapa-siapa. “mungkin hanya tertiup angin” gumam bayu dalam hati.
Akhirnya mereka pun berkumpul di ruang tengah. Tampak sutini masih menggendong bayinya yang masih terlelap tidur.
“mana cucu nenek, nenek pengen gendong” kata ibu mertua bayu sambil melihat ke arah sutini.
“lagi tidur mah, sepanjang jalan tadi merengek terus nggak tahu kenapa” jawab sutini.
“oh kacian, cucu nenek, kenapa nangis terus, sini nenek gendong” kata ibu mertua bayu sambil menimang-nimang cucunya yang masih terlelap tidur.
“tadinya kami tidak berniat mudik pak, takut si ujang (bayi bayu) kena apa-apa di jalan, maklum musim mudik begini kan bus penuh terus, tapi untung ada paman soleh yang mengajak kami dan mengantarkan ke sini” kata bayu membuka percakapan.
“ya syukur atuh kalau begitu, jalan rejeki mah dari mana aja atuh datangnya, kasian si ambu (ibu mertua bayu) nggak ada yang bantu bikin ketupat kalau kalian nggak mudik, bapak doakan mudah-mudahan kelak nak bayu bisa seperti paman solih, sabar aja nanti juga kalau sudah saatnya tiba, pasti kesampaian” balas sang mertua memberi semangat kepada bayu.
“amiiin” jawab bayu.
“dulu bapak juga sama seperti nak bayu, merayap dari nol” kata bapak mertua bayu menambahkan.
“barangkali nak bayu mau makan, silahkan makan dulu, bapak sudah makan, si ambu sudah menyiapkan” tawar bapak mertua bayu.
“iya makan dulu, kalian pasti lapar habis perjalanan jauh, tini, temenin bayu makan” kata ibu mertua bayu.
Akhirnya mereka berdua makan malam sementara sang bayi ditidurkan di kamar sendirian.

Tepat tengah malam sang bayi terbangun, mulanya hanya merengek namun makin lama makin keras tangisannya. Sutini dan bayu sampai kewalahan menenangkannya. Tangisannya melebihi tangisan ketika di perjalanan. Sutini berusaha menggendong dan menimang-nimang namun tetap tidak mereda tangisannya. Mata bayi terlihat melotot ke atas langit-langit kamar seolah melihat sesuatu yang menakutkan. Melihat hal tersebut Bayu dan sutini pun menjadi turut merinding bulu kuduk.
Suara tangisan dan gaduh di kamar bayu membangunkan bapak dan ibu mertua. Mereka mendatangi kamar dan melihat kondisi sang bayi. Setelah mengetahui kondisi bayi yang sebenarnya akhirnya bapak mertua bayu memanggil bayu.
“nampaknya ada sesuatu yang mengganggu bayimu” kata bapak mertua.
“ya, saya juga merasakan seperti itu pak, semenjak meninggalkan pohon beringin di halaman masjid kebun teh” balas bayu.
“nak bayu hafal ayat kursi?” tanya bapak mertua.
“hafal pak, sedikit-sedikit” jawab bayu.
“bu, tolong ambil air semangkuk dan kasih garam” pinta bapak mertua kepada ibu mertua. Ibu mertua segera ke dapur memenuhi permintaan bapak mertua.
“nak bayu, sekarang ayo kita sama-sama membaca ayat kursi” ajak ayah mertua. Akhirnya mereka berdua ditambah ibu mertua membacakan ayat kursi bersama-sama sebanyak tujuh kali. Setelah itu bapak mertua memercikkan air garam tersebut ke setiap sudut ruangan kamar dan setelah itu apa yang terjadi… sungguh ajaib, sang bayi berhenti menangis, matanya tidak lagi melotot, bahkan sekarang dia melihat ke arah sutini, ibunya dengan senyum polosnya. Sutini segera memberikan p*ting susunya untuk dihisap sang bayi dan sang bayi pun menghisapnya dengan penuh semangat.
“alhamdulillah, akhirnya tenang juga anakmu nak bayu” kata bapak mertua.
“iya pak” jawab bayu.
“makanya lain kali kalo bawa bayi malam-malam jangan lupa bilang anak lutung, anak lutung” kata ibu mertua menambahkan. Sejak saat itu bayu baru meyakini bahwa ayat kursi jika dibacakan dengan penuh keyakinan maka fadhilahnya dapat menjaga kita dari gangguan makhluk halus.

sekian

Cerpen Karangan: Asep Sudrajat
nama asep sudrajat di karawang, penulis pemula yang masih belajar menulis cerpen, belajar menulis secara otodidak, mohon masukan dan tanggapannya,

Cerpen Anak Lutung Anak Lutung merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Saudara Kembarku

Oleh:
Namaku Elynda Queenita. Aku berumur 12 tahun. Suatu hari, orangtuaku mengajakku untuk pindah ke rumah nenekku di desa. Sebenarnya aku tidak ingin pergi karena aku harus pindah sekolah dan

Rumah Angker Jogja

Oleh:
Ini kisah nyata yang dialami olehku. Waktu itu sekitar tahun 2003, Papaku ditugaskan kerja di Yogyakarta di salah satu bank BUMN. Dan bertepatan dengan itu, merupakan tahun pertamaku kuliah

Pohon Besar

Oleh:
Cahaya fajar datang menyinari ruang kamarku, aku terbangun dan segera mandi. Hari ini liburan pertamaku. Aku akan menghabiskan liburan bersama sahabatku Afil dan Utamy. Kita akan pergi ke desa

Rahasia Nenek

Oleh:
Sekujur tubuhku kaku. Seperti ada lima karung beras terisi penuh yang menimpa ragaku. Mata dan mulutku juga tak dapat kubuka, laksana ada lem yang merekatnya. Tapi aku masih bisa

Blackstreet

Oleh:
Malam semakin pekat, suara anjing liar melengking memenuhi telinga siapapun di tempat itu, Blackstreet. Sebuah kota kecil dengan nama terunik, menurutku nama tersebut lebih cocok untuk sebuah jalan atau

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *