Angkot Hantu

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Horor (Hantu)
Lolos moderasi pada: 19 November 2021

Terminal begitu sepi. Ini tak seperti biasanya sebab hari ini adalah hari Sabtu malam Minggu. Minggu adalah hari libur dan bahkan beberapa instansi sudah memberlakukan 5 hari kerja sehingga Sabtu-Minggu adalah saatnya berlibur.

Seperti biasa begitu turun dari bus, aku langsung berjalan keluar terminal menuju jalur antrian angkutan kota atau Angkot untuk membawaku pulang ke rumah kostku. Aneh, hanya ada satu angkot yang antre. Biasanya di jam segini masih cukup banyak angkot yang antre menunggu penumpang di malam minggu seperti ini. Orang bilang angkot di terminal ini 24 jam kalo akhir pekan.

Suasana sepi terasa semakin mnjadi-jadi. Tak kulihat orang-orang yang biasanya masih berseliweran di terminal bus ini, baik yang datang ataupun berangkat.
“Jalan Surabaya Pak?” kataku pada sopir angkot yang sedang antre. Itu satu-satunya angkot. Sopir itu tak menjawab dan hanya menganggukkan kepala pelan. Aku masuk ke dalam angkot dan duduk di ujung karena aku merasa tujuanku paling jauh.

Lama sekali aku menunggu penumpang penuh sebelum angkot berangkat. Mungkin sudah satu jam lebih aku duduk sendirian di dalam angkot itu. Kulirik jam tanganku. Hampir tengah malam pas. Namun, belum ada satu pun tambahan penumpang yang datang ke angkot ini.
Aneh. Padahal kulihat angkot jalur yang lain cepat penuh penumpangnya dan antrean angkot yang lumayan banyak segera berkurang. Sementara malam semakin larut.

Tepat pukul 12 malam kurasakan angkot bergetar karena mesin dihidupkan. Dan angkot mulai berangkat. Aku merasa ada yang tak beres. Sebab bukan sekali ini aku pulang malam dan naik angkot seperti ini. Aku ingin menanyakan kepada sopir kenapa hanya dengan satu penumpang angkot tetap berangkat. Ini tak biasa. Namun, aku berpikir positif saja kepada sopir angkot itu. Mungkin ia kasihan kepadaku yang sudah lebih dari dua jam menunggu di angkot namun tak ada tambahan penumpang. Mungkin juga waktu sudah terlalu malam dan dia pun ingin pulang.

Aku memilih diam saja. Aku rasakan angkot bergerak keluar terminal. Sekali lagi aku merasakan keanehan. Lampu-lampu jalan terlihat redup bahkan banyak jalan yang gelap gulita, tidak seperti biasanya. Aku hapal betul jalan-jalan yang dilewati angkot ini karena aku sudah 5 tahun lebih tinggal di kota ini.

Keanehan terus kurasakan selama perjalanan. Di alun-alun tugu angkot berbelok masuk jalan Majapahit yang bukan jalurnya. Aku biarkan saja karena mungkin angkot akan mengisi BBM di Pom bensin di alun-alun. Namun, sebelum jembatan Kali Brantas angkot berhenti dan naiklah dua penumpang.

“Alhamdulilah ada teman,” batinku. Saat angkot sudah berjalan aku baru ingat kalau angkot ini berhenti tepat di depan sebuah makam di seberang jalan. Ya, mungkin yang naik adalah teman atau keluarga si sopir angkot. Di dalam angkot dua orang itu tak berbicara sama sekali. Lalu samar-samar aku cium bau kembang kamboja.
“Waduh, ini angkot hantu,” kataku dalam hati. Dan terpaksa aku buka mata batinku. Ternyata dua penumpang yang barusan naik tadi adalah dua pocong. Mereka berdua sekarang sedang memandangku. Aku terpaksa menyapanya dengan mengangkat tangan.
“Mau ke mana?” tanyaku.
“Ke jalan Jakarta,” jawabnya.

Tak berapa lama kurasakan angkot sudah berhenti di perempatan jalan Surabaya. Aku turun, keluar dari angkot itu lalu berjalan ke pintu depan sebelah kiri untuk memberikan ongkos ke supirnya.
Dengan selembar uang sepuluh ribuan aku akan memberikan uang itu kepada sopir dan aku berniat tak meminta susuk karena cuma aku penumpangnya yang paling jauh dari terminal. Kulihat sopir itu mengarahkan pandangan ke luar mobil sebelah kanan. Dia tidak melihatku.

“Ini Pak ongkosnya, terima kasih,” kataku sambil menyodorkan tanganku yang mengepit uang Rp.10.000,-.
“Iya,” jawabnya sambil menoleh kepadaku.
“Astaga,” kataku pada diriku sendiri. Aku sedikit terkejut. Tapi aku tak takut sebab aku sudah biasa ketemu hantu. Wajahnya ternyata menyeramkan. Matanya merah menyala.
“Terima kasih ya?” kataku lagi sambil menaruh uang di dashboard. Aku lihat angkot melaju lagi, meneruskan rutenya. Hanya satu kedipan mata angkot itu telah lenyap dalam pandangan mataku. Mereka telah pergi entah kemana aku tak tahu. Dimensi waktu seolah tak berlaku bagi mereka. Aku mengusap wajahku sambil berdoa.

Setelah itu, dunia nyata seolah datang lagi kepadaku. Jalan Surabaya tidak suram lagi. Lampu-lampu jalan menyala benderang. Meskipun sudah lewat tengah malam, tempat ini masih belum sepi. Warung malam di depan kampus kulihat masih buka dan ada beberapa pengunjung.

“Baru pulang Bro?” sapa teman kuliahku.
“Iya, ambil jatah,” jawabku.
“Kamu kok bau kembang kamboja Bro?” kata temanku.
“Masa sih?”
“Iya kayaknya,” kata pemilik warung, Pak Bedjo.

“Aku cerita ya tapi jangan takut. Aku tadi naik angkot hantu,” kataku.
“Sudah, sudah, jangan diteruskan ceritanya,” potong temanku. Lalu Pak Bedjo mendekati aku dan membisikkan sesuatu di telingaku, “Ada dua pocong di luar, katanya menunggu kamu.” Rupanya Pak Bedjo juga bisa melihat dan berkomunikasi dengan makhluk tak kasat mata itu.
“Waduh,” jawabku. Aku bingung harus bagaimana. Namun tetap aku temui mereka.

“Ngapain ngikutin aku?” tanyaku.
“Aku takut pulang,” jawabnya.
“Waduh, kalian ini hantu macam apa sih?”
“Antar kami please…,” pintanya.
“Baiklah, tapi jangan menampakkan diri ya…” jawabku. Mereka mengangguk. Aku kasihan juga sama mereka. Seumpama masih hidup, mereka masih remaja.
Dengan meminjam motor Pak Bedjo, kubonceng mereka berdua dan aku antar mereka pulang ke rumahnya di Jalan Jakarta.

“Terima kasih ya, warungku semakin laris sejak motorku kau pinjam untuk ngantar dua temanmu itu,” kata Pak Bedjo suatu saat ketika aku mampir ke warungnya.
“Huss, mereka bukan temanku,” jawabku.
“Hehehe.”

Cerpen Karangan: Suwarsono
Blog / Facebook: Suwarsono S

Cerpen ini dimoderasi oleh Moderator N Cerpenmu pada 19 November 2021 dan dipublikasikan di situs Cerpenmu.com

Cerpen Angkot Hantu merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Gang Apel

Oleh:
Kriiing… Jam weker di kamarku berbunyi nyaring saat menunjukan pukul 05:35 “Sudah pagi? Cepat sekali waktu berlalu” kataku dalam hati, Aku langsung pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri.

Peri Malam

Oleh:
Di malam hari yang dingin, dengan kabut yang lumayan tebal, aku menyusuri jalan ini sambil memeluk kedua lenganku. “Aku yakin mereka pasti ada di tempat itu!” Ucapku dalam hati.

Misteri Piano Temanku

Oleh:
Ting, ting, ting, terdengar suara temanku hingga ke rumahku. namaku Bella dan nama temanku Desi. Desi memiliki piano classic yang selalu ia mainkan disiang dan sore hari. Desi sangat

Horor Mencekam 2

Oleh:
Thata masih mengutak-atik laptop pemberian papanya. Jaman modern seperti ini bukan hal baru anak muda seperti thata sudah menikmati teknologi masa kini. Sementara adik tirinya novita yang masih kecil

Secarik Kertas Putih

Oleh:
Ibuku meninggal tiga tahun silam. Almarhum ibuku memberikan aku secarik kertas putih. Ibuku berpesan kepadaku, jika aku merindukannya maka tulislah di kertas itu bahwa aku tengah merindukannya. Jika aku

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *