Apa

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Horor (Hantu)
Lolos moderasi pada: 13 February 2018

Aku, suami dan juga anakku baru saja menginjakkan kaki di rumah tua besar milik almarhumah ibuku. Ketika aku dan suamiku mengeluarkan koper dan barang barang kami dari bagasi mobil, aku melihat vera(anakku) melambaikan tangan ke lantai dua rumah ini. Aku melihat ke sana, tak ada orang. Aku melihat ke sekeliling juga tak ada orang. Tapi aku tak terlalu peduli dengan vera, mungkin itu hanya imajinasiku.

Hari sudah malam, aku mempersiapkan makanan di atas meja. Semua sudah rapi, lalu aku naik ke lantai atas memanggil suamiku untuk makan. Ketika aku dan suami turun, betapa kagetnya aku melihat meja makan sudah acak-acakan, makanan sudah berantakan tetapi vera yang berumur 8 tahun itu kelihatannya biasa saja dengan duduk manis di meja makan

“Vera!! Apa yang kamu lakukan? Kenapa kamu nakal! Kenapa buat meja berantakan!” Kata suamiku dengan marah
“Pa, bukan aku. Tapi kakak”
“Kakak?? Sayang mana ada kakak di sini. Kamu gak punya kakak. Kamu jangan bohong, kamu kan yang buat semua berantakan?”

“Ma.. bukan aku, tapi kakak. Tadi kakak lapar”
“Jangan banyak alasan! Kakak itu gak ada! Masuk kamar!” Ucap suamiku dengan marah
Vera pun terisak, dan berlari menuju kamarnya

Keesokannya, aku buat sarapan untuk suami dan anakku. Setelah itu suamiku berangkat kerja dengan mobil. Tak lama setelah itu aku pergi ke taman belakang, menyiram bunga taman dan memberi pupuk

“BRUUUK SGGHHTVABJVA!”
Aku kaget, segera ku berlari ke ruang depan. Takut vera kenapa napa. Ternyata vera dengan santainya berdiri di samping vas bunga keramikku yang pecah

“Veraaa! Kenapa pecahin vas mama! Itu mahal ver!! Kamu nakal banget!!” Aku cubit dengan kuat bagian perutnya
“Hiks hiks.. bukan aku maa, tapi kakak. Kakak marah sama mama. Bukan aku hiks”
“Jangan banyak alasan! KAKAK ITU GAK ADA”

Ssssh tiba tiba pecahan vas itu bergerak sendiri ke depan mukaku. Sedikit lagi hampir mwnggores wajahku. Lututku bergetar, badanku menggigil. Aku takut

“Kak, jangan gitu sama mama”

Spontan aku menatap vera. Apa ini semua?? Beberapa saat, badanku baru normal kembali. Aku memeluk vera dengan erat dan mengajak ia tidur siang

Malamnya, setelah suamiku pulang. Aku menceritakan semua yang terjadi pada suamiku. Suamiku tak percaya.

“Mungkin kamu kurang istirahat. Berkhayal”
“Tadi itu beneran mas. di sini ada hantu. Vera bisa liat hantu!”
“Imajinasi kamu saja”

“Ya udah besok mas pasang cctv aja”
Suamiku mengangguk, menarik selimut dan tertidur

Aku dan suamiku menatap layar laptop dengan gelisah. Benar dugaanku, ada hantu di rumah ini lebih tepatnya di kamar vera. Aku dan suami segera ke kamar vera, menarik dia keluar dari kamarnya dan ingin segera keluar dari rumah ini. Tapi ketika aku menarik tangan kanan vera, tiba tiba ada yang menarik tangan kiri vera. Wajahnya putih, pakai gaun putih, rambut sepinggang hitam pekat, mata sembab, dan berkuku panjang. Vera menangis kesakitan dan ketakutan. Aku segera menariknya dengan kuat, menggendongnya dan membawanya pergi.

Aku, vera dan suamiku berhasil keluar dari rumah ini. Kami menuju mobil di bagasi rumah, masuk ke mobil, tapi tiba tiba saja mobil tak bisa dihidupkan. Perempuan pucat tadi sudah berada di depan mobil kami. Aku peluk erat anak dan suamiku di dalam mobil. Tangan suamiku dingin, badan anakku menggigil. Tak ada cara lain, kami harus berhasil menghidupkan mobil dan keluar dari rumah ini.

Perempuan itu terus mendekat ke pintu mobil, suamiku sekuat tenaga berusaha memutar kunci mobil dan akhirnya mobil bisa keluar. Tapi ternyata tak sampai disitu, pintu pagar tertutup. Aku takut. Suamiku turun dari mobil, membuka pintu pagar. Perempuan itu semakin mendekat ke mobilku. Tidak, mendekat ke suamiku. Ia memegang pundak suamiku. Dari lampu mobil, aku bisa melihat raut wajah suamiku yang telah berubah. Ia pucat pasi. Aku sadar itu bukan suamiku lagi.

Aku meletakkan vera di bangku samping supir. Aku dengan cepat ke di bangku supir, menyalakan mobil dan pergi dari rumah ini tanpa suami. Kulihat dari kaca spion, suamiku dan “perempuan” itu menatap kami. Vera menangis, aku tak bisa menghiburnya karena aku sendiri tak mengerti apa yang terjadi

Cerpen Karangan: Arsy
Facebook: Arsy fira
Ig: @arsyfiraa

Cerpen Apa merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Rumah Pengungsian

Oleh:
Singkat ceritanya ketika desa kami dilanda bencana. Pergeseran, amblasan dan retakan tanah terjadi dimana-mana. Itu terjadi karena tanah yang menopang desa kami adalah tanah lempung nan rapuh, dan semakin

Malam Yang Mencekam

Oleh:
Malam itu hujan begitu deras, setelah kami melaksanakan sholat isya di mushola, mushola begitu sepi hanya aku, Zaya, Arman, dan pak ustad karena mushola ini terletak cukup jauh dari

Jeritan Tangis di Kamar Mandi Sekolah

Oleh:
Waktu aku sekolah dasar dulu, aku mengikuti ekstrakurikuler pramuka bersama teman-temanku, kami mengikutinya selama 2 malam 3 hari. Di Sekolah kami itu, terdengar berita bahwa kamar mandinya itu sangat

13

Oleh:
Tampak seorang bapak paruh baya berpakaian oren dan menyandang tas hitam penuh surat berdiri di depan gerbang sebuah hotel tua yang besar. Ia seperti bingung apa itu rumah yang

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *