Arboretum

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Horor (Hantu)
Lolos moderasi pada: 6 May 2019

Di sudut kerumunan mahasiswa baru itu aku terduduk. Aku adalah salah satu dari mereka. Namun bedanya, mereka adalah para pembicara yang begitu semangat menumpahkan “isi kepala” mereka. Sedang, aku hanyalah pendengar setia. Bagaimana tidak, seharian ini kami digembleng habis-habisan agar menjadi mahasiswa yang baik. Energiku rasanya sudah di ujung ekor. Tapi heran, kenapa mereka masih saja memiliki semangat yang menggebu-gebu.

Tak lain tak bukan, saat ini kami sedang menjalani serangkaian kegiatan pendisiplinan yang biasa disebut ospek. Mau tak mau harus dijalani sampai tuntas. Jika tidak, kami tak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya. Sialnya, rangkaian kegiatan ospek ini selalu menyita waktu dan tenaga, apa lagi jika ditambah dengan rapat angkatan seperti saat ini.

“Bla… bla… bla,” entah apa yang mereka bicarakan, yang pasti saat ini aku ingin segera pulang. Semakin detik, langit semakin gelap, suasana kampus berangsur-angsur sepi. “Oke guys kayaknya cukup sampai di sini dulu pembicaraannya, udah malem juga sih, semangat!,” ujar dia yang belum kukenal, pokoknya dia adalah salah satu orang yang dipercaya angkatan.

Akhirnya aku bisa pulang, rasanya badanku sudah sangat merindukan kasur. Kulihat jam di tangan ternyata jarumnya menunjuk pukul 22.30 WIB. Aku bergegas mengambil sepeda motorku, memakai helm dan tancap gas.
Sialnya, ternyata gerbang utama atau biasa disebut gerbang lama (gerlam) sedang direnovasi sehingga tidak dapat dilalui kendaraan. Terpakasa aku harus menggunakan jalan lain.

Universitas ini memang memilki tiga gerbang yaitu gerlam, gerbang baru, dan gerbang Arboretum. Gerbang baru adalah gerbang yang baru dibangun tapi jaraknya sangat jauh dari gerlam, seperti dari ujung ke ujung. Sedang, gerbang Arboretum adalah gerbang yang dekat dengan danau milik universitas atau biasa disebut Arboretum, gerbang ini biasa dibuka hanya pada akhir pekan.
Rasanya aku tidak berani jika lewat gerbang baru, mengingat hari sudah larut dan jarak yang cukup jauh. Akhirnya kuputuskan untuk menggunakan jalan Arboretum kebetulan ini adalah hari Sabtu.

Suasana kampus begitu mencekam jika malam hari, para mahasiswa sudah tak terlihat batang hidungnya. Begitu pula teman angkatanku, mereka tinggal di kos-kosan dan tidak menggunakan kendaraan sehingga bisa melalui gerlam dengan mudahnya. Sedang, aku adalah anak PP (Pulang Pergi) yang jarak antar kampus dengan rumah terbilang jauh. Tanpa pikir panjang, aku langsung menuju Arboretum.

Jalan ini begitu sepi, tak ada satu pun kendaraan yang lewat. Semakin lama, udara terasa semakin dingin, angin bertiup lembut. Begitu senyap, bahkan suara jangkrik pun tak terdengar. Aku tiba di danau Arboretum, sebagian tepian danau ini berbatasan langsung dengan jalan yang kulalui. Di tepian itu ada beberapa lampu jalan tapi hanya satu yang menyala. Tanpa sadar aku menoleh ke arah danau, remang-remang kulihat airnya begitu tenang. Sesekali terlihat gelembung air meletup di permukaan, mungkin dari mulut ikan-ikan kecil penghuni danau.

Sepeda motorku terus melaju tapi rasanya semakin lama semakin pelan. Kini aku akan melewati satu-satunya lampu jalan yang menyala. Namun, kulihat di bawah lampu itu ada seorang anak laki-laki, berkaus merah dengan celana selutut, kira-kira umurnya 7 atau 8 tahun. Anak itu berdiri mematung memandangi danau Arboretum.

“Lagi ngapain itu anak kecil malem-malem gini di tepi danau?” gumamku. Aku bergegas menghampirinya, kuparkirkan motorku tepat di bawah lampu jalan di depan anak itu. Sambil menepuk bahunya, aku bertanya apa yang sedang dia lakukan di sana. Anak itu menoleh, dengan wajah pucat dan tatapan sedikit kaget, lama-kelamaan matanya berkaca-kaca dan kemudian menangis. “Kak tolong antar saya pulang,” pintanya sambil menangis dan mencengkeram tanganku.
Tangannya begitu dingin dan basah, aku segera menenangkannya dan bertanya di mana rumahnya. “Deket kok kak” jawabnya, tapi anehnya kini ia berbicara sambil menyeringai. Tak ada curiga dalam benakku, yang ada di otakku saat itu adalah cepat-cepat mengantar anak itu.

Aku menggendongnya dan memdudukkannya di jok belakang, badannya sangat berat seperti sekarung beras. Kemudian aku naik dan mulai menyalakan mesin, anak itu memeluku dari belakang. Motorku mulai berjalan, tiba-tiba kurasakan seperti ada air yang menyerap ke bajuku di bagian belakang. Aku kira anak itu mengompol, kutanyakan padanya tapi ia tak menjawab.

“Kak tolong turunkan saya di sini,” ujar anak itu, padahal motorku belum ada tiga menit berjalan dan kita masih berada di area danau Arboretum. Kuhentikan motorku, ia turun dan mengucapkan terima kasih.
“Dek bukannya mau pulang ya?” tanyaku keheranan.
“Iya kak ini sudah sampai,” ujarnya sambil menyeringai.
Aku heran dan hanya bisa terdiam melihatnya semakin menjauh. Anak itu berjalan menyusuri tepian danau dan yang membuatku tak habis pikir, kini ia berjalan ke tengah danau. Semakin lama semakin dalam, semakin lama semakin tenggelam sampai ubun-ubunnya tak terlihat sama sekali. Saat itu aku tak bisa berbuat apa-apa seluruh badanku terasa kaku, berkedip pun sulit.

Sekitar satu menit terpaku, tiba-tiba ribuan gelembung air meletup-letup di seluruh permukaan danau. Aku terperanjat berlari meninggalkan motorku. Berlari tak tentu arah dan tiba-tiba tanpa kusadari, aku tercebur ke danau itu. Sebetulnya aku bisa berenang tapi tak tahu kenapa saat itu rasanya aku kehilangan segala kemampuanku. Sesekali aku tenggelam dan merasakan dasar danau yang penuh dengan ranting tajam.

Air danau begitu gelap dan bau darah. Aku sadar bahwa saat ini aku berada di tengah danau, aku mulai bisa mengendalikan diri. Mencoba tenang, dan keadaan pun kembali sunyi. Tiba-tiba aku merasakan ada sesuatu yang mulai muncul dari dalam air. Tepat di depan wajahku, muncul sesosok mayat anak laki-laki, berkaus merah, dengan sebagian kulit terkelupas dan keriput, seperti telah berhari-hari tenggelam. Salah satu matanya hilang, dari lubang matanya yang hilang itu keluar ikan-ikan sejenis lele berukuran sedang.
Sontak aku berenang ke tepi danau dengan panik, rasanya tepian danau semakin menjauh saja. Nafasku mulai habis dan akhirnya aku tak sadarkan diri.

Samar-samar aku mendengar suara adzan, kubuka mataku dan terperanjat. Aku sadar, kini aku terbaring di tepi danau di atas lumpur dan rerumputan dengan keadaan basah kuyup. Dari kejauhan aku melihat sesuatu yang mengambang, aku yakin itu mayat. Tak membuang waktu lagi, aku langsung berlari mencari pertolongan.

Sekitar pukul 06.00, mayat itu mulai bisa dievakuasi. Seketika danau Arboretum dipenuhi orang. Di antara kerumunan itu aku melihat seorang ibu yang menangis histeris, mungkin itu ibu dari mayat yang kutemukan. Tak lama, polisi menghampiriku dan meminta kesaksian. Aku tak menceritakan hal mengerikan yang kualami, aku hanya bersaksi mengenai hal-hal yang masuk akal. Setelah memberi kesaksian, aku diperbolehkan pulang.

Siangnya, informasi ini sudah dimuat di media, polisi menyimpulkan bahwa kejadian ini murni kecelakaan. Si anak yang hilang sejak lima hari lalu memang sempat bermain di Arboretum, diduga ceroboh anak itu tercebur dan kakinya tersangkut pada ranting-ranting di dasar danau sehingga ia tewas tanpa ada orang yang mengetahui.

Setelah kejadian itu, aku tak berani lagi melewati jalan danau Arboretum. Bahkan, setiap rapat angkatan aku selalu meminta izin untuk pulang duluan. Karena aku tidak tahu, ada apa di balik larutnya malam.

Cerpen Karangan: Adena Sihudin
Blog / Facebook: Ade Nasihudin Al Ansori
Ig: adenuansa
Wattpad: adenuansa
Kaskus: adenuansa
Jurnalistik Fikom Unpad “15

Cerpen Arboretum merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Hari Pertama Pindah Sekolah

Oleh:
“Yana, ke kantin yuk?” “Eh, aku sudah bawa bekal” “Oh oke kalau gitu, kita ke kantin dulu ya” Aku mengangguk tersenyum. Ini hari pertama aku di sekolah baru, karena

Tsuji Ura

Oleh:
Ditengah hari yang panas. Ada dua orang sahabat bernama Rika dan Yukki. Mereka sangat menyukai hal hal yang berbau horror. “Rik! Kamu mau main satu permainan ini tidak?”. Tanya

Kisahku di Jembatan Gondolayu

Oleh:
Jembatan Gondolayu. Salah satu jembatan di kota Jogja yang membentang di atas kali code ini memiliki kisah tersendiri. Menurut cerita nenekku dulu berasal dari kata nggondhol ‘melarikan, membawa’ dan

I am Mon

Oleh:
Namaku adalah Mechana. Tapi orang-orang memanggilku Mon (Monster) -si makhluk menakutkan-, sejak orangtuaku meninggal 7 tahun yang lalu. Aku menjadi orang yang aneh. Aku menjauhi semuanya. Keheninganlah yang selalu

Pembalasan

Oleh:
Sore itu, hujan yang beradu dengan angin menghantam di sebuah daerah perumahan yang terbilang masih layak huni. Petir sesekali melontarkan geramannya, gelap menyelimuti langit walau matahari sebenarnya masih bersembunyi

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *