Aroma Pembantaian Alam Barzah (Part 1)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Fantasi (Fiksi), Cerpen Horor (Hantu)
Lolos moderasi pada: 30 April 2014

Samantha killery, sepertinya kau akan menuliskan kembali kisah itu. Seperti hal nya aroma malam malam penuh kebencian yang sempat kau torehkan dalam tetesan darah. Episode demi episode akan terulang, terlebih ketika kau sesali sesuatu yang menurutku memang tabu. Ada sesuatu yang sangat ku harapkan akan terjadi padamu, terlepas itu menyakitkan atau tidak. Tapi dari malam malam yang mengukir lara, ku harap kuburmu tak ku gali lagi atas dasar DENDAM!!!

Killery street, 24 oktober 2012
Dear diary..
Aku merasa kehausan, haus akan sebuah rasa yang tak pernah aku rasakan kembali sejak tinggal di jeruji besi ini. Tanganku mulai dingin…
Samantha,

Brukkk!!! suara asing itu membuyarkan lamunan Samantha. Membuatnya terlonjak dan mulai mencari darimana datangnya suara itu. Ia mencarinya ke segala arah, namun hening… tidak ada satu pun tanda kehidupan selain dirinya di ruang bawah tanah itu, membuatnya mengernyit heran.
“Samantha… kau mencariku?” sayup sayup terdengar bunyi seorang wanita memanggil namanya. Membuatnya semakin tersentak, jantungnya bergetar hebat aliran darahnya serasa lebih deras dari biasanya, matanya tak henti berpendar ke segala arah mencari sumber suara itu.
“Samantha…”
“Samantha…”
Suara itu kembali terdengar lebih jelas dari sebelumnya.
“siapa kau? Keluarlah kalau kau berani dasar pengecut!” Samantha berteriak geram, Ia mulai merasa dipermainkan oleh sumber suara itu.
“Aku di belakangmu…”
Samantha tersentak dan refleks menoleh ke belakang. Ia kaget bukan main, ternyata sumber suara itu berasal dari seorang makhluk bersayap, bertubuh semampai, berkulit kuning langsat. Cantik. Dan membuat Samantha terpukau beberapa saat, sejenak kemudian Ia merasa ketakutan.
“Siapa kau? Darimana kau tahu namaku?” ucap Samantha sambil mundur beberapa langkah.
“Aku Dea, jangan takut Samantha… mendekatlah, aku akan membantu mewujudkan keinginanmu. Aku tahu tanganmu sudah bergairah untuk melakukan hal yang sama. Kemarilah sayang…”
Ucapan itu seakan menghipnotis Samantha, Ia merasa tenang. Ia merasa impian akan segera tercapai, dendamnya akan terbalaskan. Matanya berbinar senang, perlahan Ia medekati makhluk itu hingga hanya berjarak satu langkah darinya.
“Duduklah…” Dea menyambut dengan senyumnya yang indah. Samantha tersenyum kecil dan duduk di sampingnya.
“Darimana kau tau ambisiku?” Samantha membuka percakapan.
“Aku mencium aliran darahmu, sayang… kau mengagumkan.”
“kau punya kemampuan seperti itu? Sebenarnya kau siapa?”
“Aku Dea, sebenarnya aku hanya manusia yang merasakan dendam luar biasa. hingga suatu hari, ku menemukan diriku berada dalam mimpi panjang, sangat panjang hingga ku tak sanggup lagi membuka mata untuk mengakhirinya. Dan jadilah aku seperti sekarang ini. Sebenarnya tak perlu kau tanyakan tentangku lagi, aku hanya manusia yang terlahir kembali dalam dimensi yang lain. Sebuah dimensi yang takkan pernah kau pahami. Sudahlah, lupakan saja tentang asal usul diriku. Yang jelas kini aku hadir di depanmu untuk membantu melampIaskan dendammu!”
Panjang lebar Dea menjelaskan jati dirinya. Samantha hanya mengangguk kecil sembari merenungi kata kata yang terucap dari mulut Dea. Samantha tak tahu harus berkata apa, Ia terlalu sibuk memutar kenangan kenangan pahit yang terekam dalam otaknya.
“Aku bisa merasakan dendam yang begitu menggelora di hatimu, sayang” ucap Dea seakan menerawang isi hati Samantha.
“Bagaimana bisa?” Samantha mengernyit heran.
“Aku merasakan melalui aliran darahmu.” Datar sekali, Dea berkata.
Samantha hanya terdiam, Ia masih sibuk memutar kenangan kenangan yang terekam sempurna di kepalanya. Hingga di suatu titik yang Ia tak mampu bayangkan, hatinya bergetar hebat air matanya mulai berjatuhan dengan derasnya.
“Menangis dan berteriaklah kalau kau mau” ucap Dea.
“Aku tidak ingin melakukan itu!” ucapnya sembari berusaha menahan agar air matanya tidak jatuh lagi.
“Aku belum sempat membunuhnya!” ucap Samantha lagi.
“Aku bisa membantu!” ucap Dea mantap.
Samantha terperangah. Ia merasa belum yakin atas kata yang keluar dari mulut Dea. Samantha tertunduk sembari mengepalkan tangannya. Ia membayangkan tangannya menghujamkan pisau ke tubuh pria itu, merobek dadanya dan mengeluarkan jantungnya.
“Kau yakin?” tanya Samantha.
Dea mengangguk kecil tanpa berkata apa apa lagi. Namun sorot matanya yang tajam mengisyaratkan bahwa anggukannya itu tidak main main. Samantha masih tertegun menatap mata yang terpancar penuh ambisi dan kebencian di depannya, Ia merasa harapan yang Ia simpan dua tahun terakhir akan segera terwujud. Tapi cepat cepat Samantha memalingkan pandangannya. Ia kembali tertunduk lesu.
“bodoh..” ucap Samantha pelan.
“kenapa sayang?” tanya Dea lembut
“Tepat tiga tahun yang lalu sejak peristiwa di hutan itu, aku terlampau lemah untuk melawan. entah mengapa saat itu aku amat bodoh membiarkan tubuhku ternodai oleh tujuh berandalan biadab itu. Aku tak mampu melawan, ataupun menyelamatkan diriku sendiri. Malam itu berlalu beberapa saat, hingga suatu hari ku bertemu kembali dengan tujuh berandalan itu dan dia melakukan hal yang sama padaku. Saat itu, darahku mendidih. Hingga ku putuskan untuk menghabisi mereka.
Seminggu berlalu, dan kutemukan salah satu dari pria tadi duduk santai di tepi danau. Aku tak tahan melihatnya. Dan aku menikamnya dari belakang, dia mati di tanganku. Ya! Aku berhasil membunuhnya. Hingga satu tahun kemudian salah seorang temannya mengetahui perbuatanku dan Ia mengurungku disini. Bodohnya sampai sekarang aku tak berdaya. Untuk keluar dari sini pun aku tak mampu, bagaimana bisa aku membunuh mereka lagi?” panjang lebar Samantha bercerita.
“Jangan khawatir Samantha, sekarang tidurlah. Aku akan kembali padamu untuk membalaskan dendam kita.”
“Tidak! Aku tidak ingin tidur, aku ingin menghabisi mereka” Samantha berteriak teriak seperti orang kesetanan.
Dea tersenyum tipis. Tangannya sibuk berputar putar di atas dadanya hingga menghasilkan seberkas sinar hijau, kemudian Ia mengarahkannya pada Samantha. Samantha diam, beberapa saat kemudian Ia ambruk tak sadarkan diri. Setelah memastikan Samantha tertidur Dea pergi.

Killery street, 25 Oktober 2012
Dear diary…
Dea. Aku tidak tahu apakah dia khayalan atau bukan. Yang jelas aku melihatnya seakan akan nyata. Sebelum akhirnya ku temukan diriku sendiri tertidur dengan pulasnya seperti biasa. Adakah itu mimpi? Seperti mimpiku pada malam malam sebelumnya? Tapi tidak! Aku melihatnya. Ya! Aku melihatnya..
Tapi jika benar aku melihatnya, dimana dia sekarang? Apakah dia akan hadir kembali di malam malamku? Ya ! aku harap begitu. Aku harap dia nyata, karena dendam ini sudah menanti untuk terlampiaskan…
Samantha Killery

Pagi itu Samantha tertegun di meja tulisnya. Ia masih memikirkan kejadian semalam. Ia masih belum mengerti apakah hal yang di alaminya semalam mimpi atau bukan. Sepertinya kali ini Samantha tidak ingin ambil pusing. Ia menutup diary nya dan duduk termenung di pojok ruangan itu sembari menunggu seseorang mengantarkan makanan padanya. Dia merasa sangat lapar.

Kreeekkk… Tak lama kemudian terdengar suara pintu dibuka, Samantha segera melemparkan pandangannya ke arah pintu. Terlihatlah seorang nenek tua renta dengan dua orang laki laki kekar bersamanya.
“waktumu hanya satu jam, nenek tua! Cepatlah kau beri makan dia!” bentak salah seorang laki laki yang bersamanya. Nenek itu hanya mengangguk pelan, kemudian menghampiri Samantha. Sedangkan dua lelaki itu menunggu di balik pintu.
“Hallo sayang, bagaimana kabarmu? Kau pasti lapar.” Sapa nenek itu ramah.
“Kapan aku keluar dari sini, nek?” tanya Samantha seolah mengalihkan pembicaraan.
“Kau menanyakan hal yang aku tidak tahu, Nak. Sudahlah sekarang kau makan saja, kau sudah lapar bukan?” ucap nenek sambil menyodorkan makanan dan minuman untuk Samantha.

Samantha tak banyak berkomentar lagi, Ia segera menyantap makanannya dengan lahap. Memang sejak Ia dikurung di ruang bawah tanah itu, hanya nenek tua ini yang memberinya kasih sayang walaupun hanya sejenak. Namun setidaknya Samantha masih punya orang yang menyayanginya.
“Aku ingin menghabisi mereka, Nek!” ucap Samantha kemudian.
“Sudahlah sayang, kau tak perlu fikirkan apapun. Nenek juga sedang memikirkan cara agar bisa mengeluarkanmu dari sini. Nenek yakin suatu saat kau akan dapatkan kebahagiaanmu sendiri. Kau sebenarnya anak yang baik, Samantha. Kau berhak bahagia.” Ucap sang nenek menenangkan.
Samantha lebih memilih tak banyak bicara. Fikirannya kembali tertuju pada kejadian semalam. Ia masih merenung, apakah kejadian semalam mimpi ataukah bukan?
“Kau sudah kenyang, sayang?” tanya nenek itu kemudian.
Samantha hanya mengangguk sambil tersenyum tipis.
“Kau terlihat sedang memikirkan sesuatu sayang, ceritakanlah! Semoga itu bisa membuatmu tenang.” Pinta sang nenek lembut.
“tidak nek!” Samantha menggeleng.
“Apa kau sakit, sayang?” tanya nenek lagi.
Samantha hanya menggeleng. Sepertinya dia sedang malas bercerita apapun pada nenek itu. Biasanya dia memanfaatkan pertemuan itu untuk berbagi cerita dengan nenek. Melihat kondisi Samantha pagi itu, Nenek pun tidak ingin banyak berceloteh lagi, Ia takut akan semakin menambah beban di hatinya. Yang Ia tau, Samantha sudah lelah hidup di penjara bawah tanah ini.

Braakkk!!! Terdengar suara pintu di buka dengan kerasnya.
“Waktumu sudah habis nenek tua! Cepatlah kembali!” ucap salah seorang pria itu dengan nada setengah membentak.
“Waktu kita sudah habis sayang, nenek harus pergi. Sampai jumpa besok, semoga kau baik baik saja!” ucap nenek sambil beranjak meninggalkan Samantha yang tertunduk lemas.
Samantha memilih untuk diam. Dia sudah enggan merespon ucapan perpisahan dari si nenek. Bukan karena Ia marah atau membenci nenek tua itu, namun Ia masih asyik dengan pergulatan batin yang tengah Ia rasakan. Kini Ia berteman sepi kembali, memang ini sudah menjadi hal biasa bagi Samantha. Namun Ia berharap rasa sepi itu akan berakhir, Ia berharap Dea akan datang kembali padanya.

“Samantha… Samantha… Aku kembali.”
Samar samar Samantha mendengar suara Dea. Ia merasakan suara itu semakin dekat seperti mimpinya yang semakin dekat.
“Ternyata kau bukan khayalan, Dea! Kau nyata, sama seperti mimpiku yang sebentar lagi menjadi nyata.” Gumam Samantha dalam hati.
“Dea… Dea… kamu dimana? Dea, datanglah padaku!! Aku mohon, aku menunggumu!” Samantha berteriak memanggil Dea.
“Aku disini sayang, di belakangmu.” Ujar Dea.
Samantha segera menoleh ke belakang. Ternyata sudah sejak tadi Dea duduk manis di belakangnya. Samantha tersenyum senang, Ia segera menghampiri Dea.
“Ternyata kau tidak mengingkari janji, Dea!” ujar Samantha senang.
“Aku tidak akan pernah mengingkari janjiku padamu, Samantha!” ucap Dea mantap.
“Baguslah, aku percaya! Lalu bagaimana? Apa rencanamu?” tanya Dea penasaran.
“Kamu tak usah fikirkan apapun. Kamu cukup penuhi permintaanku dan kau akan mendapatkan yang kau mau! Bagaimana, apa kamu setuju?” ucap Dea setengah menantang.
“Apapun yang kau mau, akan aku penuhi. Asalkan kau mau membantuku!” ucap Samantha dengan berapi api.
“Bagus. Tapi tidak sekarang, Samantha! bersabarlah hingga beberapa waktu!” ujar Dea.
“Sampai kapan Dea? Sampai kapan? Kau tahu aku sudah bersabar begitu lama disini. Aku sudah lelah!” ujar Samantha setengah berteriak.
“Tak perlu kau tanyakan itu, Samantha! Saat kurasa kau pantas, aku akan lakukan apa yang kau mau!”
“Kau jahat Dea!” Ujar Samantha sembari menunduk. Air matanya kembali menetes satu demi satu, semakin lama semakin deras bak hujan badai yang siap meluluh lantakan kota. Ia merasa harapannya telah pupus, Ia merasa semakin terpuruk dan lemah.
“Kalau kau tak mau membantuku sekarang, biarlah ku akhiri hidupku yang tak berguna ini. Sia sia rasanya.” Ucap Samantha dalam tangisnya.
Dea tersenyum sinis ke arah Samantha. Membiarkannya larut dalam tangisnya malam itu. Dea lebih memilih tak banyak bicara, Ia pun berlalu beberapa langkah dari hadapan Samantha.
“Tunggu! Mau kemana kau? Urusan kita belum selesai!” teriak Samantha.
“Anak bodoh. Kau pikir hidupmu akan lebih baik jka kau memutuskan mati? Aku tidak akan pergi darimu Samantha. Namun kau terlalu bodoh untuk ku temani hari ini!”
Dea berbalik menghampiri Samantha yang menatapnya tajam.
“Apa kau pikir matimu akan tenang dengan semua dendamu itu?” ujar Dea lagi.
Samantha tetap tak bergeming, kini Ia tertunduk lesu. Tangisnya semakin meledak ledak. Ia tak tahu harus bagaimana lagi. Ia merasa sudah sangat lelah menjalani hari harinya.
“Aku harus bagaimana, Dea?” tanya Samantha dalam tangisnya.
“Temukan siapa dirimu. Kau akan mengerti apa arti hidupmu.” Ujar Dea seraya berlalu meninggalkan Samantha yang masih terisak.
“Apa maksudmu Dea? Jangan pergi, tunggu Dea!!!”
Samantha berteriak sembari berusaha mengejar Dea, namun percuma. Dea telah pergi, menghilang di balik pintu. Samantha sangat terpukul malam itu, Ia menangis sejadi jadinya meratapi nasib pahit yang menimpa dirinya. Jiwanya tergoncang, fikirannya kembali menayangkan kisah kisah masa lalunya. Kisah masa kecilnya yang di penuhi berjuta kebahagiaan.
“Samantha…?”
“Iya Bunda, ada apa?”
“Kau cantik, Nak.. Kau manis, kau bagai Bidadari yang turun dari Syurga. Rawatlah hatimu agar tetap secantik bidadari”
“Argghhh…” Tiba tiba Samantha berteriak ketika otaknya memutar episode percakapannya dengan ibunya. Sesaat kemudian Ia limbung dan tak sadarkan diri.

Killery street, 26 Oktober 2013
Dear Diary…
Aku Samantha Killery. Aku terlahir di keluarga yang penuh cinta dan kasih sayang. Hingga kecelakaan itu merenggut orangtua dan kebahagiaanku. Bunda pernah bilang, aku secantik bidadari. Dan bunda berpesan agar hatiku secantik bidadari. Tapi aku pembunuh! Aku pendendam! Adakah seorang bidadari memiliki sifat pendendam dan pembunuh sepertiku? Hahaha kau bercanda Samantha! Tapi ayahku bilang, aku harus menjadi diriku sendiri…
Samantha,

Cerpen Karangan: Selvy Nurmala
Facebook: selvynurmala[-at-]gmail.com

Cerpen Aroma Pembantaian Alam Barzah (Part 1) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Pertemuan Singkat

Oleh:
Kukuruyukkk Suara ayam membangunkan tidurku. Sebenarnya itu bukan suara ayam sungguhan, melainkan suara alarmku. Kubuka jendela, kutatap langit biru berselimutkan awan putih yang lembut, kuhirup dalam-dalam udara segar, pelan-pelan

Kepala Dalam Kepala (Part 1) Mindabe

Oleh:
Hey ayolah Mind kemana kau sekarang?! Ini penting untukku. Sekali ini saja aku mohon kau datang dengan undangan. Menentukan keputusan untuk semua ini sungguh berat untukku. aku mohon cepat

Katakan Dengan Hati (Part 1)

Oleh:
Aahhh… Nyamannya… tempat ini begitu membuatku tenang, serasa ku ingin istirahatkan tubuhku yang lelah ini. Aku rasa aku akan memejamkan mata sebentar saja… “andi… andii…” terngiang suara di kepalaku

Rumah Pengungsian

Oleh:
Singkat ceritanya ketika desa kami dilanda bencana. Pergeseran, amblasan dan retakan tanah terjadi dimana-mana. Itu terjadi karena tanah yang menopang desa kami adalah tanah lempung nan rapuh, dan semakin

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

3 responses to “Aroma Pembantaian Alam Barzah (Part 1)”

  1. muhammad isra says:

    bagus…

  2. tanazza Chinta a says:

    Bagus tp agak membingungkan

  3. Mukhlash says:

    Andaikan hidup tanpa dendam. Sungguh tidak sempurna.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *