AW 19

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Horor (Hantu)
Lolos moderasi pada: 26 July 2016

Malam itu, Jane dan Christoper berjalan perlahan melintasi lorong-lorong kecil di rumah sakit AW 19 tempat dimana kawan sekelasnya, Victor dirawat.

“Kok gelap banget ya? Gue jadi serem nih!” gerutu Jane ketakutan dengan ketidakadaannya lampu yang menerangi lorong tersebut.

“Duh, lo penakut banget sih! Udah pegang tangan gue aja.” perintah Christoper lalu Jane segera merangkulnya. Curi-curi kesempatan dalam kesempitan memanglah motto yang paling tepat untuk seorang Christoper.

Jane menghela nafas dan merasa lega saat lampu lorong kembali menyala. Mereka melanjutkan kembali perjalanan dengan panduan dari setiap pemberitahuan di lorong rumah sakit.
Kamar 99, dan saat ini Jane dan Christoper masih berada di kamar 78 yang artinya masih ada 21 kamar lagi yang harus mereka lewati untuk tiba di kamar Victor.
Christoper masih semangat melanjutkan perjalanannya, tapi Jane nafasnya mulai menggebu, ia mulai kelelahan dan meminta Christoper untuk beristirahat sejenak. Mereka duduk di tempat duduk berjejer di depan kamar 81.

“Gila, gue capek banget!” keluh Jane sambil mengelap keringat dingin yang terus menyapu wajah dan lehernya.

“Ya sama gue juga capek. Ya ampun, udah jam 9 nih! Sejam lagi kita udah gak bisa jenguk Victor lagi, rumah sakit ini udah tutup kalo dah jam 10.” jelas Christoper lalu segera menarik tangan Jane dan mengajaknya untuk melanjutkan perjalanannya kembali menuju kamar Victor.

Jane terus-menerus menyapu keringatnya yang setia mengalir, dan kini sudah menjalar di seluruh tubuhnya. Sementara Christoper masih saja bersemangat dan bersikeras untuk menjenguk Victor.

Rasa letih Jane akhirnya tersudahi, mereka telah tiba di kamar 99. Jane berharap perawat Victor segera membuka pintu saat ia mengetuknya dan mempersilahkannya untuk masuk, setelah itu ia bisa pulang ke rumah.
Jane mengetuk pintu kamar Victor berulangkali. Tapi pintu kamar Victor tak kunjung terbuka seperti enggan menerima tamu. Semakin lama Jane mengetuk dan ketukannya pun semakin keras. Akhirnya pintu kamar Victor terbuka. Tapi bukan perawat Victor yang membukakannya, justru Victor yang membuka pintu kamarnya sendiri.

“Ngapain kalian disini!?” tanya Victor dengan gemuruh suara yang berbeda dari biasanya.

“Jenguk lo lah! Minggir, gue mau masuk.” ucap Jane lalu membuka pintu kamar Victor lebih luas agar ia dapat memasukinya.

Tatapan Victor terlihat mengerikan saat Christoper lewat di sebelahnya, hal itu membuat Christoper sedikit ‘ngeri’ tapi ia tetap masuk ke dalam kamar Victor.
Jane sudah merebahkan dirinya di kasur. Sementara Victor masih berdiam diri di tempat dimana ia membukakan pintu untuk dua kawan sekelasnya itu.

“Duh Jane, lo gak sopan banget sih!” ucap Christoper lalu menarik tangan Jane agar ia segera berlalu dari kasur yang ia rebahi.

“Apaan sih! Lagian Victornya juga enggak kenapa-napa tuh!” gerutu Jane dan kembali merebahkan dirinya di kasur.

Victor yang sedari tadi diam dan memperhatikan Jane dan Christoper akhirnya mulai geram. Ia membanting keras pintunya.

“I.. iya Victor. Nih gue bangun, gue gak rebahan lagi kok.” kata Jane dengan gugup sambil merapikan kasur.

“Kalian bisa keluar kan dari sini? Gue gak butuh teman munafik kayak kalian!” ketus Victor lalu menyentak Jane dan Christoper untuk segera berlalu dari kamarnya.

Jane yang dari tadi memang sedang ketakutan menyuruh Christoper untuk pergi saja dari kamar Victor. Ia pun menyetujui dan Jane menarik keras tangan Christoper agar mereka bisa berlari cepat pergi dari sisi Victor yang tampak berbeda itu.

Tiba-tiba saja seluruh lampu di lorong rumah sakit mati keseluruhan. Jane langsung histeris karena mereka terjebak di lorong rumah sakit yang tepat berada di depan kamar 81, tempat dimana mereka beristirahat tadi.
Tak lama kemudian akhirnya lampu kembali menyala. Tapi hal itu tak sedetik pun dapat menghentikan histeris keras dari Jane lantaran Victor yang dengan tiba-tiba sudah berada di hadapan mereka dengan pisau bersimbah darah di tangannya.

“Kalian munafik!” ucap Victor dengan nada tinggi. Jane merasa geram dengan kata ‘munafik’ dan memberanikan dirinya untuk bertanya pada Victor.

“Maksud lo munafik tuh apa!?” tanya Jane.

“Gak usah sok polos lo! Gue udah setahun di rumah sakit. Gue koma berbulan-bulan, dimana kalian? Terutama buat lo Christoper..” kata Victor sambil menunjuk dalam Christoper.

“Lo seneng kan gue koma berbulan-bulan di rumah sakit karena artinya lo bisa semena-mena deket sama Jane, padahal lo tau gue suka sama Jane!” lanjut Victor dan mulai mendekati Jane dan Christoper.

“Sekarang, kalian terlambat, gue udah mati dan kalian harus terima akibatnya!” ucap Victor keras kemudian mendekatkan pisau bersimbah darah di tangannya ke leher Christoper.
Jane menghalau pisau tersebut dengan tangannya, sayangnya tangannya justru terpenggal karena bagian tajam pisau itu berhasil mengiris tangan Jane. Ia langsung histeris dan menangis menahan perih di tangannya.
Victor memperhatikan Jane yang tampak kesakitan dan Christoper dengan sigap mengambil pisau dari tangan Victor.

“Lo boleh balas dendam sama gue. Tapi jangan untuk Jane! Dia enggak salah apa-apa, silahkan bunuh gue, kalo itu yang bikin lo tenang.” ucap Christoper sambil mendekatkan pisau tepat di jantungnya.
Masih dengan perasaan perih di tangan Jane, ia berlari berusaha menghentikan aksi bunuh diri Christoper. Sayangnya karena tindak gegabah yang dilakukan Jane saat berlari, pisau tajam itu menancap keras di jantung Christoper dan seketika nyawanya pergi.
Jane menangis histeris saat melihat Christoper yang sudah tak bernyawa ditambah pisau yang menghujam jantungnya serta darah segar yang mengalir deras di jantungnya. Saat Jane melihat ke arah Victor, ia sudah menghilang. Jane semakin ketakutan karena jam sudah menunjukkan pukul 11 malam, yang artinya rumah sakit sudah ditutup dan ia tidak bisa pulang sekarang. Jadilah ia tidur disana bersama Christoper yang sudah mati.

Cerpen Karangan: Yunita Yuliana
Facebook: Yuniita
Aku manusia biasa yang bercita-cita menjadi penulis. Kritik dan saran diharapkan bagi pembaca, baru pemula nih!

Cerpen AW 19 merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Boneka Lusuh

Oleh:
DI liburan yang lumayan panjang ini aku menyempatkan pergi berlibur ke puncak. Tepatnya pukul 06.00 pagi aku berangkat ke puncak bersama keempat kawanku, yaitu Andi, Nino, Wina dan Puri.

Bernyanyi Di Kamar Mandi

Oleh:
Malam ini adalah malam minggu. Seperti remaja umumnya, aku dan teman-temanku memutuskan untuk jalan-jalan ke mall. Ya, tentunya sebelum itu aku harus mandi terlebih dahulu. Kebetulan aku tinggal di

Jin Jubah Hijau

Oleh:
Aku tidak bisa tidur, perut ku lapar. Sekarang jam 2 pagi. Udara di atas pegunungan Everko begitu dingin. Di tenda kecil ini, aku berusaha memejamkan mataku sejak pukul 12

Apakah Yang Kulihat Tadi?

Oleh:
Pukul menunjukkan waktu 06.00 “Dring… Dring…” alarm berbunyi. Pagi yang cerah diselimuti awan tebal dan disambut oleh ayam berkokok. Pagi pun datang menggantikan malam. “Putri… Mari makan” ujar mama

Bloody Angel

Oleh:
Aku adalah sebuah pisau dapur. Aku dibuat untuk para ibu-ibu yang ku pastikan memakai jasaku melayani suami dan anak mereka. Sebesit pikiran melintas, terbayang seorang ibu-ibu bertubuh gempal bercelemek

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

One response to “AW 19”

  1. Yosua Mantaon says:

    Maaf mba yunita..
    sya mw izin, cerpennya mba mw saya bwtin komiknya boleh ?
    soalnya cerpennya mba bagus..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *