B

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Horor (Hantu), Cerpen Misteri
Lolos moderasi pada: 20 February 2019

Daun-daun kering berguguran dari sebuah pohon yang telah berpuluh-puluh tahun tertanam di depan sebuah SMA swasta. Sekolah tua yang sudah cukup lama belum direnovasi lagi. Di tempat itulah seorang gadis bernama Liana berstatus sebagai murid baru di kelas XI IPA. Liana baru pindah beberapa waktu lalu ke sekolah tersebut. Ia telah mendapatkan seorang teman akrab bernama Fere. Fere adalah gadis berkacamata yang hobinya membaca buku. Mereka berencana akan pergi ke perpustakaan saat jam istirahat. Tetapi di tengah perjalanan…

“Eh, Re! Itu ruangan apaan sih?” Liana melihat sebuah ruangan yang tergembok.
“Katanya sih, dulu ruangan itu adalah lab fisika. Tapi udah lama ditutup gara-gara ada kasus siswi meninggal di ruangan itu. Dari aku pertama masuk SMA ini juga udah digembok kayak gitu.”.
“Meninggal karena apa?”.
“Sampe saat ini belum diketahui pasti meninggalnya karena apa.”.

Saat sedang menyetir mobil sepulang sekolah, handphone Liana berbunyi kencang. Naasnya, handphone itu terjatuh. Liana bersusah payah berusaha mengambilnya. Sampai saat pandangannya kembali ke depan ia melihat seorang gadis bermabut panjang, memakai seragam putih abu-abu berdiri di depan sambil menatapnya. Dengan segra Liana menginjak rem mendadak sambil menutup mata rapat-rapat, takut ia terlambat menginjak rem sehingga menabrak gadis tersebut. Namun saat Liana kembali membuka matanya, gadis itu tiada. Liana pun sampai turun ke luar mobil guna mencari gadis tersebut, tapi ia tak mendapati apapun. Kemudian, Liana memutuskan pergi dari tempat itu.

Ketika tengah malam, tubuh Liana tampak begitu berkeringat dengan keadaan tidak tenang. Matanya masih terpejam, sprei serta perlengkapan tidur lainnya begitu berantakan. Dalam keadaan malam yang berbintang seperti ini, Liana masih bisa bermimpi buruk. Liana seperti melihat seorang siswi tengah diikat di sebuah kursi sambil menjerit-jerit kesakitan, sebab ada seseorang yang berperilaku jahat padanya. Liana tak tahu harus berbuat apa dalam mimpinya itu. Liana melihat dengan jelas bahwa siswi yang diikat tersebut berwajah sama dengan siswi yang hampir ditabraknya tadi siang. Hanya saja, wajah seseorang yang menjahati siswi, tak terlihat begitu jelas. Yang ia tahu, seseorang itu adalah lelaki yang memakai kemeja berwarna kuning. Liana langsung duduk terbangun dari mimpinya dengan nafas terengah-engah. Tubuhnya semakin berkeringat.

Daun-daun kuning mengering itu masih saja berguguran hingga detik ini. Ditambah dengan suasana dingin yang menyapa hampir setiap pagi. Tampak Liana tengah sibuk memilih sebuah buku diantara entah berapa banyak buku yang tertata rapi di rak perpus. Berkali-kali buku yang telah diambil dikembalikan lagi dalam barisannya. Hingga buku yang ia cari telah ia temukan. Buku tahunan angkatan tahun 2012. Ia membuka beberapa halaman, meneliti foto serta biodata dari foto tersebut.

Setelah selesai, Liana memberitahu pada Fere, tentang kejadian-kejadian aneh yang ia alami kemarin, dan foto yang ia cari di buku tahunan tersebut.
“Inikan Mayang. Siswi yang meninggal di lab fisika itu.” terang Fere.
“Lo yakin? Siswi ini yang kemarin gue tabrak, tapi pas gue liat enggak ada. Dia juga yang semalem ada di mimpi gue lagi dijahatin sama seseorang.” tegas Liana.
“Berita waktu dia meninggal itu udah kesebar dimana-mana, termasuk foto dia ini.” ucap Fere. Tiba-tiba, seluruh siswa maupun siswi di kantin itu berlarian menuju kelas Liana dan Fere. Entah apa yang terjadi. Liana dan Fere yang penasaran, juga melakukan hal yang sama.

Ternyata, semua dibuat heboh dengan seorang siswa bernama Diva yang mengalami kesurupan. Ia menjerit-jerit, keadaannya pun semakin tak karuan. Seluruh siswa dibuat ketakutan olehnya. Ia membuat kelas begitu berantakan, menggerang-gerang tiada henti, memecahkan kaca, vas bunga, dan apapun yang ada di kelas itu. Liana dan Fere baru saja datang. Bahkan, Diva sampai melukai dirinya sendiri dengan menggunakan pecahan kaca. Tangan berdarah yang ia tempelkan di tembok, membentuk sebuah huruf “B”. Entah apa maksudnya. Setelah Diva melihat Liana, ia memanggil-manggil Liana dan hendak menghampiri Liana. Tetapi, Liana selalu berusaha menghindar darinya.

“Liana… Liana… Tolong…” ucap Diva yang masih kesurupan dalam keadaan menangis. Tetapi aksi Diva yang kesurupan berhasil dihentikan saat seorang pegawai di SMA itu memanggil ustadz yang ada di daerah itu untuk dimintai bantuan menyadarkan Diva. Semua jadi tenang kembali.

Sepulang sekolah, Liana mampir ke kantor omnya untuk memberikan handphone milik omnya yang tertinggal saat omnya datang ke rumahnya beberapa waktu lalu. Ia langsung mendatangi ruangannya, dan memberikan handphone itu. Namun, ada satu yang membuat Liana terdiam ketika omnya mengajak Liana mengobrol.

“Gimana Li sekolahnya? Pasti udah dapet temen yang banyak ya?” tanya om itu.
“Iya om. Hmmm, om Bahri! Liana boleh tanya enggak? Liana kok enggak pernah tahu om pake kemeja ini? Baru ya om?”. Kemeja yang dipakai pak Bahri pernah ia lihat dalam mimpinya.
“Oh enggak. Udah lama, tapi enggak pernah om pake.”.

Malam ini, lebih tepatnya pukul 22.00, Liana dan Fere telah berada di lingkungan sekolah. Mereka masuk dengan memanjat pagar belakang sekolah, takut ketauan oleh satpam. Mereka bukan mau mencuri, tetapi ingin menyelidiki lab fisika itu. Mereka berusaha susah payah membuka gembok itu dengan berbagai macam cara, hingga mereka berhasil.

Ruangan begitu gelap, oleh karena itu mereka telah menyiapkan senter. Ruangannya begitu usang, banyak barang-barang yang telah tak terpakai. Terdapat sebuah kursi kayu dan sebuah tali di tempat itu. Terdapat sebuah huruf “B” yang ditulis besar-besar dengan menggunakan darah di lab fisika itu, tak jauh dari tempat kursi kayu itu berada. Semuanya persis seperti yang ada di dalam mimpinya waktu itu. Liana mulai curiga, apa maksud dari tulisan huruf “B” yang ada di tembok itu dan di kelasnya saat Diva kesurupan.
“Apa mungkin “B” itu adalah…” gumam Liana. Tiba-tiba…
“Li! Gue nemuin sesuatu!” tegas Fere. Ia menemukan sebuah buku diary yang diduga milik Mayang. Mereka membukanya lembar-perlembar halaman.

Mayang, adalah siswi paling populer di angkatannya. Dia cantik, pintar, dan disukai banyak orang. Mayang juga menjadi siswi kesayangan oleh guru-guru. Tetapi suatu hari, ada seorang guru baru yang membuatnya sangat tidak nyaman. Seorang guru fisika bernama pak Bahri. Pak Bahri menyayangi Mayang lebih dari rasa sayang seorang guru pada muridnya. Ia menyukai Mayang. Ia sering mendekati Mayang, bahkan hingga menyatakan perasaannya. Tetapi Mayang menolaknya mentah-mentah. Mayang mencurahkan semuanya melalui buku diary yang selalu ia pegang kemana-mana. Sampai pak Bahri membawa paksa Mayang ke lab fisika. Buku itu terjatuh di suatu sudut terpencil dalam lab itu. Pak Bahri yang mengenakan kemeja kuning, berlaku semena-mena terhadap Mayang, hingga membuat Mayang meregang nyawa. Setelah kejadian itu, pak Bahri memutuskan pindah kerja. Penyelidikan polisi yang sama sekali tak menghasilkan apapun, memilih untuk menutup kasus ini. Sedangkan arwah Mayang, hanya meminta keadilan. Ia selama ini bermaksud meminta tolong pada Liana untuk membuka kembali kasusnya, karena ia tahu bahwa Liana adalah keponakan pak Bahri.

Liana dan Fere berhasil membuka kembali kasus tersebut. Diary Mayang adalah sebuah saksi bisu tentang yang dialami Mayang. Polisi segera melakukan penyergapan ke kantor pak Bahri. Dan akhirnya, keadilan yang diinginkann Mayang telah terjadi.

Suatu malam, Liana kembali bermimpi dalam tidurnya. Ia bertemu Mayang yang tampak tersenyum pada Liana.
“Terimakasih sudah mau membantuku. Sekarang, aku akan tenang di alamku”.

Cerpen Karangan: Ria Puspita Dewi
Blog / Facebook: Elfa Ria Puspita

Cerpen B merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Maria

Oleh:
Kejadian ini ku alami ketika aku berusia dua belas tahun dan baru masuk SMP, pada waktu itu aku sedang mengantarkan makanan kesukaan Nenek ke rumahnya. Ayah, Ibu dan aku

Ria

Oleh:
“Setidaknya jika dia tak bicara janganlah kau berbicara duluan padanya”. Lagi lagi mimpi itu hadir, 10 menit ku menunggu di depan toko ini. Berharap seseorang keluar tapi tak ada

Korban Terakhir

Oleh:
Loki bersama kelima temannya, Nadia, Axel, Dika, Raras dan Runa sering berkumpul bersama di rumah Runa yang besar atau berjalan-jalan keluar bersama. Hari ini mereka sedang berkumpul di kamar

Siapa Dia?

Oleh:
Hari sabtu, dimana hari yang paling menyedihkan buatku. Bagaimana tidak, semua teman-teman kosku sudah pada pulang kampung. Hanya aku dan irma yang belum pulang. Karena masih ada kuliah tambahan

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *