Bad Dream

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Horor (Hantu), Cerpen Misteri
Lolos moderasi pada: 16 May 2017

Malam sudah mulai larut. Namun, klub malam itu kian meramai. Beberapa wanita hottest sedang melakukan tugasnya dan juga wanita str*ptease yang asik meliuk-liuk pada sebuah tiang yang berada di tengah klub, seolah menjadi pusat perhatian orang-orang yang berada di dalam klub. Musik disko mengalun keras hanyut bersama hawa panas yang menyeruak keluar. Beberapa pelajar pun juga berdatangan. Sekedar lari dari rutinitas sekolah dan meluapkan pada obat-obatan dan memesan beberapa hottest untuk melayani mereka.

Near, lelaki remaja yang selalu berpakaian serba putih itu hanya duduk di kursi bar dan menatap kosong gelas yang berisi wine. Tanpa terlarut dalam suasana bar yang kian riuh. Dia hanya sibuk melamun sembari memerhatikan gelas tanggung berisi wine Merlot segar. Sesekali ia meneguk wine di depannya itu. Rasa wine yang ia pesan ini tidak terlalu pekat. Rasanya sedikit lembut dan sesekali lidah Near merasakan cita rasa blackberry, pulm dan strawberry. Setelah ia selesai meneguk habis winenya, Near kembali asik dengan dunianya, melamun.

“Ehem! Kau seperti sedang banyak masalah, Tuan?” tanya bartender sambil mengelap beberapa gelas. Merasa tertarik dengan pelanggan yang satu ini.
“Tidak juga. Ini masalah pribadi. Maaf.” Near bangkit dari duduknya dan melenggang pergi keluar dari klub malam itu.

Keluar dari klub itu, hawa dingin mulai menyerang. Bulan Desember, bulan di mana salju jatuh bebas dari langit. Near menggesek-gesek kedua telapak tangannya, berusaha menimbulkan rasa hangat. Walau tahu akan turun salju tetap saja Near keluar rumah tanpa mengenakan pakaian yang tebal. Entah acuh atau bagaimana yang ia tahu bahwa beberapa hal yang datang akhir-akhir ini membuat Near pusing tujuh keliling. Bagaimana tidak, beberapa hari ini setiap Near terbangun dari tidur malamnya selalu menemukan sebuah kepala menggelinding bebas di lantai apartemennya. Ya, hanya kepala saja. Near tentu saja bergegas menelepon polisi secepatnya. Ia takut akan timbul tuduhan yang tidak-tidak dan tentu saja bau dari bangkai kepala manusia itu membuat udara sekitar apartemennya tercemar.
Setelah kejadian itu Near merasa tenang kembali dan selama beberapa hari kedepan tidak ada tanda-tanda keanehan yang terjadi. Near menganggap itu hanya ulah iseng pembunuh yang tidak sengaja melempar ‘barang’ mereka ke tempat Near. Tapi tetap saja kejadian aneh seperti itu membuat bingung Near. Siapapun juga akan terkejut bila menemukan kepala manusia yang menggelinding seperti bola di lantai kamar, bukan?.

“Kau nampak pucat, Nak. Ada apa?” tegur seorang polisi yang sedang berpatroli. Lingkungan yang sedikit kotor membuat tempat ini harus selalu dipatroli oleh polisi. Contohnya yang sedang dilakukan polisi berkulit kulit sawo matang dengan mata yang sedikit memincing dan dagu yang tirus itu. Oh jangan lupakan pangkat yang tertata rapi pada seragam berwarna gelap itu.
Terlalu sering melamun membuat Near tidak sadar dengan keadaan sekitarnya. Untung saja ia tidak tersesat.
“Hanya sedikit masalah, Pak. Maaf membuat Anda khawatir.” Near menundukkan sedikit kepalanya tanda minta maaf dan melenggang pergi.
“Jangan terlalu sering keluar malam, Nak! Bahaya!” teriak Pak Polisi. Tak lama Pak Polisi itu memasuki mobil patrolinya. Memasang safety belt kemudian ia tersadar.
“Bocah itu kan!”

Near masih asik berjalan menyusuri tepi jalan raya yang sepi. Hanya segelintir orang yang berlalu-lalang. Sedangkan Near masih sibuk melamun memikirkan apa yang sebenarnya terjadi padanya. Padahal tubuhnya kian lama kian dingin dan bulu pada tubuhnya kian meremang. Namun tak sedikitpun ia menemukan titik terang pada kasus aneh yang menimpanya ini. Apa benar itu hanya ulah pembunuh iseng?. Padahal malam itu keadaan apartemen terkunci rapat. Jendela bahkan tidak ada yang terbuka.

Near menatap ke depan. Beberapa meter lagi ia akan sampai di apartemennya. Ia takut. sungguh ia takut kalau saja hal itu terjadi lagi. Ia takut untuk tidur, dan ia juga takut untuk tetap terjaga. Semua jadi serba salah. Tak beberapa selang waktu, ia melihat seseorang lari tergopoh-gopoh keluar dari halaman apartemen Near. Ia ingin mengejarnya tapi apa daya orang itu larinya sangat kencang. Bahkan tubuhnya terlihat kurus sama seperti tubuh tipis Near.

Entah yakin atau tidak. Dengan melihat orang aneh itu Near yakin itu bukanlah keanehan lagi. Ternyata memang ini semua ulah para pembunuh yang meletakkan barang mereka di sembarang tempat. Namun tetap saja ada kejanggalan di dalam kepalanya. ‘mengapa ia tidak membawa apapun? Setidaknya mereka membawa karung atau tubuh korban, bukan?’ tanya Near dalam hati, bergulat dengan pemikiran yang ia punya. ‘Mungkin ia bukan pembunuh. Buktinya ia tak membawa senjata tajam. Jadi orang itu siapa?’ pikir Near.

Remaja yang selalu memakai baju putih itu merogoh ponsel yang berada di saku celananya. Menelepon polisi merupakan satu-satunya hal yang harus ia lakukan. Setidaknya ia dapat mencurigai seseorang yang diduga pelaku. ‘Setelah menelepon polisi, polisi akan bertindak dan kejadian itu tidak akan terjadi lagi’ pikir Near.

Sesampai di teras apartemennya, beberapa polisi dengan sigap langsung menemui Near. Bertanya beberapa hal, dan beberapa polisi lagi memeriksa bagian dalam apartemen Near. Setelah dirasa aman, para polisi mohon pamit dan menyalami Near. Di antara polisi itu ada polisi yang menegur Near tadi. Akhirnya malam ini ia bisa tidur dengan nyenyak tanpa harus memikirkan hal-hal aneh lagi.

Near membuka pintu apartemennya. Semua gelap gulita. Near tersadar sebelum ia pergi, ia mematikan semua lampu. Sepertinya agar tagihan listrik tidak membengkak lagi seperti bulan kemarin. Near berjalan menuju saklar lampu, tapi…
DUK!
Near merasa menendang sesuatu di lantai. Ia mengambil sesuatu itu dan menekan tombol saklar yang berada tepat di sampingnya. Dan seketika bagai waktu terhenti, Near menatap kosong benda yang sekarang ia pegang…
Sebuah kepala manusia.

“AAAAAAAAAKKHHH!!” Near melempar benda itu. Membuat darah segara yang keluar dari benda itu terciprat ke mana-mana. Darah merah merekah itu menggenang di lantai apartemen. Bau khas tembaga menyeruak keluar dari benda mengerikan itu. Wajahnya semakin pucat seperti mayat. Tubuhnya kian mendingin. Rasanya ia tidak bisa lari bahkan bergerak saja sepertinya mustahil. Tiba-tiba saja sebuah benda lain menggelinding bebas dari kolong meja,
sebuah kepala lagi.
Bahkan dengan wajah yang Near kenal. Tidak, bukan kenal tapi rasanya ia pernah bertemu dengan pemilik kepala ini.
“Pak Polisi?!” Suara Near semakin tercekat. Rasanya bernafas pun sulit bagi Near. Ia lekas menuju pintu rumah perlahan dan berlarian ke luar rumah. Nafasnya berderu kencang. Ia tak tahu harus pergi ke mana. Salju yang turun kian lebat. Bahkan mungkin saja akan terjadi badai salju. Sekarang yang Near lakukan hanya berlari sejauh mungkin dari rumah yang menyeramkan itu.

“Bagaimana bisa?!” Near bertanya pada diri sendiri. Ia berhenti berlari dan duduk di pelataran rumah seseorang. Nafasnya tersenggal-senggal. Ia tak tahu harus pergi ke mana. Sudah selarut ini. Ia melihat sekitar dan menjumpai beberapa polisi yang sedang berbincang di semberang jalan. Tak pikir panjang Near bergegas menghampiri polisi-polisi itu dengan tergesa-gesa. Saat menyeberang jalan, Near tidak menyadari Truk besar melaju dan…
BRAKKKK!
Tubuh kecil Near terhampas jauh. Pandangannya menjadi kabur. Seperti terputar-putar dalam lorong gelap. Tiba-tiba mata Near terbelak sempurna.

“Hahhh… hahh… hahhh!” Lelaki remaja yang selalu memakai baju serba putih itu mengelap peluh yang bercucuran di dahinya. Melihat sekitar dan memastikan keadaan. Memastikan semua baik-baik saja. Setelah ia rasa semua baik-baik saja, ia teringat sesuatu langsung saja ia bangkit dari ranjang empuknya dan segera mungkin memeriksa box besar di bawah ranjangnya. Ia membuka box besar yang terbuat dari besi itu. Ia menatap isinya sesaat lalu tersenyum dan menutupnya kembali.
“hahhh~” lelaki itu menghela nafas lega.
“Untung saja itu hanya mimpi buruk. Kalau ‘mereka’ keluar dan menggelinding bebas seperti itu lalu ketahuan akan sangat bahaya.” Lanjutnya.

Cerpen Karangan: Ayu Pratiwi
Facebook: ayu sei-chan
Nama: Ayu Pratiwi
Usia: 16 tahun
status: pelajar
Asal kota: Penajam, kalimantan Timur
hobi: membaca, menulis, menggambar.
“suka buat cerita fantasi, horor, psycopath, romance, misteri, creepypasta. suka gambar juga, mau lihat? cek ig: freeya01.”

Cerpen Bad Dream merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Kamar Sebelah

Oleh:
Sebelum memulai ceritanya aku ingin memperkenalkan namaku terlebih dahulu perkenalkan namaku Anita. Aku baru berumur 16 tahun, namun kemampuan indra ke-enam yang aku miliki cukup membuatku disegani oleh banyak

Memecahkan Misteri

Oleh:
Ada seorang murid baru di kelasku. Ia tampak cantik dan anggun karena rambut panjang dan kulit putihnya. Bu Rara memperkenalkannya ke semua muridnya. “Namanya Lala Nelvika. Ia anak pemalu.

Tak Tergapai

Oleh:
Aku terbangun dari tidurku dan “Hei! siapa di sana?” aku buru-buru menyalakan lampu kamarku. Tadi aku melihatnya, bayangan hitam bertopi itu kembali muncul. Perlahan-lahan aku turun dari tempat tidurku

Dimana-mana Ada Hantu

Oleh:
Cerita gue waktu masih SD, gue paling takut sama yang namanya hantu. Di fikiran gue hantu itu suka ngejutin alias surprise. wah berarti hantu romantis dong, bukan bukan! Hantu

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

7 responses to “Bad Dream”

  1. zia zarine says:

    Kreatif 🙂
    But, jujur aq kurang faham

  2. Evi Andini says:

    Menegangkan, jadi pembunuhnya itu si Near ya…

  3. masih zia zarin says:

    Aku kira itu kepala si hantu. Hehehee :p

  4. Syeehannaq says:

    Seru bangeeet! Jadi yg ada di dlm box besar itu mayatnya ya? Near yg bunuh mrk kn

    • ayu pratiwi says:

      iya jdi sebenernya near itu pembunuhnya. dia takut bukan sama kepala itu tpi dia takut ketahuan kalau sebenarnya dia yg bunuh.

  5. hayoo siapa? says:

    O_o wadaw..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *