Bangku Terkutuk

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Horor (Hantu), Cerpen Misteri
Lolos moderasi pada: 5 May 2018

Pagi ini hari pertamaku masuk ke Sekolah Menengah Pertama. Tidak ada satupun teman yang kukenal di sekolahan baruku ini. Jam weker yang selama ini selalu membangunkanku, kini mulai tidak berfungsi dengan baik. Waktu telah menunjukan pukul 06.30 pagi, dengan secepat kilat aku bergegas untuk mandi dan langsung berangkat menuju sekolah. Dengan keadaan terengah-engah aku berlari agar dapat sampai tepat waktu. Untung saja aku tidak terlambat, coba kalau sampai terlambat pasti aku dihukum ditengah teriknya matahari.

Kenalkan namaku Ara, usiaku 13 tahun, hobiku banyak sih, salah satunya mengenai hal-hal yang berbau mistis. Ya seperti horor-horor gitulah. Setelah masa orientasi selesai dilanjutkan dengan pembagian kelas. Tanpa kuduga-duga ternyata aku masuk di kelas VII E. Sebetulnya aku kecewa karena tidak sesuai dengan harapanku dan kedua orangtuaku. Tetapi aku tetap bersyukur, alhamdulillah aku masih bisa masuk di sekolah favoritku.

Di kelas…
“Anak-anak perkenalkan nama saya Bu Rani. Saya mengajar mata pelajaran Seni Budaya. Kebetulan saya adalah wali kelas kalian.” jelas Bu Rani
“Selamat pagi, Bu.” sahut murid-murid bersamaan
“Selamat pagi anak-anak. Berhubung saya sudah memperkenalkan diri, sekarang giliran kalian untuk maju ke depan dan memperkenalkan diri. Dimulai dari kamu…” pinta Bu Rani
“Baik, Bu.” jawab murid-murid serempak

Kemudian tiba saatnya aku yang memperkenalkan diri.
“Selamat pagi semuanya. Perkenalkan nama saya Ara Putri Revandra, usia saya sekarang 13 tahun, orangtua saya bekerja sebagai karyawan swasta di salah satu perusahaan di Kota Semarang.” kata Ara

Proses belajar mengajar berlangsung dengan tertib dan teratur.
Tet… tet… tet…
Tak terasa bel istirahat pun berbunyi. Anak-anak berhamburan keluar menuju ke kantin sekolah. Akan tetapi lain dengan Ara, dia hanya duduk terdiam di dalam kelasnya. Tanpa sengaja dia mendengar percakapan dari kedua teman perempuannya. Mereka berdua membicarakan tentang bangku yang letaknya di sebelah kanan depan.
“Tan kamu tau gak mengenai mitos bangku terkutuk di kelas kita?” kata kesya
“Enggak tuh, emang kenapa sama bangku itu?” tanya Intan
“Katanya sih bangku itu disebut-sebut sebagai bangku terkutuk loh.” jelas kesya
“Iya aku juga tau kalau bangkunya disebut bangku terkutuk, cuman kenapa bisa disebut bangku terkutuk gitu loh.” tanya Intan

Secara tiba-tiba Ara memotong pembicaraan mereka berdua. Seperti biasa kalau dia sudah mendengar hal-hal yang berbau mistis, langsung saja dia ikut-ikutan gabung sama kedua teman barunya itu. Walaupun sebenarnya mereka belum terlalu akrab.
“Eh… kalian berdua lagi ngomongin tentang bangku kosong yang ada di depan itu ya?” tanya Ara
“Oooh… maksud kamu bangku terkutuk, iya kami lagi ngomongin tentang itu. Emangnya kenapa?” timpal kesya
“Enggak apa-apa sih, cuman…”
Sebelum Ara selesai berbicara, Intan langsung memotong pembicaraannya.
“Cuman apa?” tanya Intan
“Aku penasaran aja kenapa bangku yang di depan itu malah kosong.” sahut Ara
“Oooh… jadi itu. Aku akan jawab pertanyaan kalian berdua. Begini ceritanya. Dulu sekitar 2 tahun yang lalu SMP ini sedang mengadakan penerimaan siswa baru. Setelah itu, ada salah satu siswi perempuan yang datang terlambat. Kemudian dia dimarahin sama kakak kelasnya. Enggak cuman itu aja dia dihukum lari muterin lapangan sebanyak 10 kali dan itu tanpa berhenti. Sesudahnya dia disuruh masuk ke kelas. Kelasnya sama, ya kelas kita ini. Saat tiba di dalam kelas, dia duduk di bangku kosong yang sekarang disebut sebagai bangku terkutuk. Selang beberapa menit, wajahnya pucat lalu dia pingsan dan kejang-kejang. Teman-teman sekelasnya pada panik semua. Salah satu temanya memanggil Pak Guru untuk mengecek keadaan siswi perempuan itu. Pak Guru kemudian datang dan langsung memeriksa keadaanya. Dia didudukan di bangku itu, ketika Pak Guru memeriksa denyut nadinya ternyata dia sudah meninggal dunia. Gitu loh ceritanya.” jelas Kesya panjang lebar
“Oooh… jadi gitu ceritanya.” Ara berbicara sambil manggut-manggut
“Serem juga ya ternyata, ih… jadi merinding dech.” Intan bergidik ngeri

Bel masuk pun telah dibunyikan saatnya seluruh siswa masuk ke dalam kelasnya masing-masing. Saat pelajaran berlangsung, bangku itu bergeser dengan sendirinya. Semua siswa yang berada di dalam kelas langsung berteriak ketakutan. Pak Guru yang sedang menjelaskan materinya, lalu menengok ke arah kami semua. Pak Guru berusaha menenangkan kami semua, dengan cara mengatakan itu hanya tertiup angin saja.

Tak lama setelah itu, bel pulang sudah berbunyi, sorak-sorai dari setiap kelas terdengar sangat kencang. Seperti waktu Sekolah Dasar dulu aku selalu diantar jemput oleh Pak Jacky, sopir pribadiku. Sesampainya di rumah aku bergegas masuk ke dalam serta mengganti seragamku. Makan siang sudah tersedia di meja makan, tinggal menyantapnya saja. Kemudian aku masuk ke kamar untuk mengerjakan pekerjaan rumahku. Bukannya berpikir tentang Prku malahan aku terus berpikir tentang kejanggalan yang terjadi di kelas tadi siang. Tapi mana mungkin sih bangku yang terbuat dari kayu bisa bergerak gara-gara tertiup angin? Gak mungkin banget, pasti ini ada yang disembunyikan oleh Pak Guru itu. Aku jadi penasaran, ingin mengungkap apa yang terjadi sebenarnya dengan bangku terkutuk itu.

Tok… tok… tok…
Sepertinya ada orang yang mengetuk pintu.
“Bi Irah tolong bukain pintu kayaknya ada tamu dech.” Pintaku pada Bi Irah
Bi Irah adalah Asisten Rumah Tangga di rumahku. Usianya sekarang kira-kira 40 tahun. Ngomong-ngomong kok Bi Irah gak menjawab ya.
“Bi… Bi Irah. Pak… Pak Jacky kok pada gak ada sih, sepi banget ini rumah. Horor dech ah.” Ara berjalan sambil menuruni tangga satu per satu
“Ya, siapa?” sapa Ara

Saat dia melihat ke arah depan pintu, jantungnya berdegup sangat kencang tidak ada satu orang pun yang datang serta mengetuk pintu rumahnya. Akan tetapi dia selalu berpikir positif dan dianggapnya angin lalu saja. Kemudian dia kembali ke dalam kamarnya. Tiba-tiba saat aku berjalan ada seseorang yang menyentuh pundakku, spontan aku langsung berteriak.
“Aaaaaa…” teriakku
“Ada apa Non?” tanya seseorang itu yang ternyata Bi Irah
“Tadi sih Bi Irah lihat ada seorang anak perempuan pergi dari sini.” jelas Bi Irah
“Ciri-cirinya bagaimana Bi?” tanyaku
“Dia pakai baju sekolah, rambutnya diurai sampai menutupi wajahnya, tingginya kira-kira sama kayak Non lah.” Jawab Bi Irah
“Ya udah Bi aku naik dulu ya.” Kata ku
“Baik, Non.” sahut Bi Irah

Kira-kira siapa ya perempuan itu. Apa mungkin… dia… Astafirullah jangan-jangan dia perempuan yang meninggal gara-gara dihukum sama kakak kelas itu lagi. Apa dia ingin balas dendam sama warga sekolahku ya? Atau bahkan dia mau minta tolong sama aku? Itu semua masih tanda tanya.

Pukul 21.00 malam…
Udah malam nih mendingan aku tidur aja.
“Tolong… Tolong… Tolong…” teriak seorang anak perempuan itu
“Si… siapa kamu?” aku menjawab
“Tolong aku Ra… Tolong aku.” Anak perempuan itu meminta tolong pada Ara
“Jangan dekati aku… jangan… jangannnnnn.” teriak Ara

Kring… kring… kring…
“Aaaaaa… Untung cuman mimpi.”
Jam wekerku berbunyi, saatnya aku mandi dan segera pergi ke sekolah.

“Akhirnya sampai juga di sekolah.”
Di dalam kelas…
”Hai… Kemarin kalian tau gak, sekitar jam 14.00 siang ada seorang perempuan yang datang ke rumahku.” jelasku
“Emangnya siapa dia?” tanya Kesya
“Aku juga gak tau, tapi menurutku dia itu arwah kakak kelas kita yang meninggal di bangku terkutuk itu.” Pikirku
“Ih… serem dech. Eh… maaf aku ganggu ya? Kenalin namaku Raisa, ini Salwa dan dia Tata.” jelas Raisa yang ikut-ikutan nimbrung
“Ya, enggak apa-apa kok. Hai, kenalin aku Ara, dia Kesya dan itu Intan. Salam kenal ya.” jawabku
Semenjak saat itu kami mulai bersahabat. Makan, pergi jalan-jalan, belajar kami selalu bersama-sama. Sebutan untuk kami berenam adalah KARIST singkatan dari Kesya, Ara, Raisa, Intan, Salwa, dan Tata. Kami selalu bersama walaupun senang bahkan susah sekalipun.

3 bulan berlalu begitu saja. Pagi itu aku akan berangkat ke sekolah. Namun, aku tidak sendirian. Hari ini kita berjanji akan berangkat bersama ke sekolah. Biasalah naik mobil kesayanganku.

Di ruang kelas…
“Selamat pagi anak-anak.” Sapa Bu Rani
“Selamat pagi, Bu.” Timpal kami semua dengan kompak
“Hari ini saya akan menyampaikan sesuatu yang sangat penting. Kemarin kakak kelas kalian ada yang meninggal dunia, karena tertabrak oleh mobil. Untuk itu saya menghimbau kepada kalian semua agar lebih berhati-hati dalam menjaga keselamatan diri kalian masing-masing.” himbau Bu Rani
“Baik, Bu.” jawab seluruh siswa

“Eh tapi kalian tau gak kakak kelas yang meninggal itu gosipnya dia meninggal gara-gara hantu penghuni bangku terkutuk itu.” kata salah seorang siswi perempuan di kelasku.
Ara dan kelima sahabatnya berkumpul di kantin sekolah. Mereka sedang membicarakan mengenai kakak kelasnya yang meninggal kemarin.
“Apa mungkin yang teman-teman kita katakan itu bener?” tanya Ara
“Tentang apa sih?” sahut Salwa dan Tata bersamaan
“Ya tentang kakak kelaslah, yang meninggal akibat hantu bangku terkutuk itu kan. Bener ya Ra?” timpal Raisa
“Ya. Betul, betul, betul.” jawabku sambil bercanda
“Kalau menurutku sih itu bener.” pendapat kesya
“Aku juga setuju dengan Kesya.” pikir Intan
“Kami juga setuju.” jelasku, Salwa, Raisa, dan Tata serempak
“Tapi selain itu aku punya pendapat lain.”
“Apa itu Ra?”
“Jadi gini key, apa mungkin hantu itu ingin minta tolong sama kita?”
“Bisa jadi sih.”
“Tapi Tan bisa aja dia mau balas dendam.”
“Kamu enggak boleh berburuk sangka Raisa.”
“Iya betul kata Salwa.”
“Eh, bel masuk bunyi tuh kembali ke kelas yuk.” ajak Tata
“Ayo.” mereka menjawab dengan kompak

Di dalam mobil…
“Eh, kalian pulangnya ke rumahku aja ya kita tidur di rumahku lagian kan besok hari Minggu.” ajakku
“Setuju… setuju.” Jawab mereka dengan semangat kecuali Tata
“Kamu kenapa Ta?”
“Aku belum bilang sama Mamah dan Papahku Ra.”
“Sekarang di telepon aja.”
“Ok, Ra. Coba tak telepon dulu.”

Setelah beberapa menit kemudian…
“Gimana Ta boleh?” tanyaku
“Maaf ya… aku…” Tata berkata sambil terbata-bata
“Kamu enggak boleh ya?”
“Aku… aku boleh. Ye…”
“Ih, kirain enggak boleh.”
“Ya maaf tho. Aku kan tadi belum selesai bicaranya.”

Sesampainya di rumah Ara, mereka turun dari mobil dan langsung menuju ke kamar Ara.
“Kamarmu yang mana Ra?”
“Ayo sini ikutin aku.”
“Mana sih enggak sampai-sampai.”
“Ini dia kamarku.”
“Kita pinjam bajumu ya Ra?”
“Siip. Silahkan dipilih-dipilih.”
“Ha ha ha ha ha. Kayak Pedagang Kaki Lima aja kamu Ra.”

Waktu sudah menunjukkan pukul 22.00 malam. Satu per satu dari mereka tidur perlahan-lahan.
“Ara kamu harus menolong aku.”
“Siapa kamu? Kenapa kamu datang lagi?”
“Aku kakak kelasmu namaku Ririn”.
“Kenapa kamu minta tolong sama aku?”
“Karena cuman kamu yang bisa menolongku.”
“Emangnya apa masalahmu?”
“Kamu udah tau kan kenapa aku meninggal?”
Ara mengangguk pelan
“Yang diceritakan sama teman kamu itu bener Ra. Dulu aku punya sahabat namanya Faya. Dia itu kakaknya kesya. Apakah kamu tau siapa Bi Irah itu? Dia adalah ibuku. Selama ini aku tinggal dengan nenekku. Ayahku sudah lama meninggal, kalau ibuku dulu tinggal di desa. Ibuku bekerja banting tulang di sana untuk mencukupi kebutuhan nenek dan aku di sini. Setelah aku meninggal, nenekku sakit-sakitan. Beliau hanya sendiri di rumahnya. Sehari setelah aku meninggal nenekku menyusulku. Sampai saat ini ibuku belum tau bahwa aku dan nenekku sudah tiada. Untuk itu aku minta tolong sama kamu. Tolong sampaikan pesanku kepada ibu.” jelas Kak Ririn panjang lebar
“Apa itu pesanmu Kak Ririn?”
“Tolong kamu bilangin sama ibuku kalau aku dan nenekku sudah meninggal. Kamu kasih tau ibu di mana makam kami berdua. Makam kami berdua letaknya di belakang rumah nenek. Kamu jangan lupa bilang pada ibu kalau aku sayang sama dia dan aku udah tenang di sana. Jadi tolong ikhlasin aku. Itu aja, aku minta tolong sama kamu ya Ra. Makasih.”
“Tapi tunggu sebentar Kak. Apa bener yang bunuh kakak kelasku itu kakak?”
“Enggak Ra. Kejadiannya itu berawal dari dia yang ingin mengambil sesuatu di kelasnya. Dia ke sekolahnya malam hari. Waktu itu aku sedang menangis di bangkuku yang kalian sebut sebagai bangku terkutuk itu. Kakak kelasmu itu masuk ke kelas yang kamu tempati sekarang yang dulunya juga kelasku. Saat itu aku sedang menampakkan diriku. Dia melihatku kemudian lari ke luar sekolah. Aku berusaha mengejarnya, karena dia menjatuhkan buku yang diambil di kelasnya tadi. Tanpa melihat jalan dia berlari secepat mungkin lalu dari arah lain ada mobil yang lewat. Setelah itu dia tertabrak dan akhirnya dia meninggal dunia.
“Oooh… jadi gitu ceritanya.”
“Ya udah kalau gitu aku pergi dulu ya Ra.”
“Ya Kak.”

Keesokan harinya Ara menceritakan tentang mimpinya itu pada sahabat-sahabatnya. Lalu mereka mengambil keputusan bahwa hari ini juga, mereka akan menceritakan tentang Kak Ririn pada Bi Irah.
“Bi Irah kami ingin bercerita.”
“Cerita apa Non?”
“Tentang Kak Ririn Bi.”
“Non Ara tau tentang Ririn anak Bibi?”
Kemudian aku menceritakan semuanya yang diminta Kak Ririn untuk menceritakan pada ibunya. Ketika itu tangis kami semua pecah, apalagi Bi Irah. Dia sangat kecewa, kenapa baru sekarang dia tau bahwa anak dan ibunya telah meninggal 2 tahun yang lalu.

6 bulan berlalu begitu cepat. Bangku yang terkutuk, sekarang menjadi bangku biasa yang diduduki oleh siswa lainnya. Sekolah pun kini sudah tenang, tidak ada hantu bangku terkutuk di kelas VII E lagi. Akhirnya keinginanku sudah tercapai. Misi mengungkap tentang bangku terkutuk telah selesai. Hai… aku Ara dan ini kelima sahabatku. Siapa yang membutuhkan bantuan kami siap membantu. Baik itu dari golongan manusia seperti kita, atau bahkan seperti Kak Ririn yaitu… golongan-Mu.

Cerpen Karangan: Farah Prikananda Putri

Cerpen Bangku Terkutuk merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Bisikan dari Surga

Oleh:
Pepohonan rindang nan tinggi tampak menyeramkan di malam hari. Namun terlihat kokoh nan indah disaat pagi, siang, dan sore hari. Menjelang libur semester Tari menyempatkan diri untuk mengunjungi perpustakaan

Miss Night

Oleh:
Sounds of owls and howling dogs on the hills tease the eternal loneliness at to night. Momentary voice shouted to each other. Dogs or a owls, I don’t know

Aku

Oleh:
Aku terus berlari, menelusuri lorong yang tak kunjung menepi. Yang kudapati, Angin menghembus dadaku. Nafasku terhenti seketika. Raungannya terdengar jelas. Aku terus berlari, menangis pada apa yang kualami. Kutengok

Boneka Lusuh

Oleh:
DI liburan yang lumayan panjang ini aku menyempatkan pergi berlibur ke puncak. Tepatnya pukul 06.00 pagi aku berangkat ke puncak bersama keempat kawanku, yaitu Andi, Nino, Wina dan Puri.

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

One response to “Bangku Terkutuk”

  1. Bitha Cute says:

    Wow, lumayan sih jadi cerita serem

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *