Beruntung Aku Sudah Membunuhnya

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Horor (Hantu), Cerpen Misteri
Lolos moderasi pada: 12 December 2017

Mataku terbuka, ternyata aku telah berbaring di sebuah ranjang, di tempat yang asing bagiku. Aku melihat lihat sekitar, sepertinya ini adalah sebuah kamar. Kepalaku sakit, rasanya baru saja terjadi sesuatu tapi aku tidak bisa mengingatnya.

Aku mendengar sesuatu dari arah pintu, aku menengoknya tanpa turun dari ranjang. Aku melihat gagang pintu itu bergerak seperti ada orang dari luar yang akan membuka pintu. Aku sangat takut, bagaimana jika aku diculik dan yang membuka pintu itu penjahat?

Aku tenggelam ke dalam selimut hingga kini hanya mataku yang terlihat. Aku terus memandangi gagang pintu itu, berharap orang tersebut tidak melanjutkan untuk membuka pintu. Tapi akhirnya..
“Krieett” pintu terbuka diikuti seseorang dari luar dan nampak dia membawa sesuatu. Badanku menggigil. Aku membenamkan seluruh tubuhku di dalam selimut, melihat wajahnya saja aku tak berani.

“Jihan, ayo makan” suara yang sangat lembut dari seorang wanita, lalu aku membuka selimutku dan melihatnya. Dia tampak sangat cantik saat tersenyum tapi sayangnya aku tidak mengenalnya. Aku disuapinya dengan penuh cinta. Hingga aku terbiasa dengannya.

Kini aku tinggal di rumah wanita itu. Saat aku sedang duduk di taman depan rumah, aku baru menyadari bahwa aku mengenakan gelang bertuliskan namaku “JIHAN”, nama yang sama saat wanita itu memanggilku. Mungkin ia tahu namaku karena gelang yang kupakai.

Tiba tiba ada seorang laki laki yang menghampiriku, dia tersenyum padaku tapi lagi lagi aku tidak mengenalnya. Dia lalu duduk di sampingku. Aku hanya tersenyum ke arahnya.
“Jihan, bagaimana keadaanmu?” Keadaanku? Aku rasa aku baik baik saja, tapi kenapa dia bertanya seperti itu?
“Oh maaf, maksudku bagaimana kabarmu?” Laki laki itu nampaknya salah bicara.
“Baik, tapi dari mana kamu tahu namaku?”
“Ohh emm, itu dari gelang yang kamu pakai”
“Oh” aku rasa semua orang tahu namaku dari gelang ini.

“Ternyata kalung itu masih kamu pakai, baguslah” aku langsung melihat leherku, dan ternyata aku memang memakai kalung tapi aku baru sadar. Aku hanya tersenyum. Dia tampak tersenyum bahagia saat melihat kalungku.
“Maaf, aku harus masuk dulu” aku tidak boleh mengobrol lama dengan orang asing.
“Oh OK! Sampai jumpa” aku melambaikan tanganku.

Hari demi hari aku rasa ada sesuatu yang mengganjal. Perasaanku selalu saja tidak enak. Mungkin karena aku tinggal di rumah wanita asing itu. Tapi dia sudah aku anggap sebagai ibuku sendiri. Setiap aku selesai makan, wanita itu memberiku obat untuk kuminum. Tapi sepertinya aku tidak sakit apa apa, kenapa dia harus menyuruhku minum obat?

“Untuk apa bu? Aku tidak sakit”
“Sudahlah nak, minum saja untuk kebaikanmu” Aku tidak yakin kalau obat itu aman, aku takut jika wanita itu sedang merencanakan sesuatu untuk membunuhku.

“Ibu, apa ibu tahu tentang kalungku ini?” Aku bertanya sambil memegang kalung yang melingkar di leherku.
“Kamu belum mengingatnya? Ya sudah, tunggu saja sampai kamu ingat. Yang penting jangan lupa minum obatmu ya nak” apa maksud wanita itu? Aku merasa tinggal di rumah ini penuh dengan teka teki. Sangat menyebalkan.

Hingga suatu malam aku bermimpi, aku sedang berada di sebuah tempat yang sangat indah. Di sana aku bersama seorang laki laki, tapi mimpiku buram, aku tidak bisa melihat wajahnya. Laki laki itu memberiku sebuah kalung dan memakaikannya di leherku. Dia lantas mencium keningku dan mengatakan
“Jihan, aku sangat mencintaimu. Aku menerima semua kekuranganmu walaupun itu membahayakanku”. Lalu aku terbangun dari mimpi itu dan melihat kalungku. Ternyata kalung yang kukenakan sama persis dengan yang ada di mimpi. Entah sebenarnya apa yang terjadi.

Paginya, aku bercerita pada ibuku tentang mimpiku semalam.
“Apa maksud dari mimpiku itu, bu? Apa ada sesuatu yang tidak aku ketahui?”
“Baiklah, ibu akan mengajakmu ke suatu tempat nak, nanti ibu akan menceritakan semuanya.” Jadi memang benar, ada sesuatu yang belum aku ketahui.

Aku dan ibu sudah sampai di tempat itu. Aneh, sepertinya aku pernah pergi ke tempat ini, tapi aku tidak bisa mengingatnya. Di sana sudah tersedia satu meja dan 4 kursi. Mengapa ada 4 kursi sedangkan hanya aku dan ibu yang akan duduk di sana? Di meja terlihat sudah tersedia makanan.

“Siapa yang menyiapkan semua ini bu? Sedangkan ibu dari tadi selalu bersamaku.” Lalu muncul seorang lelaki dari arah belakangku. Ternyata dia adalah laki laki yang pernah aku temui di taman depan rumah.
“Mengapa kamu ikut ke sini?” Tanyaku heran. Tapi dia hanya tersenyum dan tidak mengatakan apa apa. Dia duduk di kursi dan sekarang hanya ada satu kursi yang kosong.

“Jihan, sekarang ibu mau mengatakan sesuatu.” Aku semakin bingung dengan mereka berdua.
“Aku sebenarnya adalah ibu kandungmu. Dan laki laki ini adalah kekasihmu” tapi bagaimana mungkin aku tidak ingat dengan wajah ibu kandungku?
“Jihan, aku Frido, kamu sudah ingat?” Laki laki itu memegang tanganku dan seketika aku seperti mengingat sesuatu. Aku ingat sentuhan tangannya. Aku ingat suasananya. Dia seperti seseorang yang ada di mimpiku waktu itu.
“Kalung yang kamu pakai, itu pemberianku waktu aku melamarmu” Dia benar benar laki laki yang ada di mimpiku. Dan aku perlahan lahan mengingat semuanya.
“Kamu mengalami amnesia nak, jadi wajar kalau kamu tidak mengenalku dan juga Frido. Dulu kalian sudah hampir menikah, tapi sesuatu terjadi dan menggagalkan rencana menikah kalian.”

“Iya, aku sudah ingat. Aku ingat semuanya. Tapi, mengapa di sini ada satu kursi kosong? Siapa yang akan datang selanjutnya?”
“Ayahmu” ibuku mengatakannya dengan sedih.
“Lalu di mana ayah bu? Mengapa dia tidak datang juga? Aku sangat ingin melihat wajahnya” aku tidak sabar melihat ayahku yang aku rindukan.
“Jihan, kamu belum ingat” Kata Frido, dia memegang tanganku dan memandangiku. Aku semakin tidak mengerti. Padahal aku kan sudah ingat semuanya? Apa lagi yang belum aku ingat?
“Ayahmu sudah tiada Jihan” ibuku mulai menangis.
“Apa? Tapi apa yang terjadi ibu? Apa ayah sakit? Apa dia..”
“Dibunuh” Frido memotong bicaraku.
“Dibunuh? Siapa? Siapa yang membunuh ayah bu?” Aku menangis kencang karena hal yang tidak aku ketahui adalah ayahku mati terbunuh. Ibuku dan Frido hanya menangis tersedu-sedu dan mereka tidak menjawabku. Aku sangat geram.

“IBU!! FRIDO!! SIAPA YANG MEMBUNUH AYAH?? AYO BICARALAH!!” Aku sangat marah karena mereka tidak menjawabku. Seketika aku memegang pisau yang ada di meja. Ibu dan Frido langsung merasa kaget dan takut melihatku.
“Jihan, jangan mulai nak, ayo letakkan pisaunya” ibuku memohon kepadaku. Tapi mengapa? Padahal aku hanya memegangnya. Apa aku semengerikan itu?
“Ada apa ibu? Siapa pembunuhnya?” Aku meredakan emosiku.
“Kamu” Frido menjawabku. Aku? Aku membunuh ayah? Rasanya dia hanya mengada-ada.
“Jangan bercanda, aku serius, jadi tolong jawab aku. Bu?”
“Frido benar nak, kamu yang telah mendorong ayah dari tebing ini. Dan ayahmu meninggal di tebing ini”

Aku mengingat sesuatu, dulu aku berada di tempat ini bersama ayahku. Kami bergurau di pinggir tebing bersama. Sampai ayahku menerima telepon, lalu ayahku mengajakku pulang. Tapi aku masih ingin berada di sana. Ayah memaksaku dan menarikku, tapi aku tidak sengaja menarik ayah dan akhirnya ayahku jatuh dari tebing. Aku langsung berlari untuk pulang, tapi aku malah tersandung batu dan kepalaku terbentur. Mungkin itu sebabnya aku amnesia. Aku sangat kesal pada ibuku, mengapa dia baru mengatakannya. Mengapa dia tidak terus terang padaku dari awal?

“Ibu, mengapa kau menyembunyikannya dariku? Kenapa?” Aku mendekatinya dengan membawa sebuah pisau. Ibuku melangkah mundur, ia menghindariku. Sampai akhirnya tempat pijakan ibu sudah habis, ibu jatuh dari tebing. Ibu mati, sama dengan ayah yang jatuh dari tebing.
“Jihan, apa yang kamu lakukan? Sadarlah Jihan, sadar!”
“Kamu juga, kenapa menyembunyikannya? Kamu tidak menyayangiku kan? Dasar laki laki pembohong!” Aku menusukkan pisau yang kupegang ke perut Frido berkali kali. Aku sangat membencinya, dia tidak jujur padaku padahal dia kekasihku. Lalu aku duduk di kursi, aku sangat lelah. Sudah 2 nyawa kuhabisi di tebing ini.

Sampai aku melihat sesuatu berada di bawah piringku. Aku mengambilnya ternyata itu kertas, lalu aku membacanya. Sepertinya ini tulisan ibuku
“Jihan, ibu tahu ini akan terjadi. Jadi, jangan lupa selalu minum obatmu. Ibu harap kamu cepat bisa mengendalikan dirimu. Ayah akan tersenyum setiap kali kamu meminum obat nak. Dan ada sesuatu yang ingin ibu katakan padamu. Bahwa kamu seorang PSIKOPAT. Kami semua menyayangimu.”

Aku lantas tertawa keras melihat isi surat yang mengatakan kalau aku seorang Psikopat.
“Hahaha, mana mungkin aku seorang psikopat? Dasar wanita tua. Beruntung aku sudah membunuhnya sebelum dia membuatku benar benar gila”

NB: Jihan benar benar seorang psikopat. Dia merasa senang ketika telah membunuh ibunya dan Frido. Dia tidak memiliki rasa bersalah. Dan sebenarnya Jihan sengaja mendorong ayahnya dari tebing hanya karena ia tidak senang ketika ayahnya menyuruhnya untuk pulang

Cerpen Karangan: Karishma Intan Novelia
Blog: Epolima5.blogspot.com
Namaku Karishma Intan Novelia.
Kelas 11 di SMA Negeri 1 Gubug.
Coba baca cerpenku yang lain ya di epolima5.blogspot.com

Cerpen Beruntung Aku Sudah Membunuhnya merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Sembunyi

Oleh:
Ibu mencariku. Di tangannya membawa semangkuk bubur sore. Tangan kiri mangkuk, yang kanan sendok. Siap menyodokkan sesuap demi sesuap ke dalam kerongkonganku. Aku bersembunyi pada ujung dahan pohon besar

Cahaya Ku

Oleh:
Sore ini aku masih berada di sekolah karena tugas yang menumpuk. Pukul 17.45 akhirnya tugasku selesai juga, kemudian aku bergegas pergi menuju gerbang sekolah karena tadi paman bilang dia

A Mysterious Boy

Oleh:
“Bu, aku tahu ini hari pertamaku, tapi kan aku ingin pergi sendiri.” Dengusku kesal. Ibuku hanya tersenyum matanya masih fokus dan tetap berkonsentrasi dengan laju mobilnya. Aku terdiam dengan

Misteri Sebuah Diary

Oleh:
“Hoamh,” aku terbangun dari tidurku. “Kaaaak, bangun! Sudah jam setengah enam!” teriak adikku yang super cerewet itu. “Iyaaa! Kakak lagi mandi!” jawabku. Setelah mandi, aku bergegas ke bawah. Di

159 Prasangka Buruk

Oleh:
Mereka memanggilnya Bang Mo. Ya, sangat sesuai dengan fisiknya yang begitu bulat seperti bakso. Para tetanggaku tidak pernah bertanya mengapa ia selalu mengendarai gerobak satenya itu dengan sangat kencang

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *