Bunga Itu Mawar

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Fantasi (Fiksi), Cerpen Horor (Hantu)
Lolos moderasi pada: 12 December 2015

Sebulir peluh menetes melewati rahangku. Jantungku berpacu cepat, berlomba-lomba dengan adrenalin yang mengalir deras melalui pembuluh darahku. Tak sedetik pun aku memelankan langkah, berzig-zag di antara pepohonan, melompati akar-akar yang menyembul dari dalam tanah. Menjemput maut yang siap menyambut kematianku. Tubuhku telah bermandi keringat. Kali ini aku semakin merajalela. Menanggalkan alas kakiku, berlari dan terus berlari, tanpa mempedulikan cabang dan ranting pohon yang mengoyak pakaianku, menggores kulitku, dan meninggalkan rasa perih yang menusuk.

Aku bisa saja berhenti. Menyerah. Membiarkan rasa letih dan ketakutan mengalahkanku, membiarkan rasa suram itu kembali menguasaiku lagi. Aku bisa saja menyerah karena aku terlalu lelah dan kakiku telah mati rasa. Tapi itu tak ku lakukan karena jika aku menghentikan usahaku, rasa sakit yang mencengkeram hatiku, yang bahkan jauh lebih sakit dari luka torehan yang disebabkan ranting pohon dan onak belukar, akan berhenti berdenyut. Kalau aku menyerah, tidak akan ada perpisahan. Perpisahan. Kata itu menjalarkan kepedihan yang tak ada sangkut-pautnya dengan lenganku yang terluka. Aku tak bisa melanjutkan hidupku meski hati kecilku meneriakkan sebaliknya.

Lebih baik mati daripada harus mengingat semuanya. Dia berharap aku terus berjuang untuk tetap hidup, meskipun itu berarti kami saling berucap selamat tinggal. Harusnya aku tahu kalau aku tak akan pernah sanggup menyaksikannya. Aku memejamkan mata dengan perasaan kacau, lalu membukanya kembali sembari menyisir pemandangan sekeliling. Indah dan amat curam. Menarik napas dalam-dalam dan menghembuskannya ke luar. Aku melakukan itu selama beberapa saat. Membiarkan rasa sakit tidak ku kenal yang menyerang jantungku mereda, aku berhenti.

Hari ini aku akan bunuh diri. Ku lipat benak dalam sukma yang memekik, agar aku berputar dan kembali ke rumah. Tidak. Tubuh ini harus mati. Hanya itu satu-satunya cara menyumbat luka di hati. Aku muak. Aku hancur. Cairan panas yang sedari tadi berdesakan di kelopak mata, tumpah di pipiku, melewati rahang lalu jatuh ke dalam jurang di bawah kakiku. Ternyata mereka benar. Jurang ini benar-benar curam. Sesuatu yang dingin dan kelam merasuk di tulang punggungku, menenggelamkan aku pada aroma kematian yang menghadang. Aku menelan ludah dan menghirup napas panjang untuk yang terakhir kali.

Ku gerakkan langkah kaki polosku, kerikil-kerikil kecil pun longsor ke dalam jurang. Mendadak segerombol Lebah muncul dari bawah jurang seperti roket-roket kecil -mungkin karena terusik -langsung menyerangku. Spontan aku terhuyung mundur hingga tersaruk-saruk ranting pohon, bahkan nyaris tergelincir kerikil dan gundukan tanah. Tanpa aba-aba lebah-lebah itu mulai menggigiti kulit, berdengung-dengung di telingaku. Dengan panik jemari-jemariku pun berkelebat sekuat tenaga, berusaha mengusir binatang menyengat itu. Dan di detik kemudian aku berjengit kaget.

Sesuatu seperti duri atau -mungkin- jarum yang tajam baru saja menusuk telapak kakiku. Sang lebah masih antusias mengigiti kulitku. Satu langkah, dua langkah, tiga, lalu susul-menyusul seiring gerak mengusir, malah membuat kaki dan kulitku menjadi sarang benjol serta lubang-lubang yang mengoyak kulitku, berdarah-darah. Aku mendesis-desis sambil melompat-lompat kecil bagai Balerina amatir karena perih bukan kepalang. Tak butuh waktu lama tubuhku ambruk, memeluk duri -jarum tajam itu di atas rumput.

Mataku yang telah berair ku paksakan untuk menoleh. Semuanya tampak merah. Ladang Bunga mawar merah. Jarum-jarum tajam itu berasal dari duri bunga mawar liar. Pelan-pelan aku mencoba bangkit, namun kulitku terasa berdenyut-denyut bercampur sensasi amat perih langsung menghempaskan tubuhku kembali ke tanah. Sial! Bagaimana bisa hanya karena duri-duri mawar sakitnya separah ini?

“Sakit, bukan?” terlonjak, aku mendongak.

Seorang perempuan muda mengenakan gaun terusan satin putih sampai lutut, berdiri di bawah bias sinar matahari yang menelusup dari cela daun-daun pohon rimbun menerpa sosoknya hingga seakan-akan wajah dan tubuhnya berpendar cahaya putih. Ia mengulas senyum dan rambut panjangnya berkibar karena tiupan angin yang cukup kencang. Barangkali aku sudah meninggal. Seorang Bidadari di depan mata? Ku rasa … aku memang telah mati. “S-siapa kamu?” tanyaku, lalu mengerjap beberapa kali sambil mengutuk diri dalam hati. Meski dia Bidadari, aku harus tetap tenang.

“Kau tahu,” ia melangkah mendekat, “terjun dari jurang ini tidak akan langsung jatuh ke dasarnya. Tubuhmu akan terpelanting sebab kuatnya semburan air terjun di badan tebing, kemudian terbentur bebatuan tebing yang tak beraturan. Selanjutnya kau masih harus melayang-layang di udara seperti kapas lalu barulah kau akan melandas di atas batu yang ditumbuhi rumput empuk, beberapa meter dari sungai. Tapi …, tentu saja itu bukan akhir. Di saat berharap mati malah tubuhmu masih dapat bernapas dan merasakan sakit yang luar biasa.” Napasku tercekat. Sengatan ganjil dan kelam menyelimuti tubuhku. Bibirku berkedut-kedut.

Kemudian ia berjongkok, menatapku dengan mata biru sendu, dan mencondongkan tubuhnya begitu dekat hingga hidungnya -beberapa senti- nyaris menyentuh hidungku.
“kau lumpuh, kesakitan, dan tak bisa berbuat apa-apa selama beberapa jam. Dan akhirnya berteriak minta pertolongan sampai suaramu habis adalah satu-satunya harapan.”
Aku kehilangan kata. Cara bicaranya entah mengapa … membuat keberanianku yang terusung dua menit lalu, menguap begitu saja.

Dia bukan Bidadari. Dia hanya perempuan yang suka memerintah, cerewet, dan keras kepala. Serasa seumur hidup aku berdebat dengannya, tapi pada akhirnya dia tetap menyeretku -yang tak berdaya- untuk menginap di rumahnya yang tak jauh dari lokasi semula. Sempat terlintas mengapa ada orang yang tinggal di tempat seperti ini? Namun sekejap ku buang jauh-jauh benak ‘tak-penting-dalam-situasi-begini’ di tempurung otakku.

“Aku dengar bunuh diri itu faktor dari keputusasaan?” celoteh perempuan yang sibuk membenahi kain perban sisa penutup lukaku. Aku bersumpah rekor bicaranya mengalahkan Burung Beo bahkan penyanyi Rap profesional pun.
“Aku tak butuh pertolonganmu dan sekarang kamu ingin menjadi terapisku, begitu?!” jawabku ketus.

Entah mengapa kepalaku terasa penuh, meski pikiranku kosong. Dan kenyataan ini yang benar saja! Hanya karena duri, kakiku serasa lumpuh. Aku gengsi melihatnya, tapi dapat ku rasakan senyumnya bermekaran seperti taman mawar di halaman rumahnya itu. Pandanganku lurus tertuju pada kelopak kembang warna-warni itu, saat dia mulai memposisikan tubuhnya -duduk di hadapanku, “Aku suka mawar,” nadanya penuh dengan kekaguman. Aku enggan berkutik.

“apa kau punya taman, peliharaan, kesukaan?” Aku bungkam, tanpa ekspresi.
“tidak?!” suaranya meninggi, kental dengan nada tak percaya. “ah … pantas saja kau ingin bunuh diri.” dan terdengar seolah ombak yang menghantam dinding dermaga oleh kupingku, sontak aku menoleh selagi tatapanku seolah berkata, ‘kau bilang apa?!’ Rahangku mengeras.
Dan dia dengan wajah pura-pura lugunya memutar leher untuk sedetik, -aku yakin karena menahan senyum- dan kembali menatapku nanar.

“kau tahu, hm … aku punya Bapak, punya Ibu, teman, dan mawar-mawarku yang indah.” nadanya terdengar bangga. Memangnya siapa yang peduli?
“tapi bila salah satu dari mereka hilang atau berpaling dariku, aku tetap tidak berhak memutuskan karunia hidup yang diberikan Tuhan. Biar saja orang tertawa atau aku harus menangis dalam diam. Tapi begitulah hidup. Selalu kejam tapi bukan berarti tak ada hari esok.” Barangkali ia sedang menyindirku. Barangkali perempuan itu sudah sangat ahli berurusan dengan perasaan, barangkali perempuan ini terlalu sentimentil. Lantas mengapa hatiku mencelos karena ocehannya?

Sejak kecil aku sudah dituntut untuk hidup mandiri oleh Ayahku, meski kadang Ibu diam-diam memanjakanku. Tapi kini semua telah berubah, hari demi hari aku mempertanyakan ketegasannya yang seolah hanya kelinci berkedok serigala. Pikiranku melayang memutar hari itu. Hari dimana hatiku serasa ditusuk belati berkarat, yang sakitnya beracun dan begitu dalam namun tak terlalu dalam sehingga sisa racunnya saja yang masih ku rasakan sampai detik ini. Bola mataku nyaris lepas ketika menyaksikan aksi calon istri sekaligus sahabat yang sejak SMP telah ku cintai dan ku percaya mendekap mesra Ayahku. Dan tanpa ku duga Ibu hanya menutup mata alih-alih menghindari nama buruk keluarga, meski telah tahu hubungan menjijikkan itu dari awal. Kembali dadaku terasa penuh.

Leherku berputar sembari meremas-remas rumput kering di bawah pantatku. Kemana maniak bunga mawar itu? Tidak biasanya dia belum kembali sampai petang begini. Telah hampir dua bulan aku tinggal dengan gadis bunga mawar yang sudah merusak rencana bunuh diriku. Butuh satu bulan seperti patah tulang saja, aku sembuh dari cedera duri bunga mawar. Tapi rasa-rasanya seperti baru kemarin ia berucap, “Panggil saja aku, Bunga.” katanya saat mengantarku hendak istirahat. Dan tentu saja aku hanya melemparkan decak acuh. Aku berniat tak akan percaya pada siapa pun. Tapi itu tak pernah terwujud. Dan hari itu adalah hari terakhir aku menunggu Bunga dari rembang petang hingga pucuk fajar, namun ia tak kunjung datang.

“Pak. Saya mohon, katakan bahwa itu semua bohong,” kataku memelas. Ku rasakan tubuhku mulai mati rasa.
Sudah satu minggu aku pontang-panting dari satu Desa ke Desa lain untuk mencari satu orang yang ingatanku semakin memudar. Dan aku sangat takut karenanya. Aku tak mau kehilangan seseorang lagi. “Maaf Nak, tapi potret ini memang Mawar, putri kami.” Harapan terakhirku pupus sudah. Satu-satunya orang yang mengenal Bunga adalah pria ini -yang tinggal di kaki gunung. Tetapi beliau bersikeras mengatakan bahwa Mawar, putrinya -Bunga-ku-telah meninggal 7 tahun silam. Ditambah kisah tragis berderet tentang Mawar yang ia dongengkan membuat pikiranku kacau balau.

“Mawar, anakku yang malang … ia terjatuh ke dalam jurang saat hendak menolong sahabatnya yang ingin bunuh diri. Dan sejak kejadian itu, entah mengapa rumor semakin santer mengatakan bahwa gunung ini adalah tempat paling dicari orang-orang yang ingin mengakhiri hidupnya. Sungguh konyol dan dangkal rumor picik itu.”

Bapak itu mengatakannya dengan sorot mata yang penuh kebencian. Ini omong kosong! Bagaimana bisa Bunga adalah sesuatu yang bukan manusia lagi, sedangkan baru pekan lalu kami berbagi teh hangat dan bergandengan tangan sambil memandang taman mawar. Aku tak akan percaya. Aku sungguh tak mau percaya. Tapi … Detik menyusul menit, menit-menit timbun-menimbun menjadi ratusan jam, dan aku tetap di sini, di tempat semula. Terasa seperti menjemput nostalgia. Aku berdiri di atas tebing. Air terjun di bawah kaki.

“Mungkin benar kamu cuma ilusi, sekedar imajinasiku.” tawaku terlepas. “Bunga, aku …” suaraku mengambang di udara. Semuanya tampak menggelikan. Tawaku terdengar konyol. Aku sangat t*lol. Bulir-bulir air menggenang di pelupuk mata, lalu jatuh satu demi satu seiring memoriku mengulas hari-hari menjengkelkan namun mencanduku bersama Bunga.

“Dan ternyata benar bunuh diri itu faktor dari keputusasaan,” sebuah suara menyahut di belakangku. Sontak aku memutar badan -suara itu …
Dan sedetik kemudian mataku terbelalak. Senyumnya masih sama seperti dalam ingatanku, “maaf membuatmu kecewa, tapi aku bukan imajinasimu.”

The End

Cerpen Karangan: Mella Amelia
Facebook: Yukatan

Cerpen Bunga Itu Mawar merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Adi Yang Terluka

Oleh:
Sore itu dengan berteman hujan dan petir. Adi pulang dengan hati hancur. Ia berteriak sejadi-jadinya, baginya dunia sudah kiamat. Mengingat bagaimana kejamnya, wanita yang sangat ia sayangi telah menduakan

Merisska

Oleh:
Rumah tua di seberang rumahku terkenal angker. Banyak orang bilang kalau rumah tua itu banyak hantunya. Tapi, aku tidak percaya. Waktu itu, aku disuruh ibu beli telur di warung.

Hutan Pinus Bersuara

Oleh:
Entah kenapa malam ini aku sangat sulit sekali tidur… badanku pun sudah sangat kelelahan setelah seharian beraktifitas disekolah… ya,,,,aku cukup sibuk akhir2 ini karna akan ada acara Pentas seni

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

0 responses to “Bunga Itu Mawar”

  1. Rizal Boy Oktavian says:

    Itu yang tanda baca ” — ” itu pake apa?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *