Bunga Mawar Hitam

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Horor (Hantu)
Lolos moderasi pada: 23 January 2017

Dengan bersemangat Aryo mengayuh sepedanya menuju toko bunga. Dia berencana akan membeli sekuntum mawar untuk pujaan hatinya, Ririn, adik kelas yang sudah dia taksir sejak pertama kali masuk SMA.
“Mbak, ada mawar putih?” Tanya Aryo begitu sampai di toko bunga.
“Ada, Mas. Sebentar saya ambilkan” jawab pelayan toko bunga meninggalkan Aryo.

Tak lama kemudian pelayan itu keluar dengan membawa beberapa kuntum bunga mawar putih.
“Ini, Mas. Mau beli berapa?”
“Satu aja, Mbak. Ini uangnya” kata Aryo sambil memberikan uang dan menerima bunga mawar itu.

“Hari ini gue harus berani ngasih bunga ini ke Ririn, gue denger-denger dia suka mawar putih” kata Aryo pada dirinya sendiri sambil mengayuh sepedanya menuju sekolah.

Sesampainya di sekolah, Aryo langsung memarkirkan sepedanya dan berlari-lari kecil menuju kelasnya. Di sana sudah ada Ari, teman sebangkunya.
“Hai, Ri! Gue udah beli bunganya nih” kata Aryo to the point sambil menujukan bunga mawar putih itu.
“Oke sip! Tapi kok mawar putih sih?” Tanya Ari sambil memperhatikan bunga itu.
“Gue denger-denger Ririn suka mawar putih, jadi gue lebih milih beli mawar putih dari pada mawar merah yang nggak disukainya” kata Aryo sambil memegang bunga itu dengan hati-hati.
“Wuihhh… Bunganya bagus tuh! Buat siapa? Pasti buat gue ya? Makasih Aryo…” Tiba-tiba Vika datang dan akan merebut bunga itu, namun tangannya ditepis Aryo.
“Apaan sih? Ini bunga buat Ririn tau!” Kata Aryo menyembunyikan bunga itu di balik badannya.
“Ya ampun.. Aryo.. Aryo.. Lo nggak kapok ya? Dia cuek sama lo, itu berarti dia nggak suka sama lo! Nyerah aja ngapa sih?” Kata Vika sambil duduk di bangkunya.
“Nyerah? Ogah! Gue nggak mau nyerah demi mendapatkan cintanya” kata Aryo.
“Tapi usaha lo selama ini kan sebenernya udah cukup bikin hati cewek lumer. Tapi coba liat dia? Dia nggak ngerespon apa-apa Yo” kata Vika menyadarkan.
“Udah lah, Vik. Lo tuh nggak tau perasaan gue gimana. mungkin lo juga akan melakukan hal yang sama kalau di posisi gue” kata Aryo dengan nada sedikit sebal.
“Iya sorry-sorry. Gue tau kok lo nggak mau diatur-atur. Sekarang terserah lo deh, yang penting gue udah memperingati lo” kata Vika memutar posisi duduknya dan membelakangi mereka berdua.

Keesokan harinya, jam menujukan pukul setengah tujuh, namun Aryo sudah berada di sekolah. Aryo bersiul-siul kecil saat berjalan menuju kelasnya. Dari belakangnya terdengar Ari berteriak memanggilnya, Aryo pun melambatkan langkahnya.
“Gimana bro? Sukses? Dari raut muka lo sih kayaknya sukses.” Kata Ari begitu mereka beriringan.
“Yah… Gue sih sukses ngasih bunganya, tapi dia tetep diem aja waktu nerima bunga itu. Bahkan tatapan matanya bikin ngeri” kata Aryo bergidik mengingat kejadian kemarin.
“Mungkin bener kata Vika, dia nggak suka sama lo” kata Ari menepuk bahu Aryo.
“Apaan sih lo? Bukannya dukung gue malah…” Kata-kata Aryo terhenti saat memasuki kelas dan melihat sekuntum bunga mawar putih tergeletak di mejanya. Aryo mengambil bunga itu dan memperhatikan bunga itu dengan seksama.
“Lho kok ada bunga mawar putih di meja gue? Ini kan bunga yang kemarin gue kasih ke Ririn. Kok ada di sini sih? Kenapa jadi ada hitam-hitamnya?” Aryo meletakan kembali bunga itu di atas meja.
“Mungkin ini tanda kalau dia nggak suka sama lo” kata Ari dengan hati-hati, takut membuat Aryo marah.
“Gue nanti mau ngasih bunga lagi, apakah dia mau ngembaliin lagi atau gimana” kata Aryo sambil duduk di bangkunya.
“Dasar keras kepala!” Kata Vika yang ternyata mendengar ucapan Aryo, namun sepertinya Aryo tidak mendengarnya.
Siangnya, Aryo kembali memberi bunga mawar kepada Ririn, kali ini Ririn menerimanya dengan tersenyum. Namun Ririn tetap tidak berkata apa-apa kepada Aryo.

Di hari berikutnya Aryo kembali menemukan bunga mawar putih di mejanya, kali ini bercak hitamnya bertambah banyak dari kemarin.
“Kenapa bercaknya bertambah ya? Kemarin gue kira bunganya kena tinta jadinya hitam-hitam gitu, tapi masa bunganya kena tinta lagi?” Kata Aryo menunjukan bunga itu kepada Ari.
“Tapi kalau tinta hitamnya nggak kaya gini deh. Tinta kan agak biru-biru gitu, ini bener-bener hitam, Yo” kata Ari
“Aryo!” Vika memanggil dengan tubuh gemetar, matanya berkaca-kaca, seolah-olah dia mengalami hal yang luar biasa.
“Lo kenapa Vik? Lo sakit?” Ari menghampiri Vika dan membimbingnya untuk duduk.
“Yo, gue mohon sama lo, please! Hentikan semua ini! Lo stop ngirimin Ririn bunga lagi. Sebelum semuanya terlambat” kata Vika dengan suara gemetar.
“Lho emangnya kenapa? Terserah gue dong mau ngapain? Siapa lo ngatur-ngatur gue?” Kata Aryo dengan nada tinggi.
“Iya, gue tau. Gue bukan siapa-siapanya lo, tapi please! Buang sifat keras kepala lo! Ini masalah nyawa Yo!”
“Nggak usah bawa-bawa urusan mati! Ini nggak ada hubungannya! Mana ada hubungannya coba orang ngasih bunga sama mati?” Kata Aryo dengan marah, membuat anak-anak di kelas memperhatikan mereka berdua.
“Udah-udah, nggak usah teriak-teriak, malu diliatin temen-temen, mendingan kita bicara di luar aja” Ari menengahi dan menarik mereka berdua keluar kelas.
“Apaan sih, Ri? Gue cuma ngasih peringatan buat anak keras kepala ini. Kalau dia tetep keras kepala ya terserah, gue nggak peduli” kata Vika meronta-ronta mencoba agar tangannya terlepas dari cengkraman Ari dan berhasil, Vika langsung berlari menuju kelas.
“Lo gimana sih Yo? Masa sama cewek kasar kaya gitu?” Gertak Ari saat mereka di luar kelas.
“Lagian dianya juga sih, udah tau gue keras kepala, masih ngatur-ngatur gue segala” Aryo duduk di bangku di depan kelas.
“Tapi apa maksudnya Vika menghubungkan bunga sama nyawa?” Tanya Ari.
“Tau tuh anak, aneh banget.” Kata Aryo sambil memukul tembok di sebelahnya, tiba-tiba matanya menangkap sesosok orang yang tak asing, Ririn sedang berjalan ke arahnya.
“Ririn tuh!” Ari berbisik.
“Udah tau!” Jawab Aryo tanpa mengalihkan pandangannya dari Ririn.
“Mungkin dia mau jelasin tentang bunga itu” bisik Ari lagi.

Ririn semakin dekat dengan mereka berdua, Ririn terlihat berjalan menunduk dengan langkah kaki terseok-seok.
“Ririn, lo kenapa? Kaki lo sakit?” Tanya Aryo seraya berdiri begitu Ririn sudah dekat dengan mereka, namun Ririn terdiam saja dan terus berjalan. Tiba-tiba hawa terasa dingin, angin berhembus pelan namun membawa aura mistis. Ari mengarahkan pandangannya ke sekelilingnya, sepi, hanya di kejauhan terlihat beberapa anak.
“Rin?” Aryo memanggil sekali lagi, dengan cepat Ririn menengok, namun yang terlihat adalah wajah mengerikan Ririn dengan bola mata berwarna putih. Sontak Aryo dan Ari berteriak dan langsung berlari masuk ke kelas.

“Kenapa lo? Pagi-pagi udah teriak-teriak” Vika menyambut dengan tatapan sinis.
“Vika! Please ceritain semua yang lo tau tentang Ririn, sekarang gue percaya sama lo” Aryo tak memperdulikan pertanyaan Vika.
“Sekarang lo udah tau? Ah ntar aja ya ceritanya, udah masuk” Kata Vika begitu melihat guru memasuki kelas.
“Beneran lho! Pokoknya lo harus ceritain semuanya!” Kata Ari
“Iya.. Iya tenang aja” jawab Vika.

Siangnya sepulang sekolah Aryo, Ari dan Vika duduk-duduk di tepi lapangan basket, di sekolah sudah sepi, hanya beberapa anak yang ekskul masih berkeliaran. Aryo dan Ari menantikan kata-kata yang keluar dari mulut Vika.
“Jadi gini, gue udah tanya-tanya sama temen-temennya Ririn, katanya Ririn itu anaknya aneh banget. Siapapun yang mengganggu dia pasti kena musibah, kecelakaan, jatuh atau apalah. Pokoknya dia misterius banget” kata Vika, lalu menarik nafas dan melanjutkan bercerita.
“Terus masalah bunga itu, gue tanya sama kakek gue. Ternyata dulu kakek gue tetanggaan sama neneknya Ririn. Kakek gue bilang, sebelum kematian neneknya Ririn, Ririn digangguin sama cowok, dia selalu dikirimi mawar putih, kejadian itu membuat Ririn merasa keteror” Vika kembali menarik nafas, membuat Aryo dan Ari semakin penasaran.
“Karena neneknya sayang sama Ririn, beliau bersumpah, jika nanti beliau meninggal maka arwahnya akan selalu menjaga Ririn dari gangguan cowok-cowok jahat. Dan kata kakek gue, setelah neneknya meninggal, aura di sekitar Ririn dan rumahnya aneh banget, membuat nggak nyaman, makannya kakek gue pindah” Vika mengakhiri ceritanya.
“Lha terus hubungan bunga sama nyawa apa?” Tanya Aryo.
“Oh iya gue lupa! Dulu setelah kematian neneknya Ririn, ada juga yang ngirim bunga mawar putih, dan bunga itu selalu kembali dengan bercak hitam, awalnya bercaknya sedikit, tapi setelah dua tiga kali ngirim bunga dan bunga itu kembali bercaknya bertambah banyak, dan bunga terakhir berubah warna menjadi hitam. Dan nggak lama setetlah itu, si pengirim bunga itu meninggal” kata Vika membuat Aryo dan Ari tersentak mendengar kata terakhir.
“Ah.. Lo.. Lo jangan bercanda Vik! Itu semua bohong kan? Bilang kalo lo bohong Vik! Ayo bilang!” Aryo terlihat mulai panik.
“Gue serius Yo, awalnya juga gue nggak percaya waktu kakek cerita. Tapi korbannya juga nggak cuma satu atau dua orang, tapi banyak.” Kata Vika meyakinkan.
“Korban-korbannya pengirim bunga semua?” Tanya Ari, dilihatnya Aryo gemetar ketakutan.
“Iya, mereka mengirimkan 3 tangkai bunga mawar putih lalu meninggal” jawab Vika.
“Tapi kenapa mereka masih mau ngirimi bunga buat Vika? Kalau korbannya 1 orang sih masih bisa dirahasiakan, tapi bukannya korbannya banyak? Seharusnya mereka nggak mau mengalami hal yang sama kan?” Tanya Ari.
“Nah itu dia! Katanya, Ririn tuh punya aura yang bisa menarik perhatian cowok, tapi nggak semua cowok, hanya cowok keras kepala” kata Vika sambil melirik Aryo lalu melanjutkan “walaupun mereka sudah diperingatkan tapi mereka nggak mau mendengar”.
“Iya emang gue keras kepala. Tapi apa manfaatnya buat Ririn?” Tanya Aryo.
“Katanya sih untuk membuat neneknya tetap menjaga dan selalu di sisinya, dia harus mempersembahkan nyawa orang yang mengirimi dia bunga mawar putih. Ya gue nggak percaya, makannya tadi pagi gue tanya ke Ririn, tapi… Tapi… Ririn jadi aneh, suaranya serak-serak gimana gitu, lirikan matanya tajam, dan waktu gue mau pergi, bola matanya jadi putih semua” Vika bergidik mengingat kejadian tadi pagi.
“Tapi pengirim itu meninggal kalau dia menerima bunga mawar hitam kan? Tenang Yo, tadi bunganya belum sepenuhnya hitam. Makannya jangan kirimi Ririn bunga lagi, udah cukup” kata Ari.
“Sebenernya, tadi pagi gue udah ngasih bunga lagi buat dia” kata Aryo menunduk, dari suaranya terdengar Aryo sangat ketakutan.
“APAA?? Aryo! Jangan bercanda! Gimana nih, gue nggak mau lo kenapa-napa” kata Vika kaget.
“Serius Vik, gue taruh di meja Ririn waktu gue baru berangkat. Entah kenapa seperti ada yang membisikan ke gue buat cepet-cepet ngasih bunga itu ke Ririn” kata Aryo dengan suara gemetar.
“Sekarang gue udah nggak bisa bantu apa-apa Yo, gue nggak berani. Bisa jadi akibat yang terjadi akan lebih buruk.” Kata Vika dengan air mata yang mulai mengalir di pipinya.
“Vika! Jangan ngomong kaya gitu dong! Emangnya lo mau Aryo mati konyol gara-gara bunga?” Kata Ari. Dia sedang berpikir keras mencari jalan keluar.
“Percuma, Ari. Seperti apapun usaha kita, nggak akan berhasil. Lawan kita bukan manusia. Ingat itu!” Kata Vika sambil memeluk lututnya yang gemetaran. Tiba-tiba ada sesuatu yang terjatuh di depannya. Benda yang sebenarnya indah, namun tidak untuk saat ini. Sang Mawar Hitam telah datang untuk mengambil nyawa.
“Gue nggak mau mati! Gue nggak mau mati!” Aryo segera berlari menuju parkiran sepeda. Aryo segera pergi meninggalkan sekolah tanpa mempedulikan panggilan teman-temannya. Dengan pikiran kalut dia mengayuh sepedanya.
“Aryo! Jangan pergi!” Vika dan Ari berteriak sambil berlari menyusul. Namun, Aryo baru saja keluar dari gerbang, sebuah truk langsung menyambarnya dengan keras. Aryo terpental cukup jauh hingga membuat kepalanya terbentur cukup keras.
“Aryoooo!!!” Vika berteriak, kakinya lemas tak mampu menopang tubuhnya yang terasa sangat berat. Vika ambruk tak mampu melihat apa yang terjadi di depannya.

Roda sepeda berputar bak piringan hitam yang mengalunkan nada kepedihan. Darah mengucur dari kepala Aryo. Dengan menahan kesakitan luar biasa, Aryo menatap orang yang berkerumun di depannya. Di tatapnya lekat-lekat seorang berjubah hitam yang membawa mawar hitam, lalu gelap… Gelap.. Dan semuanya menjadi gelap.

Cerpen Karangan: Eka Lestari
Facebook: Eka Lestari
Eka Lestari, penulis yang masih pemula dan pastinya banyak kekurangan. Kritik dan saran ditunggu ^_^ bisa dihubungi di FB Eka Lestari (Ekles Ecles Keles)

Cerpen Bunga Mawar Hitam merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

WhatsApp


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


My Favorite Drink

Oleh:
Malam kembali datang, dan seperti biasanya aku duduk sendirian di ruang makan ketika anggota keluarga yang lain sudah tertidur. Jam sudah menunjukkan pukul 03.10 dini hari tetapi mataku masih

Petualangan Tidurku

Oleh:
Ketika sang senja mulai beranjak meninggalkan singgasana, semilir lirih desis sang bayu mulai terdengar, menerusuk masuk menghantam molekul sel, memenuhi ruang kehidupan. Mega merah mulai berkecampung, mengusik biru langit

Rose and Blood

Oleh:
“Bunga mawar ini… Ini punya siapa?” Caca bertanya-tanya, manik biru lentiknya bergulir ke sekitarnya. Tidak ada siapapun disana, hanya ada dirinya. Merasa tidak ada yang memilikinya, Caca mengambil bunga

Di Balik Keheningan (Part 2)

Oleh:
KEESOKAN HARINYA. Toilet sekolah sudah dibatasi dengan garis polisi. Aku hanya menatapnya dari jauh. Kulihat Salsa menangis, sedangkan Lynda hanya diam tanpa ekspresi. “Untuk apa menangis?” ucapnya cuek. “Dia

School Mate

Oleh:
Hari pertama masuk sekolah, aku berusaha untuk tidak datang terlambat. Sialnya, aku malah datang terlalu cepat. Masih 45 menit sebelum bel tanda masuk berbunyi. Karena tidak mau larut dalam

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

4 responses to “Bunga Mawar Hitam”

  1. Vanessa says:

    Seremmmm..

  2. Riska Yuliana says:

    Benar2 menegangkan dan membuat jantung deg-deggan…

  3. Shafa Maura Raihanah says:

    Bener – bener, serem banget! Kak, gelapnya itu si Aryo meninggal, ya? Duhh bener bener si Ririn dahh!

  4. Eka Lestari says:

    Terimakasih sudah membaca….

Leave a Reply to Riska Yuliana Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *