Bunny Challenge

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Horor (Hantu), Cerpen Thriller (Aksi)
Lolos moderasi pada: 25 August 2021

Malam ini aku kembali bertengkar dengan istriku, aku tak tahu apa yang sebenarnya ada dalam pikirannya. Telah Kuberikan segalanya, harta, tahta dan cinta. Namun sepertinya itu tidak cukup baginya, kami saling berteriak tanpa memikirkan pertengkaran kami terdengar oleh tetangga.

Sudah banyak tekanan yang menimpa diriku, mulai dari pekerjaan, atasan kurang ajar, aku harus membayar tagihan, ditambah sekarang istri gak tau diri yang kehidupannya boros. Pertengkaran kami diakhiri dengan istriku yang pergi meninggalkan rumah membawa Marry putri kecilku.

“Ayo nak, kita ke rumah nenek ya,” bujuk Santi sembari melangkah membawa anakku menjauh keluar rumah.
Aku tak dapat berkata-kata lagi ketika melihat Santi istriku pergi semakin jauh. Aku menggaruk kepala kesal tak lama duduk di samping meja bundar, semua tekanan ini membuat kepalaku ingin meledak, teriak sekuat tenagapun tak ada hasilnya.

Kuambil obat penenang dan meminum beberapa butir, kurasakan beban hidupku perlahan berkurang, sesaat setelah menarik nafas lega smartphoneku berdering sesaat, kubuka layar dan mendapat notifikasi chat dari seorang tak dikenal.

“wellcome to bunny challenge!!!” aku mengangkat sebelah alis dan mencoba mencerna apa maksudnya dan siapa ini?
“Siapa? Ada yang bisa saya bantu?” balasku

Ketika akunnya masih mengetik, kusempatkan untuk mengechek profilnya, terdapat foto dua orang sedang berdiri di jalanan gelap hanya disinari oleh lampu jalan yang redup, seorang mengenakan jas dan celana hitam serta memakai topeng kelinci, yang satunya lagi mengenakan hoodie dengan celana yang sama dengan si topeng kelinci, namun selain seringai giginya, aku tak dapat melihat wajahnya karena memang tempatnya gelap, di bawah pojok foto dapat kubaca nama dari akunnya Bunny Challenge.

“Istri anda telah kami sandra, harap ikuti arahan dan petunjuk kami demi keselamatannya,”

Setelah kubaca tak lama muncul sebuah gambar seorang wanita tengah diikat dan kepalanya ditutupi karung goni, aku tau itu baju yang dikenakan istriku, sepertinya itu memang dia. Tapi hey bukannya itu bagus? Aku tak perlu repot-repot buat nyingkirin dia.

Dengan seringai kubalas pesannya “Lakukan sesuka hatimu, aku tak peduli!”
“Sesuai keputusanmu!”

Beberapa menit tak ada balasan, kini kakiku melangkah menuju sofa, kembali aku menarik nafas lega sampai aku teringat akan suatu hal, Putriku! aku tak peduli apa yang terjadi pada istriku tapi tidak putriku, aku menyayanginya melebihi diriku sendiri, dengan tergesa-gesa aku kebali ke meja bulat tadi untuk melihat layar ponselku.

Sesaat aku terbelalak, diriku hampir tak bisa mencerna apa yang aku lihat di layar chat, beberapa foto gore istriku yang sudah tak berwujud, lalu aku klik video dan aku dapat melihat apa yang mereka lakukan, aku tak sanggup meneruskan untuk melihat video ini, ini diluar akal sehat! Siapa mereka sebenarnya? iblis?

“Kami juga menyadra putrimu, apakah kau mau kami melakukan hal yang sama?”

Lalu sebuah foto muncul, putriku sedang diikat dengan mulut dilakban

“Jangan! Tidak putriku, jangan berbuat macam-macam!”
“Kalau begitu ikuti petunjuk dan arahan kami demi keselamatan Putri Anda,”

Kutelpon polisi namun tak ada jawaban, sudah kucoba puluhan kali namun hasilnya nihil,.

“Anda tak akan bisa menghubungi polisi, jika Anda mencoba lari rekan saya akan mengurus anda, jika anda menyimpang dari petunjuk dan arahan saya, Anda tau akibatnya.”

Aku perlahan mendekati jendela pintu depan, lalu mengintip dari balik gorden, kudapati dari kejauhan seorang berhoodie besandar pada tiang lampu jalan, dia melipat lengan sembari menatapku seolah tau aku sedang mengintip, tadi berdasarkan apa yang dibilang berarti yang mengawasiku hanya satu orang, kalau begitu aku akan lewat pintu belakang dan meminta bantuan.

Aku keluar menuju halaman belakang, lalu menuju jalanan yang gelap, namun dari balik kegelapan kaluar seorang pria berhoodie itu, dia mengahadangku. Kucoba menghindarinya sembari berteriak tolong, namun sepertinya tak ada satupun orang yang menolong, langkahku kini menuju perempatan jalan, dari kejauhan sepasang cahaya menyilaukan mata dengan cepat mendekat bersamaan dengan suara bising klakson yang membuat tubuhku tak dapat bergerak.

Beberapa saat kurasakan diriku melayang, bersama dengan rasa sakit seolah tubuh ini remuk, aku terkapar di aspal yang dingin, mobil yang menabraku tadi tak berhenti, kendaraan itu malah melaju semakin cepat, beberapa detik sebelum mataku tertutup ban mobilnya sudah berada 1 centimeter di depanku.

Treng… Treng… Treng…
Aku terperanjat, ketika mendengar lonceng dari jam dinding menggema, aku celingak-celinguk kebingungan, apa yang terjadi? apa itu mimpi? Atau halusinasi? Lamunan panjangku terhenti ketika smartphoneku kembali berdering.

“Berterimakasihlah untuk kali ini aku maafkan! Jika melanggar satu kali lagi kau dan putrimu celaka!”

Lalu dia mengirim sebuah file audio
“Ayah tolong! Mereka bawa ibu entah kemana, tolong kami!”

Itu… Iya itu emang suara putri kecilku, aku tak rela jika sesuatu yang buruk terjadi padanya, bagaimanapun juga putriku harus kembali padaku dengan utuh.

“Baik, apa yang kau inginkan?” aku terpaksa menuruti mereka
“Kami senang Anda mau bekerja sama, baiklah pertama ambil sebilah pisau di dapur,”

Kuambil pisau di samping kompor
“Selanjutnya ambil kelinci di halaman belakang,”

Di halaman belakang memang ada kelinci peliharaanku, apa mereka mau aku menyembelinya?

“Bagus! Pergilah ke dekat tangga, lalu tusuk kelincimu,”

Kini perintah mereka semakin aneh, tapi demi putriku terpaksa kulakukan. Kutusuk kelinci ini hingga darahnya menetes dan saat itu juga ada kiriman gambar lagi dari halaman chat, simbol aneh yang aku sama sekali tak tau simbol apa itu, apa semacam satanis?

“Setelah kau menggambar symbolnya pergi ke lantai 2”

Aku melangkah cepat menuju lantai 2 menaiki setiap anak tangga yang memutar,

“Lukai kakimu dengan pisau” Kini perintahnya semakin aneh saja.
“Apa tujuan kau yang sebenarnya?!!!” emosiku mulai naik.
“Cepat! Saya bisa lihat Anda dari CCTV rumah, jadi jika arahan saya tidak dilakukan Anda tau akibatnya.”

Lalu dia kembali mengirimkan sebuah file Audio, berisi teriakan putriku. Akhirnya terpaksa kusayat kakiku, darah mengalir dengan rasa nyeri dan linu, tubuhku bergetar menahan rasa sakitnya.

“Bagus sekarang lompat ke bawah tepat pada lingkaran di simbolnya”

Tanpa berpikir panjang, kulakukan apa perintahnya, hantaman dengan keramik cukup keras, kini kakiku makin sakit dan lukanya melebar, aku berteriak sekencang mungkin, menggema di seluruh rumah, darah tak hentinya mengalir, kini aku hampir tak dapat bergerak.

“Bagaimana rasanya?” tanyanya, sulit dipercaya smartphoneku masih berfungsi setelah terbentung cukup keras.
“Cukup! Kapan putriku bebas!!!” kini aku hilang kesabaran.
“Satu langkah lagi maka putrimu bisa bebas, pergilah ke dapur, nyalakan beberapa lilin untuk kau taruh di simbol itu,”

Kuseret paksa tubuhku ke dapur dengan susah payah, entah sejak kapan disamping kompor sudah ada beberapa lilin yang bisa kunyalakan. Kunyalakan satu persatu dengan kompor
Lilin 1 menyala
Lilin 2 menyala
Lilin 3 menyala
Lilin…

Boomm…

Kini kubuka mataku, tepat di sampingku sudah ada Marry, putriku. Di sampingnya berdiri seorang gadis muda, Sarah dia adalah adikku. Kuperhatikan tatapan polos putriku lalu aku mencoba memeluknya, tapi Sarah menjauhkannya dariku. Disaat kebingunganku aku tersadar bahwa sendari tadi ada polisi di sini.

Polisi itu membuka percakapan, “berdasarkan penyelidikan kami itu murni kecelakaan karena gas bocor, selain itu yang membuat kami terkejut ditemukan beberapa gram heroin dalam obat penenang, ini semua pasti ada hubungannya dengan ini,” Polisi itu menunjukan simbol di bawah tangga yang aku buat semalam, “Apakah Pak Darwan salah satu anggota dari satanis? Jika Anda mau bekerja sama, kami akan memikirkan keringan untuk hukuman Anda.”

“Saya disuruh seseroang buat gambar itu simbol pak, karena saya diancam, saya punya bukti di ponsel saya pak ” jawabku, aku tergesa-gesa membuka aplikasi, namun kuscroll keatas dan kebawah puluhan kali aku tak dapat menemukan akun kelinci bertopeng itu, ada apa sebenarnya ini?

“Sepertinya hp saya diretas terus historynya dihapus,” terkaku, aku yakin dia peretas handal, bahkan sampai bisa retas CCTV rumahku.
“Sepertinya kakak menang sudah mengonsumsi barang haram itu, heroin jika dikonsumsi dalam dosis tertentu dapat membuat halusinasi,” jelas sarah,
Kini aku menunduk, kuakui selama ini mungkin itu cuman halusinasi.

“Satu lagi, Sinta istri dari Pak Darwan sepertinya juga terlibat, akan kami lacak segera, kalau begitu kami mohon pamit,” tungkas polisi itu lalu pergi meninggalkan ruanganku.

“Sebenarnya sudah berapa lama Kakak makan tuh barang haram?” Tanya sarah menatapku serius.
“Maafkan kakak, ini semua karena tekanan hidup,”
“Padahal Adikmu ini seorang psikolog, lalu kaka anggap aku apa selama ini hah?!!! Padahal aku bisa bantu kak, namun kenapa sampai harus begini? Nikmat yang diberikan barang haram itu hanya tipu daya kak, perlahan kakak bakalan terjerumus kesuatu hal yang dapat merugikan kakak!!!” tegas sarah, kini matanya memerah.
“Maaf sarah kakak–”
“Aku kecewa sama kakak!!!” potongnya, lalu dia pergi membawa putriku.

Aku merenung sesaat, melihat jam sekarang masih tengah malam, aku menyesal atas apa yang telah kulakukan, mungkin benar kejadian semalam adalah halusinasi, kusingkirkan gorden dan menatap keluar jendela demi mendapat ketenangan, di sana nampak sepi, namun ada yang menarik perhatianku, dua orang pria keluar dari balik kegelapan menuju sisi yang lebih terang, itu mereka! Orang yang berhoodie, aku tak dapat melihat seluruh wajahnya namun mulutnya menyeringai, sementara si topeng kelinci mengeluarkan ponselnya, kulihat dia mengetik sesuatu sampai sebuah nada notifikasi hpku berdering.

Terdapat deretan tulisan yang pasti tidak akan membuatku kembali tidur dengan tenang

“Saudara perempuan Anda telah kami sandra, harap ikuti arahan dan petunjuk kami demi keaelamatannya”

Tamat

Cerpen Karangan: Miftah
Blog / Facebook: Miftah Abdul Fatah

Cerpen ini dimoderasi oleh Moderator N Cerpenmu pada 25 Agustus 2021 dan dipublikasikan di situs Cerpenmu.com

Cerpen Bunny Challenge merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


15:21

Oleh:
Hahhh… oke aku langsung saja. Perkenalkan namaku Rachelia. Panggil saja Rachel. Begitulah caraku memperkenalkan diri di depan kelas. Ya, aku murid baru di kelas XI ini. Aku pindahan dari

Uniform

Oleh:
Seperti biasanya setiap sampai di sekolah semua mata tertuju padaku. Apa lagi hal yang lebih menarik dibanding seragam sekolahku yang penuh dengan jahitan. Mereka penasaran di bagian mana lagi

Pembantaian 3 (Lawang Sewu)

Oleh:
Lawang Sewu Siapa yang tak pernah mendengar gedung bersejarah ini? Belum ke semarang namanya kalo belum ngunjungin gedung ini! Lawang sewu disebut dengan pintu 1000 meskipun pintunya cuma ada

Penuduhan Pembawa Berkah

Oleh:
Sarah selalu kesepian, setiap hari dia harus membereskan seisi rumahnya, mencuci pakaiannya sendiri. Cape? urusan belakang. Dia anak mandiri di keluarganya, bahkan sangat mandiri. Kakaknya, Ibunya, Ayahnya membenci Sarah.

Lost in the Dark (Part 2)

Oleh:
Tes! Tes! Titik air hujan mulai jatuh satu persatu menghempas tanah hitam. Sesekali petir menggelegar. Kania berjalan dengan cepat. Hujan semakin lama semakin menderas. Kania merapatkan topi yang menutupi

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *