Burger (Part 1)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Horor (Hantu), Cerpen Thriller (Aksi)
Lolos moderasi pada: 3 April 2018

“Makan apaan lu”
Baru saja beberapa gigitan, sebuah suara menegurku. Aku menengok. Ternyata suara rio. Teman satu kosku.
“Ini nih” kataku sembari lanjut mengunyah. “Daging roti ama bumbu-bumbu dikit”
“Yaa semacem burger gitu lah” ucapku lagi. “Enak banget asli dagingnya”

Terlihat berubah raut wajahnya. Seolah muncul kewaspadaan terhadap sesuatu di sekitar sini. Ia bertanya.
“Lu beli ini di mana?”
“Kenapa emang?” tanyaku dengan dahi mengernyit.
“Udah jawab aja elah”
“Noh di warung seberang”
“Warung yang itu maksud lu?” Jarinya menunjuk ke sebuah tempat makan di seberang jalan. Tertulis besar di depannya. Meat food center. Namun anehnya, kini jelas terlihat rasa cemas pada wajahnya.
“Iya yang itu” jawabku sekenanya. “Langganan gue kalo lagi pengen makan daging”

Rio mengusap wajahnya. Lalu meremas rambutnya dengan kencang. Ditariknya satu kali nafas panjang. Menandakan bahwa ada sesuatu yang mengganjalnya.
“Lu kenapa dah?” tanyaku.
Tanpa satu katapun, pandangan rio langsung diarahkan kepadaku. Tepat ke mataku.
“Ayo ikut gua” ajaknya.
“Ayo ke mana?” Aku kembali bertanya. Kini benar-benar terheran dengan kelakuannya.
Sekali lagi, ia tak menjawab pertanyaanku. Ditariknya dengan kencang tangan kananku sembari kakinya melangkah untuk menyeberang jalan.

“Ehh ini makanan gua ntar jatoh”
“Udah buang aja tuh daging” timpalnya dengan mata mengarah ke seberang jalan.
“Hah? Maksud lu?”
Untuk kesekian kalinya ia mengacuhkanku. Kakinya melangkah lebih cepat dari sebelumnya. Tangannya masih menarik tangan kananku dengan kencang. Jadi dengan terpaksa, sekarang aku mengikutinya.

Kami baru saja sampai di seberang, namun rio segera melangkahkan kaki menuju tempat makan yang tadi kuberitahu. Ia memberi isyarat agar aku kembali mengikutinya. Kuhabiskan sisa makanan yang tadi kubeli di sini, lalu aku menyusul rio yang sudah duduk di sudut ruangan. Tempat duduk itu berjarak hanya beberapa langkah dari pintu dapur tempat makan ini.

“Lu ngapain sih sebenernya?” kulihat pandangannya diedarkan ke penjuru ruangan. “Mana lu milih tempat duduknya pojok banget lagi”
Masih tak ada tanggapan dari dia. Namun kini, aku mulai kesal.
“Woi lu denger gua kan?” kataku dengan menekankan suara.
“Ayo masuk”
“Hah? Mau ke mana lagi?”
“Kecilin suara lu” ucapnya setengah berbisik. “Atau kita bakal ketauan”
Dahiku mengernyit. Aku benar-benar tak mengerti apa yang dipikirkannya.

Rio membuka pintu dapur. Pandangannya diedarkan ke penjuru ruangan sekali lagi. Mungkin untuk memastikan bahwa tak ada yang melihat kami.
Kami berdua masuk ke dalam dapur sembari memelankan langkah kaki.
Sebenarnya hanya rio yang memelankan langkah kakinya. Namun aku, aku hanya mengikuti apa yang dia lakukan. Terlebih setelah mendengar ucapannya di tempat duduk tadi.

Kami berdua merapat ke dinding dapur. Menunduk di belakang deretan meja dapur. Menurutku ini tempat yang cukup tepat jika memang niat kami adalah untuk bersembunyi.
Kulihat beberapa petugas dapur berlalu lalang melewati kami begitu saja. Hingga ketika tak ada satu orangpun yang melintas, rio memberikan arahan kepadaku agar memasuki sebuah pintu di dapur ini. Jaraknya sekitar dua meter dari tempat kami sekarang.
“Kita jalan ke sana”
Kali ini aku tidak membantahnya lagi. Sudah kuputuskan untuk mengikuti apapun yang dikatakannya.

Pintu itu dibuka oleh rio. Kemudian kami mulai melangkah masuk. Sangat sepi disini. Tak ada satu orangpun petugas dapur yang kulihat. Hingga sekitar lima meter selanjutnya, dahiku kembali mengernyit.
“Ini kok ada pintu lagi?”
Tanyaku sembari melihat sebuah pintu besi yang cukup besar di hadapanku. Namun ia, ia malah menatapku dengan serius saat menanggapi ucapanku.
“Lu bakal ngeliat sesuatu yang diluar perkiraan” katanya. “Dan gua minta lu jangan lari gitu aja setelah ngeliat hal itu”
“Lu gak pengen kita ketauan kan?”
Aku menghela nafas panjang. Tak habis pikir ia selalu mengatakan sesuatu yang membuatku bingung.
“Tolong nih ya” ucapku. “Lu kalo ngomong tuh yang jelas”
“Biar gua ngerti maksud omongan lu”
“Ntar juga lu bakal ngerti” Ia menjawab sekenanya, kemudian segera membuka pintu. Ini berati pintu yang ketiga.

Aku menaikkan sebelah alis saat kudapati sebuah tangga di balik pintu itu. Sebuah tangga yang menuju ke arah bawah.
Rio mengacuhkan keherananku, ia berjalan melewati pintu terlebih dahulu. Tepat seperti sebelumnya.

Tak menunggu waktu lama bagi kami agar sampai di ujung anak tangga. Kami berdiri terdiam untuk beberapa saat. Melihat sebuah lorong yang cukup gelap. Itu adalah yang kami temui di sini. Aku tak berkomentar tentang ini karena kuyakin rio tak akan memberi penjelasan yang tuntas kepadaku.
Cukup jauh kami berjalan di sepanjang lorong ini, tak ada satupun orang yang kami temui. Tak ada juga satupun obrolan yang kami mulai.

Mungkin sekitar lima menit berlalu, hidungku mulai mencium aroma yang aneh.
Aku menggerakkan tangan kepada rio sebagai tanda bahwa aku bertanya mengenai ini. Namun dia hanya meletakkan jari telunjuknya tepat di depan mulut. Isyarat bahwa aku harus diam.
Sembari kami melangkah, aroma ini semakin menyeruak ke dalam hidung. Hingga ketika kami sampai pada sebuah belokan. Hidungku hampir saja tak kuat menahan aroma ini.
Kutahu ini adalah satu-satunya belokan di lorong ini. Kutahu juga bahwa aroma ini adalah aroma anyir darah. Dan itu mulai menggangguku.

Kaki kami sudah melewati belokan itu. Kini ada hal lain lagi yang akan mengantarkan kita ke ruangan lainnya. Itu bukanlah sebuah pintu. Melainkan sebuah plastik putih tebal yang disusun hingga berbentuk seperti tirai. Itu cukup untuk menutupi sesuatu di baliknya.
Sesuatu yang beraroma anyir darah. Sesuatu yang sekarang benar-benar menggangguku.

Rio mulai menyingkap plastik tebal itu dengan kedua tangannya. Aku hanya dapat mengikutinya dari belakang.
Dan yang kutemukan di dalam ruangan ini membuatku sangat terkejut. Mataku membelalak lebar. Tanganku langsung menutup hidungku. Sebisa mungkin menahan aroma anyir darah yang sangat kuat.
Perutku mulai terasa mual. Hingga akhirnya, aku memuntahkan isi perutku seketika. Semuanya berceceran ke lantai ruangan ini.
Aku melihat daging yang masih penuh dengan darah tergantung berderet di hadapanku. Namun yang lebih membuatku tak tahan, bentuk daging itu menyerupai tubuh manusia. Ah tidak, aku benar-benar yakin itu adalah manusia.

“Woi ini apaan!?” tanyaku sembari mencengkram bahu rio.
“Ini bentuk daging itu sebelum dimasak” jawabnya dengan datar.
“Maksud lu!?”
“Ini yang tadi lu makan”
“Lu kaga lagi bercanda kan!?”
“Lu pikir gua ngajakin lu ke sini buat bercanda?”
“Masa tempat makan tadi stock dagingnya dari sini”
“Terus lu pikir dari mana mereka dapet daging hah?”
“Ya tapi kan..” aku meremas rambut dengan kencang. “Wah asli ini gila banget..”
“Ini tempat nyimpen bahan baku warung itu” ujarnya. “Di belakang sana ada ruangan buat bersihin ini semua biar bisa dimasak”
“Terus kita mau masuk ke sana sekarang?” tanyaku sembari mulai berkeliling mengitari ruangan ini.
“Kagak, lu gak bakal kuat masuk ke sana”
“Jadi selama ini yang gua makan di warung itu..” kuremas perutku yang mulai kembali mual.

“Orang-orang ini korban dari humman trafficking” rio mulai menjelaskan. “Ada yang diculik dari panti asuhan, ada yang dibeli dari pasar gelap, dan ada juga tuna wisma yang ditarik gitu aja”
“Buat dijadiin kayak gini?”
“Iya” jawabanya. “Gak nanggung-nanggung human trafficking tuh warung”
“Maksudnya?”
“Jaringan mereka udah tingkat internasional”
“Gila emang tuh warung”
“Eropa sama afrika jadi produsen utama warung ini”
“Asli produsennya dari sana beneran?”
“Iya” jawabnya. “Lu tau sierra leone?”
“Kagak”
“Itu negara pusat mereka di afrika”
“Kalo eropa?”
“Banyak banget kalo di sana”

Mataku menelusur bagian daging di hadapanku ini. Bola matanya hilang. Kulitnya tak lagi bersisa. Darahnya segar mengucur.
Aku mengusap kepalaku. Tak habis pikir bahwa seoonggok daging ini adalah seorang manusia sepertiku.
“Siapa yang tega ngelakuin ini semua gila?”
Aku bertanya. Namun kali ini seperti diarahkan untuk diriku sendiri.

Cerpen Karangan: Muhammad Izzuddin
Facebook: Muhammad Izzuddin

Cerpen Burger (Part 1) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


LARI!

Oleh:
Lari! Lari! Lari! Hanya itu yang ada di pikiranku saat ini, ketakutanku ini semakin menjadi-jadi…. — Pagi itu adalah pagi yang cerah. Di tengah libur panjang ini, pada hari

Rumah Sakit Belanda Yang Menyeramkan

Oleh:
Romi menggigit-gigit jarinya. Ia berbolak-balik menelusuri koridor rumah sakit. Krek.. Sebuah suara mengagetkan Romi, “A.. a.. apa.. ii.. tt.. itu.. ” Ucapnya bergetar sambil ketakutan. Krek… krek… krek… sebuah

Lembayung Kota Juarez

Oleh:
Matahari saat itu mulai berayun ke arah barat. Nampak sinarnya yang terik mulai memudar berubah menjadi cahaya lembayung berwarna ungu yang indah terhampar di langit Kota Juarez di Meksiko

Misteri Bis dan Seorang Perempuan

Oleh:
Ku langkahkan kaki dengan cepat. Segera kutuju halte bis yang terletak di perempatan jalan. Gerimis rintik-rintik yang semakin besar membuatku segera mempercepat langkah. Jalanan kini telah sepi lagang, tidak

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *