Burger (Part 2)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Horor (Hantu), Cerpen Thriller (Aksi)
Lolos moderasi pada: 3 April 2018

“Pemilik warung itu udah pasti dihukum mati kata gua” lanjutku. “Kriminal banget ini mau diliat dari mana aja”
“Mana gua hampir tiap hari beli daging di sono lagi” aku masih mengitari ruangan ini. “Apalagi kalo lagi libur”
“Dan anehnya gua sama sekali gak ngerasa curiga ama daging-daging yang gua makan”
Aku melangkahkan kaki lebih jauh. Entah kenapa rasa penasaranku mengalahkan bau anyir ini.

“Tapi kok disini gak ada yang jagain sama sekali ya?”
“Dan..” kini mataku menatap beberapa anggota tubuh yang terpotong. “Kok lu bisa tau banyak sih?”
Mataku masih belum berpindah pandangan. Tanganku menutup hidung untuk menghalangi bau anyir di sekelilingku.
“Woi itu gua nanya”
Rio masih tak menjawab. Aku tak merasa heran dengan kelakuannya. Namun untuk sekarang, aku benar-benar menginginkan sebuah jawaban darinya.
“Eh jawab lu”
Hanya keheningan yang kudapati. Sama seperti sebelumnya.
“Buat sekarang lu harus jawab, rio” kini sedikit kutekankan suaraku. “Dari mana lu tau info sebanyak itu?”
Masih sama. Kini aku mulai kesal. Kuputuskan untuk kembali ke tempat kami berdiri tadi.

“Lu harus jawab”
Aku berucap setelah pandanganku mengarah ke tempatnya tadi berdiri. Namun sekarang, ia tak ada di sana.
“Di mana lu?” aku bertanya.
“Rio?”
“Rio?”
“Rio..”
Aku berhenti memanggilnya. Karena aku merasa ia sudah tidak berada di dalam sini. Benar-benar hening. Hanya tetesan darah segar yang kudengar.

Kuedarkan pandanganku sekali lagi sembari melangkahkan kaki menuju tirai plastik.
Namun tiba-tiba saja, telingaku mendengar sesuatu. Sumber suaranya tepat di belakangku. Itu seperti sebuah besi yang diayunkan.
Kucoba melihatnya dengan ujung mataku, dan akhirnya aku benar-benar terkejut.
Sebuah kapak bergerak cepat mengarah ke leherku. Hanya sesaat waktu yang kumiliki.
Untungnya tepat pada detik terakhir, aku dapat menghindar. Entah sudah menjadi apa leherku jika aku masih terdiam di tempat itu.
Namun aku terjatuh karena tergesa saat menghindar. Tubuhku membentur lantai cukup keras. Mataku membelalak menatap orang yang mengayunkan kapak itu.

“Rio lu ngapain woi!?” aku beteriak keras.
“Ini sebabnya gua bisa tau banyak tentang warung itu”
Dia mengangkat kapak itu tinggi-tinggi. Aku melihat tatapannya benar-benar dingin. Dia sangat berbeda dengan rio yang kukenal.
“Woi tunggu tunggu!”
Pintaku sembari berteriak. Ia mengangkat kapak itu semakin tinggi.
“Rio stop!”
“Rio jangan!!”
Ia mulai mengayunkan kapak itu sekuat tenaga.
“Woi dengerin gua!!”
Kulihat besi itu semakin kencang mengarah ke kepalaku. Tak terlihat belas kasihan sedikitpun di matanya.
“Rio stop woii!!”

Rasa takut sudah memenuhi diriku sepenuhnya. Hingga akhirnya aku hanya bisa berteriak. Setidaknya itu yang bisa kulakukan sebelum aku bergabung dengan gelonggongan daging di ruangan ini.
“Stooopp!!”

Seketika mataku terbuka lebar. Aku terbangun dari mimpi burukku. Keringat sudah mengucur deras memenuhi wajahku. Nafas benar-benar tak beraturan keluar dari hidungku.
Aku mengalami mimpi yang sangat buruk. Aku tersengal. Aku berkeringat. Dan aku terikat.
Tunggu, aku terikat? Bagaimana mungkin? Kucoba menggerakkan tanganku. Malah rasa sakit yang mendatangiku. Kini giliran kakiku yang kuangkat. Ah, ini terasa nyeri.

“Yogi udah gua iket di dalem bos”
Ucap seseorang dari balik pintu ruangan ini. Kepalaku terasa sangat pusing. Entah bagaimana caranya aku bisa berbaring di ruangan ini. Dan entah mengapa aku merasa terbiasa dengan suara orang di balik pintu itu.
“Dia masuk semua kriteria yang gua kasih tau kan?” lawan bicara yang mungkin tadi dipanggil bos bertanya.
“Beres bos” jawab suara yang kudengar lebih awal. “Tinggal eksekusi aja”
“Emang selalu bagus hasil kerja lu” timpal si bos. “Gua suka nih kalo gini”
“Haha bos gak usah muji gitu lah”
“Nih gua kasih sekarang aja lah ya” ia melanjutkan. “Udah gua taruh juga bonusnya di amplop itu”
“Wah makasih banget nih bos”
“Santai aja asal kerja lu bener haha”
“Oke bos siap”
“Ya udah gua cabut dulu nih ya”
“Okee”
“Lu urusin dah tuh si yogi”
“Siap laksanakan bos”

Aku mendengar langkah kaki menjauh. Kuyakin itu adalah orang yang dipanggil bos. Tetapi sekarang, ada dua hal yang sangat menggangguku.
Pertama, mereka menyebutkan nama yogi beberapa kali. Aku mengernyitkan dahi. Apakah yogi yang dimaksud oleh mereka adalah aku, atau bukan. Mungkin itu adalah orang lain. Hanya saja nama kami berdua sama.
Dan hal lainnya yang mengganjalku. Suara familiar itu. Aku merasa sangat sering mendengarnya. Mungkin di kosanku. Bahkan mungkin di mimpi buruk.. Tunggu, jika itu memang benar, berarti pemilik suara itu adalah..

“Udah bangun lu ternyata”
Ucap rio setelah membuka pintu ruangan ini. Ia menutup pintu itu. Kemudian berjalan mendekatiku.
“Lepasin ini tali” kataku.
“Ngapain dilepasin?”
“Lepasin gua bilang”
“Buat apa?”
“Ini maksudnya apaan gila?”
“Gak ada maksud apa-apa, yogi”
“Gua tadi mimpi kalo lu ngebunuh gua pake kapak” dia hanya tertawa. “Tapi waktu gua bangun, gua malah keiket kayak gini”
“Lu cuma perlu diem di situ aja”
“Diem gimana?”
“Santaii”
“Lepasin ini iketan gila!”

Kini dia sudah berdiri di sampingku. Ia menatapku sesaat. Kemudian ia mengambil sesuatu di bawah ranjang tempatku berbaring.
Itu sebuah kapak. Sama persis dengan kapak yang muncul di mimpiku tadi.
“Rio stop sekarang!” rasa takut seketika memenuhiku. “Lu kenapa jadi gila gini hah!?”
“Woi dengerin gua!” keringat dingin semakin deras membasahi kasur tempatku berbaring. “Gua temen lu rio!!”
“Gua udah dibayar banyak sama pemilik warung daging yang ada di mimpi lu” tangan kirinya menunjukkan sebuah amplop besar kepadaku. “Gak mungkin kan gua makan gaji buta”
“Gua bisa bayar lu lebih banyak dari itu!” ia memasukkan amplop itu ke saku celananya. “Lu harus hentiin ini sekarang!”

Dia mengangkat kapak itu dengan kedua tangannya. Sangat tinggi dalam pandanganku. Aku melihat tatapannya benar-benar dingin. Kini aku mengenalnya sebagai seorang kriminal.
“Woi stop stop!” pintaku sembari berteriak. “Jangan!!”

Pantulan cahaya besi dari kapak itu membuat kilatan yang sangat mengerikan. Aku getir menatapnya.
Kini rio mengayunkan kapak itu sekuat tenaga.
“Jangaan jangaan!!” aku tak dapat melakukan perlawanan. “Rio stop woii!!”

Ketakutan sudah sempurna menyelimuti diriku. Hingga akhirnya aku hanya berteriak sekuat tenaga. Setidaknya itu yang bisa kulakukan. Sebelum kepalaku terlepas di dalam ruangan ini.
“Stooopp!!”

Seketika rasa sakit memenuhi seluruh tubuhku. Terutama pada bagian leher. Darah mengucur deras begitu saja. Tanpa hentinya membuat ranjang tempatku berbaring memerah.
Kurasakan rio mengayunkan kapak berkali-kali ke leherku. Sangat sakit rasanya.
Dia tidak berhenti sampai kepalaku benar-benar terlepas. Kemudian menggelinding begitu saja di lantai ruangan ini.

Dan sekarang, aku tak merasakan apapun. Pandanganku gelap. Telingaku tak dapat mendengar sama sekali.
Namun hal terakhir yang kutahu, rio tersenyum lebar di sampingku. Wajah dan tangannya dilumuri oleh darah seseorang. Darah yang sangat segar. Darah teman satu kosnya. Darah diriku yang telah tewas.

Cerpen Karangan: Muhammad Izzuddin
Facebook: Muhammad Izzuddin

Cerpen Burger (Part 2) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Rumah Tua Seberang Rumah

Oleh:
“Bukannya sudah kubilang kalau jangan pernah mendekati rumah itu?” Dio berkata pada Mia dengan galak. Mia menunduk, tak berani menatap wajah garang Kakaknya. “Memangnya apa sih yang menarik dari

The World Of Terraria (Part 1)

Oleh:
Di dunia Therratoria, Terdapat dua kerajaan yang melambangkan kebaikan. Dan satunya melambangkan kejahatan. Angin berhembus melintasi padang rumput yang luas. Dedaunan beterbangan mengikuti semilir angin menuju gunung Etna yang

Suatu Malam di Puncak

Oleh:
Sore itu aku tiba di suatu vila di Puncak. Pada awalnya memang aku sudah curiga bahwa ada yang aneh di vila itu. Vila itu terletak jauh dari jalan raya,

Pintu

Oleh:
Namaku Lista umurku 13 tahun, cerita ini berawal dari ketika aku mendengar bahwa ada sesuatu di ruangan 208 sehingga pintu ruangan itu selalu dikunci. Aku selalu mengabaikannya karena itu

Gadis None Belanda Berbaju Putih

Oleh:
Hari libur pun telah datang, aku dan kawan-kawanku akan pergi di puncak di villa milik keluargaku. Namaku adalah Vino, aku adalah siswa SMAN 37 jakarta utara. Kawan-kawanku adalah Ratna,

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *