Cermin Masa Depan

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Fantasi (Fiksi), Cerpen Horor (Hantu)
Lolos moderasi pada: 20 October 2017

Damian masih berdiri di depan sebuah cermin. Sebuah cermin bergaya klasik dari kayu berukir yang tak sengaja ia temukan di sebuah kamar kosong di rumah barunya itu. Entah kenapa pemilik rumah sebelumnya meninggalkannya begitu saja di kamar kosong itu. Mata Damian terpaku memandangi cermin antik yang baru saja ia temukan itu.

Tiba-tiba jendela kamar terbuka. Semilir angin berhembus kencang ke arahnya. Seorang pria berdiri tepat di belakang Damian.
“Cermin itu namanya cermin masa depan.” Pria itu mulai mengeluarkan kata-kata. Ada aura menyeramkan yang terpancar padanya.
Damian tersentak kaget mendapati seseorang yang muncul entah dari mana. “Siapa kau? Kenapa kau ada di sini? Bagaimana caranya kau bisa masuk ke sini?” tanyanya bertubi-tubi. Ada perasaan takut yang hinggap di hatinya saat menatap pria itu.
Pria itu tersenyum dengan seringainya yang mengerikan. Ada aura menyeramkan yang terpancar padanya. Perlahan-lahan dia melangkah maju mendekati Damian. Damian yang merasa ketakutan pun melangkah mundur hingga tangannya tak sengaja menyentuh cermin antik itu.

“Kau tak perlu takut padaku! Sekarang kau adalah pemilik cermin itu. kau bisa menggunakannya sepuas hatimu untuk melihat masa depanmu,” ucap pria itu menatap lekat ke arah Damian.
“Melihat masa depan?” ucap damian dengan senyum kecil di bibirnya, “Apa kau bercanda? Bagaimana mungkin cermin antik ini bisa melihat masa depanku? Lebih baik kamu pergi sekarang, atau aku akan …”
“Akan apa? Memukulku?” potong pria itu, “Kau tak perlu repot-repot memukulku. Kalau tak percaya, buktikan aja sendiri. Tapi ingat! Setiap kali kau menggunakan cermin masa depan, kau harus siap mengorbankan sesuatu yang berharga dalam hidupmu.”
Damian menatap bayangan dirinya di cermin itu. Ia sama sekali tak percaya dengan perkataan pria tersebut. Ketika ia membalikkan badannya ke belakang, ia sangat terkejut. Pria yang tadi berada di belakangnya sudah tak ada. Bulu kuduk Damian pun tiba-tiba berdiri.

Damian kembali memandangi cermin antik itu. Apa benar cermin ini bisa memperlihatkan masa depanku? Batinnya.
Ada perasaan takut bila ucapan pria itu benar-benar terjadi bila ia benar-benar menggunakannya. Tapi perasaan penasaran telah menyelimuti Damian untuk segera membuktikan ucapan pria itu.

“Wahai cermin masa depan, perlihatkanlah padaku apa yang akan terjadi padaku besok di sekolah!” ucap Damian ragu-ragu.
Seketika bayangan Damian di cermin itu menghilang. Damian sangat terkejut saat melihat cermin itu. cermin itu memperlihatkan sosok dirinya bertemu dengan seorang gadis cantik di sekolah. Berulang kali ia mencubit tangannya, memastikan bahwa dirinya tak sedang bermimpi.

Pagi telah tiba. Tak seperti biasanya Damian berangkat sekolah seorang diri. Entah kenapa pagi-pagi sekali ayah sudah tak ada di rumah. ia pun melirik arlojinya. Masih tersisa 20 menit sebelum masuk kelas. Ia pun segera mempercepat langkah kakinya menuju perpustakaan.

BRUK!
Seorang gadis menjerit keras, “Auugh, sakit.” Gadis itu terduduk di lantai dengan buku-bukunya yang berhamburan di lantai.
Damian segera memungut buku-bukunya lalu membantunya berdiri, “Maaf, aku nggak sengaja.”
“Nggak apa-apa. Aku juga salah, kok.” Gadis itu lalu pergi meninggalkan Damian yang masih menatapnya tanpa berkedip.

Malam kali ini terasa sunyi. Ayah belum juga pulang ke rumah.
“Damian! Ibu pergi dulu sebentar,” teriak Ibu.
Tak lama kemudian terdengar suara mobil sedang melaju. Damian hanya bisa menghela napas panjang. Wajahnya terlihat begitu kecewa. Malam ini ia terpaksa sendirian di rumah.

Setelah kejadian itu, Damian kembali ke kamar kosong itu. ia berdiri di hadapan cermin antik itu. Damian menarik napas dalam-dalam, berusaha merangkai kata-kata yang ada di otaknya untuk dijadikan kalimat permintaan kepada cermin itu, “Wahai cermin masa depan, perlihatkanlah padaku apa yang akan terjadi padaku saat usiaku 25 tahun!”
Seperti saat itu, bayangan dirinya menghilang. Cermin itu lalu memperlihatkan dirinya berada sendirian di rumah. Penampilannya terlihat acak-acakan, tak terurus. Badannya sangat kurus, seperti orang yang kekurangan gizi. Tak terlihat siapa pun di rumah. mata Damian terbelalak saat melihat apa yang ditampilkan oleh cermin itu.
“Ini nggak mungkin! Kenapa aku seperti itu? ke mana Ayah dan Ibuku?” tanya Damian bingung.

Tiba-tiba sosok ayah dan ibu Damian muncul dari cermin antik. “Damian! Tolong Ayah dan Ibu!” ucap Ayah memukul-mukul cermin itu dari dalam.
“Ayah! Ibu!” teriaknya. Buru-buru ia pergi mengambil kursi dan melemparkannya dengan keras ke arah cermin antik itu.
Cermin itu sama sekali tak pecah, masih utuh seperti semula.

“Percuma saja, cermin itu nggak akan pecah sama sekali,” ucap seorang pria tiba-tiba berada di belakangnya.
“Bagaimana cara mengeluarkan Ayah dan Ibuku di dalam cermin itu?” tanya Damian panik.
“Sayangnya nggak ada cara untuk membebaskan Ayah dan Ibumu. Bukankah sudah kuingatkan padamu, kau boleh menggunakan cermin itu sesuka hatimu tapi kau harus mengorbankan sesuatu yang berharga dalam hidupmu,” ucap pria itu tertawa mengerikan. Ia lalu menghilang disertai hembusan angin yang kencang.

Damian tak tahu harus berbuat apa lagi untuk mengeluarkan ayah dan ibunya dari cermin itu. Damian menyesal telah menggunakan cermin masa depan itu itu.

Cerpen Karangan: Betry Silviana
Facebook: Betry Silviana

Cerpen Cermin Masa Depan merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


El Corto

Oleh:
Matahari terasa terik sekali siang ini, tiada awan, tiada angin berdesir, hanya panas terik menyengat. Dua orang sedang asyik mengobrol, atau lebih tepatnya satu orang yang berorasi dan satunya

Tersesat Di Dunia Masa Depan

Oleh:
Perkenalkan namaku meira, aku adalah seorang anak yang sangat penasaran dengan mesin waktu, karena aku sungguh penasaran akhirnya aku dan sahabat sahabatku pergi ke sebuah perpustakaan lama yang sudah

Saat Terakhir di Stasiun

Oleh:
Ismail Irawan, cowok berusia tujuh belas tahun yang suka nongkrong di stasiun itu, lagi-lagi melihat seorang gadis cantik berbaju putih di seberang rel kereta. Sambil menunggu kereta yang mengantarnya

Pemburu Hantu

Oleh:
Sabtu pagi yang membosakan, hanya itu yang terpikir oleh Romi. Walau pada hari ini guru tidak masuk lagi. Dan semua temannya senang karena tidak jadi ulangan dan tugas juga

Evolusi

Oleh:
Tahun 2227, populasi manusia tak sebanding dengan alien, atau mungkin alien blasteran manusia. Entah bagaimana mulanya, tapi satu cerita yang ku percaya, bahwa alien adalah manusia itu sendiri. Manusia

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *