Dear Mama Papa

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Horor (Hantu)
Lolos moderasi pada: 2 January 2017

Pernahkah kau bicara, tapi tak didengar? Tak dianggap sama sekali! Kumohon dengarkan aku sekali saja! Mama.. Papa.. Apakah kalian tidak percaya padaku? Aku ini anakmu! Jangan perlakukan aku seperti ini. Setiap malam aku menangisi hidupku. Menyesali keterlibatanku di dunia kalian. Mengapa aku harus terlahir? Mama.. Papa.. Tidakkah kalian kasihan padaku? Aku ini anakmu! Malam yang dingin kulalui tanpa hangatnya pelukan kalian. Dua orang yang seharusnya menjadi penghangatku. Dua orang yang seharusnya menjadi lentera di dalam gelap dan pengapnya ruangan kecil ini. Mama.. Papa.. Apakah kalian tidak pernah merindukanku? Aku ini anakmu! Kenapa hanya aku yang merindukan kalian? Sedangkan kalian sangat membeci untuk mengingatku. Mama.. Papa.. Hari-hari kulewati bersama kertas dan pena yang selalu mendengarkan apa yang kuungkapkan. Mereka sangat percaya padaku. Bahkan.. kertas itu tidak pernah menghilangkan tulisanku diatas raganya. Pena itu selalu mengerti mengerti tentang apa yang sebenarnya nyata terjadi padaku. Aku menyukai mereka berdua. Namun sayang aku lebih menyukai kalian, Mama dan Papa. Tapi.. Akankah kalian menyukaiku? Seorang anak yang kalian anggap idiot, gila dan.. daaann.. PEMBUNUH.

Mama.. Papa.. Benarkah aku pembunuh? Aku ini anakmu! Mama.. Papa.. Aku tidak membunuh Novi adikku sendiri. Dua tahun lalu aku hanya mencoba menenangkannya. Kami hanya bertengkar kecil karena Novi ternyata menyukai pria yang sama denganku. Saat itu aku melihat Novi menangis setelah kubentak. Dia tetap saja keras kepala tidak mau menjauh dari Yoga pria itu.

“Udah deh Nov, mendingan kamu jauhin Yoga! Yoga itu milik kakak! Ngerti?!” Bentakku.
“Kak Sherly, aku minta maaf. Aku nggak bisa menjauh dari Yoga.” Jawab Novi terisak.
“Aku ini kakak kamu Nov! Kamu harus nurut sama kakak! Kak Sherly udah lama banget sayang bahkan cinta sama Yoga. Pokoknya kamu harus jauhin Yoga, titik!”
“Maafin Novi kak. Tapi Novi nggak bisa!” Ucap Novi sedikit meninggi.
“Aku sama Yoga udah pacaran kak!”

Aku terkekeh mendengar Novi adikku sendiri berpacaran dengan Yoga pria yang selama ini kuincar-incar. Emosiku semakin tinggi dan tak dapat kukendalikan. Novi terus saja menangis tanpa berhenti mengucapkan “Aku nggak bisa jauh dari Yoga kak!” “Aku nggak mau ninggalin Yoga!” “Aku sama Yoga saling cinta!” Huuhhh! Novi.. Adikku yang manis, aku tidak suka kau berkata seperti itu! Aku ini kakakmu! Rasanya kau tidak menghargaiku sama sekali. Sudah cukup perhatian Mama dan Papa kau renggut dariku. Sekarang, kau ingin merenggut Yoga dariku? Tidak, Novi!

Emosiku telah sampai di ubun-ubun. Tidak dapat kutahan lagi. Novi tetap saja merengek seperti anak kecil. Aku capek mendengarnya! Sebuah bantal empuk nan lucu kuraih dari ranjang Novi. Aku ingin sedikit menenangkan adikku yang sedari tadi menangis sambil mengoceh. Aku menaiki ranjang. Perlahan kudekati Novi yang tengah tengkurap. Bantal empuk nan lucu di tanganku kudekatkan pada kepala Novi. Kubungkam kepalanya dengan bantal. Apa ini? Bukannya tenang, Novi justru meronta-ronta. Segera saja kunaiki dan kutunggangi tubuhnya agar dia tenang. Kutekan lebih keras lagi bantal yang membungkam adikku. Dia masih meronta. Tapi suaranya sudah tidak ada. Akhirnya adik manisku mulai tenang dan sangat tenang tanpa meronta ataupun bersuara. Bagus Novi, kau adik yang baik untuk kakak Sherly.

Knookk! Suara daun pintu kamar terbuka.

“Sherly!!” Teriak Mama.
“Mama?” Jawabku yang masih berada di atas tubuh Novi dengan posisi membungkamnya dengan bantal.
“Apa yang kamu lakukan?” Mama menangis menghampiri aku.
“Aku nenangin Novi, Ma. Liat aja tuh sekarang, dia udah tidur nyenyek banget.” Jawabku tersenyum.

PLAKK!!
Mama menamparku, mendorongku keluar kamar bahkan menyeretku keluar rumah. Sebelum Mama menamparku, ternyata Papa sudah berada di depan pintu. Papa tidak menghiraukanku. Papa justru menghampiri Novi seraya memeluknya. Seharusnya Papa tidak boleh memeluk Novi, nanti dia bangun.

Mama.. Papa.. Sherly tidak tahu kenapa kalian menempatkanku disini. Tapi tolong dengarkan aku! Aku bukan PEMBUNUH! Aku hanya membuat Novi tenang, supaya dia tak menangis seraya mengoceh. Itu membuatku pusing. Mama.. Papa.. Percayalah, aku bukan PEMBUNUH! Jika kalian mau bukti, datanglah kemari. Setiap malam Novi selalu menemaniku disini. Namun, dia sedikit aneh. Area matanya sedikit hitam, mungkin dia kurang tidur. Atau mungkin dia ngantuk saat mengunjungiku malam-malam. Rambutnya juga selalu tergerai acak-acakan. Mungkin di perjalanan kesini anginnya berhembus kencang. Ketika Novi berkunjung, ia tidak masuk lewat pintu. Novi selalu masuk lewat dinding tempatku bersandar. Novi menemuiku dan itu nyata. Mama.. Papa.. Novi tidak mati, Novi hanya tertidur. Percayalah!

Cerpen Karangan: Rosminah Antang
Facebook: Rosminah Antang
Hay! Sorry kalo masih acak-acakan yaa!

Cerpen Dear Mama Papa merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Jejak di Lorong Sekolah

Oleh:
“Boy…” teriak Andi dari depan kelas “Apa, ndi? Kayaknya penting benar manggil gue” jawab Boy curiga “Lo tau nggak kalau nanti malam kita mau ada acara wisata malam sama

Rumah Gagak

Oleh:
Berikut adalah salinan dari buku catatan yang ditemukan di Rumah Gagak pada tanggal 21 Maret 2014 atas nama Sarah Lenora. Rabu, 9 Januari 2014 “Sarah, kita akan pindah besok

Selasa 20.13

Oleh:
Sekitar pukul sembilan malam dengan suasana begitu sepi di jalan raya disertai gerimis kecil. Aku sedang duduk di kafe yang lumayan sepi karena hanya ada beberapa pelanggan dan pelayan

Danau Jiwa

Oleh:
Angin kencang berhembus meliuk-liuk menerbangkan dedaunan dan ranting membuat pohon-pohon menari-nari ke sana sini. Daun jendela terbentur berulang-ulang membuat sesosok pria bangun dari tidurnya, ia adalah pak brian. Ia

Ubume

Oleh:
“Anak manis, ayo makan ini,” “Wah, gula-gula, terima kasih,” anak itu menerimanya dengan senang hati dan memakannya dengan tersenyum. “Bagaimana? Enak?” “Un, oish, hwa,” anak itu langsung terkejut dan

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

2 responses to “Dear Mama Papa”

  1. Tika says:

    Huuh ngeri

  2. Alvina Yunira says:

    Bagus cerpen nya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *