Dendam

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Horor (Hantu)
Lolos moderasi pada: 5 December 2015

Malam yang sepi untuk Rika, tak ada yang menemaninya di rumah. Ia hanya bisa sendiri sambil membaca buku yang baru ia beli tadi siang. Angin malam menusuk tulang-tulang Rika melalui ventilasi ruangan, segera Rika menutupnya dengan cepat. Sudah 2 jam ia duduk sambil membaca buku. Tv yang sejak tadi menyala tidak ia hiraukan. Malam sudah sangat larut sekali. Namun, Rika masih belum terlelap. Matanya masih bangun dan tubuhnya masih sangat ingin melakukan sesuatu. Kembali ia membawa buku lagi, kali ini buku majalah tentang masakan dan fashion wanita. Ia sangat suka suka sekali dengan fashion fashion terbaru dan ter-update.

Ia lihat jam dinding, sudah menunjukkan pukul 02:00 malam. Larut sekali. Tapi, ia masih bertahan dengan matanya yang masih segar. Kemudian ia putuskan untuk ke luar dan melihat-lihat suasana gelapnya malam. Kring… Kring… Kring suara telepon terdengar. Rika mengangkatnya. Namun, tidak ada yang bicara di telepon itu, hanya terdengar ‘Srrkkk’ seperti orang berlari di dalam hutan yang gelap. “Halo,” kata Rika. Namun, tetap saja tidak ada suara apa-apa kecuali suara orang berlari. “Halo, ini dengan siapa?”
“Rika-chan,” orang itu memanggil Rika.
“Halo.” Tiba-tiba telepon mati seketika. “Aneh sekali, siapa yang berbicara tadi ya?” ucap Rika setelah telepon itu mati.

Televisi kemudian menjadi aneh, gambarnya tidak jelas. Tapi, terlihat wanita berdiri mengenakkan pakaian merah di sebuah hutan. dengan samar-samarnya, wanita itu menatap tajam Rika, dan berbisik “Rika-chan” dengan suara seperti orang sekarat. “Rika-chan,” terdengar ada orang berbisik lagi. Namun, sepertinya bisikkan itu berada di balik pintu rumah. Rika bingung, ada perasaan ingin membuka pintu dan ada perasaan ingin memperhatikan gambar di televisi.

“Rikaaa,” orang itu berteriak seolah sedang marah dan seperti ingin melakukan perbuatan jahat pada Rika.
“Siapa itu?” Dengan berani Rika melihat nya lewat lubang kunci di pintu itu. Wajahnya tidak terlihat. Namun, sepertinya orang itu adalah orang yang ada di tv. Wanita yang memakai pakaian merah, ternyata merahnya dihasilkan dari darah manusia. Rika yakin itu merah darah, karena baunya juga berbau amis yang menyengat.

“Maaf, anda siapa?” kata Rika sambil membukakan pintu. Namun, orang itu tidak ada. Kemudian Rika membalikkan badannya, ia beranjak masuk.
Tiba-tiba bayangan seseorang hendak memukul Rika. “Aaaaaaah,” teriak Rika dengan sangat kencang.

Rika bangun dari tidurnya dengan buku yang robek terkoyak dan berserakkan di seluruh sudut ruangan. Ia duduk kemudian pergi meminum segelas air putih. “Ah aku hanya mimpi,” kata Rika. Kring… Kringg. Kemudian telepon berbunyi. Lalu, Rika pun mengangkatnya. “Rika,” ucap seseorang dalam telepon.
“Oh Aulia.” Kemudian mereka berbincang sedikit dan mereka putuskan untuk bertemu satu sama lain. Ternyata Aulia adalah teman Rika yang sejak satu bulan hilang tak ditemukan. Namun, akhirnya Aulia telah menghubungi Rika.

“Selamat pagi.” Mereka kemudian berpelukkan.
“Aulia, ke mana saja kau selama ini? Aku telah mencarimu.”
“Ah itu, mari kita meminum segelas kopi. Itu ada sebuah kafe di depan kita.” Kerinduan Rika kepada sahabatnya telah terobati dengan berbincang di kafe dengan ditemani segelas kopi hangat yang menyegarkan. Rika menceritakan perkerjaan barunya pada Aulia dan semua yang ia jalani tanpa Aulia. Aulia mendengarkannya dengan gembira sekali.

“Hei Rika. Apa yang kau lakukan di sini,” tanya Dava, teman sekantornya Rika.
“Aku bersama dengan Aulia.”
“Siapa Aulia?”
“Ini sahabatku,” Rika menunjuk ke arah Aulia yang sejak tadi duduk namun sekarang sudah hilang.
Rika mencarinya. Namun, tak ia temukan. Gelas kopi Aulia pun tidak ada, semuanya hilang.

Kemudian Rika memutuskan untuk pulang ke rumah. Saat ia membayar kopi tadi, yang ia bayar dengan dua harga. Yaitu dengan kopi milik Aulia. Namun, penjaga kasir bilang kalau Rika hanya memesan satu gelas dan dari tadi Rika hanya duduk sendiri sambil berbicara sendiri. Tapi, kenyataannya sejak awal masuk kafe, Rika berduaan saja dengan Aulia. Keanehan dirasakan Rika. Tapi, tidak sekali pun Rika berpikir negatif. Ia hanya berpkir bahwa Aulia telah kembali padanya.

Ia pulang dengan bus ke rumahnya. Tiba-tiba ia melihat Aulia dengan pakaian berdarahnya. Rika menghentikan busnya, kemudian ia lihat Aulia sudah tidak ada. Namun, jejak darah masih membekas di jalanan itu. Karena jarak dari situ ke arah rumahnya tidak terlalu jauh, maka Rika putuskan untuk berjalan kaki saja. Tiba-tiba Aulia memanggil Rika dari belakang. Pakaian Aulia baik-baik saja, tidak ada darah sedikit pun. “Aulia, tadi kau ke mana? Aku tadi kan bersamamu.”
“Ah Rika maafkan aku, tadi aku…” Kemudian mereka berjalan lagi ke rumah Rika.

“Ayo masuk Aulia.”
“Rumah barumu ya?”
“Kecil sih, tapi cukuplah untuk aku saja.” Rika membawakan air untuk Aulia, kemudian menyalakkan televisi.

Kring… Kring telepon berbunyi. “Rika-chan, Aulia telah ditemukan. Ia ditemukan di hutan. Sudah meninggal dalam keadaan mengenaskan,” ucap Dava dalam telepon.
“Apa maksudmu? Aulia sedang berada di rumahku. Kau tahu itu? Aulia baik-baik saja.”
“Rika,” Aulia memanggil Rika sambil memegang sebuah pisau dengan penampilan seperti yang diceritakan Dava. Wajahnya hanya tinggal tulangnya, pakaiannya sangat rusak sekali.

“Aulia, kau.”
“Yeaaaah.” Aulia mengunuskan pisau itu ke perut Rika.

Rika kesakitan, kemudian ia ingat bahwa ia telah menyakiti Aulia. Rika telah merebut Dava, pacarnya Aulia waktu itu. Karena terpukul dan frustasi Aulia bunuh diri di hutan itu dengan dendamnya pada Rika. “Maafkan aku soal itu Aulia.”
“Kau sahabatku, kenapa kau telah menyakitiku Rika.”

Kemudian Dava muncul dari belakang dengan menusukkan pisau ke punggung mayat Aulia.
“Dava, kenapa?”
“Kau begitu egois, kau tidak pernah mengerti perasaanku.”
“Kalau begitu tusukkan pisau itu ke leherku.”
“Kau?”
“Cepat Dava!”

Cukkk…

Pisau itu telah menancap di leher Aulia. Kemudian, dengan cepat Aulia kembali menusukkan pisau di tangannya ke perut Dava hingga tewas. Sekarang mereka semua tewas dalam perasaan dendam yang telah terbayar sudah.

Cerpen Karangan: Pitra NFS
Blog: pitrakb.blogspot.com

Cerpen Dendam merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Kos Kosan ‘Mereka’

Oleh:
Cerita kesurupan memang sering kali kita dengar. Bahkan kita juga sering menyaksikan dengan mata kepala sendiri ketika ada seseorang yang tiba-tiba berteriak tidak karuan, sambil menjerit-jerit serta menangis tanpa

Hantu Bus

Oleh:
Setiap kali Citra menaiki bus sekolah, ia selalu melihat seorang anak perempuan sebayanya yang kepalanya selalu menunduk. Rambutnya pendek, berwarna pirang dan warna kulitnya pucat. Citra menceritakan tentang anak

Teror Boneka Itu

Oleh:
Pada hari itu Vivian membantu ibunya membongkar gudang yang ada di rumahnya. Tiba-tiba ia menemukan boneka beruang warna pink, ia melihat di telapak kaki boneka itu ada angka 12

Yang Mengikutiku


Ruangan ini, mengapa harus ruangan ini lagi. ruangan yang membuat hidupku tiba-tiba berubah begini. Jika harus diasingkan mengapa harus di ruangan ini. Tepat seminggu lalu saat keluargaku sedang asik-asiknya

Psycopath

Oleh:
Mataku terbuka perlahan. Aku mencoba mengingat kejadian sebelum aku pingsan tadi. Tidak!. Sekarang aku ada di mana?. Di sebuah ruangan yang penuh dengan potongan tubuh manusia. Kedua tanganku dirantai,

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

3 responses to “Dendam”

  1. feyza meutia says:

    Wah seru banget ceritanya kak aku sampai merinding ~(^.^)/

  2. Keyfa Inezia says:

    Cerpenya bagus dan menarik terus berkarya ya!
    ^^

  3. Malika Sekar R. says:

    Komentar sebelumnya, aku setujuuuuuu.
    Tks for your story.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *