Dendam Siluman Tikus (Part 1)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Horor (Hantu), Cerpen Thriller (Aksi)
Lolos moderasi pada: 13 February 2017

Ketika aku sedang asyik menyantap sepotong roti keju buatan ibu sambil membaca buku favoritku, kisah seorang detektif yang berusaha memecahkan kasus pembunuhan ruang tertutup, seekor tikus kecil menjijikkan tidak sengaja berlari di bawah kakiku, jantungku nyaris copot. Binatang itu sadar bahwa ia berjalan di dekat seorang manusia, makhluk yang menjadi musuh abadi bagi bangsanya.

Tikus itu ketakutan dan berlari dengan cepat, bersembunyi di bawah rak sepatu. Aku mengambil sapu dan mengawasi sudut ruangan, menunggunya kembali menampakkan sungut yang menggelikan. Namun, tikus tersebut tidak kunjung keluar dari tempat persembunyiannya, aku menyodokkan ujung sapu dan berencana memumukulnya sekeras mungkin apabila tikus sialan itu muncul. Hari ini aku sudah membunuh dua tikus, aku sangat senang rekorku bertambah jika berhasil membunuh yang satu ini.

Tak lama kemudian aku berhasil menyudutkannya, sang tikus muncul dari ujung bawah meja, dengan cepat aku menghantamkan sapu tepat di kepala tikus. Aku tidak mengira akan menghantam kepalanya sampai sekeras itu. Sekarang, isi kepalanya berhamburan di lantai. Aku harus membersihkan noda darah yang membuat perutku mual.

Bagaimana aku tahu kalau dalam beberapa hari ke depan, hidupku akan penuh dengan rasa takut dan kengerian? Lebih menakutkan dan lebih mengerikan dari yang pernah kubayangkan. Dan semua berawal dari temanku, Anto.

Liburan kuliah tahun kemarin, sahabatku, Anto mengambil sebuah pekerjaan aneh. Banyak yang tidak menyetujui pilihannya tersebut dan bertanya, kenapa ia tidak bekerja di tempat makan yang keren, seperti Burger King atau McDonald? Kenapa ia memilih bekerja di toko roti? Tapi, ia tidak peduli.

Anto berumur 20 tahun. Untuk cowok seusianya, seharusnya ia memikirkan pekerjaan yang lebih baik. Tapi, ia lebih memilih bekerja di toko roti. Bahkan, ia tidak menghiraukan aku, Katherine, temannya sejak kecil. Aku menyarankan padanya untuk mencari pekerjaan yang lain. Ia tetap cuek walaupun aku bilang kalau kausnya tercium bau adonan cheesecake. Seperti bau seekor sapi.

Malam itu, selepas dari tempat kerja, Anto berkunjung ke rumahku. Aku melongo ketika ia menujukkan dua buah tiket yang diambil dari saku celananya. Aku lupa kalau Anto memenangi dua tiket film horor favoritku. “Sebaiknya kamu segera bersiap-siap,” ucap Anto disertai seringai licik. “Kita harus sampai di bioskop dalam waktu setengah jam.” Aku menurut dan segera masuk kamar.

“Mana sabukku?” aku teriak dari arah pintu kamar. Aku terdengar panik. Aku tidak percaya kalau kamarku kini seperti sebuah kapal pecah. “Untuk jeans baruku ini, lebih cocok kupakai atasan yang mana? Yang merah atau yang hijau?”

“Kita bisa terlambat,” Anto memperingatkan.

“Tunggu!” aku berteriak. “Jawab dengan cepat, apa merah cocok dengan biru?”

Dua menit, tiga menit, dan empat menit berlalu. Aku membuka pintu kamar dengan tergesa-gesa. “Aku siap!” aku menghela napas. Akhirnya aku memakai jeans yang terdapat sulaman bunga mawar di ujung kakinya dan kaus merah polos yang dilapisi jaket kulit hitam. Kupikir, aku terlihat seperti Joan Jett, sempurna.

Untuk ukuran cowok yang bekerja di toko roti, Anto terlihat manis. Paduan antara kemeja hitam sangat cocok dengan celana denim ketat yang ia kenakan. Ia memberi gel pada rambutnya. Aku yakin ia sangat percaya diri dengan rambutnya yang disisir ke samping, sangat bergaya seperti Leorando DiCaprio. Tidak ada aroma sapi yang tercium.

Film yang kami tonton membuat bulu kudukku merinding ketakutan. Aku terus-terusan berteriak dan Anto terus-terusan tertawa. Kurobek bungkus popcornku sampai jadi serpihan. Film itu penuh dengan cerita mayat berjalan, darah dan orang-orang dengan bola mata menonjol.

Aku sangat senang malam itu. Kami saling mengejek satu sama lain. Anto mengingatkanku bagian lucu pada film yang kami tonton tadi, sebenarnya bukan film itu yang terasa lucu, tapi ekspresi wajah kami yang mengerutkan dahi ketika salah satu dari mayat berjalan memakan otak seorang manusia.

Setelah menonton film, kami berencana singgah di toko roti, untuk mengambil ponsel Anto yang tertinggal. Kami berkendara menelusuri jalan di sekitar bioskop. Pasar yang sudah tutup begitu kosong dan terlihat menakutkan. Kedai-kedai dihiasi kain, tampak seperti tumpukkan tubuh yang sedang terbaring. Saat kami sampai di parkiran mobil, kerumunan orang sudah mulai berkurang. Suara raungan motor terdengar dari kejauhan. Tak lama langkah kaki kami menjadi satu-satunya suara yang terdengar.

Toko roti itu sudah tutup sejak dua jam yang lalu. Letaknya di ujung parkiran, tersembunyi di balik rimbunan semak. Terasa aneh, ada seseorang yang membuka toko roti dari bangunan tua sisa peninggalan jaman Belanda. Pintu masuknya terlihat unik dan klasik, terbuat dari potongan-potongan kayu elm. Dari jauh terlihat seperti kastil angker milik Drakula. Aku menduga, seseorang pernah gantung diri di balik pintu itu.

Aku tidak berani masuk dan menunggu Anto di depan pintu. Ia membuka pintu itu dengan kunci yang ia bawa setiap waktu, dikaitkan bersama kunci mobil dan rumahnya. Anto merunduk di depan pintu dan mendorongnya. Pintu itu berayun, terbuka dengan decitan yang terdengar seperti tangisan anak kecil. Kemudian, ia menghilang ke dalam, tertelan kegelapan. Dan, saat itulah aku mendengarnya berteriak, aku melihat seseorang atau mungkin seeokor, karena aku melihat seseorang dengan ekor yang menjuntai secara bersamaan. Sulit bagiku untuk melihat ke dalam ruangan yang gelap dan hanya mengandalkan cahaya pantulan bulan purnama. Aku mencubit pipi. Terasa sakit, artinya ini bukan mimpi.

Aku meneguk air liur. Ada makhluk besar seukuran manusia dewasa dan berbulu dengan ekor yang panjang bergerak-gerak di dalam toko roti. Aku mendekat, menempelkan wajahku pada jendela untuk mencari tahu, lalu makhluk itu menatapku. Aku berteriak kencang dan berlari menuju parkiran. Aku harus menelepon polisi. Tapi bagaimana dengan Anto? Ia masih berada di dalam bersama dengan mahkluk itu.

Rasa dingin menjalar di kulitku dan membuatku mengigil. Aku harus menghubungi polisi, tapi kurasa tidak ada waktu untuk itu, aku mesti membawa Anto kembali. Lagipula, polisi tidak akan percaya jika aku mengatakan kalau sahabatku ditangkap oleh makhluk besar berbulu, pasti mereka mengira aku memakai nark*ba jenis psikotropika. Aku harus berpikir jernih. Kenapa aku harus ketakutan? Ini pasti pekerjaan orang iseng yang ingin mencuri beberapa karung tepung dan gula yang ada di dalam toko roti itu. Ini waktunya memberi pelajaran pada penjahat di dalam toko roti itu.

Aku segera masuk ke dalam kegelapan toko roti. Aku bisa mendengar seseorang menabrak meja, itu pasti Anto. Di sini benar-benar gelap. Anto kembali menjerit. Darahku membeku. Aku maju sedikit demi sedikit, selangkah demi selangkah. Tiba-tiba aku berada dalam cengkraman sesuatu. Ada sesuatu yang menyerangku, bergerak-gerak menahan tanganku. Kutelan kembali rasa takutku. Aku tidak akan membiarkan siapapun tahu ketakutanku. Aku memberanikan diriku melawan sesuatu yang menahanku itu. Aku menangkap salah satu tangannya yang tengah bergerak-gerak. Sial, itu hanya batang kaktus. Aku tidak percaya mereka menghiasi toko roti dengan tanaman gurun pasir daripada memajang sebatang pohon palem.

Di ruangan itu, aku tidak lagi mendengar jeritan Anto, yang terdengar hanya suara napasku sendiri. Aku tahu Anto digelari Raja Jahil di kampus, jadi aku mulai berpikir kalau ini hanya salah satu trik mengerjai dari ribuan trik yang ia miliki, dan kali ini korbannya adalah aku. Tapi jeritannya tadi terdengar seperti ia mengalami sebuah penderitaan yang teramat sakit. Anto pasti berada di suatu tempat di dalam toko roti ini. Aku tidak boleh melewatkan kesempatan ini. Aku harus menemukan Anto.

Aku merentangkan tanganku dalam kegelapan. Tanganku menyentuh sesuatu, yang kuduga etalase yang digunakan untuk memajang roti dan berbagai macam kue. Aku mulai berjalan ke depan, berharap etalase ini menuntunku ke suatu tempat. Satu tanganku berpegangan pada bagian atasnya agar aku tidak kehilangan arah. Aku tak bisa mengingat keadaan toko roti ini, aku belum pernah ke sini sebelumnya. Anto menghilang melewati dapur, kemudian menuju ruang penyimpanan, atau mungkin ke toilet. Mungkin itu alasan ia tidak menjawab panggilanku. Mungkin ia terkunci di dalam dan tak bisa mendengarku. Mungkin… mungkin…

Aku berhasil menemukan meja kasir. Aku bisa merasakan mesin penghitung uang di sana. Kemudian, tanganku menyentuh wadah bundar dan bertingkat untuk menaruh cupcake. Di depan sana, bisa kurasakan kalau aku menemukan pintu yang akan membawaku ke dapur. Tapi, aku juga bisa merasakan kalau ada orang lain selain aku dan Anto di toko roti ini.

Darahku mendesir. Bulu-bulu di tanganku merinding. Bagaimana bisa pintu ini berayun kalau tidak ada orang lain di sini? Aku memanggil Anto, tidak ada jawaban. Aku mengelilingi oven-oven besar tempat mereka memanggang adonan roti. Aku sampai di dapur, tapi tak bisa melihat apa pun. Dari bawah salah satu oven sesuatu bersinar, aku mendekat. Sesuatu berbentuk bola kecil, merah, dan melayang.

Ekor panjang menggelikan dengan cepat mencekik leherku. Semua udara dalam paru-paruku keluar dalam sekali teriakkan. Tapi, tekanan di leherku semakin kuat. Jadi, alih-alih sebuah teriakkan, malah terdengar seperti suara mengeram dan berkumur, “GARRRRRGGGGGLLLL!”

Tiba-tiba, terasa udara panas yang berhembus di telingaku. Kemudian sebuah suara yang terdengar meyeringai dan mengendus kepadaku. Suara itu terdengar aneh, mendengung di telinga, seperti suara yang disamarkan dengan echo rendah yang biasa ditampilkan pada acara investigasi atau semacamnya.

“Kali ini aku yang menangkapmu!”

Apa suara itu sedang melucu? Aku menggelengkan kepalaku yang bebas dari cengkramannya. Cukup lama sampai akhirnya aku bisa balik berteriak. “Lepaskan aku,” kepalaku terasa berputar-putar.

Sekarang tubuhku benar-benar dalam cengkramannya. Ekor itu lebih kuat dari genggaman manusia. Ia membalikkan tubuhku. Jantungku meloncat panik. Aku sedang berhadapan dengan makhluk besar berbulu. Hitam, jorok, bertubuh manusia dan berpakaian seperti Anto, hanya saja kemeja dan denim yang dipakainya sudah tercabik-cabik bagaikan gabungan Hulk dan Werewolf. Aku baru saja berbicara dengan Manusia Tikus mengerikan.

Wajahnya dikelilingi bulu sampai ke leher, begitu juga dengan tangannya, penuh bulu. Kupingnya memuncak tinggi ke atas. Sungutnya nan menjijikkan dan moncongnya panjang seperti meyatu dengan hidung yang tak pernah berhenti mengendus serta mengeluarkan suara mendecit. Pupil matanya hitam tak berujung, makhluk itu memandangku penuh kebencian.

“K-k-kau bisa bisa bicara?” aku terkesiap.

“Tentu saja…,” suranya terdengar marah, dan dalam waktu yang bersamaan aku juga ingin tertawa. Maksudku, segala hal tentang makhluk itu sangat menyeramkan, tapi tidak suaranya. Aku seperti mendengar pengakuan Mickey Mouse Zombie yang dinterogasi oleh tim investigasi karena menjual bakso daging tikus.

“Kau ini makhluk apa? Kenapa kau menangkapku?” suraku tercekik rasa takut.

“Di alam Jin, aku dipanggil Malak,” makhluk itu menjelaskan. Ia mengacungkan jari telunjukknya yang memiliki cakar panjang. “Aku adalah Raja Siluman Tikus dan tubuh ini adalah milik laki-laki yang bersamamu tadi.”

“A-a-pa yang terjadi…?” aku semakin gemetaran.

Makhluk itu menengadah kepalanya, terlihat jelas dua taring besar yang rapat di tengah-tengah moncongnya, sebetulnya aku tidak tahu pasti itu taring atau bukan. “Apakah kau ingat telah membunuh seeokor tikus yang berkunjung ke kamarmu?” tanya Malak padaku.

Aku mengangguk. Aku mengingatnya dengan jelas, karena aku benci dengan tikus. Tapi, ada belasan tikus yang kubunuh, aku tidak bisa membedakan Malak dengan yang lain karena mereka terlihat sama. “Apakah kau menangkapku untuk membalas dendam?”

“Bisa dibilang begitu, aku harus menunggu bulan purnama sidhi agar aku bisa berubah wujud sempurna. Namun aku membutuhkan tubuh temanmu untuk menjelma menjadi seperti ini. Sekarang, waktu yang tepat untuk membalas dendam,” seringai Malak menakutkan, makhluk itu marah, aku tak sanggup melihat wajahnya yang menyeramkan.

“Bagaiamana kau bisa menemukanku di sini?” tanyaku memberanikan diri. “Aku sudah memukul kepalamu hingga hancur.”

Malak tertawa. “Kau tahu, kami para siluman memiliki dua nyawa. Bahkan mitos di dunia kalian tentang kucing yang memiliki sembilan nyawa itu hampir benar, hanya saja para kucing memiliki dua nyawa seperti kami. Kau mempercepat perubahanku dengan membuang bangkaiku ke tempat sampah yang dipenuhi dengan keju busuk. Keju busuk itu menambah energiku, walaupun tidak terlalu banyak, tapi cukup untuk membuatku berlari sambil mengendus hingga menemukan toko roti ini. Aku membutuhkan lebih banyak keju lagi, dan di sini terdapat banyak keju, aku melumatnya sampai kekuatanku kembali. Aku merasuki tubuh temanmu sebagai inang tempat rohku bersemayam, karena untuk mencapai wujud sempurna aku membutuhkan tubuh manusia. Aku sudah menantikan hari ini HAHAHA,” tawanya menggema di seluruh penjuru ruangan.

Untuk ukuran tikus, kekuatan ekor Malak luar biasa. Ia sanggup mengangkat dan membawaku ke luar dengan mudah. Ujung ekornya menutupi mulutku sehingga aku tidak bisa berteriak minta tolong. Ke mana ia akan membawaku? Apa yang dilakukannya? Aku mulai berkeringat. Ia bilang akan membalas dendam, kenapa ia tidak cepat membunuhku?

“Kau harus merasakan penderitaan yang kurasa,” bisik Malak, matanya berkilat dengan kilau mengancam. “Sekarang giliranmu tiba, aku akan membiarkanmu berlari ketakutan kemudian mengejarmu dan memukulmu dengan palu besar ini sampai isi kepalamu bertebaran.”

Seketika, seluruh tubuhku bergetar dan terpelintir. Malak melemparku ke belakang mesin minuman. Dia gila. Kepalaku terasa sakit terhantam dinding keras. “Lari gadis kecil! Lari!” seru makhluk itu. Malak memekik dengan suara mendecit yang membuat darahku membeku. Aku mengusap kepala, dan melihat telapak tanganku penuh darah. Lukanya tak terasa perih, karena terhapuskan oleh rasa takut yang dahsyat.

Cerpen Karangan: Maulani Al Amin
Blog: Bengkuringweekly@blogspot.co.id
Namanya Maulani Al Amin. Tinggal di Samarinda, kota yang berjuluk Kota Tepian.

Cerpen Dendam Siluman Tikus (Part 1) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Horor Mencekam 2

Oleh:
Thata masih mengutak-atik laptop pemberian papanya. Jaman modern seperti ini bukan hal baru anak muda seperti thata sudah menikmati teknologi masa kini. Sementara adik tirinya novita yang masih kecil

Misteri Selendang Merah

Oleh:
vJam olahraga pun usai, aku dan dinda langsung cepat-cepat ganti baju olahraga kami dengan seragam yang biasa kami kenakan, karena hari ini adalah pelajaran pak said yang terkenal dengan

Kukuk Beluk (Misteri Burung Pemanggil)

Oleh:
Di desa terpencil yang jauh dari hingar-bingar modernisasi jaman terdapat binatang misterius, binatang itu adalah seekor burung bernama Kukuk Beluk. Warga desa kami menamai Kukuk Beluk karena suaranya seperti

O Seram

Oleh:
“AhhhHH…“, Teriakan Dewi mengagetkanku dan Alex. Dengan lincah Aku segera mencari Dewi yang barusan bilang kalau ingin cuci muka. “Kamu kenapa Dew?” Sambil membuka pintu Aku bertanya kepada Dewi

Ketika Aku Hilang (Part 2)

Oleh:
Tubuh mereka ada yang gemuk macam karung dan ada pula yang kurus kering seolah tulang-belulang saja. Yang mengerikan, tubuh mereka tak lagi berbentuk tubuh, maksudku, sudah membusuk, organ dalam

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *