Desa Berdarah

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Horor (Hantu)
Lolos moderasi pada: 4 April 2016

Empat sahabat Dina, Nita, Evi dan Sari mengendarai mobil sejenis Avansa menuju sebuah gunung. Di senja hari mereka melewati hutan dan mengobrol tentang kawasan ini yang angker tetapi Sari menyangkal karena daerah ini dekat desa.

“Apa? Desa? Tapi di peta ini nggak ada keterangan tentang desa? Kayaknya kita salah jalan deh.” kata Evi.
“Paling petanya nggak lengkap Vi.” kata Dina.
“Ya udah entar kita istirahat di desa itu.” Kata Nita.

Pada malam hari mereka memarkirkan mobil di bawah gapura desa yang terlihat kuno. Dari sana mereka dikagetkan oleh seorang nenek tua. “He!! Pergi kalian dari sini! jangan dekati tempat ini!!” teriak Nenek itu. Setelah nenek itu pergi mereka merasa sedikit bergidik terutama Evi. “Mendingan kita turuti aja Nenek tadi.” Saran Evi.
“Tenang Vi, nggak ada apa-apa kok.” kata Nita. Tiba-tiba sebuah pintu rumah besar terbuka dan keluarlah seorang nenek tua memakai kebaya tetapi tidak keriput, nenek itu memperkenalkan diri sebagai Nenek Pasutri. “Gadis gadis muda… mari datang ke rumahku untuk beristirahat.” kata nenek Pasutri dengan wajah tersenyum. Firasat Evi mengatakan di balik senyum nenek Pasutri tersimpan rencana jahat, tetapi dia segera menghilangkan prasangka itu dan menyusul teman-temannya masuk ke dalam.

Di dalam rumah itu sangat sepi dan penuh dengan ukiran. Nenek Pasutri segera mengantar mereka ke kamar, “Maaf saya mau izin ke kamar mandi, di mana ya Nek?” tanya Nita. “Lurus lalu belok kiri.” tunjuk nenek Pasutri. Nita baru menyadari bahwa lorong rumah nenek Pasutri sangat menyeramkan. Desiran udara mistis dirasakan Nita, sesekali dia melihat ke belakang dan saat melihat ke depan dia melihat seorang gadis desa yang pucat datang ke arahnya, Nita berteriak dan menutup matanya dan hantu itu pun hilang. Nita segera menyelesaikan urusannya di kamar mandi dan menceritakan kepada temannya. “Guys.. ternyata bener kata Evi, di sini itu nggak beres tadi aja gue lihat hantu gadis terus tiba-tiba hilang.” Kata Nita. Mereka setuju untuk pulang tetapi kamar itu sudah dikunci nenek Pasutri.

Kali ini mereka yakin kalau nenek Pasutri itu bukanlah orang baik. Evi pun membuka jendela yang menghubungkan dengan ruang tamu, di sana dia melihat tangan tangan yang mencoba memanjat dinding jendela kamar mereka, merka pun berteriak. Saat akan naik tempat tidur Sari merasa kakinya tidak dapat digerakkan, dia pun memandang ke bawah dan ternyata ada seorang gadis pucat dan mukanya berdarah sedang memegang kakinya. Sari dan teman-temannya yang melihat itu berteriak dan ketakutan. Dari balik pintu nenek Pasutri yang mendengar teriakan mereka tersenyum.

“Hi…hi.. malam ini saatnya Nyai Pasutri kembali muda.” Tawa nenek Pasutri. Pintu kamar terbuka dan hantu itu pun hilang, tetapi mereka malah bertambah ketakutan. Nenek Pasutri datang dengan wajah keriput. “Darah gadis muda seperti kalian akan berguna bagi kecantikanku hi..hi…” kata nenek itu. Dia menyeret keempat gadis itu ke ruangan besar dan mengikatnya, para sahabat itu pun meronta-ronta. “Kita harus menunggu jam 12 untuk berpesta darah hi..hi..” kata si nenek.

Dina, Nita, Evi, dan Sari menangis. Tiba-tiba datanglah nenek tua yang pernah melarang mereka di gapura. “Namaku Pakatri, aku akan menolong kalian. Adikku Pasutri sudah membunuh semua gadis di desa dan mengambil darahnya, maka dari itu desa ini tidak berpenghuni.” jelasnya. Dia segera melepaskan ikatan itu dan menyuruh mereka pergi. Keempat sahabat itu pun pergi dan tidak akan pernah kembali. Setelah tahu bahwa gadis-gadis itu pergi, nenek Pasutri marah dan tambah bernafsu untuk mencari darah, mukanya semakin keriput dan menyeramkan. Melihat itu, nenek Pakatri pergi.

Cerpen Karangan: Annisa Fitriana

Cerpen Desa Berdarah merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Manusia Manusia Gunung (Part 2)

Oleh:
Dyllan benar-benar pahlawan penyelamat. Dia tiba di halamanku tepat ketika aku melangkah pergi. “Ayo, jalan-jalan lagi.” Ajakku. Aku berjalan dengan langkah cepat mendahului Dyllan dan sepedanya. Aku yakin Dyllan

Tragedi Bunuh Diri

Oleh:
Di bawah langit yang mulai redup, ketika senja hampir saja beranjak, seseorang dengan keputusasaannya berdiri di atas pagar pendek pembatas jembatan, ia berdiri mematung berpijak pada lempengan besi yang

Mati Suri

Oleh:
Hai, namaku Ken. Aku duduk di kelas 7. Aku anak sebatang kara. Hujan atau panas pun aku selalu sendiri. Jarang ada yang menemaniku. Membutuhkanku hanya ada butuhnya saja. Ke

Chie Si Patung Hidup

Oleh:
Aku dapat mendengarnya, mendengar derap langkah itu yang semakin mendekatiku. Sudah ku duga, bersembunyi di dalam lemari sendirian itu memang tak aman. Tetapi di luar, lebih mengerikan daripada bom

Teman Khayalan

Oleh:
“Hei.. Kemari, bermain denganku. Aku telah mengambil jantung Ibuku, kau bisa nampak nyata sekarang.” — “Ibu. Belikan Roma mainan baru Bu, Roma kesepian, Roma tak punya teman bermain di

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *