Detective of Nuantara University

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Horor (Hantu)
Lolos moderasi pada: 22 June 2018

Sudah lima hari, Riska tak sadarkan diri sejak dia dan teman-temannya melakukan uji nyali di sebuah gudang yang berada di belakang kampus. Selama lima hari Riska tak kunjung sadarkan diri. Entah apa yang terjadi, keluarganya sangat cemas dengan keadaannya.
Karena itulah, aku berusaha untuk menolongnya agar Riska dapat sembuh seperti semula. Lalu ada yang menyarankan agar aku menemui orang yang paling hebat dan jenius di kampus. Namanya adalah Dei Putra Brawijaya, dia merupakan ketua dari klub penelitian ilmu mistis dan fenomena alam gaib.
Atas saran teman satu jurusan denganku itu, aku menemui orang yang bernama Dei itu, setelah jam kuliahku selesai.

Di tempat biasanya dia menyendiri dan berkumpul bersama anggota-anggotanya yaitu markas klubnya yang letaknya tidak begitu jauh dari gedung utama Nuantara University.
Kesan pertamaku bertemu dengannya adalah Dei ini orang yang misterius, dan menyebalkan dengan setiap perkataan yang dia keluarkan selalu mengandung nada sinis padaku. Ya walaupun malas mengakuinya dia adalah pria yang tampan, dengan didukung dengan ciri-ciri fisik yang ‘sedikit’ membuatku tertarik kepadanya. Sosoknya yang berperawakan tinggi dengan badan yang atletis. Berambut hitam dengan gaya jabrik acak-acakan. Dengan mata berwarna hitam yang sekelam malam. Dan kulit yang berwana putih. Selalu menggunakan setelan kemeja dan celana jeans berwarna hitam yang menambahkan kesan misterius kepadanya dan tak lupa sepatu flat shoes berwarna cokelat yang selalu setia membungkus kakinya. Dia juga termasuk tipe orang yang santai, cuek, dan selalu bertindak cepat saat menyelesaikan masalahnya, termasuk masalah Riska yang kuceritakan kepadanya. Tapi yang sangat menyebalkan darinya, ialah dia itu tipe orang yang memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan, contohnya saja ketika dia memintah bayaran tinggi atas usahanya dalam menolong Riska, Huft dasar orang yang selalu memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan.

Ternyata Dei ini memiliki sebuah kelainan di bagian matanya. Yaitu kedua matanya berbeda warna, mata sebelah kirinya berwarna merah sedangkan mata kanannya berwarna hitam. Mata kirinya yang berwarna merah itulah yang memiliki sebuah kekuatan khusus untuk melihat penampakan arwah dan hal-hal mistis lainnya. Kerena perbedaan warna itulah Dei selalu menggunakan lensa berwarna hitam di mata kirinya hal ini dilakukan oleh Dei agar tak diketahui oleh orang banyak.

Perbedaan mata Dei itu juga baru kuketahui setelah dia bertemu dengan Riska, dia mengatakan bahwa Riska dirasuki oleh sesosok roh yang baru saja meninggal dunia. Sosok roh itu bernama lengkap Dina Lestari. Dia mati karena kehabisan nafas dalam ruang kedap suara dan juga kedap udara yakni di ruang bawah tanah sebuah gudang tua di belakang gedung Nuantara University. Dia dibuang di ruang bawah tanah itu karena dia dikira telah mati, namun ternyata Dina hanya pingsan akibat sebuah pukulan keras di bagian belakang kepalanya. Setelah itu, dia sadar dan berusaha mati-matian untuk keluar dari ruang bawah tanah yang gelap itu. Tapi, usahanya itu sia-sia karena gelapnya ruangan itu sekaligus tenaga yang dimilikinya dan juga oksigen yang berada di sekitarnya mulai habis secara perlahan-lahan sehingga membuat Dina harus meninggal dunia dengan kehabisan oksigen di ruang bawah tanah itu.

Semua fakta tentang kematian Dina, baru kami ketahui. Setelah kami mengalami hal yang berbahaya saat memeriksa gedung tua di belakang kampus. Gedung tua yang menjadi akar dari semua masalah sehingga menyebabkan Riska jatuh sakit. Di gedung tua itu seseorang memukul Dei ketika dia mencoba untuk melindungiku. Sehingga menyebabkan Dei mengalami luka di bagian pelipis kirinya yang cukup parah. Tapi, untungnya kami dapat kabur dari gudang tua tersebut setelah Dei menendang si pelaku sehingga kami bisa keluar dari gudang itu. Setelah kejadian yang kami alami, Dei semakin gencar untuk menyelidiki gedung tua itu. Sedangkan aku sendiri mencari informasi mengenai Dina Lestari dengan bertanya dengan penghuni kampus. Kebetulan aku dan Dina seangkatan, bahkan juga satu jurusan. Dan juga aku sedikit mengenalnya.

Dalam usahaku untuk mengungkap kasus pembunuhan terhadap Dina, mengantarkanku kepada jurang bahaya ketika aku diajak oleh Dosenku yang bernama Wandy Pratama. Saat itu juga Wandy mencoba untuk membunuhku, karena aku dan juga Dei berusaha untuk mengungkap kasus pembunuhan ini.

Dan ternyata Wandy ini menyukai Dina. Maka dia mengajak Dina pergi ke gedung tua itu. Dina dipukul saat memberontak karena akan diperkosa oleh Wandy. Wandy pun lepas kendali sehingga memukul Dina dengan sangat keras hingga membuat Dina tak sadarkan diri. Melihat Dina yang tak sadarkan diri, Wandy pun panik dan menyangkah Dina mati. Lalu ia membuang Dina ke gedung tua di belakang kampus guna menghilangkan jejak Dina untuk sementara Waktu. Seperti itulah kronologis kejadian yang diceritakan oleh Wandy saat dia hendak menjatuhkanku dari atas gedung kampus.
Tapi, untungnya Dei datang dan menyelamatkanku karena ia diberitahukan oleh arwah kakakku yang telah meninggalkanku untuk selamanya karena sebuah kecelakaan saat dia berumur 17 tahun.

Ya aku merupakan anak kedua dari dua bersaudara. Tapi, kakakku meninggal saat dia menyelamatkanku dari sebuah kecelakaan dengan mendorongku sehingga dirinyalah yang tertabrak oleh mobil menggantikanku dan membuatnya meninggal di tempat. Sejak kejadian itu aku selalu menyalahkan diriku atas kematian kakakku. Padahal aku berharap kakak tak melakukan hal itu dan aku yang mengalami kecelakaan itu. Tapi, aku sadar itu sama saja aku melawan takdir yang telah dituliskan oleh yang maha kuasa. Namun mau bagaimana lagi aku benar-benar terpukul sejak kematian kakak. Aku merasa hidupku sudah tak berarti lagi saat itu.

Berkat kakak, aku selamat dari kejahatan Wandy. Bahkan Dei sudah merekam pengakuan Wandy itu dengan ponsel miliknya, saat Wandy ingin melenyapkanku. Untuknya aku selamat bahkan setelah dia meninggal, dia masih melindungiku.
Pada akhirnya, Wandy ditangkap oleh polisi dan mengakui semuanya kejahatannya di kantor polisi. Arwah Dina sudah tenang di alam sana sejak mayatnya ditemukan tak jauh dari gudang tua itu. Maka Dina dimakamkan secara layak oleh keluarganya. Lalu Riska pun sadar dan dinyatakan sehat oleh dokter. Tak lama kemudian, Riska sudah boleh pulang dan menjalankan aktifitasnya seperti biasa.

Sejak saat itu, hubunganku dengan Dei semakin dekat. Apalagi aku selalu menyeret Dei ke dalam masalah orang lain jika aku tidak sengaja mengetahuinya. Well, bisa dibilang aku adalah orang yang selalu ikut campur tentang masalah orang lain. Hingga menyeret Dei dalam membantu menyelesaikan masalah orang itu. Apalagi masalah itu menyangkut tentang penampakan arwah. Jadi, kurasa hanya Dei saja yang dapat menyelesaikan kasus-kasus yang berhubungan dengan penampakan arwah.

Seperti sekarang ini, Dei sedang berbincang-bincang dengan Yudistira Pratama, kepala kepolisian kota Srijaya. Setelah Dei membantu pihak kepolisian dalam menangani kasus pembunuhan terhadap tetanggaku, Sinta. Aku yang berada di tempat kejadian hanya dapat melihat dari kejauhan. Setelah berbincang dengan kepala kepolisian kulihat Dei dihampiri oleh salah satu anak buah dari Yudistira yang kuketahui bernama Reza, nampaknya mereka seperti membicarakanku karena mereka berbicara sambil melihatku entahlah aku tak tau apa yang mereka bicarakan. Dan tak lama kemudian Reza pergi meninggalkan Dei lalu kulihat Dei masih berdiam diri di sana.

“Dei!” panggilku.
Merasa namanya dipanggil olehku. Dei lalu menoleh kearahku dan menghampiriku. Setelah dia sampai di tempatku Dei pun berkata kepadaku “Aku cinta kamu, Insannia.” aku yang mendengarnya tentu saja kaget. Kedua mataku membulat secara sempurna. Mulutku ternganga lebar.
Hening.
Koridor apartemen itu sungguh sunyi. Tidak ada seorang pun yang terlihat, selain aku dan Dei.
Dan entah kenapa aku menjawab ungkapan Dei tadi dengan terbata-bata.
“A-Apa? Ka-Kamu cinta padaku, Dei?”
Kulihat Dei terdiam sejenak. Ia menatapku dengan datar.
“Sudah jelas, kan? Kamu sudah dengar apa yang aku katakan tadi. Aku tidak akan mengulanginya untuk kedua kalinya. Jadi, aku mau pulang dulu. Sampai jumpa, Insannia.”
Dan dengan senak jidatnya si Dei itu langsung pergi begitu saja dari hadapanku dan meninggalkanku yang masih terdiam karena perkataannya tadi.
“Eh, DEI! TUNGGU!” teriakku sekeras mungkin. “AKU JUGA CINTA SAMA KAMU, TAU!”
Kulihat langkah Dei terhenti setelah mendengar suaraku yang lantang dan menggema di koridor itu. Lalu Dei menolehkan pandangannya di sudut bahu kirinya.
Aku tersenyum. Rona merah tipis hinggap di kedua pipiku. Kemudian aku berlari kecil dan langsung memeluk pinggang Dei secara langsung.
Grep!
Tindakanku ini sontak membuat Dei kaget. Kedua matanya membulat. Dapat kulihat rona merah tipis muncul di kedua pipinya.

“Eh, Insannia?”
“Terima kasih, Dei”
“Untuk apa?”
“Terima kasih untuk semua pertolonganmu selama ini. Kamu sudah menjadi orang yang sangat berarti bagiku. Kamu selalu ada buatku. Terima kasih, Dei. Aku sungguh sangat beruntung bisa bertemu denganmu.”
Kulihat Dei tersenyum simpul sambil membalas pelukanku.
“Sama-sama, Insannia. Itu memang sudah menjadi tugasku.”

Kami pun berpelukan dengan erat di tempat itu. Kami saling meluapkan segala perasaan kami yang saling menyatu setelah menyelesaikan kasus kematian tetanggaku, Sinta. Dan entah kenapa aku mendengarkan suara kakak yang berkata “Terima kasih, dan sekarang aku bisa dengan tenang meninggalkan adik bodohku ini kepadamu.”. lalu kulihat Dei, dia seperti melihat seseorang dan mengangguk. “Terima kasih kak, sudah menjagaku selama ini, dan sekarang aku telah menemukan tujuan hidupku.” Ucapku dengan suara pelan berharap kakak dapat mendengarnya. Lalu kudekap Dei dengan erat dan kutenggelamkan kepalaku di dada bidangnya. Berharap hal yang terjadi dulu kepada kakak tak akan terulang lagi, dan Dei tak akan meninggalkanku sampai waktu yang memisahkan kami. Amin.

Cerpen Karangan: Adha Wahyudi
Blog / Facebook: Muhammad Adha Wahyudi
Penulis pemula dengan nama Muhammad adha wahyudi yang lahir di kota empek-empek.

Cerpen Detective of Nuantara University merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Kejujuran Yang Tertunda

Oleh:
Di sebuah daerah ada seorang gadis yang begitu cantik, dia bernama Alisa. Warga sekitar biasa memanggilnya dengan sebutan Alis. Alisa adalah seorang gadis yang ramah, baik hati dan rendah

The Rain

Oleh:
“Kamu gak pulang Sin?” kata Rama. “Iya tapi aku baru nungguin Pak Tarno buat jemput aku.” kataku. “Bareng aku aja yuk.” kata Rama. “Tapi Ram?” kataku. “Ayo keburu deras

Komunikasi Obat Rasa Sakit

Oleh:
Begitu berat yang kurasa saat jari jemariku harus mengetik kata-kata agar dapat terhubung lagi, takut dia tidak membalas pesanku, setelah lebih dari delapan bulan yang lalu kita memutuskan untuk

Menghapus Benci

Oleh:
Hari masih pagi kala itu. Matahari sudah terbit namun sinarnya masih belum terlalu menyengat. Langit sangat cerah dan udara sejuk, sehingga cukup banyak orang bersantai di sekitar taman. Mulai

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

2 responses to “Detective of Nuantara University”

  1. Nayaka Ayudia says:

    Kota palembang kali bukan kota empek – empek

  2. Mawarinara says:

    Plotnya sama persis dengan detektif Yakumo episode 1. 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *