Di Balik 13

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Horor (Hantu)
Lolos moderasi pada: 25 March 2016

Semilir angin malam menyapu debu-debu kusam halaman apartemen wiraswara No.13 jalan Ahmad Yani jakarta timur itu. Pohon-pohon bergetar dan dan menjatuhkan daun daun kering. Beberapa kali terdengar suara lolongan anjing yang membuat suasana malam ini semakin mencekam. Derik suara jendela jendela kamar yang terbuka itu membuat hati Nirmala semakin kacau. Dari puluhan kamar yang ada di apartement ini hanya kamar Nirmala yang masih menyala terang namun sedikit redup. Enggan rasanya ia untuk sekedar ke luar, suasana di luar saat jam-jam malam seperti ini memang sangat mengerikan. Namun, di sisi lain Nirmala semakin merasakan sesuatu yang janggal di kamarnya malam ini. Beberapa kali ia merasakan ada sesuatu yang diam diam mengawasinya.

“Mungkin ini cuma perasaanku..”
“Mungkin aku terlalu banyak pikiran sehingga jadi tak tenang begini..”

Beberapa kali Nirmala menenangkan hati kecilnya. Namun rasa tak nyaman ini semakin menggebu tatkala ia mulai mendengar ada suara langkah kaki semakin mendekat. Suasana hati Nirmala semakin berubah-ubah dan menggila. Dentuman-dentuman keras mengaung di kepala pikirannya, tubuhnya semakin berkeringat karena ketakutan.

Tok! Tok! Tok!

“..Tidak..”
Kini ketakutan Nirmala sudah pada batasnya, ingin sekali ia untuk menjerit. Berdiri saja ia tak mampu, apalagi ia harus membukakan pintu itu, Nirmala benar-benar bingung dan resah. “Adakah orang di dalam?” Kepala Nirmala sedikit mengintip di balik selimut tebalnya itu. Suara itu nampak tak asing bagi Nirmala.

“Nirmala! Apa kamu ada di dalam?”
“Wulan?” itukah suara Wulan atau suara makhluk lain?
Dengan gugup Nirmala berdiri dan berusaha dengan benar membuka pintu itu walau tangannya jelas-jelas terlihat bergetar. “Wu..” belum sempat Nirmala berkata, gadis berkacamata di depannya itu langsung berkata.
“Apa kamu tahu, aku sangat ketakutan di luar?”
Tanpa menunggu lama, Nirmala langsung mempersilahkan sahabatnya itu untuk segera masuk.

“Aku tak yakin untuk ke sini lagi di malam hari,” gumam Wulan sembari mengambil posisi duduk di sofa depan tv.
“Bagaimana bisa kamu tersesat ke mari di malam hari begini, Wulan?”
Nirmala datang dengan membawa teh hangat dan beberapa cemilan, setidaknya sekarang ia merasa lebih tenang.
“..Ah andai kamu tahu apa yang aku alami barusan, aku hampir tak bisa pulang.” kata Wulan sedikit berderu.
“Memang apa yang terjadi?”
“Heh.. Inilah susahnya jadi cewek jomblo Nir, pulang kerja gak ada yang nganterin.”
“Jadi kamu baru pulang kerja? Jam segini?” Nirmala melirik jam dinding di sebelahnya. Pukul 12.03 bukanlah malam lagi. “Um, tuntutan pekerjaanlah yang membuatku lupa waktu.”

Setidaknya Nirmala tak begitu kaget lagi, sahabatnya ini memang seorang worker hard, hebat memang, tapi Nirmala tak begitu habis pikir. Wulan adalah sosok perempuan yang kalem, kutubuku namun jenius, ia begitu mengenali Wulan.
“Apartement kamu setidaknya yang paling dekat dengan tempatku kerja, walau aku harus rela berjalan malam ke sini,”
“Ngomong-ngomong sepi juga ya di sini, ups! Apa aku boleh numpang mandi.”
“Tentu, tapi aku izin tidur dulu ya, udah ngantuk berat, tidak apa apa kan?”
Wulan tersenyum, dengan cepat Nirmala segera masuk ke kamarnya dan mengambil posisi tidur.
“Oh ya kalau kamu mau tidur, langsung aja ke kamarku, di sini cuma ada satu kamar.”

Wulan tersenyum lagi, ia sangat terbiasa dengan sikap sahabatnya itu. “Hm..” Wulan menggumam kecil.
Namun tiba-tiba ia merasakan sesuatu, sesuatu yang tiba-tiba seolah mengawasinya.
“Mungkin cuma perasaanku..” Wulan berusaha menenangkan hatinya.
Tak menunggu lama, Wulan langsung menutup pintu kamar mandi.

“Huaaaaaaaaa..!”

Gelap, suara siulan angin menggeliat meraungi pikiran Nirmala. Nirmala terbangun dengan terkaget-kaget. Baru saja ia mendengar seseorang menjerit, jeritan yang begitu mengerikan, dan seakan akan suara itu selalu berulang-ulang di kepala Nirmala. “Wulan?” Nirmala meraba-raba di sekitar ranjang. “Ah sial! Di mana gadis itu?” Perasaan takut dan kesal bercampur di hatinya saat ini, di sekelilingnya kini hanya kegelapan yang ada, Nirmala tak tahu ini itu mati lampu atau apalah, karena kini pikirannya begitu kacau.

Duak!

Suara seperti seseorang yang terlempar itu membuat Nirmala semakin ketakutan, suara itu seperti berasal dari dapur apartementnya. Dengan ketakutan yang menggebu Nirmala berusaha mengendap-ngendap mencari sumber suara. “Akhh..” Suara mendesis itu, suara seorang perempuan yang terdengar kesakitan itu. Wulan! Tubuh Nirmala begitu bergetar, ia berusaha mengintip sesuatu di balik celah pintu ruang dapur itu dan.. “Hua!!” Nirmala hampir menjerit keras tatkala melihat itu, namun tiba-tiba sebuah telapak tangan menutupi mulutnya, ada seseorang di belakang Nirmala.

“Tenanglah, aku harap kamu bisa diajak kerja sama agar temanmu itu ingin selamat..”
Bisik seseorang di belakang tubuh Nirmala, nampak ia berusaha menenangkan Nirmala.
“Si-siapa kau..??” bisik Nirmala pelan. Nirmala benar benar ketakutan.

“Itu tidaklah penting, setidaknya jika kamu ingin selamat kamu harus ikuti kata-kataku, seseorang di balik pintu dapurmu itu bukanlah orang biasa.”
Pria itu berdiri dan menarik Nirmala untuk ikut berdiri.
“Jadi.. Apa yang harus aku lakukan sekarang?”
“Masuk ke dapur!”
“Kau gila ya!”
“Apa kau tak ingat kata-kataku?”

Nirmala menelan ludah, berusaha untuk mencerna semuanya, tapi.. Kini ia benar-benar takut, entah mengapa hati Nirmala berkata bahwa ia percaya pria itu. Percaya! Dengan bergetar Nirmala membuka pintu dan masuk, spontan ia menghidupkan saklar lampu di depannya. Hu-hua.. Batin Nirmala ingin menjerit karena ia benar-benar takut, takut melihat apa yang ada di depannya itu.

Sosok seseorang berpakaian serba hitam seperti jubah sedang berdiri tegap membawa pisau berlumuran darah, tatapannya sangat tajam menatap Nirmala, Nirmala hampir saja pingsan tatkala ia melihat sahabatnya, Wulan tergeletak tak sadarkan diri antara mati dan hidup, tubuhnya penuh dengan darah! Nirmala tak kuasa lagi. Sosok misterius itu mulai maju langkah demi langkah, suara hentakan spatu bot-nya sangat keras menyayat pendengaran Nirmala, spontan Nirmala berjalan mundur, semakin mundur. Namun naas tubuh Nirmala kini menabrak tembok. Otomatis kini tiada tempat Nirmala untuk menjauh. Sosok misterius itu tersenyum, ia memainkan mata pisau berlumuran darah itu di telapak tangannya. Dia semakin dekat, dekat dan akhirnya tepat berdiri setengah meter di hadapan Nirmala. Dan..

Jlebb!

“Huaaaaaaaa!!!” Nirmala menjerit keras, darah merah itu mengalir deras dari perut sosok misterius itu, pria yang tadi itu ada di belakangnya, nampak ia menancapkan sesuatu. Pisau! “Sekarang sudah selesai..Tak akan ada korban lagi setelah ini..” Sosok misterius itu terjerembak tersungkur, ia nampak kesakitan namun tiada suara yang ke luar dari mulutnya itu. Namun entah mengapa Nirmala bisa merasakan sesuatu aura kegelapan yang menghilang dari tubuhnya itu. “Kerja bagus.” pria itu menepuk bahu Nirmala.

Hembusan angin sore mengalir melewati pori-pori kulit, pohon besar itu bergoyang pelan terkena hembusan angin. Akibatnya daun daun kering pohon itu terbang melewati hamparan padang rumput. Nirmala duduk berdua bersama Angga, pria yang menyelamatkannya malam itu. Mereka duduk di kursi taman sebelah pohon besar dan di bawah sunset yang maha indah. Nirmala menindihkan kepala di pundak Angga, karena kini ia benar-benar merasa aman dan tenang apabila di sisi pria jangkung itu.

“Sosok yang hampir membunuh sahabatmu dan kamu itu adalah Liliana, gadis psikopat yang sudah sejak lama mengawasi apartemen Wiraswara No.13 itu, apa kamu tahu? Ia sebenarnya adalah kekasih dari seorang yang pernah tinggal di kamar apartementmu sebelum kamu, hingga terjadi suatu masalah besar hubungan mereka. Kamar itu adalah saksi bisu apa yang terjadi, dan akhirnya setelah membunuh kekasihnya yang ketahuan selingkuh itu, Liliana bertekad akan membunuh siapa saja orang yang memakai kamar apartement itu.”

Angga mengambil napas sebentar. “Kadang cinta akan menimbulkan kebencian, karena itulah aku tak percaya pada cinta. Karena aku tak mau pada akhirnya ada yang membenci cintaku..” Nirmala memandang wajah Angga, ia melihat aura harapan yang pekat, Nirmala tak tahu apa itu, membuatnya semakin nyaman jika di sisi Angga.
“Aku butuh ketulusan bukan cinta..” Angga tersenyum. “Banyak kasus-kasus pembunuhan beralasan cinta yang aku tangani, jadi, setidaknya aku bisa melihat, mengerti, dan belajar dari itu semua.”

Burung-burung kecil di pohon besar itu menyiul dan bernyanyi semakin menambah nyaman suasana sore itu.
“Jadi.. Kamu benar-benar tak percaya cinta?” Nirmala bertanya.
“Tidak sama sekali.” Nirmala ingin menangis, bukan kesedihan, namun sesuatu hal lain yang hanya bisa dijawab dengan perasaan. Hub! Nirmala memeluk Angga dengan kuat, hatinya bilang bahwa ia tak mau kehilangan seseorang yang telah menggetarkan hatinya itu. “Aku akan menjadi ketulusan untukmu, karena kamu adalah cintaku.”

Selesai

Cerpen Karangan: GP. Arifin
Blog: Http://gparifincerpen.blogspot.com

Cerpen Di Balik 13 merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Takkan Percaya

Oleh:
“Dokter!,” panggil seseorang saat Felly hendak memasuki mobilnya. “Iya?,” tanya Felly. “Anda ada jadwal dengan pasien hari ini.” “Pasien? Saya free hari ini.” “Iya saya tahu. Awalnya, memang begitu.

3 Sahabat dan Adik Masa Lalu

Oleh:
“Hufffttt” kata ketiga gadis remaja ini sambil membaringkan tubuh mereka ke sofa (karena mereka tinggal di rumah yang sama). Mereka adalah anggita, pipit dan riska, 3 sahabat yang tak

Dia

Oleh:
Hari-hariku bersama teman baruku terkesan biasa saja. Mereka terlalu sibuk dengan urusan mereka sendiri, bahkan untuk menyapa pun seakan tidak ada waktu. Hampir sebulan aku hanya duduk di bangkuku

Bunga Tulip Menjemput Senja

Oleh:
Renita Puspita Sari, itulah nama kekasih hatiku. Tetapi aku sering memanggilnya Rere. Dia adalah gadis yang cantik dengan kesederhanaan tampilannya. Meski ia tergolong gadis yang manja, tetapi ia sangat

Pelabuhan Cinta

Oleh:
Sore itu hari kamis gerimis. Ada yang berbeda pada suasana kali ini. Meski mendung entah mengapa terasa hangat? Aku turun dari bus, tanganku yang memegang buku ku jadikan pelindung

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *