Di Balik Keheningan (Part 1)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Horor (Hantu), Cerpen Thriller (Aksi)
Lolos moderasi pada: 30 October 2018

Detik jarum jam bagaikan alunan simponi bagiku. Sepi dan menyedihkan. Diam, aku hanya bisa diam ketika semua orang mencelaku. Dari sekian banyak orang di sekolah, mungkin tidak ada yang menyukaiku. Mereka selalu bilang orang yang tidak bisa bicara sepertiku tidak pantas untuk bergaul dengan siapapun. Aku tahu aku tidak sempurna, bahkan aku jauh dari sempurna. Miskin, jelek, dan bisu, yang bisa kuandalkan hanya kepintaranku. Terbukti dengan diterimanya aku di sekolah favorit ini dengan beasiswa karena nilai-nilaiku yang besar.

Senang, namun juga sedih, karena di sekolah ini aku tidak pernah benar-benar diterima. Dari ratusan siswa, mungkin hanya aku yang selalu sendiri. Menyendiri dalam keheningan. Cibiran dari mereka yang selalu menghinaku menyapa telingaku setiap harinya, membuatku merasa jengkel. Cacian dan makian berulang kali dilontarkan mereka padaku. Tak peduli sedikitpun tentang perasaanku sebagai manusia yang memiliki akal dan perasaan. Layaknya binatang yang hanya diam jika dimarahi.

Kesuksesan, itulah yang kucari. Namun sekarang terasa, kesuksesan itu hanya bayang-bayang semu bagiku. Kesuksesan bagaikan langit dan aku adalah buminya. Sangat sulit bahkan hanya untuk menyentuhnya.

Hening dan sunyi. Aku duduk di depan sebuah loker. Memandang cahaya matahari yang muncul dari sela-sela tirai jendela yang belum dibuka. Memikirkan apa yang harus aku lakukan setelah ini, menghadapi orang-orang yang selalu mencelaku. Suara tetesan air hujan yang beradu di luar sana terdengar jelas. Kutatap langit yang kelam, menggambarkan bagaimana perasaanku saat ini. Baru saja mereka merusak buku-bukuku. Memang hanya buku bekas, aku tidak bisa membeli buku yang baru karena untuk makan saja, sudah sulit bagiku. Ku buka sebuah buku yang satu-satunya masih baru dan kutulis sesuatu di dalamnya.

Air mata terus menetes ditengah kesedihanku. Kucoba untuk berdiri dan kembali ke kelas. Guru Biologi yang terkenal galak itu sudah mulai mengajar. Beberapa orang di belakang sana memperhatikanku dengan tatapan tajam penuh kebencian. “Dari mana kamu Shel?” tanyanya. Aku menunduk, tentunya tak bisa mengatakan apa-apa karena aku bisu.
“Mungkin dia bolos.” ucap seorang gadis dengan sorot mata tajam di pojok sana. Guru itu langsung menatapku. “Shel. Kali ini ibu memaafkanmu. Cepat duduk dan buka bukumu.” ucapnya. Aku lalu berjalan menuju kursiku, untungnya kali ini aku dibebaskan dari hukuman. Di mejaku terdapat banyak coretan yang berasal dari tangan jahil teman-temanku. Tidak, mereka bukan teman. Mereka adalah orang-orang yang memusuhiku. Kuambil buku dari tasku dan kubuka. Tak kusangka bukuku basah. Tulisannya pun sudah tak terbaca.

Sesak rasanya membayangkan apa yang mereka lakukan, apa lagi yang akan mereka lakukan setelah ini padaku. Mulai dari mengejekku di awal semester, merusak barang-barangku, menyakitiku, dan bahkan mungkin mereka akan membunuhku nantinya. Aku menatap ke luar, menyaksikan air-air hujan turun ke bumi. Kapan aku bisa jadi seperti hujan? Berjalan lurus untuk mencapai tujuan tanpa ada halangan. Menembus semua yang menghalangi jalannya. Dengan percaya diri dan tidak takut akan apapun terus berjalan sampai akhirnya, jatuh ke tanah. Kuhela napasku, dan kuperhatikan guruku yang sedang menulis satu per satu huruf di papan tulis putih yang mengkilat itu.

KEESOKAN HARINYA
“Shella. Bawa bekalmu. Ibu sudah menyiapkannya.” ucap ibuku, seorang wanita yang sederhana, lembut, dan sabar. Tak pernah sedikit pun beliau mengajarkanku untuk membalas orang-orang yang jahat padaku. Sedikit senyuman kusematkan ke wajahku sembari memasukkan bekal berisikan nasi putih dan beberapa potong tempe dan tahu di dalamnya. Aku tidak membawa uang jajan karena kondisi kami yang pas-pasan. Ibuku seorang penjual kue di pinggiran jalan dan ayahku bekerja entah di mana. Dia tidak pernah kembali sejak dia pergi sepuluh tahun yang lalu. Ibuku bilang dia akan kembali nanti. Mungkin dulu aku mempercayainya, namun sekarang aku tahu kalau ayahku tidak akan kembali ke sini lagi. Aku menghela napasku dan menngucapkan salam dengan isyarat pada ibuku lalu berangkat ke sekolah.

Aku melangkahkan kakiku menyusuri bagian belakang sekolah, aku selalu masuk lewat jalan belakang. Aku tidak ingin bertemu dengan orang-orang itu. Rasa takut membayang-bayangiku ketika mereka berada di depanku. Aku yakin, mereka akan melakukan sesuatu padaku ketika mereka bertemu denganku. Aku bagaikan bersekolah di neraka. Neraka yang mereka ciptakan untukku, hanya untukku karena aku miskin dan cacat.

Kualihkan pandanganku ke depan. Tak kusangka mereka berada di depanku. “Hi.” ucap salah satu gadis bernama Lynda, rambutnya lurus dan panjang, dengan aksesoris-aksesoris mewah di tubuhnya, mulai dari kalung, gelang, cincin dan lain-lainnya. Dia kaya dan punya segalanya, termasuk kedua temannya itu dibelinya dengan uang. Lagi-lagi aku bingung, bagaimana aku harus menghadapi mereka hari ini. Di depan orang saja mereka berani menyakitiku, apalagi saat aku sendiri di sini. “Shella. Kalau dipanggil jawab donk!” bentaknya. “Oh kamu lupa ya Lyn. Dia kan bisu, haha.” ucap temannya Salsa. “Oh iya lupa.” ucap Lynda lalu mendekatiku dan menjambak rambutku. Sakit, tapi aku tidak bisa melakukan apa-apa. Berbicara pun aku tidak bisa. Itu mempersulitku karena tidak bisa memanggil orang-orang untuk menolongku. Jika aku bisa memanggil mereka pun, mungkin dan pasti tidak ada yang peduli padaku.

Mereka lalu mulai mulai mengambil tasku dan menuangkan barang-barang yang ada di dalamnya. “Semuanya barang bekas. Oh My God. Ayo pergi.” ucap Lynda pada temannya. Aku perlahan-lahan mengambil barang-barangku yang sudah berhamburan di tanah. Kuambil buku-buku serta kotak pensilku dan kumasukkan kembali ke dalam tas. Kulihat bekal yang sudah susah payah disiapkan ibuku berhamburan di tanah. Aku mulai menangis lagi, kenapa aku yang menjadi korbannya? Aku ingin pindah dari sini, namun aku tidak punya cukup uang untuk pindah ke sekolah baru.

Di sini memang gratis, tapi aku tidak bisa menahan rasa sakit yang ditimbulkan oleh perbuatan mereka semua padaku. Aku sangat ingin keluar dari sekolah ini, namun jika aku memutuskan untuk keluar, aku tidak akan bisa bersekolah lagi. Berkali-kali aku melaporkan mereka pada guruku, namun guruku tidak mempercayaiku. Dia menyuruhku membuktikan kalau mereka benar-benar melakukan itu padaku. Saat kutunjukkan barang-barangku pada guruku, mereka mencari alasan untuk lolos dari masalah ini. Dan lagi-lagi aku tidak dipercaya.

Jam Istirahat.
Kucoba membuka bekalku hari ini. Isinya sudah bercampur dengan pasir. Perutku terasa sangat lapar. Aku hanya bisa menatap mereka yang makan di kelasku. Tahan, aku harus menahan rasa lapar ini. Kudengar suara langkah kaki semakin dekat dan mengarah ke arahku. “Anak satu ini tidak makan yah? Haha orang misikin sepertimu, kasihan sekali.” ucap Lynda.

Aku terus menahan rasa kesal, takut, dan sedihku. Kulihat Selly temannya Lynda mulai mengeluarkan sebuah gunting. “Rambutmu panjang, hitam, dan tebal. Kau tidak akan punya uang untuk merawatnya. Aku bisa membantumu.” ucapnya. Salsa menarik rambutku dan Selly yang mengguntingnya. Aku ingin sekali berteriak, namun tidak ada satu kata pun yang keluar dari mulutku. Sedikit demi sedikit rambutku jatuh ke lantai. Tak ada rasa penyesalan dan kasihan yang dirasakan mereka yang memperlakukanku seperti itu. Setelah berhasil mengunting rambutku, mereka lalu tertawa puas dan mendorongku hingga jatuh ke lantai.

Kulihat potongan-potongan rambutku yang berserakan di lantai. Kuambil dan kuraba rambutku yang sekarang. Pendek dan berantakan. Lagi-lagi aku hanya menangis. Bahkan tidak ada satupun orang yang kasihan padaku. Mereka hanya melihatku diperlakukan seperti itu dan setelah semuanya selesai, mereka kembali sibuk dengan kegiatan masing-masing.

Rasa kesal menghantuiku, aku ingin sekali balas dendam. Aku tidak bisa bicara bukan berarti tidak bisa berbuat jahat seperti yang mereka lakukan padaku. Kuambil tasku dan keluar dari kelasku.

Kulihat mereka bertiga sedang bersenang-senang. Aku dengar mereka sedang membicarakanku. “Rambutnya. Haha setelah ini apa lagi yang harus kita lakukan padanya?” tanya Salsa. “Lihat saja nanti.” ucap Lynda sambil menghela napasnya. Aku menatap mereka dengan tatapan penuh kebencian. “Oh dia di sana. Wah ada apa dengan tatapannya itu?” tanya Selly. “Entahlah. Ayo pergi!” ucap Lynda.

Malam harinya
“Bu. Permisi ke toilet.” ucap Selly. Tepat, saat ini saatnya untuk aku keluar. Kutatap kursi-kursi tak berpenghuni di belakangku, beberapa orang tidak masuk, tentunya itu mempermudah seluruh rencana yang telah kususun. Aku mengangkat tanganku dan menuliskan beberapa kalimat. “Aku tidak enak badan, boleh aku ke UKS?” tanyaku dari kertas itu. “Pergilah.” ucap guruku. Aku berjalan keluar dan dengan senang hati mengikuti Selly. Rasa takutku hilang, bak mentari ditelan senja.

Kuambil pisau dan kudekati dia saat sudah berada di dalam toilet. “Kenapa kau ke sini?” tanyanya padaku. Aku tersenyum, entah kenapa aku merasa sangat senang. Aku mendekatinya perlahan untuk membuatnya takut. Dia semakin ketakutan dan mendorongku. “Pergi! Gadis cacat.” ucapnya. Mendengar hal itu, aku mengambil pisauku dan menusukknya tepat di perutnya.

Darah segar menetes ke lantai saat aku mencabut pisaunya. Melihat itu sungguh membuatku sangat bergairah dan bersemangat. Baru kusadari hal itu sangat menyenangkan. Menyaksikan orang yang kubenci mati di depanku. Kulihat Selly belum mati, ia masih berdiri dan menatap ke arahku. Kudekati dia dan kugoreskan pisau pada wajahnya yang cantik itu.
“Shel… shell.” ucapnya. Aku tersenyum puas. “Shella? Ka..mu? Ahh…” ucapnya terbata-bata lalu terjatuh di lantai. Kugoreskan lagi pisau itu di dekat tenggorokannya dan ******* dengan sekuat tenaga hingga darah-darah darinya bergelinangan di lantai. Kuputuskan untuk mengakhiri ini dengan ******* mulutnya. Keadaannya sudah sangat mengenaskan. Ia pantas untuk mendapatkan ini.

Ini semakin membuatku semangat. Inilah hidupku, hidup yang penuh dengan kebebasan. Kulihat gadis yang awalnya sangat cantik itu menjadi sangat jelek. Mulutnya ***** sampai ke telinga. Bajunya yang awalnya putih menjadi merah penuh dengan darah. Lantai yang putih bersih menjadi kotor. Dia kejang-kejang, kelihatnya sangat kesakitan. Tak lama kemudian dia berhenti bergerak dan aku pun bergegas keluar sambil tersenyum puas.

Berita tentang kematian Selly pasti akan menyebar luas. Tidak ada barang bukti, maupun CCTV di daerah sekitar toilet. Ini membuatku sangat senang. Kubuka loker Selly dengan kunci yang kuambil dari saku bajunya dan kuambil ponselnya.

Cerpen Karangan: C. Hanna
Ig: 21_CHN
Let’s Be Friend ^^

Cerpen Di Balik Keheningan (Part 1) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Psycopath

Oleh:
Mataku terbuka perlahan. Aku mencoba mengingat kejadian sebelum aku pingsan tadi. Tidak!. Sekarang aku ada di mana?. Di sebuah ruangan yang penuh dengan potongan tubuh manusia. Kedua tanganku dirantai,

Ternyata Tidak Ada Hantunya

Oleh:
“Haha, bilang saja kau tidak berani.” ledek Ardi pada Dimas. “Ti-tidak kok! Aku hanya tidak ingin membuang waktuku sia-sia!” sanggah Dimas. “Oh begitu.. Lalu, Deni? Kau mau tidak?” ujar

Kutunggu di Pintu Akhirat (Part 5)

Oleh:
“Ibu.. Ibu kenapa?! Apa yang tidak tenang…?!” Dewi garuk-garuk kepala semakin tidak mengerti dengan sikap Bibi Siti. “Gadis muda…” ucap Bibi Siti. “Tentu, tentu kau tidak mengerti. Diangga.. Diangga

Kejadian Pukul 1 Pagi

Oleh:
Luna adalah seorang penyanyi bayaran yang sering tampil di acara pernikahan. Suatu ketika, Luna manggung di acara pernikahan yang dilangsungkan malam hari. Luna pun datang ke acara pernikahan tersebut

Buku Berdarah

Oleh:
18 oktober 2007 Di ruang kelas pulang sekolah… Semua siswa-siswi sudah pulang, kecuali Dita dan Shilla. Sebelum pulang mereka diminta menempelkan hasil karya para siswa-siswi di mading. Kemudian turun

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *