Di Kursi Itu

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Horor (Hantu)
Lolos moderasi pada: 15 July 2019

Sesampainya di kamar aku menyalakan lampu tidur, mematikan lampu utama, kemudian menyamankan diri di kasur. Hanya di kamar lah aku merasa aman dengan kondisi gelap hampir total seperti ini. Bukan karena takut hantu atau apa pun, tapi kegelapan itu tidak pasti. Apa pun bisa terjadi sebelum kau benar-benar siap. Betul sih, kalau apa pun bisa terjadi itu berarti juga termasuk hantu. Tapi aku tidak terlalu percaya dengan yang seperti itu. Meski begitu, harus kuakui bahwa gagasan tentang hantu terkadang juga menakutiku.

Aku menghadapkan badan ke kiri. Setelah aku melihat kursi belajarku di seberang kamar aku mendengus kesal. Lagi-lagi aku lupa memasukkan kursi putarku ke bawah meja. Posisi kursi itu sekarang menghadap lurus ke arahku. Aku tahu ini konyol, tapi hal itu menjadi salah satu hal yang membuatku tidak bisa tidur di malam hari. Ya, saat malam seperti ini aku takut dengan kursi kosong yang menghadap langsung ke arahku. Sebetulnya kata ‘takut’ itu terlalu kuat, hanya saja aku merasa tidak nyaman dengan kehadiran kursi dalam posisi semacam itu sebelum aku tidur. Seolah ada seseorang tak kasat mata yang sedang duduk di situ dan mengamatimu sepanjang malam.

Biasanya aku akan berdiri dan memasukkan kursi itu ke dalam meja. Kali ini aku membalikkan badan ke kanan dalam upaya melawan ketakutan itu. Tapi rasa tidak nyaman itu malah semakin menjadi-jadi. Setidaknya dengan melihat langsung ke kursi itu aku tahu bahwa di sana memang tidak ada orang. Tapi dengan memalingkan badan seperti ini segalanya jadi tidak pasti. Bagaimana jika benar ada orang di sana? Aku memang tidak percaya pada hal-hal tak kasat mata macam itu, tapi entah mengapa pikiran-pikiran itu tidak bisa pergi dari benakku.

Aku memejamkan mata, berusaha mengabaikan perasaan-perasaan itu. Rasa lelah yang kurasakan seharian ini seharusnya juga membantuku tidur. Tapi tidur juga tak kunjung datang. Lima menit berlalu. sepuluh menit. Kemudian lima belas menit. Setidaknya selama itu yang kurasakan.

Dengan kesal aku beranjak dari kasur dan memasukkan kursi belajarku ke bawah meja, membelakangi kasur. Aku kembali ke kasur dengan sama kesalnya. Kesal karena lagi-lagi tidak bisa mengalahkan rasa takut itu.

Kali ini tidak masalah jika aku tidur menghadap ke kanan membelakangi kursi. Aku sudah memastikan kursi itu berada di bawah meja.
Tidur akhirnya menghampiri. Hampir. Namun ada suara berderak roda yang berjalan di lantai. Tidak mungkin. Tidak mungkin, kan? Tidak mungkin itu benar-benar kursiku yang berjalan sendiri.

Perlahan aku membuka mata dan memutar badanku ke kiri. Suara roda itu perlahan berhenti. Ruangan kamarku kembali sunyi. Dan yang kukhawatirkan ternyata benar. Kursi belajarku berada jauh dari meja sejauh kira-kira setengah meter.
Aku menelan ludah. Kupandangi kursi itu. Setidaknya posisinya masih membelakangiku. Kupandangi juga tempat-tempat di sekelilingnya, berusaha mencari pembenaran ilmiah mengapa hal itu bisa terjadi.

Aku tidak bisa memberanikan diriku berdiri dan meletakkan kursi itu ke tempatnya lagi. Mungkin lantainya licin, kata otakku berusaha menenangkan jantungku yang mulai berdetak kencang. Tampaknya tidak berhasil.

Tidak berani berbuat apa-apa, aku perlahan memalingkan badan ke kanan dan menarik selimut hingga ke kepala. Selimut ini tidak terlalu panjang. Aku merasakan kakiku tiba-tiba dingin karena selimutnya ditarik terlalu tinggi. Kutarik kakiku masuk ke selimut. Sekarang posisiku sudah benar-benar meringkuk di bawah selimut seperti janin.

Di tengah kesunyian aku mendengar suara berderit lirih. Setelah kejadian sebelumnya aku tidak bisa tidak memikirkan hal yang aneh-aneh. Setelah sebelumnya kursi itu berjalan sendiri, pasti lebih mudah bagi kursi itu untuk berputar sendiri.

Tanganku mencengkeram selimut dengan erat tapi sambil menariknya ke bawah hingga sebatas leher. Kuputar kepalaku ke belakang badan. Benar saja, kursi itu sedang berputar perlahan ke arahku.

Aku terperanjat duduk dan beringsut bersandar ke tembok saat aku melihat sepasang kaki perempuan yang sedang disilangkan. Detak jantung dan tempo nafasku sudah tidak bisa lagi dikendalikan.
Kemudian kursi itu berputar dengan cepatnya. Mengarah lurus ke arahku.

Di sana duduk seorang wanita. Tidak ada hal lain yang kuperhatikan selain senyumnya yang aneh dan matanya yang kosong karena setelah itu aku sudah tak sadarkan diri.

Cerpen Karangan: Agra Haydar
Facebook: facebook.com/AgraHaydarAllam

Cerpen Di Kursi Itu merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Tikus Mutan dan Gadis Hantu

Oleh:
Sebuah got yang dipenuhi tikus mutan yang sangat ganas. Yang akan keluar mencari mangsa pada malam hari. Namun bila merasa terganggu mereka tidak akan segan-segan untuk menyerang walaupun itu

Sebuah Dongeng

Oleh:
“Aku hamil Vion!” Jeritan Bellla terdengar begitu miris di antara gelapnya malam sabtu itu, suasana yang mencekam semakin mendramatisir keadaan, Bella menangis hingga ia berlutut di hadapan laki-laki yang

Hantu Pocong

Oleh:
Perkenalkan aku Caca, kali ini aku akan menceritakan secara singkat sedikit tentang pengalaman horor aku di rumah. Waktu itu aku masih SD, di rumah aku tinggal bersama Ibu dan

Ada Sesuatu Yang Lain

Oleh:
“Jangan mendekat!” ucap Verol dengan nada tegas. “Tapi, aku ingin mengucapkan terima kasih padamu. Jika kau tak ada tentu aku akan mati diterkam serigala itu.” Gita tersenyum, betapa beruntungnya

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

One response to “Di Kursi Itu”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *