Dia Mirip Denganku

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Fantasi (Fiksi), Cerpen Horor (Hantu), Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 20 April 2018

Aku terdiam di antara keramaian orang, Tangisan ada di mana-mana. Alunan yasin terdengar bagaikan nada biola yang menyayatkan hati. Aku mulai sesak mendengar ratapan semuanya. Mereka semua memanggil namaku, memuji diriku di dalam tangis masing-masing. Namun tak ada yang memperhatikanku.

Aku beralih ke dapur, melirik benda-benda yang selalu kugunakan untuk memasak. Namun satupun tak bisa kuraih. Entah apa yang terjadi padaku saat ini, rasanya aku tak bisa melakukan apa-apa kecuali melihat apa yang sedang terjadi.

Aku kembali ke kerumunan orang-orang yang sedang menangis. aku heran ketika melihat wanita separuh baya yang terbaring kaku di tengah rumah, ia begitu mirip denganku, lalu apa yang terjadi padanya? Apa dia sakit? Entahlah, yang jelas ia tak bisa bergerak bahkan membuka matanya sejak ambulans membawanya pulang ke rumahku ini.

“pii…” kupanggil anak bungsuku yang juga menangis menatap wanita yang mirip denganku itu. Tapi tak ada jawaban ia seakan tak mendengar panggilanku.
“her…” kupanggil lagi keponakanku. Namun sama.
Begitu seterusnya. Kupanggil semua orang yang rata-rata kukenal, namun tak ada satu pun yang bisa mendengarku. Mereka semua seolah tak melihat. Aku berusaha untuk merangkul tapi tak bisa, mereka seakan terlalu jauh dariku. Aku mulai terdiam, Aku menangis pelan, lalu berteriak, berharap semua orang akan memalingkan wajah mereka kepadaku, Namun juga tak ada yang peduli.

Kutatap wajah suamiku dari jauh Ia terlihat begitu tenang di kursi depan rumah, bersama beberapa orang yang juga kukenal baik. Lalu, ia beranjak dari tempat duduknya, dan pergi ke kursi samping rumah yang tak ada siapapun di sana. Aku dekati dia, ia meneteskan air mata. Suamiku terlihat begitu rapuh, berbeda jauh dari beberapa detik yang lalu, sebelum ia menjauh dari orang-orang dan sebelum aku mendekatinya. Apa mungkin ia melihatku?

“mas.. mas… apa kau melihatku? Aku di sini, aku baik-baik saja. Mengapa kau begitu kuatir? Bahkan aku lebih baik dari sebelumnya.” Tuturku sambil tersenyum menatapnya. Namun ia usap air matanya dan langsung pergi meninggalkanku begitu saja. Suamiku kembali lagi ke tempat duduknya semula dan kembali memancarkan raut wajah yang tenang, seperti ada berjuta kesedihan yang ia tutupi dalam-dalam.

Aku terdiam menatap langit yang mendung, sama mendungnya dengan orang-orang di sekelilingku. Aku kembali memasuki rumah sekarang bukan orang-orang yang menangis jadi objek utamaku, namun wanita yang terbaring kaku. Aku berdiri di sampingnya, kutatap wajahnya yang pucat pasi. Namun tersenyum simpul dalam tidur.
Kulirik putri-putriku yang masih menangis sendu di samping wanita itu. Aku sedikit mengerti, lalu kuperhatikan tubuhku yang putih bersih, memakai baju yang indah, dan memiliki bau wangi yang harum. Namun ada satu hal yang membuatku benar-benar mengerti. Tubuhku sudah tak menginjak bumi lagi, Berarti aku sudah mati.

Kupandangi wajah semua orang satu persatu, mereka terlihat begitu kasihan pada jasadku. Namun aku tersenyum lebar.

Cerpen Karangan: Milnadiatul Hasanah
Facebook: Nadya Sherly

Cerpen Dia Mirip Denganku merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Light Farewell

Oleh:
Langkah gontai gadis itu membawanya menuju sebuah rumah sederhana. Terlihat jelas raut lelah di wajah cantiknya, kulitnya yang putih semakin putih akibat pucat. Dengan perlahan ia meraih kenop pintu

Maya

Oleh:
Dua hari yang lalu aku bermimpi tentang wanita yang tak jelas seperti apa rupannya, aku melihat dia dari kejauhan, rambut yang panjang kehitaman bentuk tubuh bagian belakang yang indah

Apa Yang Terjadi?

Oleh:
Tertidur. Itulah yang sedang dilakukanku tetapi, siapa aku? Di mana aku sekarang? Dan siapa dia? Apa yang terjadi denganku? Dan benda apa ini? “Bertahanlah!” Apa yang ia maksud ‘Bertahanlah!’?

Tragedi 101

Oleh:
Di ruangan 4×4 M yang bergaya vintage, terlihat seorang gadis indigo berambut sebahu Sedang duduk termenung di sebuah sofa merah yang mengarah langsung ke jalan yang menjadi Pusat kota

Pikaichi

Oleh:
“Jadi benar, nama vas bunga ini fikaichi nona sela?” “Bukan pak! Namanya PIKAICHI! Bukan FIKAICHI!” “Diam! Saya tidak peduli vas ini di sebut apa..! Yang penting sekarang akui kejahatan

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *