Dimensi Lain

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Sedih, Cerpen Horor (Hantu)
Lolos moderasi pada: 15 December 2015

Kini ku langkahkan kaki menelusuri sebuah lorong panjang yang mana banyak akar pohon bergelantungan, tapi anehnya dari mana asal akar pohon tersebut? Karena sedari tadi tak ku dapati pohon beringin tumbuh di sekitar lorong itu. Semakin ku langkahkan kaki sedikit demi sedikit cahaya yang menerangi langkahku menghilang, bahkan angin sayup-sayup mulai menggelitik bulu romaku. “Tempat ini sungguh menyeramkan, bagaimana bisa aku sampai di tempat seperti ini?” gerutuku.

Walau aku sebenarnya sangat ketakutan di dalam lorong seorang diri, tapi aku tak ada pilihan lain selain terus berjalan menelusurinya. Tiba-tiba terdengar suara jeritan yang menggema datang mengetuk jantungku, ku tengok ke kanan-kiri namun tak ku temukan satu orang pun di sana. Ku coba beranikan diri untuk menoleh ke belakang, dengan hati berpacu kencang bak berada di arena balap ku balikkan badanku dan.. seakan-seketika napasku terhenti mendapati sosok makhluk aneh sedang berjalan mendekatiku. Makhluk itu sungguh menyeramkan! Baru kali ini aku melihat makhluk seperti itu. Dia terus berjalan-melayang mendekatiku.

Tubuhnya kurus kecil seperti tulang belulang yang hanya diselimuti kain putih lusuh. Mukanya penuh dengan sayatan-sayatan luka, mulutnya menganga mulai mengeluarkan belatung yang berjatuhan dan menempel pada baju lusuhnya. Matanya yang mulai terlepas dari tempatnya mengeluarkan nanah bercampur darah yang terus mengalir bagai aliran air sungai. Aku tak sanggup untuk menatapnya, ingin rasanya aku berlari sekuat tenaga tapi apa yang terjadi padaku, tubuhku seakan menjadi arca tak dapat bergerak sedikit pun bahkan berkata pun aku tak mampu.

Dengan jarak seper senti, dia menjulurkan lidah panjangnya yang dipenuhi dengan lintah, “Oh Tidaaak!! Tuhan apa yang terjadi denganku?” jeritku dalam hati sambil menangis mencoba sebisa mungkin menggerakkan tubuhku kembali dan akhirnya aku mulai bisa berteriak “Tidaaaaak!!” Rambutnya yang panjang dan lusuh begitu cekatan menjerat kedua tanganku, ku coba melepaskan diri namun terlambat, makhluk itu sekarang tepat di sampingku dengan menampakkan taring tajamnya untuk menggigit leherku.

“Aaaaahhh jangaaaaann!!” teriakku sekuat tenaga, aku merasakan rasa sakit yang teramat sangat di leherku, kini aku merasakan darah mulai mengalir membanjiri bajuku.
“Tidak, tidak, tidak, apakah aku akan mati? sungguh apakah aku secepat ini akan mati?” Seketika itu juga pandanganku benar-benar gelap, hening dan tak ku dengar lagi suara denyut jantungku.

“Mila please sadarlah. Mila ayolah bangun sayang.” Ku dengar sayup-sayup suara memanggilku.

Mataku mulai melihat secercah cahaya yang menerangi pandanganku, “apakah aku sudah berada di akhirat?” kataku bergeming.
Suara itu semakin lama semakin jelas terdengar di telingaku. Dan ketika mulai ku coba membuka mata, aku merasakan sakit di leher dan sekujur tubuhku. “Aoouu sakit sekali,” kataku.
“Kamu sudah sadar Mila? Kamu sungguh sudah sadar?” seseorang berkata padaku namun pandanganku masih samar sehingga tak ku ketahui siapa orang itu.

Setelah mencoba untuk memfokuskan pandangan, akhirnya aku melihat ada Adrian di sampingku. “Adrian, kenapa aku? leher dan badanku sakit semua,” kataku dengan nada lemah.
“Kamu pingsan lama sekali Mila, kamu digigit serangga beracun di lehermu. Tapi tenanglah, dokter sudah memberi penawar dan mengobati lukamu. Sakit yang kamu rasakan di sekujur tubuhmu itu, karena kamu terjatuh di sumur tua waktu kita melihat kos baru yang rencananya akan kamu tempati mil,” terang Adrian.
“Aku terjatuh? Terus siapa yang menolongku?” tanyaku.

“Awalnya aku yang ingin mengangkatmu seorang diri dari sana tapi kamu terlanjur pingsan di dalam, sehingga aku harus meminta bantuan untuk membantumu ke luar dari sumur itu. Aku bersyukur kamu sudah sadar dan baik-baik saja. Dari tadi malam aku takut sekali kalau sampai kehilanganmu Mila, karena kata dokter racun serangga itu jika tidak ditangani dengan cepat maka bisa membunuhmu. Ternyata Tuhan masih sayang kepadamu, buktinya kamu bisa melawan racun mematikan itu.” Aku hanya diam mendengarkan Adrian bercerita. Aku masih sangat lemah untuk mengatakan apa yang ku alami selama aku pingsan. Aku hanya mampu menyunggingkan seyuman kepada Adrian yang kemudian disambut dengan pelukan dan kecupan manis di keningku.

“Aku tak akan sanggup jika sesuatu terjadi padamu Mila, maafkan aku karena tak bisa menjagamu dari bahaya itu,” kata Adrian sambil membelai rambutku.
“Iya Adrian, nggak apa-apa. Aku tak menyalahkanmu atas kejadian kemarin, aku terlalu ceroboh sehingga tak ku lihat ada sumur di depanku. Ardian, bolehkah aku memejamkan mata lagi? Kepalaku masih terasa sangat berat.” Kataku dengan suara parau.
“Tentu. Istirahatlah aku akan menemanimu di sini.” Kata-kata Adrian sayup-sayup kembali terdengar di telingaku karena sungguh aku tak tahan untuk tidak memejamkan mataku, aku merasa sangat lelah untuk tetap terjaga.

Empat hari sudah aku dirawat di rumah sakit. Dera datang menjengukku, “Aduuh Mila kamu kok bisa sih sampai gini, kamu hampir aja buat jantungku copot tahu. Padahal baru sehari aku pulang ke Surabaya eh tiba-tiba dengar kabar kamu masuk rumah sakit. Aku nggak tenang dan akhirnya mutusin balik ke Jogja kemarin,” cerocos Dera sahabat karibku, dia orangnya selalu berlebihan jika mendengar kabar kurang baik terjadi kepadaku.
“Aku gak apa-apa kok Dera, Aku udah baikkan kamu gak usah khawatir ya. Besok aku sudah boleh pulang kok,” jawabku dengan seuntas senyuman.

“Ehm terus kamu mau pulang ke mana besok?” Tanya Dera.
“Aku juga belum tahu, masih bingung. Yang pasti aku gak pulang ke kosnya Adrian tentunya.” Kataku yang kemudian menatap Adrian dengan tatapan jahil.
“Yah aku tahu, pasti itu yang akan terucap dari mulutnya Mila. Aku tahu dia tak akan mau tinggal bersamaku sebelum ku kuucapkan ijab qabul di depannya,” kata Adrian sembari tertawa kecil.
Aku yang mendengar perkataan Adrian hanya mampu tersenyum dan menatapnya dengan tatapan penuh kasih sayang. Aku harap Adrian mengerti apa yang aku pikirkan sekarang.
“Ya udah kalau gitu kamu sementara tinggal bareng aku aja Mila, sampai kamu benar-benar pulih dan dapat tempat baru. Tenang saja aku akan merawatmu,” kata Dera seraya memelukku.

Esok pun telah tiba, Dera dan Adrian sudah menjemputku di rumah sakit menuju rumah Dera. Sepi. Satu kata batinku ketika sampai di rumahnya.
“loh kok rumah kamu sepi, Ra? Di mana Kak Dian dan Mbak Eka?”
“Oh, mereka kan masih berlibur di Surabaya Mil, aku aja yang balik duluan ke sini karena khawatir dengan kondisi kamu,” jelas Dera.
“Aduuh, maafkan aku yang telah merusak liburan bersama keluargamu ya, Ra. Aku jadi ngerasa nggak enak,” sesalku.
“Tak apalah, Mama dan Papa juga yang menyuruhku balik ke sini untuk menjenguk dan menjagamu kok. Mereka juga khawatir dengan kondisi kamu Mil,” jelas Dera.

Pandanganku beralih pada Adrian terlihat begitu sangat kelelahan setelah sedari tadi membantu memasukkan barang-barangku masuk ke Rumah Dera. Matanya juga sembab, mungkin karena kurang tidur gara-gara menungguiku selama di rumah sakit. Aku bersyukur punya tunangan baik seperti dia, kita baru saja tunangan 6 bulan lalu setelah menjalin hubungan 3 tahun. Dia selalu ada di sampingku dan selalu mendengarkan keluh kesahku. Aku sangat beruntung bisa mengenalnya.

Mungkin setelah aku resmi menyandang gelar S1 nanti Kita akan memutuskan untuk membina rumah tangga. Walau usiaku baru 23 tahun dan dia 26 tahun, tapi kita yakin sudah siap untuk selalu bersama melangkah menuju masa depan nanti. Bahkan aku dan dia mempunyai impian untuk mempunyai anak kembar laki-laki dan perempuan, kita sering membicarakan kehidupan seperti apa yang nanti akan kita jalani. Sampai terkadang Dera iri melihat kita berdua, “Mil, kamu dan Adrian kok selalu bahagia seperti nggak ada masalah. Iya, sesekali bertengkar gitu?” Aku hanya bisa tersenyum menanggapi perkataan Dera.

Sebenarnya Aku dan Adrian seperti pasangan pada umumnya. Pernah yang mengalami marahan, saling cemburu, dan saling menyalahkan. Akan tetapi kami tak akan bisa kalau mendiamkan satu sama lain terlalu lama, setelah kita marah kita selalu berdiskusi berdua dengan menyidang diri kita sendiri mencari tahu apa penyebab kita marahan dan mencari tahu solusi terbaik apa yang harus kita lakukan. Intropeksi. Sampai terkadang kita saling menghukum satu sama lain jika memang kita berdua benar-benar melakukan kesalahan yang tak bisa untuk ditoleransi lagi. Dera menepuk pundakku.

“eh iya ada apa Ra?” tanyaku dengan nada kaget.
“Kamu ngelamunin apa? Itu Adrian sepertinya kehausan kamu ambilkan minum buat dia, aku akan membereskan kamar untukmu.” untuk kemudian meninggalkanku menuju lantai atas.

Ku ambilkan segelas jus jeruk untuk Adrian, Aku tahu dia sangat menyukai jus jeruk di kala kehausan.
“Adrian nih minum dulu, kamu pasti kehausan banget,” kataku sambil memberikan segelas jus jeruk kepadanya.
“Oh iya, makasih Sayang,” katanya sembari meminum jus jeruk itu sampai habis.
“Kamu istirahat di sini aja yah, kamu kelihatan lelah sekali nanti aku akan minta izin Dera untuk meminjamkan kamar Kak Dian buat kamu istirahat,” ucapku sambil mengusap lembut rambut Adrian, sudah lama sekali rasanya aku tak memperhatikan keadaan Adrian.

Beberapa minggu ini aku sibuk dengan skripsiku dan mencari tempat kos baru yang harganya jauh lebih murah dari kos lamaku. Ini aku lakukan karena aku ingin mencoba untuk hidup lebih sederhana lagi sebelum aku benar-benar menjadi istri untuk Adrian. Karena aku tak tahu apakah kita akan hidup berkecukupan, berkelebihan atau bahkan kekurangan nantinya, walau Adrian telah melarangku dan menawarkan untuk menanggung biaya kehidupanku tapi aku ngotot tak mau menerima bantuannya. Aku tahu dia sudah menjadi pekerja sukses, tapi aku tak ingin dia membiayaiku sebelum aku sah menjadi istrinya. Lebih baik dia menabung uangnya untuk masa depan kita nanti.

“Gak usah aku balik kos aja, masih ada kerjaan yang harus aku selesaikan. Beberapa hari ini aku izin masuk setengah hari jadi banyak kerjaan yang menumpuk,” jelas Adrian.
“Pasti ini semua gara-gara aku yah?” Kataku dengan nada bersalah.
“Kamu nggak usah mikirin gitu, kamu adalah segalanya bagiku jadi aku tak mungkin menomorduakan kamu dengan pekerjaanku. Kamu adalah hidup dan masa depanku jadi aku akan selalu menjagamu.” Adrian selalu menenangkan hatiku. Ku peluknya erat Adrian dan berharap waktu berhenti saat itu juga, karena aku merasa sangat merindukannya.

Tiba-tiba terdengar Dera memanggilku, “Mil, kamar atas sudah siap. kalau kamu mau istirahat masuk aja aku mau mandi dulu.”
“Iya Ra, makasih.” Adrian pun berpamitan pulang, aku merasa sangat lelah juga. Ku putuskan untuk istirahat sejenak di kamar yang telah dibereskan Dera untukku.

Aku terbangun oleh sinar mentari pagi ini. Terkejut mendapati diriku yang sedang berada di tengah hutan seorang diri. “loh kenapa Aku bisa berada di sini? Bukannya aku sedang berada di rumah Dera. Bagaimana mungkin aku bisa sampai di tengah hutan seperti ini? Jangan-jangan Aku masih bermimpi.” Ku pukul mukaku berkali-kali berharap ini benar hanya mimpi tapi, “Aaoouu” aku merasakan sakit, aneh sekali aku bingung dengan kenyataan ini. Ku dengar suara HP berdering, “Itu seperti suara handphone-ku?” kucari asal suara itu, ku dapati handphone-ku terjatuh di tempat di mana aku terbangun. Terlihat nama Dera memanggilku, “Iya hallo Ra?”

“Mil kamu di mana? Kenapa kamu tadi malam pergi nggak bilang-bilang? Aku kaget ketika membuka pintu kamarmu kamu nggak ada. Aku tanya Adrian malah nggak tahu.”
Mendengar perkataan Dera aku semakin bingung apa yang terjadi kepadaku. “Aku juga bingung Ra, aku barusan tersadar dan kaget melihat sekelilingku adalah hutan,” terangku.
“Apa hutan? Kamu sekarang ada di hutan?” Tanya Dera dengan nada terkejut.
“Iya, aku di tengah hutan Ra, aku sendirian di sini. Aku nggak tahu ini hutan di mana? Aku takut Ra.”

Terdengar suara Dera bicara dengan seseorang. “Dia bilang dia ada di hutan, bagaimana mungkin dia bisa sampai di tengah hutan?” Kemudian suara Dera terdengar jelas kembali “Oke, gini aja, sekarang kamu aktifin GPS kamu, biar aku dan Adrian bisa melacak di mana keberadaanmu. Kamu pastikan Hp kamu selalu aktif oke Mil.”
“Iya Ra, bentar ini aku aktifkan GPSku.” Tiba-tiba terdengar suara teriakan yang mengagetkanku, “Hee suara apa itu?”
“Ada apa mil, kamu dengar suara apa?” tanya Dera dari seberang.

“Nggak tahu Ra, tadi aku dengar suara teriakan seseorang.” Dan tiba-tiba hari mulai gelap, “Apa yang terjadi kenapa pagi bisa berubah cepat menjadi malam?” Pikirku. Tak ku sangka ada sesosok yang mengamati gerak-gerikku dari tadi, bulu kudukku mulai merinding. Aku berbisik bicara kepada Dera, “Ra, hari tiba-tiba mulai gelap, dan ada sosok yang mengamatiku dari tadi. Aku benar-benar takut Ra.” Hembusan angin membelai rambutku suara dengusan tiba-tiba terdengar dekat di telingaku, dan apa yang terjadi sudah ada makhluk yang mengerikan itu di belakangku, “Aaaaaahh.. Tidaaaaaakk.” Teriakku sekuat tenaga.

“Ada apa Mil? Mila kamu kenapa?” Suara dari seberang tak ku hiraukan lagi aku berlari meloloskan diri dari makhluk itu namun secepat kilat makhluk itu telah berhasil mencengkeram tangan kiriku, dengan kuku tajamnya dia mempererat cengkeramannya. Kulitku seakan mengelupas terkena sayatan kuku tajamnya “Aoouu sakit sekali,” rengekku.
“Mil jawab aku,” kali ini suara Adrian, tapi aku tak bisa berkata apa-apa karena sekarang nyawaku telah kembali terancam. Ku lihat batang pohon di dekatku, ku ambil dan ku pukul makhluk itu.

Namun tetap saja makhluk itu tak melepaskan cengkeramannya aku hanya bisa berdoa dan terus berdoa agar dapat lolos dari cengkeraman makhluk itu. Aku tak menyangka ternyata semua kejadian yang ku alami kemarin adalah nyata. Akhirnya aku berhasil meloloskan diri. Aku berlari dan terus berlari tanpa adanya tujuan harus ke mana. Tuhan, aku harus lari ke mana lagi? Aku tersesat di hutan ini sendirian, aku tak tahu harus meminta pertolongan siapa?

Aku lari dengan sekuat tenaga yang masih tersisa. Makhluk itu masih terus mengejarku dia terus tertawa dan berteriak marah kepadaku. Aku benar-benar sangat ketakutan, sampai ku rasakan tenagaku mulai melemah untuk terus berlari darah yang mengalir dari tanganku telah menghabiskan sebagian tenagaku, dan sekarang semuanya semakin gelap sampai akhirnya aku tak tahu apa yang terjadi setelah itu. Yang ku rasakan sekarang hanya lelah untuk membuka mataku dan aku benar-benar tak berdaya untuk menggerakkan tubuhku.

Sekarang aku berada di pemakaman, tak hentinya air mataku terus mengalir membasahi pipiku. Mulutku terbungkam selama 2 hari ini, aku hanya bisa menangis dan terus menangis.
“Mila sayang kamu yang sabar ya, Mama tahu kamu sangat kehilangan Adrian tapi kamu nggak boleh nyiksa diri kamu dengan terus berdiam diri seperti ini,” kata Mama sambil terus memelukku. Mama dan Papaku menyusulku ke Jogja setelah mendengar kabar Adrian meninggal.

Dera yang baru datang ke pemakaman langsung mendekapku erat dan mulai menangis, “Mila kamu jangan terus begini, aku tahu ini sangat berat untukmu tapi kamu harus tahu bahwa ini adalah pengorbanan Adrian untukmu karena dia sangat mencintaimu. Jadi kamu harus kuat dan meneruskan hidupmu,” Dera mulai terisak-isak. Aku hanya diam dan mematung menyaksikkan pemakaman sampai selesai, bahkan untuk mengucapkan selamat tinggal pada Adrian di pemakamannya pun aku tak mampu.

Setelah sadar dari pingsan ketika mengetahui Adrian telah meninggalkanku untuk selamanya, Dera bercerita apa saja yang terjadi setelah tiba-tiba aku menghiang dari rumahnya, jadi setelah telepon dariku terputus, Dera dan Adrian mencariku melalui GPS namun keberadaanku tidak terdeteksi di mana pun. Mereka memutuskan melaporkan kehilanganku ke polisi. Keesokan harinya tiba-tiba ada seorang wanita tua mendatangi Dera dan Adrian. Wanita itu memberitahu bahwa aku terjebak di dunia lain. Makhluk yang menyekapku di dunia lain dulu adalah pemilik rumah akar yang meninggal karena menjadi tumbal oleh suaminya sendiri.

Anak semata wayangnya dibunuh oleh suaminya sebagai tumbal juga tapi tidak di sumur tua itu, tepatnya di kamar kos yang hendak ku tempati. Sehingga makhluk itu tak dapat bersatu dan bertemu dengan anaknya di dunia lain. Wanita itu juga berkata bahwa aku mirip dengan anak makhluk akar tersebut, sehingga ketika melihatku pertama kali membuatnya terobsesi untuk membunuhku agar aku bisa tinggal menemaninya. Mendengar itu semua Adrian memutuskan untuk pergi menyelamatkanku dengan nekat masuk ke dalam sumur untuk mencoba melawan makhluk itu karena ia yakin bahwa sumur tua tersebut adalah penghubung menuju dimensi dunia lain.

Benar yang dipikirkan Adrian karena saat aku tersadar di Rumah Akar itu ku lihat Adrian di sampingku tapi aku merasa ada yang aneh dengan Adrian, kulihat dia begitu pucat.
“Adrian kamu kenapa?” Tanyaku, tapi dia hanya tersenyum dan menggelengkan kepala, “Kamu yakin nggak apa-apa?” Dia mengangguk.
“Lalu bagaimana bisa kamu menemukanku?” kulanjutkan pertanyaanku, namun Adrian hanya diam mematung kemudian pingsan.
“Adrian kamu kenapa? Adrian bangun!” Adrian tak bergerak sedikit pun. Aku panik dan histeris berteriak meminta pertolongan.

“Toloong.. Tolooong.. Siapoa pun yang ada di sini Toloonng!!!” Aku tak berdaya untuk bangkit dan mencari pertolongan ke luar karena tanganku tak bisa ku gerakkan bahkan darah masih mengalir membanjiri tubuhku.

Beberapa menit kemudian ada warga yang menolong kami. Kami langsung dibawa ke rumah sakit. Aku mengalami patah tulang yang cukup serius, dan Adrian masih di ruang operasi dia mengalami luka di bagian perut dan kepalanya. Aku tak mengerti apa yang sebenarnya terjadi pada Adrian dan diriku. Hanya doa yang dapat aku lantunkan, Tuhan tolong selamatkan Adrian. Dia adalah orang yang sangat aku sayangi, jangan biarkan dia meninggalkanku. Dokter telah ke luar dari ruang operasi, “Bagaimana keadaan Adrian dok?” Tanyaku cemas.
“Dia banyak sekali kehilangan darah, kita berdoa saja semoga dia baik-baik saja,” jawaban dokter membuatku lunglai tak berdaya.

Ku putuskan masuk ke dalam ruang operasi untuk melihat kondisinya. Ku dapati dia masih belum sadarkan diri, ku dekap tangan Adrian dan ku kecup keningnya.
“Adrian sayang kamu harus cepat sadar, jangan pernah coba untuk tinggalin aku,” tak terasa air mata mulai mengalir di pipiku. Aku pun semakin terisak-isak dalam tangisan, tiba-tiba tangan Adrian bergerak. “Adrian kamu sudah sadar?”
Adrian tersenyum kepadaku kemudian berkata. “Syukurlah kamu baik-baik saja Mila.”
Mendengar perkataannya aku pun marah, “Adrian please, sekarang aku tanya keadaan kamu! bukan malah kamu balik tanya gimana keadaanku. Aku takut kamu kenapa-kenapa,” kataku kemudian menangis dan memeluknya erat.

Tangan Adrian membelai rambutku kemudian berkata, “begitu pun aku juga sangat mengkhawatirkanmu Mila. Sejak kamu menghilang aku seperti kehilangan separuh jiwaku. Tapi saat aku masuk ke dimensi lain dan menemukanmu itu membuatku cukup lega. Sekuat tenaga aku coba melawan makhluk itu. Walau akhirnya aku terluka tapi aku berhasil membakarnya hingga lenyap dan kita dapat kembali ke alam kita sekarang. Jadi mengetahui kamu baik-baik saja sekarang adalah kebahagiaan yang luar biasa aku rasakan saat ini,” terang Adrian.

“Adrian terima kasih kamu telah menolongku. Aku sangat mencintaimu, Adrian jangan pernah sekali-kali terluka di depanku, Oke!”
Adrian pun tersenyum, “Kamu juga, Oke!” Kami pun saling tersenyum bahagia.
Namun kebahagiaan itu tak berlangsung lama karena 1 jam kemudian tiba-tiba Adrian kritis, “Oh Tuhan apa yang terjadi? Dokter, dokter!” Teriakku.

Dokter masuk ke ruangan dan berkata bahwa kondisi Adrian tiba-tiba memburuk ini akibat adanya luka yang sangat besar di jaringan otak dan lambung Adrian. Oh tidak! itu tak mungkin terjadi, aku panik dan terus menangis melihat kondisi Adrian. Dan kenyataan buruk pun akhirnya terjadi tepat pada jam 2 dini hari, Adrian menghembuskan napas terakhirnya. Duniaku seakan hancur seketika. Pingsan. Aku benar-benar belum siap menerima ini semua. Apalagi saat ku ketahui bahwa Adrian telah membeli rumah untuk kado pernikahan kita nanti. Jadi selama ini dia rela tinggal di kos hanya untuk membelikan rumah impian kita. Tapi kenapa takdir sangat kejam merenggut semua impian dan kebahagian itu?

Cerpen Karangan: Nur Widayanti
Blog: widagezy.wordpress.com

Cerpen Dimensi Lain merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Kerudung Putih

Oleh:
Masa~masa sekolah memang sangat menyenangkan, banyak suka duka, yang pasti jadi banyak sahabat, siang itu aku duduk sendiri di bangku kesayangan, (gimana gak kesayangan orang setiap rahat, duduk di

Janji Sehidup Semati

Oleh:
“yang, aku kangen sama kamu. Aku gak bisa hidup tanpa kamu. Apa kamu ingat 3 bulan yang lalu, tepatnya saat hari ulang tahun ku yang ke 16? Kita telah

Love Really Hurts (Part 2)

Oleh:
Untuk yang kesekian kalinya aku melirik jam tanganku. Sudah jam delapan malam. Fallen menyuruhku untuk datang jam tujuh tepat. Tapi sudah satu jam aku menunggu, tak muncul batang hidungnya

Kutitipkan Dia Padamu Sahabatku

Oleh:
Malam ini di sudut kota seorang dara cantik berjalan menyusuri jalanan kota, air matanya menetes berbaur dengan hujan gerimis yang membasahi setiap sudut ruang di bumi. Hatinya sedang teriris

Satu Tahun Kepergianmu

Oleh:
Sudah satu tahun berlalu aku ditinggalkan cinta, kesedihan masih menyelimuti kepergiannya, masih tergambar jelas wajahnya, dan setiap malam aku selalu menangisinya. Setiap hari aku kunjungi pemakamannya lalu ku kecup

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

3 responses to “Dimensi Lain”

  1. Lia says:

    Ceritanya bagus

  2. irma ratu isnayla says:

    Wow.. cerpennnya bagus bgt..kok gw yg nangis yh.. trus berkarya. Akhirnya sedihh…tpi bagus bgt sumpahh

  3. Vannes Theo says:

    Bagus banget ceritanya !!! Keren 😀

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *