Don’t Look The Mirror

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Horor (Hantu), Cerpen Korea
Lolos moderasi pada: 11 January 2017

Suatu hari di Distrik Gangnam, di sebuah rumah mewah terlihat 4 orang remaja putri yang sedang berdiskusi untuk membuat tugas proyek sains yang diberikan oleh guru mereka. Mereka mengerjakannya dengan serius sesekali mereka bercanda untuk membuat suasa menjadi hangat.

“Teman-teman, tugas proyeknya susah banget ya.” kata Ji-Hyo. “Iya benar. Kita aja ngerjainnya baru sampai tahap sketsa. 3 hari lagi sudah mau dikumpulkan.” Jawab So-Yeon. “Makanya kita harus fokus ngerjainnya. Jangan banyak bermain lagi sekarang.” Kata Na-Ra. “Benar tu kata Na-Ra. Ngomong-ngomong kalian nggak haus?” Tanya Yoo-Na. “Ya hauslah. Lapar juga.” jawab So-Yeon.”Baiklah. Aku mau ke dapur dulu untuk mengambil minuman dan makanan.” Kata Yoo-Na. “Baiklah. Buruan Yoo-Na.” Jawab So-Yeon. “Oke.” jawab Yoo-Na sambil bergerak menuju dapur. Yoo-Na pun pergi ke dapur untuk mengambil makanan dan minuman.

Di dapur, ketika Yoo-Na ingin kembali keruang tengah, tak sengaja ia menabrak tumpukan kardus di sudut tepi gudang. Karena tumpukan kardus tersebut berhamburan kemana-mana, Yoo-Na pun meminta bantuan kepada Teman-temannya untuk membantunya membereskan kardus-kardus yang berserakkan tersebut.

“Teman-teman, bantuin aku.” kata Yoo-Na. “Bantuan apa Yoo-Na?” tanya So-Yeon. “Maaf. Tumpukan kardusnya berhamburan. Tolong bantu aku membereskannya.” jawab Yoo-Na. “Kenapa bisa jadi gini?” tanya So-Yeon. “Maaf. Tadi aku nggak sengaja menabraknya.” Jawab Yoo-Na. “Baiklah. Ngomong-ngomong itu pintu apa?” tanya So-Yeon. “Entahlah. Yang punya rumah ini kan kamu. Kenapa tanya ke kami?” jawab Ji-Hyo. “Aku penasaran dengan ruangan itu.” Kata So-Yeon. “Aku juga penasaran. Tapi sebaiknya jangan dibuka deh pintu itu.” Kata Na-Ra. “Kenapa?” tanya So-Yeon. “Kamu nggak lihat ada perintah yang tertempel di pintu itu?” jawab Na-Ra. Perintah yang tertempel di pintu tersebut adalah larangan, yang berbunyi “Jangan masuk ke ruangan ini jika tidak ingin celaka.” “Paling itu hanya candaan, mungkin itu jadi ruang kerja sebelum aku pindah kesini. Mungkin itu ruang seperti laboratorium. Makanya dilarang masuk agar tidak celaka.” ujar So-Yeon. “Kalian ini, mau buka pintu saja harus diskusi dulu. Biar aku saja yang buka pintunya.” kata Ji-Hyo. Ji-Hyo pun membuka pintu tersebut dan melihat ruangan yang bewarna merah dan hanya ada satu benda yaitu cermin.

“Mengerikan sekali ruangan ini. Cuma ada sebuah cermin.” kata Ji-Hyo. “Cermin? Dimana?” tanya Yoo-Na. “Di dalam, cerminnya bagus banget.” jawab Ji-Hyo. Yoo-Na pun mengambil cermin tersebut dan membawanya ke kamar So-Yeon. Kemudian, ia kembali ke dapur untuk membereskan kardus-kardus yang berhamburan tersebut.

Keesokan harinya, ketika Yoo-Na selesai mandi, ia pun ingin bercermin untuk berdandan. Namun anehnya, cermin tersebut menghilang dari kamar So-Yeon. Yoo-Na pun berprasangka kalau cermin itu dibawa teman-temannya. “So-Yeon, So-Yeon!” teriak Yoo-Na. “Apa!” Sahut So-Yeon. “So-Yeon, apa kamu yang pinjam cerminku?” tanya Yoo-Na. “Entahlah. Aku nggak ada pakai. Coba tanya dengan yang lain.” jawab So-Yeon. “Baiklah. Kalau begitu aku tanya dengan yang lainnya.” Kata Yoo-Na.

Yoo-Na pun bertanya kepada Ji-Hyo dan Na-Ra. Namun mereka tidak ada yang menggunakan cermin Yoo-Na. Karena tidak menemukan cerminnya, Yoo-Na pun ngomel-ngomel sendiri dan langsung masuk ke kamar. Anehnya, ketika Yoo-Na masuk kembali ke dalam kamar, Yoo-Na pun melihat cermin tersebut tergantung rapi di atas meja tempat make up So-Yeon. Yoo-Na pun merasa aneh dan berpikir sejenak. Dalam pikirannya, ia berpikir siapa yang menggunakan cerminnya kalau bukan temannya. Lumayan lama ia berpikir, Yoo-Na pun memutuskan untuk melupakan kejadian itu dan langsung berdandan di depan cermin tersebut. Tak lama kemudian, So-Yeon dan teman lainnya subuk mencari Yoo-Na karena menghilang entah kemana.

“Ji-Hyo, kamu ada lihat kemana Yoo-Na?” tanya So-Yeon. “Nggak lihat. Tadi pagi sih ada di kamar. Dia sibuk berdandan.” Jawab Ji-Hyo. So-Yeon pun pergi menuju kamar untuk memeriksa apakah Yoo-Na ada di kamar. Namun ketika So-Yeon membuka pintu kamar, ia berteriak karena melihat genangan darah di lantai. Ji-Hyo dan Na-ra pun menghampiri Yoo-Na. “Ada apa Yoo-Na?” tanya Na-Ra. “Itu, itu genangan darah. Dan itu ada bando kesukaan Yoo-Na.” jawab So-Yeon.

Ji-Hyo pun mengambil bando milik Yoo-Na dan melihat ke arah cermin. Ji-Hyo kaget karena melihat sesosok wanita berpakaian putih berada di belakangnya. Wanita tersebut pun meneriaki kata “Kamu yang akan mati selanjutnya.” terus menghilang. Ji-Hyo pun ketakutan dan ingin ke luar, tiba-tiab saja pintu kamar tertutup sendiri. Ji-Hyo pun berteriak Sambil menggedor-gedor pintu kamar. Dari luar, So-Yeon dan Na-Ra berusaha untuk membuka pintu tersebut. Namun tidak berhasil terbuka juga. Ketika So-Yeon dan Na-Ra terus mencoba pintu kamar, suara Ji-Hyo sudah tidak terdengar lagi dari dalam kamar. Tiba-tiba saja pintu kamar terbuka sendiri. Namun tak terlihat ada Ji-Hyo di dalam. So-Yeon hanya menemukan pita rambut Yang dipakai Ji-Hyo saat itu. Terus, So-Yeon juga menemukan secarik kertas di atas meja. So-Yeon pun mengambil kertas tersebut dan membukanya. Ternyata ditulih oleh Ji-Hyo, kertas tersebut berisikan kata-kata “Kembalikan cermin itu ke tempat semula. Lalu musnahkan.” Tanpa pikir panjang, Na-Ra pun langsung mengambil cermin tersebut dan buru-buru pergi ke tempat dimana mereka menemukan cermin tersebut.

Sesampainya di tempat tersebut, Na-Ra langsung bawa masuk ke dalam ruangan untuk meletakan cermin yang ia bawa. Setelah itu, Na-Ra pun ingin ke luar. Namun tiba-tiba pintu tertutup sendiri sama halnya dengan kejadian Ji-Hyo. Na-Ra berteriak sambil menggedor-gedor pintu. Sedangkan So-Yeon mencoba membuka pintu tersebut. Pintunya pun terbuka. Namun Na-Ra sudah termasuk ke dalam cermin tersebut dan hanya meninggalkan kacamata yang dipakai Na-Ra. So-Yeon pun mengambil kacamata tersebut dan lagi-lagi pintu pun tertutup. So-Yeon yang ketakutan lantas membuka pintu ruangan tersebut. Tiba-tiba saja, ia melihat seorang wanita berada di dalam cermin. Wanita tersebut pun berkata “Kini Giliran Kamu.” So-Yeon ketakutan hinggai ia tidak bisa berpikir. Wanita yang ada di dalam cermin tersebut semakin mendekat serasa ingin keluar dari cermin. So-Yeon pun langsung menggambil Ponselnya dan melemparkannya ke cermin. Cermin tersebut retak dan wanita yang ada di dalam cermin tersebut berteriak “TIDAK!” cermin tersebut pun hancur berkeping-keping. So-Yeon bisa bernapas lega sejenak. Namun, tiba-tiba lampu ruangan tersebut mati. Ruangan tersebut terasa terguncang dan ketika itu So-Yeon mendengar suara wanita yang berbisik di telinganya “Tunggu kematian Kamu.” mendengar hal itu, So-Yeon pun berteriak histeris.

Keesokan Harinya, mereka berempat terbangun. Ternyata, kejadian yang mencekam itu adalah mimpi mereka. Namun anehnya, ketika mereka sepenuhnya sadar, mereka berempat melihat ada sebuah cermin di atas meja tempat mereka belajar. Mereka pun terdiam sejenak dan tiba-tiba lampu mati. Mereka pun mendengan suara wanita mengatakan “Hai, semuanya. Bersiaplah untuk menyaksikan kematian kalian!” dari dalam cermin tersebut. Mendengar suara itu, mereka berempat pun berteriak ketakutan.

The End

Cerpen Karangan: M. Andhika Pratama
Facebook: Andhika Pratama (Dhika)

Cerpen Don’t Look The Mirror merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Malam Malam di Sekolah itu

Oleh:
Kupandangi sekolah yang besar dan tampak menyeramkan itu. Yap!! Hari ini aku bersekolah, di sekolah astrama, bernama Saktavia. Namaku Silvi. Aku datang bersama temanku, Jenny. Kami segera berjalan menuju

Rahasia Nenek

Oleh:
Sekujur tubuhku kaku. Seperti ada lima karung beras terisi penuh yang menimpa ragaku. Mata dan mulutku juga tak dapat kubuka, laksana ada lem yang merekatnya. Tapi aku masih bisa

Tanpa Batas

Oleh:
Ku parkirkan mobil Xenia Sportku di depan halaman rumah yang tampak sepi dan lengang. Cahaya lampu kendaraanku masih menyorot beranda rumah itu seiring mataku mengitari sekitar. Sepertinya tidak ada

Horor Mencekam 2

Oleh:
Thata masih mengutak-atik laptop pemberian papanya. Jaman modern seperti ini bukan hal baru anak muda seperti thata sudah menikmati teknologi masa kini. Sementara adik tirinya novita yang masih kecil

Hantu

Oleh:
“Aaaa jangan di cukur habis~!” teriak ku “Ahahaha lucuuu… Ahaha. Lah kan udah perjanjiannya yang kalah cukur alis sampai abis.” ujar Gisha, teman satu kost ku. “Ishhh… iya iya

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *