Dress Biru di Malam Hari

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Horor (Hantu), Cerpen Misteri
Lolos moderasi pada: 2 June 2018

Sebagai seorang mahasiswa yang tinggal jauh dari orangtua itu adalah hal yang tidak menyenangkan. Uang saku pas-pasan. Makan apa adanya, dan mengurus diri sendiri.

Hari ini aku memutuskan untuk pulang ke rumahku yang berada di Palembang. Meninggalkan kost’anku di Indralaya untuk beberapa hari. Karena memang akhir-akhir ini banyak jam kosong dan kebetulan juga bertemu dengan tanggal merah.

Aku memarkirkan motorku di teras rumahku. Kedua orangtuaku yang bekerja menjadi PNS di Pangkalan Balai baru akan pulang sore hari nanti. Untung saja aku mempunyai kunci cadangan rumah ini.

Hal yang aku kerjakan jika berada di rumah hanyalah main game, tidur, nonton TV, main gitar, atau sibuk mengisi perut. Tapi, berbeda jika rumahku berada di tengah kota, aku akan lebih memilih menghabiskan waktu nongkrong di luar rumah.

Bermodal gitar serta suara merduku. Aku duduk menikmati kesunyian malam ini, udara yang sejuk serta langit hitam yang bertaburan bintang. Setidaknya aku bisa mengobati rasa jenuhku dengan tumpukan tugas saat ini.

Jreeeeng… Jreng… Jreeeeng…
Aku mulai memetik senar gitar lalu bernyayi. Sesekali aku memejamkan mataku. Meresapi setiap kata yang keluar dari bibirku.

Tap tap tap
Aku memicingkan mataku melihat ke luar pagar, kedua bola mataku menangkap seorang wanita berkulit putih memakai dress biru selutut dan rambut yang lurus terurai membuatku tidak bisa melihat dengan jelas seperti apa wajahnya, dia lewat di depan rumahku dengan gesekan langkah kakinya yang terdengar berat.

Dan begitulah, sampai hari ketiga aku bernyanyi di depan teras setiap malam, ia selalu saja lewat dengan langkah kaki yang berat, baju yang sama, dan posisi rambut yang sama.
Aku penasaran. Mungkin dia sengaja membuat bunyi dengan langkah kakinya untuk menarik perhatianku.

Hari ini adalah hari ke-empat aku di sini, aku tidak membawa gitar ataupun bernyayi tanpa gitar. Yang aku lakukan sekarang hanyalah duduk di depan teras menunggu wanita itu lewat. Jika, malam ini dia lewat lagi berarti dugaanku benar. Dia memang ingin menarik perhatianku.

Tap tap tap
Aku berdiri dari tempat dudukku, berjalan ke arah pagar ketika mendengar suara langkah kakinya. Samar-samar aku melihat dirinya lewat di depan rumahku, “Hei! Tunggu!” pekikku.

Aku berdiri di depan pagar dengan telapak tanganku menempel di sana. Tidak ada siapapun. Hanya ada beberapa ekor kucing jalanan di tumpukan sampah di depan rumahku. Tapi, aku berani bersumpah demi apapun, itu suara langkah kakinya, karena sudah tiga hari wanita itu lewat di depan rumahku dengan suara langkah kaki yang sama. Ah, mungkin aku terlalu memikirkannya.

Pagi ini aku harus kembali ke kost’an, karena besok aku harus kembali masuk kuliah.

“Pak, Bu, Dani pamit, asalamualaikum.”
“Walaikumsalam,” jawab mereka, “hati-hati, ya,” lanjut ibuku.

Tok tok tok
Aku meletakan bungkus bumbu mi instanku ketika mendengar suara ketukan di pintu kost’anku. Aku berjalan menuju pintu lalu membukanya.

“Lama sekali, kau membuka pintunya. Malam ini aku akan menginap di sini, listrik di kost’anku mati total. Sedangkan tugas yang diberikan oleh Pak Indra belum selesai aku kerjakan.” racau Arief, teman seangkatanku tapi kami berbeda jurusan.
“Kau sudah makan belum? Aku sedang memasak mie instan, jika kau mau aku akan sekalian memasaknya untukmu juga?” tawarku.
“Tidak perlu repot-repot, terima kasih, aku boleh pinjam cas laptopmu saja, aku lupa membawanya.” Pintanya.

Aku berjalan ke kamar lalu mengambil cas laptopku. Langkah kakiku terhenti ketika melihat kipas anginku berputar, membuat tirai jendelaku serta berbagai barang yang ringan bergoyang-goyang. Klik! Aku mematikan kipas anginku. Padahal seingatku aku tidak menghidupkannya. Ah, mungkin aku lupa saja.

“Nih,” ucapku.
“Makasih, Dan.” jawab Arief.

Aku kembali ke dapur demi menyelesaikan apa yang seharusnya telah masuk ke dalam lambungku.

Klik.
Aku menghidupkan lampu kost’anku. Arief tertidur pulas di atas tempat tidurku. Entah kenapa tenggorokanku terasa sakit dan kering saat ini.

Aku berjalan menuju dapur, kedua bola mataku tak sengaja melirik jam dinding di dekat TV, 00:00. Aku menghela napas panjang. Sesekali aku mendapatkan bunyi beberapa jangkrik yang masih bisa didengar di sini.

Karena memang, di sini jauh lebih membosankan daripada di rumah orangtuaku.

Aku membuka lemari es milikku perlahan. Aku sedikit membungkuk dan mengarahkan tangan kananku ke dalam sana. Tapi, apa itu?! Aku tersentak kaget melihat apa yang ada di dalam sana.

Braaaak
Aku menutup lemari es itu tanpa mengambil sebotol pun air minum dari dalam sana.

Aku berusaha menetralkan ritme detak jantungku, napasku, serta aliran darahku.

“Hosh… Hosh… Hosh…” berulang kali aku berusaha menarik napas panjang lalu mengeluarkanya perlahan.
Ini gila! Bagaimana mungkin ada sepotong tangan manusia berada di dalam kulkasku!

Aku merasakan udara dingin mulai menggrogoti tubuhku. Aku terus berusaha memberi sugesti positif di dalam pikiranku.

Aku hanya berhalusinasi!

Aku kembali membuka lemari es itu, benar dugaanku! Aku hanya berhalusinasi. Tidak ada sepotong tangan manusia di dalam sana. Aku cepat-cepat mengambil botol minum berwarna merah dan langsung meneguk isinya tanpa memberi jeda sedikitpun. Gleg, gleg, gleg.

Aku kembali masuk ke dalam kamarku. Menarik selimut hingga menutupi sebagian tubuhku. Aku sengaja tidak kembali mematikan lampu kamarku, entah mengapa dadaku masih saja berdebar-debar.

Hiks hiks hiks
Demi apapun! Aku mendengar suara tangisan di telingaku, padahal baru hitungan detik aku memejamkan mataku.

Hiks hiks hiks

Tap tap tap
Langkah kaki itu, langkah kaki yang sama seperti wanita yang lewat di depan rumahku beberapa hari yang lalu. Ini tidak mungkin! Dia tidak mungkin menyusulku ke sini! Dan ini sudah tengah malam! Wanita seperti apa dia keluyuran di jam seperti ini!

Tok tok tok
Aku benar-benar tidak bisa menahan diriku lagi. Aku bangun dari tempat tidurku, berjalan keluar kamar dan membuka pintu kostku.

“Kau sudah hilang akal? Bertamu di rumah orang tengah malam!” ucapku seraya membuka pintu kostku.

Benar! Wanita itu, wanita yang memakai dress biru selutut dan rambut panjang terurai. Tapi, kali ini berbeda, sosoknya berbeda.
Wanita itu sama sekali tidak menyentuh tanah. Ia mengangkat kepalanya yang sedari tadi tertunduk ke bawah.

Melihat wanita itu mengambang saja jantungku rasanya berhenti berdetak. Apalagi melihat wajahnya yang hancur, tidak ada mata di sana. Lalu, sedetik kemudian kedua tangannya lepas dengan sendirinya, begitu juga dengan kedua kakinya.

Demi apapun, dan siapapun, tolong aku! Tolong aku! Tolong aku! Kedua tangannya yang jatuh itu mencengkeram tanah dan merayap ke arahku. Badanku mematung, mulutku terkunci rapat.

Hihi… Hihi… Hihi…
Kedua tangan itu semakin dekat denganku, dan kini kedua tangan itu mencekal kedua kakiku erat. Aku bisa merasakan betapa tajamnya kuku-kukunya mencengkeram hingga menggoreskan luka di kakiku.

“Aaaaaakh, lepaskan aku! Aaaakh!” jeritku di dalam hati.

Hihihihi
Wanita itu terus saja tertawa, dan kini kedua tangannya mencengkeram wajahku, jari telunjuknya berada tepat di pelipis mataku. “Aaaaaaaakh!”

“Daaaan, Dani, bangun! Bangun! Sadaaaar! Sadaaar! Ngucap!” aku merasakan tamparan keras di pipiku.
Aku bangun dari tempat tidurku, duduk di atas tempat tidur.

“Kau bermimpi buruk, ya? Sudah sejak lima menit tadi badanmu kejang-kejang dan berteriak ‘toloooong toolooong’, ada apa?” tanya Arief bingung.

Aku menghela napas panjang, mimpi, yah, aku baru saja bermimpi buruk!

“Hei, sadaaar!” Arief menampar pipiku, membuat lamunanku buyar.

Aku menatap wajahnya lekat. “Aku mimpi buruk! Sangat buruk dan menyeramkan!” aku menguncang tubuhnya.

“Hei, tenanglah, coba kau ceritakan padaku, mimpi seburuk apa yang membuat wajahmu sepucat itu?”
“Aku bermimpi….”

Setelah menceritakan mimpi apa yang baru saja aku alami, Arief menyarankan aku untuk kembali lagi ke Palembang. Mungkin, wanita itu sengaja mengangguku karena dia ingin meminta bantuan kepadaku, pendapat Arief.

Aku langsung bergegas masuk ke dalam rumahku. Setelah jam kuliah selesai jam dua siang tadi, aku langsung saja memutuskan untuk pulang ke rumah.

Aku menceritakan semua kejadian yang aku alami kepada kedua orangtuaku.

Malam ini, aku dan kedua orangtuaku berkunjung ke rumah Kyai di kampung sebelah.
Alangkah kagetnya aku setelah mendapatkan penjelasan dari mimpi yang aku alami.

Setelah pulang dari sana, aku beserta beberapa warga di kampungku berjalan ke dekat kebun karet yang berjarak 200 m dari rumahku.

Sesuai petunjuk yang diberikan oleh Kyai itu, kami berjalan berpencar di dalam kebun karet itu. Mencari kain biru yang melekat pada badan pohon. Karena itu adalah salah satu tanda yang bisa menjadi petunjuk untuk kami.

Setelah satu jam mencari, akhirnya Pak Asep, menemukan kain biru yang melekat di badan pohon.

Kami semua berlari ke arahnya. Dan benar, memang ada kain biru di sana. Dengan cepat kami mengalih tanah mengunakan cangkul di sekitar pohon tersebut.

Alangkah kaget kami ketika melihat sebuah kantong besar terkubur di dalam tanah. Bau busuk keluar dari dalam kantong itu, sangat menyengat di dalam hidung, bahkan perutku rasanya sangat mual.

Kami menarik kantong itu keluar dari dalam tanah. Tidak ada yang berani membuka kantong itu. Termasuk aku, apalagi setelah mengalami mimpi buruk kemarin malam.

Akhirnya, setelah menunggu sekitar satu jam lebih, polisi datang dan membuka kantong besar itu dan mengeluarkan isinya di atas terpal biru yang mereka bawah.

Seorang wanita yang sebagian tubuhnya sudah membusuk dan kerumunan belatung hinggap di sana keluar dari dalam kantong itu. Perutku rasanya benar-benar mual saat ini. Dan benar, rambutnya panjang, dress biru selutut yang sudah bercampur dengan warna merah mungkin itu darah, dan kedua tangannya yang terpisah dari tubuhnya.

Dani…

Samar-samar aku mendengar suara merdu memanggil namaku, aku mencoba mencari asal suara itu. Kedua bola mataku berhenti mencari saat sosok seorang wanita cantik berdiri di belakangku dengan wajah berseri, ia melambai-lambaikan tangannya ke arahku, ia tersenyum ke arahku. Seakan-akan mengisyaratkan ucapan terima kasih, karena telah menolong menemukan jenazahnya. Aku membalas senyumannya, dan semakin lama ia menghilang.

End!

Cerpen Karangan: Dhy Dhy
Facebook: Dhy Dhy
Hai, perkenalkan nama saya Dhy (nama pena)
Saya tinggal di Palembang
Terima kasih untuk siapa saja yang sudah membaca cerita saya.

Cerpen Dress Biru di Malam Hari merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Misteri Elang dan Panji Legiun

Oleh:
Hari ini adalah hari yang istimewa bagi John, sebab Ayahnya baru pulang dari Jerman dan membawa hadiah baginya. “Selamat datang Papa, bawa hadiah nggak?” ujar John. Ayahnya menjawab, “bawa

Hana Si Arwah Cantik

Oleh:
Yuka Abadi merupakan seorang mahasiswa seni rupa di salah satu universitas negeri di Jogja. Dari segi penampilan aja emang udah keliatan banget kok, kalo dia tuh anak jurusan seni

Beling

Oleh:
Jono masih setia berbasah-basah di sungai kecil itu. Sambil sesekali mengaduh karena anak duri di pinggir kali yang menusuk lengannya. Kedua lengannya yang kekar berisi nampak bergerak-gerak dalam air.

Xeo Kedua

Oleh:
Sinar mentari begitu terik hari ini. Keringat panas bercucuran dari kening jenong Xeo. Seperti biasa hari ini ia bergembala bebek miliknya sendiri di lapangan depan kampungnya. Ia begembala ratusan

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

One response to “Dress Biru di Malam Hari”

  1. Perplyxty says:

    Ternyata itu hanya tafsir mimpi tak kirain ketemu hantu beneran

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *