Dusta (Part 1)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Horor (Hantu)
Lolos moderasi pada: 21 January 2020

Di dalam ruang yang gelap dan sunyi. Empat pasang mata sedang merenung ke atas langit-langit. Melihat kipas berputar perlahan. Menanti masa untuk tertutupnya mata dan menyaksikan mimpi-mimpi indah yang menghiasi tidur malam. Tapi mata mereka tak kunjung tertutup.

“Apa yang ada di rumah ini? adakah hantu di rumah ini?” Tiba-tiba laki-laki itu mulai bersuara.
“Aku tak bisa tidur. Memangnya kau tak ada cerita yang bisa membuatku mengantuk?” Wanita itu mulai pusing melihat suaminya yang masih merenung sambil terus bersuara. Ia langsung teringat akan cerita di masa yang lalu..
Wanita itu mulai bercerita…

Empat tahun yang lalu***
Suasana pilu dari keluarga sahabat baikku yang baru saja meninggalkan dunia untuk selamanya pada pagi itu. Aku juga ikut menguruskan urusan jenazahnya. Susah senang kami selalu bersama. Tapi saat itu aku hanya bisa berziarah. Setelah pemakaman selesai, semua orang sudah pergi selepas pembacaan doa. Yang tinggal hanya aku dan ahli keluarganya. Setelah semua pergi aku juga turut serta. Setelahnya mereka berjalan beberapa langkah, langkahku terhenti secara tiba-tiba selepas mendengar suara sahabatku dari dalam kubur. “Sakit Ya Allah sakit, ampuni aku Ya Allah. Aku mau bertaubat tapi tak sempat Ya Allah. Arrrgghhh sakit Ya Allah sakit…” Teriakkan berselang dengan suara tangisan menahan kesakitan yang amat menyiksa, itulah yang disebut azab kubur!. Namun keluarganya hanya seperti biasa saja, seperti mereka tidak mendengar suara anak mereka yang menjerit kesakitan dari dalam kubur yang hanya beberapa langkah saja. Aku mau memberi tahu mereka akan suara yang kudengar, namun mulutku seakan-akan terkunci tak dapat bersuara walaupun aku bukan orang yang bisu. Kakiku juga tak dapat bergerak, hanya mata saja yang dapat melihat ahli keluarganya sudah jauh meninggalkanku dan hilang dari pandangan.

Hari kian gelap, jam sudah menunjukkan pukul 18:30 wib. Aku masih mendengar isakkan jeritan dari dalam kubur sahabatku tadi. Aku mencoba berdoa, semoga tuhan memudahkan urusanku sekarang ini. Aku berdoa agar tuhan mengurangi siksa kuburnya dan tidak kurang juga aku memohon ampun di atas dosa-dosa yang telah kuperbuat.

Awan kian mendung seperti mau hujan. Namun tiada kilat atau bunyi gemuruh. Hujan mulai turun dengan rintik-rintik dan satu dari air hujan itu terkena wajahku. Aku merasa seperti baru tersadar dari lamunan sedangkan aku tidak berkhayal. Aku sudah bisa berjalan dan dengan pantas aku berlari keluar dari kawasan perkuburan, sampai di rumah lalu masuk ke dalam kamar. Termenung memikirkan nasib sahabatku di alam sana.

Sekarang telah masuk waktu maghrib dan aku masih duduk di atas ranjang dan dengan secara tiba-tiba kamarku berbau busuk seperti bau bangkai. Aku mencoba mencari dari mana datangnya bau itu dan sekali lagi aku mendapat kejutan, terdapat sesosok tubuh dibaluti dengan kain kafan yang sudah kotor dengan tanah-tanah yang basah. Pandanganku terus memandang ke arahnya, entah mengapa aku seperti tak bisa melarikan pandangan. Tiba tiba juga sosok itu hilang dan muncul kembali semakin lama semakin dekat namun aku masih kaku dan sekali lagi dia hilang dan muncul lagi.

Rupa sosok itu… rupanya seperti wajah Rai, sahabatku yang baru saja tiada. Aku mengigil ketakutan. Darah terasa mengalir begitu cepat, jantungku seakan-akan mau pecah karena berdenyut terlalu cepat. Ini kali pertama aku melihat makhluk menakutkan di depan mata, cuma dua langkah saja jaraknya denganku dan selepas terlintas tentang jarak di pikiranku sekali lagi dia hilang dan sekelip mata muncul betul-betul di depanku. Mataku dan matanya kini cuma seinci jauhnya. Hidungku disumbat dengan bau yang amat busuk.

Matanya kekuningan seperti nanah dan ada nanah yang meleleh keluar dari matanya. Wajahnya pucat tidak berdarah sedikitpun, urat-urat di wajah jelas kelihatan. Aku sudah hilang arah, tak ada yang dapat kulakukan di waktu sekarang. Aku tidak dapat berpikir langsung, otakku seakan-akan beku. Langsung tidak berfungsi. Alangkah baiknya jika apa yang kulihat dan rasa sekarang ini hanyalah mimpi.

Bau busuk yang sangat membuatku sadar. Aku berada di alam nyata di mana di depanku sekarang ada seorang sahabat yang sudah meninggal dunia kini muncul kembali dengan kain kafan yang kotor, bau yang sangat busuk dan mata yang bernanah. Kakiku terasa lembek, tak kuat untuk berdiri memapah badanku sendiri. Terduduk aku di hadapannya dan apa yang dapat kulakukan hanyalah menangis tak keluar airmata, menjerit tak keluar suara dan mencoba melawan namun tak berdaya. Mataku tutup serapat-rapatnya.

Sepuluh menit kupejamkan mata, tiba-tiba… “Allahuakbar… Allahuakbar” Sayup-sayup suara adzan isya dari masjid. Aku masih di posisi yang sama, tidak bergerak walau sedikit begitu juga dengan mataku. Pandanganku kini hanyalah gelap. Kubuka kembali mataku. Syukur, semuanya telah hilang. Keadaan kembali seperti biasa namun tetap saja aku masih ragu dan merasa takut. Takut sosok itu muncul kembali. Dalam hatiku hanya mampu mengucap syukur kepada yang maha kuasa. Rumah masih sunyi karena kedua orangtuaku masih di masjid untuk sholat berjamaah.

Kurebahkan tubuhku di atas ranjang untuk mengistirahatkan tubuhku yang letih karena proses pemakaman siang tadi. Tanpa kusadar, aku tertidur pulas karena terlalu penat dengan kejadian-kejadian tadi. Aku begitu terjaga sampai pagi. Aku berjalan selangkah niat untuk membasuh muka namun langkahku terhenti di situ. Di dalam kegelapan sepasang mata berwarna merah, memandang tepat ke arahku. Cukup untuk membuat jantungku berdegup kencang seolah-olah baru lari 100 meter, “Kawan kau baru saja meninggal, kau masih mau berbuat jahat?” Percakapannya dihabisi dengan tawa lalu hilang. Menggigil anggota badanku, kurebahkan tubuh di atas ranjang dan tertidur dalam ketakutan. Keesokkan paginya baru aku sadar kembali karena cahaya mentari menyuluh masuk ke dalam kamar melalui ventilasi.

Aku bangun dan merasa puas tidur semalam, kepuasan memeluk bantal panjang masih terasa hingga segala penat, lelah dan perasaan takut kemarin hilang. Aku keluar dari kamar menuju ke kamar mandi, kulepaskan baju yang kupakai. Selepas itu menuju ke meja makan. Ibu sedang menyiapkan sarapan. Aku duduk bersebelahan dengannya. “Mana bantal panjang yang ibu belikan? Tidurku pulas karena bantal itu” Tanyaku. Ibu menbuat wajah heran karena pertanyaanku, lalu dia menjawab “Kau ini gila Mey? Di rumah kita tak pernah ada bantal panjang dan ibu tak pernah belipun. Apa kau mengkhayal pagi-pagi begini?”. Jawaban yang diberikan ibu membuat air teh panas yang masih di dalam mulutku tersembur keluar. “Apa kau ini Mey? Kenapa?” Aku hanya diam dan terus lari ke dalam kamar. Memang tak ada bantal panjang di dalam kamarku. Kepuasan tidur semalam di rentap dengan persoalan yang bermain di pikiran, “Aku peluk apa semalam?”.

“Ya Allah… Mey kenapa dengan baju kau ini? penuh tanah” Jerit ibu dari dapur. “Tanah? Dari mana datangnya tanah?” Satu lagi persoalan bermain di pikiran. Lalu aku masuk ke kamar dan berjalan mendekati ranjang. Kuangkat selimut yang menutupi tilam. “Ya Allah, tanah” Tanah yang masih basah penuh di atas tilam. Sekali lagi aku mati akal. Aku tunduk ke bawah. Celanaku, celanaku juga penuh dengan tanah. “Dari mana datangnya tanah ini? Apa yang aku peluk semalam? Jangan-jangan… Ah tak mungkinlah! Tapi siapa tahu memang betul aku peluk sosok itu semalam” Lantas aku tersadar dan melepaskan celanaku.

Aku keluar menuju kamar mandi. Selesai mandi ibu masih di meja makan. Ibu merenungi wajahku, “Kenapa muka kau pucat Mey?” Tanyanya. Aku hanya diam dan terus berjalan meninggalkan ibu di dapur. Aku harus keluar dari rumah ini. Aku akan pergi ke rumahnya, aku mau bertemu ayahnya. Niatku di dalam hati!

Aku sudah berada di depan halaman rumah bapak Solin, ayahnya Rai, “Assalammualaikum… Assalammualaikum…” Aku memberikan salam. “Waalaikumussalam… Hahaa kau Mey. Kenapa kau datang ke rumah bapak sepagi ini? Eh marilah masuk, kenapa berdiri saja diluar!” Bapak Solin menyuruhku masuk ke dalam rumah, aku hanya menurut saja. Aku menceritakan semua yang terjadi padanya. Lalu dia bertanya, “Waktu kau pulang, kau lepaskan pakaian kau tidak selepas pemakaman itu?” Aku jawablah tidak. Lalu dia bicara, “Mungkin karena itu dan dia pesan lain kali kalau pergi ke pemakaman atau melawat jenazah selesai itu terus lepaskan pakaian yang kau pakai” Akupun hanya mengiyakan saja. Malas juga berdebat dengan orangtua, mungkin ada benarnya juga apa yang dia katakan.

Akupun pulang ke rumah. Sehari suntuk aku hanya habiskan masa di dalam kamar dengan termenung. Aku tak terpikir apa yang terjadi padaku hanya atas sebab apa yang pak Solin katakan tadi. Kalau benarpun jadi apa ada kaitannya mengenai mata merah yang bersuara semalam!.

Haripun sudah malam dan satu hari ini aku merasa seperti hanya mau habiskan masa di dalam kamar. Untung ada ibu yang baik hati. Segala kotor-kotoran yang ada di dalam kamarku sudah dicucinya sewaktu aku keluar ke rumah bapak Solin siang tadi. Jadi aku sudah bisa tidur dengan pulas. Mata yang kian hanyut untuk ke alam mimpi kembali cerah saat hidungku menghirup sesuatu yang busuk di sekitar kamar. Aku nekat kali ini tak boleh takut dan kalah, aku harus melawan apapun dugaan yang datang. Lama kutunggu tapi tak ada apa-apa yang muncul. Bau busuk masih tetap ada di dalam kamar.

Karena terlalu lama aku menunggu namun tak ada apapun yang muncul jadi aku pikir aku mau abaikan saja bau busuk itu lalu kumiringkan badan menghadap dinding. Lalu aku melompat dari tilam. Rupanya dia sudah lama muncul di sebelahku. Kupejamkan mata dan menarik nafas sedalam-dalamnya. Kubuka mata kembali, degup jantung seakan berhenti. Sosok jelmaan sahabatku kini berada benar-benar di hadapanku, “Kembalikan” Sosok itu bersuara. Aku yang dalam keadaan takut ini memilih untuk melawan. Jadi kubacakan ayat kursi selantang-lantangnya sambil memejamkan mata. bacaanku terhenti saat telingaku menangkap satu suara yang mengikuti bacaan ayat kursiku. Kubuka mata kembali, sosok itu nyengir di hadapanku. “Kenapa berhenti? Teruskanlah aku mau ikut. Hahahaha”, “Ya kenapa berhenti? Aku juga mau ikut kau baca, hahaha” Satu lagi suara datang dari arah belakang. Lalu kupalingkan wajah ke belakang untuk melihat siapa yang bersuara itu. Mata merah itu berada di belakangku, sekarang aku seakan-akan dikepung. Lututku sudah mulai menggigil. Perlahan-lahan kubacakan lagi ayat kursi. Mulut sosok itu juga berkomat-kamit seperti mengikuti bacaanku. Aku berhenti diapun berhenti, “Hahaha tak ada gunanya kau baca” Suara itu datang dari belakang. Maknanya itu suara dari si mata merah. “Kau diam, kau tidak berkuasa! Yang berkuasa hanya tuhan” Kataku, “Memang tuhan yang berkuasa, hahaha. Tapi kau tak percaya padanya. Kalau kau baca ayat kursi kau percaya ayat itu bisa membantu! Jadi bacalah lagi, hahaha” Kata mata merah itu. Aku seperti terkena tamparan hebat setelah mendengar kata-katanya. Makin keras ketawanya ditambah juga dengan senyuman sinis sosok di depanku.

Aku mencoba untuk membaca dalam hati, namun baru saja aku membaca basmallah. Mulut sosok itu juga turut serta seperti tau apa yang sedang kulakukan di dalam hati. hatiku makin takut. Aku sadar tak ada yang dapat kuperbuat. Kurebahkan tubuh ke atas ranjang dan menarik selimut. Kuselimutkan semua anggota tubuhku termasuk kepala. Di saat ini aku hanya mampu berserah. Berharap tuhan memberikan pertolongan!

Sungguh aku malu, di saat senang aku melupakannya. Apa yang diwajibkan kepadaku, aku tak menjalankannya. Sekarang aku mau meminta pula kepadanya! Aku masih di dalam selimut dan aku mendengar suara berselangan dengan tawa, “Kembalikan, hahaha” Aku menangis di dalam selimut, menangis sejadinya. Setelah kurasa keadaan sudah reda lalu kuberanikan diri untuk mengeluarkan kepalaku dari selimut. Tanah, selimutku penuh dengan tanah, tanah kubur. Bau tanah memenuhi ruang kamarku. Karena terlalu takut untuk tetap tinggal di dalam kamar, aku membuat keputusan untuk keluar duduk di ruang tamu. Aku turun dari ranjang lali berlari ke pintu kamar dengan cepat. Sosok itu berdiri di depan pintu kamar, kali ini aku tak dapat lagi berpikir lalu tubuhku jatuh ke lantai. Aku pingsan untuk yang pertama kalinya sepanjang hidupku, karena terlalu terkejut.

Cerpen Karangan: Dheea Octa
Blog / Facebook: Octavhianie dheea

Cerpen Dusta (Part 1) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Bola Kristal Pembawa Mimpi

Oleh:
Rachel tidak bisa tidur lagi. Jika ia ingat, hal ini sudah menjadi hal kesekian kali dimana ia harus terbangun di tengah malam karena mendapatkan mimpi buruk, atau mendapatkan gangguan-gangguan

Bella

Oleh:
Bella seorang gadis ceria yang masih duduk di bangku SMA. Sifatnya yang ramah, sopan, saling membantu dan humoris membuat warga di sekitar rumah dan semua teman sekolahnya selalu menyapa

Sebuah Panggilan

Oleh:
Suara dentuman sepatu kets terdengar di sepanjang lorong yang sudah semakin sepi. Langit sudah semakin gelap. Matahari pun telah digantikan dengan kehadiran bulan. Langkah kaki itu semakin cepat hingga

Hantu Sepanjang Jalan

Oleh:
Temanku bercerita padaku tentang kisah nyata yang dialaminya tahun 2014. Cerita ini dimulai ketika keluarga temanku yang bernama Farhan, sedang ke rumah saudaranya yang ada di Depok. Kecuali si

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *