Dusta (Part 2)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Horor (Hantu)
Lolos moderasi pada: 21 January 2020

Seorang lelaki, duduk di ruang tamu bersama dengan seorang lelaki tua berpakaian seperti dukun. Ruang tamunya penuh dengan tengkorak-tengkorak manusia, “Kau mau aku buat apa?” Tanya dukun itu kepada seorang lelaki tadi, “Saya mau kakek buat dia kembalikan barang saya. Itu barang pusaka dari arwah nenek moyang saya. Saya ingin itu kembali” Jawab lelaki itu. “Pakkkkkkk” Pipiku terasa sakit, seperti baru saja ditampar dengan lengan yang kasar. Tamparannya sangat padu, aku tersadar dari mimpi. “Barang?” Tanyaku pada diri sendiri.

Otakku dapat menangkap sesuatu. Lantas aku bangun menuju almari, kubuka pintu almari lalu mengeluarkan satu kotak dari dalam almari itu. Kubuka kotak kecil itu, sebuah cincin. Cincin yang diberikan Rai padaku sebagai lamaran pernikahan, tapi aku menolaknya dengan kasar. Sehingga dia lari begitu saja sebelum aku sempat menyelesaikan perkataanku, saat itu juga dimana Rai pergi untuk selamanya. Kupegang cincin itu, tiba-tiba cincin itu menjadi panas hingga melukai tanganku. Kuhempas cincin itu ke lantai. Aku hanya memperhatikannya saja sampai cincin itu berhenti berputar.

“Hei…” Satu suara parau menyerga dari luar. Karena terkejut aku berlari mengambil kain untuk membalut cincin itu, kini hanya hangat yang bertengger di telapak tanganku. Lalu kumasukkan ke dalam saku celana. Aku mau kembalikan, ini bukan hakku! Aku keluar rumah mengambil motorku, namun mesinnya tidak berfungi seperti biasa. “Kenapa terjadi disaat begini?” Kataku dalam hati. Kulihat ke sekeliling kawasan rumah, pandangan mataku terhenti di pohon pisang depan rumah. Ada sosok menyeramkan berdiri tegak di sebelah pohon pisang itu. Kakiku mulai menggigil lantaran takut, aku turun dari motor lalu mengambil sepeda tua ayah. Perjalananku terasa begitu jauh, jauh sekali. Makin cepat kayuhanku makin terasa berat dan semakin perlahan juga pergerakannya. Kukuatkan diri untuk terus mengayuh. Apapun yang terjadi aku tetap mau kembalikan cincin ini! Cincin yang kutolak, namun sungguh naif ketika aku menyimpannya untuk mengenang Rai. Tanpa meminta izin untuk menyimpannya, kuambil cincin itu saat tergeletak di samping jenazahnya. Tanpa rasa bersalah, sebab kematiannya adalah aku. Semuanya adalah salahku! Kutengok ke belakang untuk melihat apa yang ada di belakang sehingga sepeda tua ayah terasa terlalu berat. Tak ada yang kubonceng, tapi ada yang mengekoriku dari belakang. Jelmaan arwah Rai mengekoriku dari belakang, lompat ke satu tempat ke satu tempat lainnya. Jaraknya denganku hanyalah 5 meter. Rasa takut yang menguasai diriku membuatku mengayuh lebih cepat sepeda tua ayah.

Dahan-dahan pohon di tepi jalan bergerak-gerak seperti ada sesuatu yang bergelayut dan melompat dari satu dahan ke satu dahan lainnya. Ya, memang ada sesuatu! Monyet berwarna hitam, bulunya terlalu hitam dan matanya berwarna merah. Melompat-lompat mengikuti sepeda tua ayah yang kunaiki. Tiba-tiba monyet hitam tadi melompat ke arah jalan. Aku tak sempat menekan rem lalu aku menabrak monyet itu namun yang terjadi sepeda tua ayah menembus tubuhnya. Kutengok ke belakang untuk melihat monyet tadi, kali ini dia hanya berlari mengikuti sosok itu mengekoriku.

Tak lama kemudian aku sampai di rumah Rai. Rumahnya kosong, tak ada penghuni. Mungkin sudah ditinggalkan pak Solin pindah sebab barang-barang di rumah itupun kosong. Kubuka pintu dan masuk ke dalam dengan samar-samar cahaya dari lampu jalan yang terakhir. Aku mencari kamar Rai, hanya barang-barang Rai yang tak dipindahkan. Bapak Solin kata dia mau meninggalkan rumah ini namun tidak menjualnya, dia mau membiarkan barang-barang Rai masih berada pada tempatnya. Bapak Solin hanya tinggal berdua dengan Rai sebab isterinya telah lama tiada. Sejak kepergian Rai, bapak Solin hanya sendiri dan itu sebabnya dia lebih memilih kembali ke kampung halamannya.

Aku masuk ke dalam kamar Rai dan aku letakkan kembali cincin itu ke dalam laci. Setelah itu secepat mungkin aku bangun dan berlari keluar dari rumahnya dan pulang ke rumahku menaiki sepeda tua ayah dengan cepat. Sampai di rumah aku berlari ke dalam kamar, rumah terasa sepi. Mungkin orangtuaku masih di masjid mendengarkan program-program agama yang diadakan hingga lewat malam. “Aku sudah kembalikan apa yang kuambil” Aku berbicara dengan diriku sendiri dalam hati. “Hahahahaha…” Ketawa parau muncul lagi dari dalam kamar, “Pergi! Aku sudah kembalikan punyamu. Jangan ganggu aku lagi!” Teriakku sekenvang-kencangnya.

Aku memberanikan diri karena kurasa aku telah melakukan apa yang dia mau, jadi untuk apa dia menggangguku lagi! Ketawa itu hilang. Malam itu aku tidur dengan aman walaupun ada sedikit rasa ketakutan. Semuanya telah berakhir!

Pagi ini aku mau berziarah ke makam Rai, “Rai, aku sudah mengembalikan cincin yang dulu kau berikan, yang sempat kutolak. Aku tahu cincin itu sangat berharga karena peninggalan nenek moyangmu. Aku juga merasa bersalah, karena lari dariku kau tertabrak hingga merenggut nyawamu dan aku dengan lancang mengambil cincin itu dan menyimpannya. Andai saja, andai saja kau tahu yang sebenarnya. Aku tidak benar-benar menolakmu! Aku hanya bercanda, mengatai kau gila karena mencintaiku itu semua bohong. Kenapa kau lari sebelum aku mengatakannya, beristirahatlah dengan tenang” Aku mengatakan semuanya, perasaanku yang sebenarnya. Aku dan Rai sudah lama berteman dan menjalin persahabatan, jika salah satunya menyimpan rasa maka itu adalah hal yang wajar karena suatu kata yang kuingat “Cinta datang karena telah terbiasa” Maka dengan terbiasa itu aku mencintainya!.

“Sesuatu yang ingin kukatakan ini sangat penting dan jawabannya sangat berharga, jadi kau harus serius karena aku takkan mengatakan basa-basi apapun. Aku mencintai kau, maukah kau menikah denganku? Cincin ini memang bukan aku yang membelinya, ini peninggalan nenek moyangku turun temurun. Jadi jika aku memberinya pada kau, itu artinya aku sudah memilih” Tegasnya.
“Hahaha, kau gila! Kita selalu bersama bukan berarti aku juga harus mencintai kau” Jawabku dengan tawa.

Lalu Rai berlari meninggalkanku, setelahnya kudengar denyit rem disertai dentuman keras. Orang-orang berkerumun namun tak melakukan apapun dan yang kulihat sosok Rai tergeletak bersimbah darah. Beberapa detik kemudian Rai telah tiada dengan kotak cincin tergeletak di sampingnya. Suatu kebodohanku merenggut nyawa orang yang sangat kucintai, aku menangis sejadinya. Kenapa aku begitu bodoh dengan candaan yang sama sekali tak lucu. Penyesalanku tak berarti sebab apapun itu takkan kembali! Aku tersadar dari lamunanku pada saat terakhir bertemu dengannya.

“Aku pulang dulu Rai, nanti aku datang lagi” Aku berkata dalam hati sebelum pergi meninggalkan kawasan pemakaman islam di kampung itu.

Aku pulang ke rumah, ibu sudah menyiapkan sarapan pagi. “Tadi ibu kemana?” Tanyaku sambil menghirup teh panas yang di tuangkan ibu, “Eh dia ini, ibu kan pergi ke rumah paman kau sejak tiga hari yang lalu. Tadi saat ibu pulang, ibu jalan lewat belakang. Ibu lihat motor kau dekat kuburan, kau pergi ke kuburan buat apa Mey? Siapa yang meninggal?” Tanya ibu padaku. Pertanyaan itu membuatku berkali-kali menelan ludah, “Ibu tak memberi tahu kalau mau ke rumah paman?” Tanyaku dengan seribu kedutan di wajah, “Ibu coba hubungi kau saat ibu sampai di rumah paman, tapi kau tak menjawabnya. Ayah juga hubungi kau, tapi sama juga” Jawabnya.

Lantas aku pergi ke dalam kamar. Kuambil handphone di atas meja. Hari ini aku baru teringat soal handphoneku. Setelah kematian Rai, aku terus meninggalkan handphoneku di atas meja dan karena beberapa kejadian membuatku melupakan handphoneku. Kucek semula log panggilan. Ya, memang ada nomor ibu dan ayahku yang tak terjawab di hari yang sama dengan kematian Rai. Lalu siapa ibu yang selama ini kulihat! Tiba-tiba handphoneku berdering, tertera nomor telepon Rai. Bergetar tanganku namun kuberanikan untuk menjawab panggilan itu, “Haaa… lo..” Nada suaraku tersangkut, begitu susah untuk bicara, “Hallo, ini bapak Solin. Ayahnya Rai, bapak mau ajak kau datang ke rumah pamannya Rai. Paman Raib, kau tau alamatnya bukan? Bapak mau minta tolong kau temankan bapak membeli barang untuk memperingati kematian Rai, bisa?” Pintanya, “Biiii..sa pak, nanti saya segera kesana!” Kuhembuskan nafas yang kutahan tadi, degup jantungku juga kembali seperti biasa. Rupanya ayahnya Rai yang menghubungiku.

Setelah itu aku bergegas pergi ke rumah paman Raib, rumahnya tak jauh dari kampungku. Bapak Solin bilang dia hanya sehari di sana lalu kembali ke kampung halamannya.

Saat sampai di sana, sudah ramai orang. Bapak Solin dan aku pergi membeli sedikit barang, di perjalanan bapak solin meminta maaf padaku karena pergi tanpa pamit. Dia begitu sangat terpukul, begitupun aku. Aku begitu terkejut saat bapak Solin memberiku sebuah kotak yang tak asing lagi bagiku. “Tak mungkin” Kataku dalam hati. “Rai mau memberi kau ini sebelum dia pergi. Bapak tak sengaja menemukan ini saat mencari akta kelahirannya. Kau simpanlah ini, di atas kotak ini terdapat surat yang dia sampaikan pada bapak untuk memberikan ini pada kau Mey” Bagaimana mungkin kotak yang sudah kukembalikan dengan susah payah harus kusimpan lagi dan saat itu juga tak ada surat apapun di sana! “Maaf pak, Mey menolaknya. Mey tak mau menyimpannya” Bapak Solin menghela nafas, “Mey, tak baik menolak pemberian orang. Apalagi dia sudah tiada” Aku hanya mengangguk pelan dan kuterima kotak itu dengan perasaan takut. Terlebih aku tak berani jujur padanya, aku terlalu naif untuk mengatakan yang sebenarnya. Apalagi sebab kematian Rai adalah karena memberiku kotak ini!

Sesampainya di rumah, kubuka lagi kotak itu. Di dalamnya masih terdapat sebuah cincin, lalu kemudian tiba-tiba angin berhembus kencang. Aku merasa mual, tubuhku terbanting hingga berada di suatu tempat yang gelap.

Ternyata aku tengah berada di dunia lain dan karena cincin itu aku berada di sana dan bertemu dengan Rai.

“Jadi, itu cerita kita dulu! Kau masih mengingatnya? Aku tak tau kau dulu begitu takut padaku, Mey”
“Bagaimana mungkin aku melupakannya, setiap hari aku merasa kau awasi. Becanda kau itu keterlaluan. Dan suara dari dalam kubur kau tu menakutkan”
“Mana mungkin aku membiarkan kau sendirian, becanda kau juga keterlaluan hingga membiarkanku mati begitu saja”
“Itu salah kau sendiri karena kau melakukan bunuh diri itu untuk membalas dendam padaku. Itu semua sudah berlalu, sekarang juga kita sudah bersama. Apa ceritaku sudah membuat kau mengantuk”
“Ya, aku sudah mengantuk. Tapi, apakah di rumah ini ada hantu?”
“Di rumah ini hanya ada kita berdua…”

“Dan juga aku” Si mata merah itu lalu bicara. Diluar api masih meluap-luap menerbarkan hawa panas. Mereka kemudian tertawa terbahak-bahak, “Akankah ada manusia yang mau menemani kita”

“Selalu ingatlah ini Mey, Dusta membawamu pada neraka”

Cerpen Karangan: Dheea Octa
Blog / Facebook: Octavhianie dheea

Cerpen Dusta (Part 2) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


MyCerpen 5: Mampir Kerumah Vampire

Oleh:
Aku dan ayahku baru saja pulang dari pemakaman saat itu. Beberapa saat handphoneku mengeluarkan bunyi, dan ada nama dia berusaha memanggilku. Langsung saja kutekan tombol jawab. “Haloo… Dev?” sapaku

Gadis Penunggu Di Senja Hari

Oleh:
Ketika matahari mulai meredup, sang awan pun dengan seksama menjadi penguasa langit, menyisingkan senja yang berlinang jingga. Di sekolah itu hanya kesunyian yang menyelimuti, tak ada guru yang sering

Rumah Tanpa Kepala

Oleh:
Di suatu hari, aku dan teman-temanku sedang berjalan-jalan di suatu tempat. Tiba-tiba kami semua menemukan sebuah rumah tua yang terlihat angker. Salah satu temanku Rizki, mengajak kami semua untuk

Pasar Malam Keramat

Oleh:
Perjalanan lima jam ke rumah kakek dari solo ke kaki gunung salak memang benar-benar melelahkan. Sampai di rumah kakek aku langsung menuju kamar dan merebahkan tubuhku di tempat tidur

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *