Emily

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Horor (Hantu), Cerpen Misteri
Lolos moderasi pada: 24 February 2016

Sudah hampir 3 tahun, gadis itu bersekolah di sini, dan tahun ini adalah tahun terakhirnya bersekolah di Senior High School 2 ini. Namanya Emily, gadis dipenuhi misteri, ‘Nerd Mode’ yang ia gunakan cukup membuatnya sedikit diasingkan oleh teman sebayanya. Bukan diasingkan, tetapi faktanya dia memang belum punya teman hingga sekarang. Lingkar hitam di sekeliling matanya membuat Emily sedikit ‘menyeramkan’. Tapi prestasinya di sekolah bisa diacungi jempol, dia bukan siswi yang suka membuang waktu dengan kegiatan tidak penting selain membaca.

Berbicara pun ia lakukan di saat bersama guru saja, jika bersama siswa lain, mungkin ia memilih diam, atau bahkan ia melupakan cara berbicara? Entahlah, tapi itu yang dipikirkan Lucy. Sudah hampir 3 tahun berada di kelas yang sama, tetapi Lucy belum pernah berbicara dengan Emily. Banyak siswi yang merumorkan Emily sebagai Hantu, tapi apa? Emily tak peduli, mungkin ia berpikir itu bukanlah sesuatu yang penting untuk dibicarakan. Lucy benar-benar tak tahan dengan ‘kemisterian’ Emily, dia nekat mengikuti Emily hingga pulang sekolah nanti. Tiba-tiba, Emily berjalan ke arah Lucy dengan amarah, dan memberikan secarik kertas bertuliskan ‘Jangan ikuti aku’ dengan tinta pulpen berwarna merah. “Bagaimana bisa dia tahu yang ada di dalam pikiranku?” batin Lucy hampir tak percaya. Lihatlah! Dia bahkan menulis apa yang ingin ia katakan, bukan membicarakannya secara langsung.

Bel pulang sekolah berbunyi, Lucy segera menyimpan beberapa bukunya di dalam loker. Kemudian ia bergegas ke luar sekolah, ia berjarak sekiranya 7 meter di belakang Emily. Langkah Emily terhenti kala mendengar derap langkah kaki selain dirinya. “Ku bilang jangan ikuti aku,” kalimat itu diucapkannya dengan nada rendah dan terdengar ‘mengancam’. Dan ini adalah pertama kalinya Lucy mendengar suara Emily dengan nada menyeramkan. “Pergi!” spontan Lucy tersentak setelah mendapat ‘serangan’ tiba-tiba dari Emily, bukan serangan, tetapi suruhan.
Nekat Lucy sudah bulat, tidak mudah untuk diubah, tentu ia teguh pendirian, ia tetap membuntuti Emily hingga penasarannya selama hampir tiga tahun ini terbayar.

Sedikit demi sedikit Emily melirik ke belakang dan tentu Lucy tak mengetahui itu, tangannya mengepal siap meninju. Lucy sadar sudah mengikuti Emily selama setengah jam, ia kini berada di jalan di tengah hutan yang sangat sunyi, namun Emily tetap berjalan. “Di mana rumahnya?” bisik Lucy mulai merasakan ada yang menjanggal. Ia membuang pikiran itu, kemudian tetap mengikuti Emily hingga tibalah penantian panjangnya. Mereka dengan rentang jarak yang lumayan jauh, kini Lucy melihat rumah tua dengan aroma ‘angker’ itu dimasuki oleh Emily, sebelumnya ia pernah melihat rumah itu, tapi bukan di sini, tapi di mana?

“Haaa? Itu rumahnya?” Lucy melongo heran saat tahu bahwa rumah Emily sangat menyeramkan.
“Sudah ku bilang jangan ikuti aku…” suara itu terdengar sangat mengancam dan bersumber dari belakang Lucy. Emily! Dia Emily! Bukankah tadi Emily memasuki rumah itu? Ah, tidak.. Ini hanya halusinasiku!! ucap Lucy dalam hati, jantungnya tak terkontrol, keringat dingin mulai membasahi dahinya. Angin berhembus sangat kencang sehingga poni yang mulanya menutupi mata Emily bergeser ke samping. Apa yang Lucy lihat? Mata yang penuh darah.

Perlahan angin merubah rupa Emily menjadi seseorang penuh darah. Kulitnya berubah pucat, kuku jari tangannya sangat tajam, terlebih di tangan kirinya memegang sebuah foto. “Aku ingin semua orang datang di hari ulangtahunku! Hahahaha,” tawa yang terdengar menyeramkan itu terdengar melengking di hutan belantara. Lucy berlari secepat mungkin, tapi rasanya ia berputar-putar dari tadi, ia mengelilingi hutan, bukan keluar dari hutan ini. “Siapa pun!! Tolong aku!!” teriak Lucy dengan sisa tenaga yang ada.

Lucy terbangun dari mimpi panjangnya. “Tolong!!” pekiknya terbawa mimpi. Ia sadar tadi hanyalah sebuah mimpi, tapi… Apa ada sesuatu di dalam mimpi itu? Lucy segera bangun dan melesat ke kamar mandi, kemudian memakai seragam sekolahnya. Hatinya masih bertanya, apa mimpi itu benar? Apakah ada petunjuk di mimpi itu untuk menguak misteri Emily? Entahlah, Lucy tidak bisa pertanyakan semua tentang mimpinya.

“Eum… Selamat Pagi, Lucy!” sapa seorang gadis sebaya Lucy tersenyum ke arahnya.
“Selamat Pagi, Jean,” balas Lucy ikut tersenyum.
“Lucy, aku ingin menceritakan sesuatu tentang mimpiku!” seru Jeanny bersemangat.
“Ceritakanlah, aku juga ingin bercerita tentang mimpi tadi malam,” respon Lucy berjalan beriringan dengan Jeanny menuju kelas XII-2. Mereka sempat berpapasan dengan si gadis misterius, Emily.

“Tentang apa mimpimu semalam?” tanya Lucy to the point.
“Emily. Aku bermimpi aku mengikutinya hingga ke rumah tua di perbatasan hutan dengan kota, aku melihatnya memasuki rumah itu, nyatanya ia berada di belakangku kemudian angin berhembus seakan merubah rupanya menjadi hantu mengerikan dengan penuh darah, pokoknya aku ketakutan!” Jeanny menceritakan mimpinya dengan ekspresi yang sulit dipahami. Lucy mengernyitkan dahinya, mengapa mimpi mereka sama?

“Aku juga bermimpi yang sama denganmu, Jean,” Lucy memulai ceritanya.
“Ba-bagaimana b-bisa?” Jeanny menganga lebar setelah tahu bahwa Lucy juga bermimpi yang sama dengannya.
“Kau berbohong, kan? Untuk menyeramkan suasana. Ah, Lucy, candaanmu tidak berguna,” Jeanny memastikan bahwa Lucy hanya berbohong. “Aku benar-benar mengalaminya!” gertak Lucy.
“Eh? Beneran?” Jeanny menyadarkan dirinya.
Mereka berbincang panjang seputar mimpi mereka berdua yang ‘kebetulan’ sama.

“Aku benar-benar ingin tahu apa isi rumah itu!” Jeanny memasukkan beberapa buku ke dalam tasnya.
“Kau ingat jalan di mimpi itu?” tanya Jeanny, Lucy mengangguk pasti. Mereka pun berjalan melewati hutan, 40 menit lamanya, akhirnya mereka sampai, sekiranya 50 meter di samping kanan rumah tua itu. “Ku kira mimpi itu tidak dapat dipercaya!” Lucy heran saat ada kesamaan mimpi dengan kenyataan. Mereka berjalan menuju rumah tua, hingga mereka sampai di terasnya. Jeanny memutar knop pintu, kemudian terlihatlah isi dalam rumah tua yang tidak terawat.

BRAK!!!

Lucy dan Jeanny terdorong ke dalam, entah siapa yang mendorongnya. Kemudian pintu tertutup keras menyisakan dentuman yang memantul di penjuru ruangan. “Lucy, ku pikir kita bisa keluar sekarang,” Jeanny memeluk lengan Lucy. Jeanny berusaha membuka pintu keluar, beruntunglah pintu itu bisa terbuka. Tiba-tiba…

BRAK!!

Pintu itu tertutup kembali, jari Jeanny terjepit di sela pintu dan dinding. Jeanny menarik jarinya dan mendapati darah mengucur di jari telunjuknya. Ia meringis kesakitan saat melihat bahwa kukunya terlepas dari jari. Tangannya bergetar hebat setelah terjepit dengan hebat pula. “Kau baik-baik saja?” tanya Lucy mencari-cari kertas di tasnya. “Matamu di mana, Cy? Kukuku lepasss, aaaa!!!” rintih Jeanny sedikit bercanda di saat genting ini. Lucy mengelap luka itu dengan kertas, gila? Tidak ada benda yang lain untuk mengelap darah itu. Jeanny tak henti-henti memekik kesakitan, tadi saat pintu itu tertutup cepat dan menghantam jarinya yang bertengger di samping dinding dekat pintu, rasanya… Aaarrrgghh sangat pedih.

Jeanny berusaha tenang walau tangannya masih bergetar sedari tadi. Kini ia melihat di sekitar lokasi, lepasnya kuku terdapat warna kebiruan, jelas itu sangat sakit. Di dalam rumah tua itu hanya ada 3 lampu yang redup, mungkin jarang diganti. “Lucy, ayo pulang. Tak ada gunanya berlama-lama di sini, ayo, Lucy…” rengek Jeanny menarik tangan Lucy untuk segera keluar. “Kau ingin terjepit lagi di pintu itu?” ancam Lucy terdengar mengerikan. “E-e..baiklah.” Kedua gadis itu kini berada di lantai 2 rumah tua tersebut, tiba-tiba pintu masuk terbuka sendirinya. “Emily datang!” bisik Lucy menarik Jeanny ke dalam ruangan untuk bersembunyi.

BRAK!!!

Suara pintu dibanting cukup keras, kemudian terdengar suara tertawa, seperti suara hantu. Emily yang tadi masuk ke dalam rumah, seketika lenyap. “Ada orang di sini,” ucap seseorang namun tak ada rupanya. Ternyata Emily berubah transparan, ia bergegas melacak orang yang masuk ke dalam ‘wilayah’-nya tanpa izin. Yang ia lihat, ada dua orang yaitu Lucy dan Jeanny yang sedang bersembunyi di sebuah ruangan.

Lucy dan Jeanny masih saja berkutat di posisinya, menunduk di bawah meja yang berada di dalam sebuah ruangan. “Sudah aman,” bisik Jeanny keluar dari persembunyiannya. Mereka hampir berteriak setelah tahu mereka berada di mana. Ruangan penuh peti mayat. “Pantas saja ada bau busuk!” Lucy mengecek satu peti mayat dan memastikan bahwa peti itu kosong. Ia membuka salah satu peti, dan… AAAAAA!!! Teriakan itu terdengar melengking.

Keesokan harinya. Lucy menceritakan kejadiannya saat berada di rumah tua itu, untunglah mereka berdua bisa keluar dengan selamat. “Iya, Jean! Aku melihat mayat itu membuka matanya dan menatapku! Makanya aku berteriak, aku ketakutan. Lalu saat kau ke WC, aku melihat Emily memasuki ruangan penuh tengkorak manusia, lalu aku langsung lari ke luar rumah itu, dan aku benar-benar minta maaf karena meninggalkanmu,” Lucy menceritakan semuanya dengan serius.

“Dan saat aku ke WC, aku melihat showernya mengeluarkan darah! Lalu darah itu menggenangi WC, kemudian ada tulisan ‘OUT!’ spontan aku langsung berteriak dan mencarimu di ruangan penuh mayat itu, yang ku temukan bukan kau, tetapi mayat itu hidup semua! Dia mengejarku dan aku langsung ke luar melalui pintu belakang, dan aku terjepit untuk kedua kalinya,” Jeanny memperlihatkan luka barunya di jari kelingking tangan kirinya.

“Emily bukan seorang manusia…” suara dengan nada rendah itu membuat suasana mencekam.
“Bagaimana bisa kau langsung menyimpulkan itu semua, Lucy?” tanya Jeanny.
“Di dalam mimpi kita menyaksikannya berubah wujud menjadi seseorang yang penuh darah dengan hembusan angin, lalu di kenyataannya aku menyaksikan Emily berubah wujud menjadi tidak terlihat. Apa ada hubungannya dengan Hanna?”

“Hanna? Maksudmu gadis korban pembullyan itu?”
“Ya, dia bunuh diri kan? Dan mulai dari postur tubuh hingga kebiasaan Hanna hampir sama dengan Emily,”
“Berarti….”
“Hanna muncul kembali dengan rupa Emily untuk membalas dendam semua yang pernah membully-nya.”

Cerpen Karangan: Ghina Syakila
Facebook: Ghina Syakila Pyromaniacs SonExo-l

Cerpen Emily merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

WhatsApp


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Misteri Sebuah Gang

Oleh:
Waktu itu sebenarnya adalah hari paling indah dalam hidupku. Dari pagi sampai menjelang sore tiada hentinya perut ini mendapat makanan Gratis. Teman-temanku banyak yang mentraktirku mulai dari yang ulang

3 Hari Yang Lalu

Oleh:
Tidak ada yang lebih menyenangkan di dunia ini apabila seseorang dapat hidup jauh dari orangtua. Bukannya tidak menyanyangi, tapi ini tuntutan diri untuk bisa mandiri dan hidup maksimal dengan

Ghost of School

Oleh:
Hai, nama gua Vety. Ini kisah nyata gua yang gua alamin waktu gua kelas 7 dulu. Hari itu hari sabtu, hari dimana gua dapet jadwal piket kelas. Jadi gua

Don’t Look The Mirror

Oleh:
Suatu hari di Distrik Gangnam, di sebuah rumah mewah terlihat 4 orang remaja putri yang sedang berdiskusi untuk membuat tugas proyek sains yang diberikan oleh guru mereka. Mereka mengerjakannya

Teman Dari Hutan

Oleh:
Kriiiiingggg… Suara alarm jam membangunkanku, pertanda ini sudah menunjukkan pukul 06.00 pagi. Akupun segera bergegas untuk mandi. Perkenalkan namaku Puji, umurku 11 tahun, dan aku adalah murid di kelas

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *