Foto Kemarin

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Horor (Hantu), Cerpen Misteri
Lolos moderasi pada: 27 October 2018

“Kenapa kita harus ke tempat ini sih! Kan, udah dibilang dari awal, mending kita gak usah ke sini!”
“Ssshhtt! Jangan berisik. Nanti dia datang”.

8 jam yang lalu
“Gue masih penasaran sama bayangan anak perempuan di foto yang gue ambil kemaren”. Kata seorang lelaki berumur 24 tahun tersebut.
“Udah deh ya, mending lo gak usah mikirin itu terus kali (dalam hati ‘kan disitu bekas tempat pembunuhan’)”. Kata lelaki lainnya.
“Tapi gue penasaran banget. Lo tau gak ada apa yang terjadi di daerah itu?” Tanya lelaki yang bernama Rio.
‘Kenapa sih dia tanya itu’
“Oi, tau kagak! Jangan bengong aja!”
“Oohh. Gue males sih ngasih tau tapi, ya udah deh buat temenku, gue kasih tau. Jadi, tempat itu sekitar beberapa ratus tahun yang lalu bekas tempat pembunuhan ya gak tau aja itu pembunuhan terjadi mungkin masalah pribadi”. Jawab lelaki bernama Tyo tersebut.
“Tapi gue mohon lo jangan kepoin kenapa pembunuhan itu terjadi oke?” Lanjut Tyo.
“Tapi, gue tetep mau selidikin tempat itu dan lo harus ikut!” Kata Rio.
“Tapi, … ya udah deh, gue ikut. Tapi, kalo ada apa-apa lo yang nanggung ya?”
“Iya, gue yang nanggung. Ya udah, kuy mulai”. Kata Rio.
“Woi, ini beneran? Masa sekarang? Gue belum siap-siap (‘siap-siap nyali’) Gue gak nyangka temen gue segila itu. Oi, tunggu!” Teriak Tyo.
Mereka pun pergi dimana kemarin mereka pergi.

4 jam kemudian
“Lo yakin nih mau nyelidikin misteri ini?” Tanya Tyo dengan seperti itu.
“Iya, Tyo. Lo kok aneh sih kita aja belum nyampe di tempat udah ketakutan gitu? Masih ada 1 jam lagi untuk menyiapkan nyali kali”. Kata Rio.
Mereka pun berjalan ke TKP untuk memecahkan misteri tersebut. Dan sesampai di tempat…
“Eehh, Rio, hawanya kok berubah banget ya dari sini?” Tanya Tyo yang mulai tidak enak.
“Udahlah, yuk ke rumah kemaren”. Ajak Rio dan diangguk oleh Tyo.
Mereka berjalan ke arah rumah yang ingin mereka datangi tetapi, di tengah jalan ada seorang wanita berpakaian berwarna hijau dengan jari-jari tangan yang telah terpotong dan satu mata hilang berada di depan mereka berdua dan…

“Rio, itu siapa? Kenapa sama bagian tubuhnya?” Bisik Tyo.
“Gue juga gak tau. Coba gue tanya dulu”. Jawab Rio dengan pelan.
“Hati-hati”. Kata Tyo.
“Permisi. Kita gak mau ganggu tapi, maaf anda ini siapa ya?” Tanya Rio.
Wanita itu tetap tidak menjawab tetapi, mendekati mereka berdua dan jarak di antara mereka berdua dengan wanita itu adalah 15 cm. Setelah beberapa lama hening, lengan wanita bergerak ingin menyentuh Tyo tetapi, ia menghentikannya pergi ke arah belakangnya.
“Apa yang harus kita lakukan sekarang?” Tanya Tyo.
“Kita akan mengikutinya?” Jawab Rio.
“Apa?!?!” Protes Tyo.
“Sudah ayo!” Perintah Rio.

Mereka pun mengikuti wanita itu sampai di sebuah pohon beringin yang sangat besar dan ada seorang pria yang memiliki lubang di kaki kirinya, dadanya, dan lehernya.
“Apa yang terjadi terhadap kalian berdua?” Rio bertanya terhadap pria dan wanita tersebut.
Pria dan wanita tersebut berjalan mengarah ke sebuah rumah yang cukup besar yang tak jauh dari pohon tersebut dan mereka berdua mengikutinya. Saat sampai di dalam rumah tersebut tepatnya ruang tamu pria dan wanita itu menghilang dan terdengar suara bising di bagian ruang makan.
“Apa kita harus ke arah suara itu Rio?” Tanya Tyo dan diiyakan oleh Rio.

Sesampai di ruang makan, pria dan wanita yang ditemui tadi seperti sedang makan tanpa ada bagian tubuh yang cacat.
“Apa yang terjadi? Mengapa mereka seperti terlihat seperti kecewa?” Tanya Tyo.
“Kita harus mengamati setiap pergerakan mungkin ini yang dapat memecahkan misteri ini”. Kata Rio.
Tiba-tiba terdengar suara pecahan kaca dari atas.
“Ayo ikuti aku”. Kata Rio dan diikuti Tyo.
Di atas ternyata terdapat sebuah kamar dan mereka memasuki kamar tersebut dan kaget setelah melihat isinya.
“Hei, bukankah dia mirip dengan bayangan anak perempuan di fotomu itu?” Tanya Tyo.
“Ssshhhttt, jangan berisik”. Kata Rio.
Di dalam kamar tersebut semua barang dihancurkan tanpa tersisa. Tidak lama mereka di kamar tersebut terdengar suara bentakan di bawah.

“Ayo kita harus melihat itu juga!” Kata Rio.
Sesampai di bawah mereka mencari apakah ada tanda-tanda orang di bawah dan menemukan ketiga orang itu di ruang tamu saling bertengkar. Dan terdengar teriakan wanita di dapur dan mereka melihat di dapur…
“Ternyata seperti itu”. Kata Rio dengan pelan.
“Apakah anak ini yang membunuh ibunya seperti itu?” Tanya Tyo.
“Bisa dibilang seperti itu”. Kata Rio.
Tidak lama mereka mendengar suara tembakan di ruang bawah tanah dan seperti biasa mereka mengarah ke suara itu berasal.

Sesampai di ruang bawah tanah, mereka melihat anak perempuan itu menembaki ayahnya yang sudah tidak berdaya karena sudah penuh dengan lubang kaki kiri, dada, dan leher pria tersebut. Tyo tak menyangka bahwa anak itu melakukannya sehingga ia mendekati anak perempuan itu tetapi, saat jaraknya dan anak itu hanya berbeda satu langkah, anak itu berbalik melihat Tyo.
“Rio bukankah dari tadi tidak ada yang bergerak setelah kita masuk ke dalam rumah ini-kan?” Tanya Tyo.
Rio tidak bisa berkata-kata dan akhirnya mereka lari mencari tempat persembunyian karena selalu dikejar oleh anak perempuan itu sampai anak itu kehilangan jejak mereka berdua.

Mereka mengatur nafas karena kecapaian di saat mereka bersembunyi sementara.
“Kenapa kita harus ke tempat ini sih! Kan, udah dibilang dari awal, mending kita gak usah kesini!”
“Ssshhtt! Jangan berisik. Nanti dia datang”.
Tidak lama sejak itu, mereka merasa ada seseorang di belakang mereka. Dan karena tak enak lagi mereka pergi dari tempat persembunyian ke luar rumah dan dikejar oleh anak perempuan tersebut. Karena kecapaian mereka berhenti di pohon besar beringin tadi dan anak oetempuan itu siap menembak peluru ke arah mereka berdua.
“Kumohon jangan tembak aku tolong ja…” Kata Tyo yang terpotong katena ditembak oleh anak tersebut.
“Tyo. Tyo jangan pergi dulu tolong jangan pergi dulu!”. Kata Rio.
Rio melihat anak perempuan tadi dan peluru melayang ke arahnya dan melihat anak aperempuan tadi senyum sinis dan …

Anak petempuan itupun keluar dari rumah tersebut. Ia merasa bahagia karena telah membunuh orangtuanya tetapi, dalam sekejap raut mukanya berubah menjadi sedih. Ia merasa bersalah atas semua yang ia lakukan. Jadi, anak perempuan berumur 14 tahun itu pun menembak tepat di kepalanya dengan benda yang sedari tadi ia pegang dan terjatuh ke tanah. Ada seseorang anak laki-laki melewati rumah tersebut dan melihat anak perempuan itu berada di tanah. Anak laki-laki itu pun menganmbil sebuah tombak di dekat pohon beringin itu dan menggantung anak perempuan tadi di pohon itu dan berkata “Selamat tinggal sayang”.
“Rio! Rio! Rio, woi bangun! Kita harus pergi dari sini sekarang!” Kata Tyo lalu, Rio bangun dan segera pergi dari daerah tersebut.

“Rio, sekarang lo udah tau-kan misteri itu?” Tanya Tyo dan diiyakan oleh Rio.
“Kalau begitu, tolong jelasin dong. Gue gak terlalu ngerti”. Minta Tyo.
“Yehh, kirain lo ngerti. Jadi, anak perempuan itu membunuh kedua orangtuanya karena sebuah hal yang dilarang oleh orangtuanya. Gue tau itu bukan kemauan dia tetapi, karena disuruh orang lain gitu. Bisa dibilang dia itu tersangka dan juga korban. Karena aku melihat salah satu foto yang melihat kemesraan dia dengan orang lain dan disaat gue telah ditembak, gue bermimpi kalo ada anak laki-laki yang menggantung anak perempuan yang telah bunuh diri tersebut di pohon beringin itu. Sepertinya, dia membunuh kedua orangtuanya karena ia tidak direstui hubungannya oleh kedua orangtuanya dan tersangka utamanya adalah anak laki-laki tersebut”. Kata Rio.
“Oh seperti itu.” Kata Tyo.
“Eehh, apa ini?” Kata Rio yang menemukan sebuah kertas di kantungnya.
“Coba lihat isinya!” Kata Tyo.

‘Maaf sebelumnya karena aku kalian hampir terancam mati dan terima kasih karena ada orang yang mengerti bagaimana perasaanku yang sebenarnya dan saya minta agar tidak memberitahukan kepada yang lain agar ini tetap menjadi rahasia bagi orang lain.’

“Ya sudah ayo kita pulang”. Ajak Rio.
“Apa!!! Sudah jam 3 sore! Dan kita sampai ke rumah membutuhkan waktu 5 jam! Tidakkkkk!!!” Tyo.

Cerpen Karangan: Shifa P D
Terima kasih sudah membaca.
Maaf jika ada yang salah dan gak jelas di cerita ini.

Cerpen Foto Kemarin merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Dia Mirip Denganku

Oleh:
Aku terdiam di antara keramaian orang, Tangisan ada di mana-mana. Alunan yasin terdengar bagaikan nada biola yang menyayatkan hati. Aku mulai sesak mendengar ratapan semuanya. Mereka semua memanggil namaku,

Gelap

Oleh:
Setiap malam aku selalu melihatnya berdiri di depan pintu kamarku. Terlihat bayangannya dari celah bawah pintu. Hanya diam, dia tidak melakukan apapun. Ku rasa dia sedang memperhatikanku dari lubang

Siapa Dia?

Oleh:
“tok tok tok tok tok!” Lagi lagi bunyi seperti orang mengetok di jendela kamarku. Awalnya aku cuma pura pura tidak peduli, tapi lama kelamaan bunyi itu semakin menggangguku, kuberanikan

Time Ghost (Part 2)

Oleh:
Darahku terasa memanas. Bulu kudukku berdiri. Tengkukku merinding dingin. Dalam lembar buku itu tertulis bahwa sekolah ini dulunya bukanlah sekolah manusia, melainkan asrama para setan. Dan memang benar apa

Sarinah (Last Part)

Oleh:
Audy, Andre dan July memalingkan pandangannya kearah kanan mereka begitu terlihat ada seberkas cahaya dan bayangan seseorang dari arah dapur. Mbok Surti berjalan pelan-pelan, tangan kanannya memapah Mbah sarinah

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *