Gadis Indigo (Sendang Made)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Horor (Hantu)
Lolos moderasi pada: 30 December 2015

Malam ini adalah jadwal pelajaran tambahan untuk bahasa. Saat itu Pak Tanto tidak dapat hadir dalam pertemuan kali ini. Sebenarnya aku kecewa karena sama saja ini membuang waktu jika tahu-tahu ternyata Pak Tanto tidak dapat hadir. Tetapi tidak untuk teman teman. Semua temanku menyambut gembira kabar tersebut. Dan bahkan mereka merencanakan suatu hal untuk mengisi kekosongan waktu.

“Eeh.. gimana kalau kita jalan-jalan aja?” Tanya Melisa menawari kami bertujuh. Ya, kelas bahasa memang tidak seramai kelas-kelas lain. Dan kebetulan tidak ada laki-laki dalam kelas kami.
Semua teman tampak setuju dengan tawaran tersebut. Tetapi tidak denganku. Aku hanya diam di sudut ruangan sambil memperhatikan mereka yang sibuk berunding.
“Fer, nggak ikut nimbruk?” Tanya Tasya melambaikan tangannya padaku. Aku hanya tersenyum dan menggeleng. Sejak aku menolak tawaran itu, aku menjadi terasing. Namun tak apa. Aku sudah terbiasa dengan begitu.

“Enaknya kita ke mana?” Tanya salah satu dari mereka.
“Ke taman kota?”
“Jangan ah. Terlalu biasa.”
“Ini udah malam loh! Jangan jauh-jauh ah.”
“Yaelah. Kita kan udah terbiasa jalan-jalan jauh. Kalau bisa kesempatan kali ini jangan disia-siakan deh.”
“Ke mana ya? Aku bingung jadinya.”

Ku dengar mereka semua sibuk berunding. Aku hanya diam di sudut ruangan. Tiba-tiba sesuatu membuatku terasa pusing. Pandanganku kabur. Tubuhku terasa begitu lemas. Namun dalam keadaan seperti ini aku kerap mendengar suara misterius yang membuatku terhipnotis mengikuti petunjuknya. “Kalian harus mengunjungi Sendang Made. Karena tempat tersebut sangatlah indah dan banyak dikunjungi remaja-remaja.” Ucapku tiba-tiba memandang mereka dengan tatapan tajam. Tampak seringai senyuman yang licik dari sela bibirku. Mereka hanya terdiam dan tidak percaya dengan apa yang kukatakan. Sedari tadi aku hanya terdiam tiba-tiba mengusulkan ide untuk mereka. Mereka sungguh tidak percaya.

“Kamu gak apa-apa kan Fer? Kalau nggak enak badan aku anterin pulang.” Tanya Bunga mendekatiku.
Aku hanya menunduk dan mengangguk. Wajahku tampak begitu pucat pasi.
“Kamu mau ikut kalau kita ke sendang itu?” Tanya Melisa heran. Aku hanya mengangguk.
“Kamu nggak sakit kan?” Tanya Melisa sedikit curiga.
Aku mengangkat kepalaku dan memandangnya marah. “Aku Gak Apa-apa!” Bentakku padanya. Melisa sangat terkejut. Dengan kesal ia pun meninggalkan kelas.
Semua tercengang. “Cepat antar aku ke sana!” Pintaku dengan nada tinggi. “Ba..ba..baik,” jawab semuanya ketakutan.

Sesampainya di Sendang Made, kelima temanku tidak ada yang berani memasuki kawasan sendang. Sektor pariwisata ini sangat bebas. Jadi tidak perlu izin untuk memasuki kawasan tersebut. Melisa sengaja tidak ikut dengan kami karena ia marah setelah ku bentak. “Ayo masuk” ucapku lirih. Semua temanku tidak melangkahkan kakinya sedikit pun. Aku sangat kesal dan marah.

“Apa kalian punya telinga? Ha?!” Bentakku kasar. Mereka tampak keheranan dengan perubahan sikapku. Aku yang dikenal sebagai gadis pendiam dan lugu tiba-tiba berubah menjadi setengah iblis. Itulah yang mereka pikirkan tentangku saat itu.

Karena takut, akhirnya mereka menuruti kata-kataku. Sesampainya di dekat sendang, aku menari-nari riang. Dengan sedikit tertawa aku bertanya pada mereka, “Kalian pasti kebingungan denganku?” Mereka hanya terdiam dan saling merangkul satu sama lain. “Sebetulnya ada yang ingin aku ceritakan mengenai sendang ini.” Kataku mengawali pembicaraan yang cukup serius.

“Aku sudah mati sejak 18 tahun lalu karena aku dibunuh kekasihku. Mayatku dimutilasi dan dibuang dalam sendang ini. Aku sangat menginginkan ada seorang gadis yang dapat aku ajak bicara. Dan akhirnya aku menemukan seorang gadis cantik yang bernama Ferna. Hahaha!” jelasku tertawa sambil menatap sendang itu. Tiba-tiba aku merasa sangat sedih. Aku pun menangis.

“Jadi kamu bukan Ferna?” Tanya Lutfi seperti ingin menangis. Aku hanya tertawa menyeringai di tengah tangisanku.
“Sadar Fer. Itu bukan kamu! Kamu dirasuki!” Sahut Rosa dengan ketakutan.
“Apa yang harus kita lakukan?” Tanya Bunga panik.
“Hubungi Ayah dan Ibunya! Cepat!”

Setelah teman teman menghubungi kedua orangtuaku, mereka segera menunggu kedatangan orangtuaku di depan pintu masuk. Mereka sangat ketakutan. “Aku takut Ferna ngamuk.” Ucap Bunga meremas tangan Rosa. Mereka hanya berdoa berharap orangtuaku cepat datang.

Beberapa menit kemudian, ayah dan ibu pun datang.
“Mana Ferna?” Tanya ibuku sangat panik.
“Di dalam Bu.” Jawab salah satu dari mereka.
Ayahku adalah orang yang ahli dalam menangani kerasukan roh. Dengan cepat ayah segera membacakan ayat-ayat suci dan mengikatku erat. Aku merasa sangat kesakitan. Karena itu aku meronta-ronta. Dan aku pun akhirnya pingsan.

“Ferna indigo?” Tanya Rosa tidak percaya.
“Ibu juga tidak yakin. Sedari kecil ia bersikap aneh. Tidak jarang ia menangis tanpa sebab. Tertawa tiba-tiba. Dan mengoceh sendiri. Tetapi jika ditanya ia selalu bilang bahwa ia baik-baik saja.” Jelas ibuku pada teman-teman. “Saya mohon maaf sudah merepotkan kalian. Terima kasih atas bantuannya. Saya mohon bantuannya untuk menjaga Ferna.”
Teman teman tersenyum dan mengangguk. “Pasti kami jaga.”

Cerpen Karangan: Fadila Fernanda
Blog: www.blogfafaalison13.blogspot.com

Cerpen Gadis Indigo (Sendang Made) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


AHS

Oleh:
Ctik, ctik, ctik… Seseorang di depan komputer itu mengetikkan sederet huruf pada keyboardnya, fokus tatapannya tanpa suatu niat untuk teralihkan. Log in Klik. Setelah memasukkan email dan passwordnya, dia

Sosok Di Depan Perpustakaan

Oleh:
Hay guys, kenalkan namaku Indriani Pujasari biasa dipanggil Indry. Aku berusia 16 tahun. Aku mau berbagi cerita yang pernah aku alami bersama temanku Kiki (nama disamarkan) saat persami di

Umbrella

Oleh:
Aku harus cepat membereskan pekerjaanku dan harus segera pulang. Ini sudah terlalu larut, jam di dinding kafe menunjukkan pukul 10.03 pm, dan biasanya aku pulang pada pukul 09.00 pm.

Sebuah Panggilan

Oleh:
Suara dentuman sepatu kets terdengar di sepanjang lorong yang sudah semakin sepi. Langit sudah semakin gelap. Matahari pun telah digantikan dengan kehadiran bulan. Langkah kaki itu semakin cepat hingga

Misteri Coretan Dinding Sekolah

Oleh:
Mata pelajaran kali ini adalah Kimia. pak Bono tengah menerangkan materi Metana dan Karbondioksida, memang sedikit agak mumet untuk mempelajari Bab yang satu ini, lalu dari pada bete mereka

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *