Gadis Penunggu Di Senja Hari

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Horor (Hantu)
Lolos moderasi pada: 1 May 2017

Ketika matahari mulai meredup, sang awan pun dengan seksama menjadi penguasa langit, menyisingkan senja yang berlinang jingga.
Di sekolah itu hanya kesunyian yang menyelimuti, tak ada guru yang sering memarahi muridnya, tak ada satpam yang selalu berada di pos nya, juga tak ada murid yang meramaikan sekolah oleh tingkahnya. Tetapi ada seorang gadis bernama Ratna bersetatus siswi di sekolah itu sedang berlari lari dengan tergesa gesa. Gesekan sepatu ketznya membuat suara di sekitar lorong yang ia lewati menggema. Rambut pendeknya ikut melambai seiring langkak kakinya yang lebar, kaos hitam yang ia kenakan terlihat basah oleh keringat menandakan ia berlari tanpa henti.

Ratna telah sampai di tempat tujuannya yaitu ruang kelas dengan nafas terengah rengah, kedua tangannya bertumpu pada lutut untuk menetralkan nafasnya. Di atas pintu terlihat kayu kecil yang menggantung bertuliskan IX-C. Ia menegakkan badannya lalu berjalan menuju bangku yang berada di pojok kanan dekat pintu masuk. Gadis itu berjongkok untuk melihat isi laci mejanya, senyumnya langsung mengembang saat benda yang ia cari ternyata masih tergeletak rapi. Tangannya terjulur mengambil benda tersebut yang ternyata adalah buku catatan.

“Untung masih ada” Keluhnya lega, jika sampai buku catatan ini hilang, bisa bisa nyawanya besok dicabut oleh pak Yanto, guru matematika paling killer yang terkenal dengan kedisiplinannya. Jika tidak membawa buku catatan yang telah dianggap kitab suci bagi para siswa yang diajar oleh pak Yanto. Siap siap saja hukuman atau nilai taruhannya. Ratna berjalan sambil bersiul kecil, bukunya ia peluk dada takut takut akan hilang lagi, matanya meneliti setiap sudut sekolah.

“Ternyata kalo sepi gini, sekolah serem juga” Batinnya, ia jadi teringat cerita teman temannya tadi siang. Sore menjelang magrib aka nada suara wanita minta tolong, sosoknya menggunakan baju putih yang penuh dengan darah, rambut panjang tidak menutup wajahnya yang juga penuh akan darah, ditambah lagi ia berjalan dengan menyeret kedua kakinya yang berdarah, menciptakan garis memanjang sepanjang koridor.

WUSS..
Tiba tiba angin berhembus dari arah belakang, membuaat tubuh Ratna sekitika merinding, ia memeluk dirinya sendiri mencoba meyakinkan diri sendiri bahwa yang tadi hanya sebuah hembusan angim semata.
“Ya, itu hanya angin” Batinnya meyakini
Ia mempercepat langkanya, berbelok melewati lorong tanpa menengok ke belakang, takut takut jika hantu itu muncul tepat saat ia menengok ke belakang.

Akhirnya Ratna sampai di lapangan belakang sekolah, ia memilih jalan ini karena lebih cepat sampai di rumah dari pada melewati halaman depan. Baru saja Ratna akan melewati pohon besar itu, matanya langsung terbalak melihat seorang gadis bertikarkan rumput sedang duduk di bawah pohon.
Perawakan gadis itu mungil, mungkin jika diukur hanya sebatas leher Ratna, mengenakan gaun putih tanpa lengan dengan surai panjangnya yang diurai membingkai wajah bulatnya. Gadis itu mendongak melihat ke arah Ratna yang sedang memeluk buku. Gadis bergaun putih itu tersenyum, melambai lambai ke arah Ratna, seakan mengisyaratkan Ratna untuk duduk di sampingnya. Awalnya Ratna takut, pikirannya mengatakan bisa jadi gadis itu hantu. Tapi setelah ia teliti lebih jauh, tidak ada tanda tanda ia hantu, sepasang kakinya ada, tak ada noda merah di gaunnya ataupun rembesan darah dari kakinya, bahkan jika Ratna boleh jujur gadis itu cantik dan manis.

Perlahan ia mendekat ke arah gadis itu dan duduk di sampingnya, masih bersikap waspada, ia duduk agak jauh untuk menjaga jarak. Sedangkan gadis itu tampak tidak keberatan. Justru ia agak mendekat dan mengulurkan tangan untuk berkenalan
“Aku Rina, namamu siapa?” Tanya gadis itu.
Ratna memandang ragu ragu uluran tangan itu sebelum menyambut jabatan itu
“A.. aku Ratna” Jawabnya agak gugup
Tangan mereka masih berjabat, Ratna bisa merasakan betapa hangat dan halusnya tangan Rina, gadis bergaun putih itu. Mereka melepaskan jabatan tangannya, Rina menatap lekat Ratna dengan mata bulatnya. Yang ditatap pun mulai jengah.
“Apa?” Kata Ratna jengah, badannya bergerak dengan gelisah
“Kamu mau jadi temanku?” Tanya Rina penuh harap. Ratna menoleh ke arah Rina yang menatapnya dengan penuh harap. Karena tidak tega, ia mengangguk
“Err.. baiklah, aku mau” Jawab Ratna, jawaban itu membuat gadis di depannya berlonjak girang. Rina menangkup kedua tangan tangan Ratna dan menatapnya dengan pandangan lurus.
“Kalau gitu, kamu harus menemaniku setiap hari saat senja hari..” Ucapan Rina berhenti sejenak, pandangan mata Rina menjadi menusuk dan serius, membuat Ratna harus meneguk ludah.
“Dan kamu tidak boleh berkhianat dan terus setia menjadi temanku, mau kan?” lanjutnya.
Saat itu Ratna tidak tahu apa maksud perkataan Rina, maka sekali lagi Ratna hanya bisa mengangguk mengiyakan.

Sudah terhitung satu minggu sejak ia bertemu dan berkenalan gadis bergaun putih bernama Rina itu. Mereka menjadi teman baik, setiap harinya mereka bertemu di senja hari, mereka juga mengobrol tentang banyak hal. Tetapi ada hal aneh yang mengganggu pikiran Ratna, seperti kenapa mereka hanya bisa bertemu saat senja hari? dan kenapa saat berada di dekat Rina, ia selalu mencium aroma melati? apakan Rina memang suka memakai parfum dengan aroma melati? pertanyaan itu terus menerus menari di pikirinnya. Ratna ingin menanyakan hal itu secara langsung kepada RIna. Tapi ia selalu menepis pikiran pikiran itu negatif itu.

Malam pun mulai berganti menjadi pagi, sang mentari belum memancarkan sinarnya terlalu terik. Rina sudah siap dengan celana training beserta sepatu olahraganya. Sebuah handuk kecil sudah tersampir manis di lehernya. Hai ini adalah hari Minggu, jadwal rutin Ratna berolahraga keliling komplek sekitar rumahnya. Ia berolahraga sekitar 15 menit, berhenti sebentar di sebuah toko untuk membeli Koran pagi dan beberapa bungkus roti.
Setelah sampai di rumah, Ratna langsung menghempaskan tubuh letihnya di atas sofa. Tangannya membuka tutup botol air mineral dan langsung meneguknya, air mineral itu membasahi kerongkongan Ratna, membuat dahaganya hilang seketika. Ratna membentangkan Koran yang tadi pagi ia beli, membaca berita pagi yang sedang panas di masyarakat. Tiba tiba matanya tertarik dengan judul “Seorang Gadis Dibunuh sebelum Diperk*sa”, matanya bergerak ke kanan ke kiri membaca setiap kata yang tercetak jelas. “Seminggu yang lalu telah ditemukan mayat seorang gadis yang berada di perumahan xxx, mayat itu ditemukan sekitar pukul 16.30 WIB, Diduga sebelum dibunuh gadis tersebut diperk*sa terlebih dahulu, untuk penyelidakan lebih lanjut masih diselidiki oleh para polisi”
Begitulah tulisan yang tertera jelas di Koran itu
“Mayat gadis itu bernama Rina, seorang siswi SMA di-” Tiba tiba mata Ratna terbalak. Ia membaca setiap paragraph memastikan apa yang dia baca adalah salah.

“Ini pasti bercanda kan?” Katanya pada diri sendiri, ia melesat menuju kamar dan membuka laptop, Membuka alat pencarian bernama google dan mengetik nama korban di jendela goolge. Gambar beserta informasinya langsung keluar, ia mengarahkan mouse pada salah satu web lalu mengeklik. Badan Ratna langsung menegang ketika foto Rina terpampang jelas.
“Jadi selama ini Rina berbohong” Batinnya
“Aku harus bertemu Rina sore ini juga!” Batinnya melanjutkan, setuju dengan pemikiran itu, ia mempersiapkan apa yang akan dikatakan kepada Rina, tentang semua kebohongan ini.

Pagi hari telah tergantikan oleh senja hari, Ratna dengan nafas terengah rengah telah sampai di lapangan sekolah, matanya mencari cari keberadaan Rina, biasanya ia selalu menunggu Ratna di bawah pohon, tapi sekarang ia tak ada, Ratna melihat jam tangan yang memelilit di pergelangan tangan kirinya, pukul 17.00, tinggal 25 menit lagi matahari agan tenggelam sepenuhnya, Dengan keyakinan penuh, ia berjelan mendekat ke arah pohon
“RINAA!” Teriak Ratna memanggil Rina
Sunyi..
Tak ada jawaban apapun, hanya angin yang berhembus menerpa rerumputan dan menerbangkan daun yang gugur. Ratna mendesah, kalau begini ia akan bertanya kepada Rina besok. Ia berbalik hendak pergi pulang ketika suara tertawa muncul dari belakangnnya
HIHIHIHI…
Badan Ratna seketika menegang, bukannya itu suara,
Glupp. Ratna tak berani melanjutkan kata itu, dengan bermodal keberania, ia berbalik dengan gerakan patah patah, tepat saat ia berbalik ke belakang wajah penuh darah lah yang ia lihat terlebih dahulu

“Aaaaaaaaaa”
Teriakan itu memenuhi seluruh lapangan, Tubuh Ratna bergetar dengan kuat, keringat dingin membanjiri dahinya, ia berjalan ke belakang dengan kaki yang gemetar. Sialnya ia tersandung sebuah akar dan jatuh duluan dengan bokong mendarat duluan. Ia mengaduh kesakitan sambil memegangi bokongnya. Kaki berlumuran darah menyadarkan Ratna, Ia mendongak ke atas, melihat sebuah penampakan yang tak pernah ingin Ratna lihat.
“R. r. r. ina” Ujar Ratna memanggil
Rina tersenyum dengan lebar hingga mencapai telinga, memperlihatkan giginya yang tak terbungkus kulit,
“Ratnaaa”
Panggilan itu seakan suara kematian, Ratna mundur dengan tubuh bergetar. Rina berjalan dengan pelan, kakinya penuh akan darah dan Belatung, kepalanya patah ke kiri menunjukkan tulang lehernya. Ratna menggeleng, air mata sudah membanjiri pipinya

“R.. r. rina jangan” Ucap Ratna meomohon
“Kenapa? Bukankah kita teman Ratna”
Ucapan itu lagi lagi membuat tubuh Ratna bergetar hebat. Tangan busuk Rina terulur untuk mencekik Ratna. Tubuh Ratna terangkat tinggi, kakinya sudah tidak lagi terpijak tanah. Ratna meronta dengan hebat, mencoba melepaskan cekikan itu dari Rina. Wajah Ratna sudah membiru. Rambut Rina yang dulunya lembut kini telah lembab oleh darah yang mongering, ulat ulat berjalan di atas kepala Rina, wajahnya yang dulu putih dan bersih, kini telah setengah hancur, memperlihatkan daging dan tulang yang menonjol.

”Tugas teman harus saling menolong, jadi maukah kamu mati bersamaku Ratna”

“TIDAKKKKK”

SELESAI

Cerpen Karangan: Noviani. H. Lala
Facebook: Orange Ten Na

Cerpen Gadis Penunggu Di Senja Hari merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Watashi Wa Kirei Desu Ka?

Oleh:
Bulan purnama sedang bundar-bundarnya. Aku berjalan sambil menggandeng gunting raksasaku. Tanyakan mengapa ada darah mengalir dari ujungnya, maka aku akan menjawab bahwa ia baru saja memakan santapan malamnya, seorang

Malam Malam di Sekolah itu

Oleh:
Kupandangi sekolah yang besar dan tampak menyeramkan itu. Yap!! Hari ini aku bersekolah, di sekolah astrama, bernama Saktavia. Namaku Silvi. Aku datang bersama temanku, Jenny. Kami segera berjalan menuju

Hantu Rumah Baruku

Oleh:
Hai, perkenalkan namaku janissa bisa panggil nisa, oke. Langsung aja ke cerita. Waktu itu aku lagi liburan ke jakarta dan selepas kami pulang dari liburan rumah kami berantakan. Yah,

Perpustakaan Sekolah

Oleh:
Pagi ini langit terlihat mendung, seolah sang mentari enggan menampakkan dirinya. Dan seperti biasa, keadaan ini selalu sama, seakan tak pernah ada perubahan dari hari ke hari. Hari ini

Tangis Mu Merayu

Oleh:
Suara burung hantu dan lolongan anjing di atas bukit mengusik sepi yang hampir abadi malam ini. Sesaat suara mereka bersahutan. Entah anjing atau serigala, tapi lolongannya kian melengking memenuhi

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *