Girl In The Rain

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Horor (Hantu), Cerpen Misteri
Lolos moderasi pada: 11 April 2018

Trevor Beck merupakan seorang petani biasa, dengan kehidupan yang biasa-biasa saja. Namun sebuah keganjilan yang terjadi beberapa bulan yang lalu membuat Trevor berpikir bahwa, mungkin kehidupannya sebagai petani tidak membosankan seperti apa yang sering orang-orang bicarakan. Bahkan ia dapat berkata, ia senang kini menjadi seorang petani.

Trevor tinggal di desa Lenchister, Boulder, yang terletak di dalam kawasan Northshire. Ia memiliki sebuah ladang jagung yang cukup luas, yang bahkan sudah terkenal sebagai penyuplai terbanyak kota tersebut. Trevor, pada awalnya, menganggap bahwa kegiatan bertani bukanlah untuknya. Ia selalu memiliki impian lain. Namun karena warisan dari keluarganya, ia harus mengurus ladang jagung yang cukup luas itu. Dan ia tidak memiliki pilihan lain.
Ia tinggal bersama dengan istrinya
Matilda, dan memiliki dua orang anak remaja yang saat ini sedang berkuliah di Boulder University. Kegiatan Trevor setiap harinya selalu sama. Ia bangun di pagi hari, memeriksa ternak-ternaknya yang berada di kandang samping rumah, lalu sarapan di dapur sambil membaca koran, dan sisa hari ia lakukan dengan memeriksa ladang jagungnya. Tidak ada yang pernah berubah dari kegiatan kesehariannya itu. Hingga suatu kala…, suatu hal terjadi.

Hari itu merupakan sebuah hari di pertengahan tahun yang panas. Langit tiba-tiba saja menghitam dengan cepat saat Trevor masih mengurus jagungnya di ladang. Hujan tiba-tiba saja turun. Memaksa Trevor untuk segera kembali ke truknya dan bergerak kembali ke rumah. Namun di persimpangan jalan yang terletak tak jauh dari rumahnya, ia melihat sesosok gadis dalam balutan kaos hitam tengah berdiri di tepi jalan, di tengah hujan, tanpa payung. Rambut hitam gadis itu terlihat basah kuyup, menutupi wajahnya yang terlihat putih pucat. Trevor yang merasa penasaran menghentikan truknya tepat di depan gadis itu. Gadis itu hanya mengangkat wajahnya sedikit, lalu tersenyum.

“Apa yang kau lakukan di tengah hujan seperti ini?” tanya Trevor. “Kau bisa sakit.”
“Aku sedang menunggu seseorang.” Jawab gadis muda itu.
“Rumahku ada di sekitar sini. Kau mau mampir sambil menunggu? Aku memiliki baju gantiku untukmu.”
“Tidak usah.” Balas gadis itu. “Temanku sebentar lagi akan datang. Terima kasih sudah menawari.”

Trevor tidak memiliki pilihan lain selain bergerak meninggalkan gadis itu di tengah hujan. Meski begitu, Trevor tidak dapat menghilangkan bayang-bayang gadis itu dari dalam kepalanya. Entah apa yang salah. Apakah karena kenyataan gadis itu berdiri di hujan? Atau karena alasan lain? Trevor pergi tidur malam itu dengan banyak pertanyaan masih memenuhi kepalanya.

Keesokan harinya, Trevor tiba-tiba saja teringat kembali dengan gadis yang berdiri di tengah hujan itu. Karena ia tidak bisa menyimpannya sendiri, maka ia mencertakan hal itu pada Matilda.

“Apanya yang aneh?” balas Matilda. “Dia hanya gadis yang sedang menunggu temannya. Mungkin dia tidak mengira akan hujan, dan tidak membawa payung.”
“Tapi aneh.” Balas Trevor. “Aku merasa aneh saja. Ia basah kuyup, seolah ia sudah berdiri terlalu lama di sana. Dan pertanyaan lainnya, dari mana sebenarnya gadis itu? Perempatan itu jauh dari kawasan penduduk. Tidak mungkin dia bisa ada di sana tanpa alasan, ‘kan?”

“Trevor!” ucap Matilda sambil mendesah. Wanita itu seketika melupakan panci masakannya dan memandang serius ke arah suaminya itu.
“Kau tidak perlu memikirkannya.” Ucap wanita itu. “Yang perlu kau lakukan kini adalah apa yang akan kau perbuat pada salah satu kudamu yang sakit itu?”
“Benar.” Jawab Trevor seraya berdiri dari kursi yang ia duduki.

Dari pagi hingga siang hari itu, Trevor sibuk di kandang mengurus kudanya yang entah kenapa tiba-tiba sakit itu. Ia sadari pula bahwa gerak-gerik dari ternaknya yang lain tidak normal. Sapi-sapi tidak berhenti melenguh, dan kuda-kuda lain yang masih sehat terus menghentak-hentakkan kakinya. Kambing terus mengembek, dan para angsa terlihat tidak bisa diam. Seolah hewan-hewan itu ingin mengatakan sesuatu pada Trevor.

“Ada yang tidak beres dengan hewan kita.” Ucap Trevor saat kembali ke dalam rumah. “Sebaiknya aku mengunjungi dr. Stevenson. Aku ingin bertanya soal tingkah aneh ternak-ternak ini.”
“Ke Boulder?”
“Ya.” Jawab Trevor.

Kota Boulder hanyalah sebuah kota kecil yang terletak tak jauh dari peternakan dan pertanian Trevor. Trevor berhasil menemui dokter hewan Stevenson, namun Trevor tidak mendapatkan jawaban yang ia mau. Hewan-hewannya sepertinya tidak mengidap penyakit apapun. Lalu kenapa?

Langit tiba-tiba kembali menghitam saat Trevor keluar dari rumah dr. Stevenson. Hujan lagi, dan begitu deras. Petir beberapa kali menyambar, dan angin bertiup dengan begitu kencang. Bahkan sudah dapat dikatakan sebagai badai.
Trevor mengendarai truknya dengan hati-hati di tengah guayaran hujan deras itu. Jalanan terlihat buram dan tidak jelas. Namun ketika Trevor akan berbelok di perempatan yang mengarah ke rumahnya, ia melihat kembali gadis itu. Gadis yang sama, dalam balutan kaos hitam yang sama. Berdiri di posisi yang sama, di tengah hujan deras. Trevor, tanpa sadar, mengehentikan kembali truknya tepat di depan gadis itu.

“Kau lagi.” ucap Trevor setelah membuka kaca jendela mobilnya. Sedikit air masuk ke dalam kabin, namun Trevor tidak mempedulikannya. Gadis itu kembali melepas satu senyum tipis.
“Apa yang sebenarnya kau lakukan?” tanya Trevor mengutarakan rasa penasarannya. Karena ia berpikir tingkah gadis itu sudah tergolong aneh dan tidak wajar.
“Aku menunggu temanku.” Jawab gadis itu. Jawaban yang sama seperti yang terucap sehari sebelumnya. Yang membuat Trevor semakin menekuk alisnya.
“Temanmu sepertinya bukan teman yang baik, meninggalkanmu dalam hujan seperti ini.”
“Dia mungkin hanya terlambat.” Ucap gadis itu. “Kurasa dia akan datang sebentar lagi.”
“Kau yakin?” tanya Trevor. “Mampir ke rumahku! Kau bisa menggunakan telepon untuk…”
“Tidak apa-apa.” Potong gadis itu.
“Terima kasih.”

Sekali lagi, Trevor meninggalkan gadis itu berdiri dalam hujan deras. Dan Trevor, kembali masuk ke rumah dengan berjuta pertanyaan soal gadis misterius yang berdiri di tengah hujan itu.

“Gadis itu lagi?” ucap Matilda tidak percaya. “Kenapa? Kenapa dengan gadis itu? Kenapa dia selalu berdiri di sana, saat hujan?”
“Bukankah itu pertanyaan yang kutanyakan pagi tadi?” balas Trevor sambil mencicip kopi panas. Hujan masih belum berhenti.
“Jika kejadian ini berlanjut,” lanjutnya. “Mungkin kita harus memanggil polisi. Sikap gadis itu sudah terbilang aneh.”
“Tapi dia tidak melakukan apapun.”
“Aku tahu.” Balas Trevor. “Tapi firasatku mengatakan hal lain.”

Keesokan harinya merupakan hari Sabtu, dimana seperti biasa, dua anak Trevor pulang kembali ke rumah. Mereka adalah Adam dan Tracy, kakak adik yang hanya berjarak dua tahun. Mereka sama-sama bersekolah di Boulder University.

“Kau tidak melihat ada yang aneh saat kemari?” tanya Trevor pada putranya sulungnya, Adam. “Di perempatan, dekat ladang jagung?”
“Tidak.” Jawab Adam. “Memangnya ada apa?”
“Bukan apa-apa.” Ucap Trevor. “Tidak perlu kau pikirkan.”

Pemikiran Trevor mengenai gadis misterius itu terpecah saat ia mendengar suara gonggongan anjing. Pintu depan tiba-tiba saja terbuka, dan seorang gadis berambut pirang bergerak masuk sambil membawa seekor anjing berwarna hitam dan coklat. Anjing itu adalah anjing Tracy, yang biasanya ditipkan di tempat penitipan hewan saat Tracy kuliah. Dan setiap akhir pekan, Tracy selalu membawa anjing itu kembali ke rumah.

“Halo Pollie!” ucap Trevor. Anjing itu, Pollie, langsung mengibas-ibaskan ekornya sambil menjilati tangan tuannya.
“Hai, ayah! Kau sudah baca berita hari ini?” tanya Adam seketika sambil mengangkat koran yang ada di tangannya.
“Berita bagus?”
“Mayor Larsen ingin maju lagi dalam pemilihan tahun depan.”
“Oh, ya?” balas Trevor. “Boleh pinjam?”

Trevor membentangkan koran di tangannya, dan membaca headline hari itu yang memang berkutat pada masalah kampanye calon-calon mayor Boulder. Lalu ada beberapa artikel kecil lainya yang tidak begitu penting, dan secara tak sengaja Trevor menemukan sebuah berita kecil yang menarik di halaman dua. Sebuah berita yang membuat kedua matanya terbelalak.

“INI DIA!” seru Trevor tanpa sadar. Perhatian istri dan kedua anaknya segera terarah padanya.
“Ada apa, Ayah?” tanya Tracy.

Trevor segera membentangkan koran yang ia pegang di atas meja. Perhatian semua orang yang ada di tempat itu segera saja terfokus pada artikel kecil yang dimuat di dalam koran itu. Sebuah artikel yang berjudul,
MAHASISWI MENGHILANG.

Mahasiswi yang disebutkan di dalam artikel itu memiliki ciri-ciri yang begitu mirip dengan gadis yang selalu Trevor temui di persimpangan jalan itu. Berambut hitam sebahu, terlihat terakhir kali memakai kaos hitam lengan panjang, dengan tinggi sekitar 170 cm.
Nama gadis yang menghilang itu adalah Cassandra Lowe, berusia 22 tahun yang tinggal di sebuah kamar asrama dekat dengan Boulder University, dimana gadis itu kuliah. Cassandra terakhir kali terlihat tanggal 12. Tepat di saat Trevor melihat gadis itu untuk yang pertama kalinya.

“Kau yakin, Ayah?” tanya Adam.
“Maksudku…, apa benar memang Cassandra ini yang kau lihat? Mungkin hanya memiliki ciri-ciri yang sama dengan…”
“Terlalu pas untuk sebuah kebetulan.” Potong Trevor. “Gadis itu memiliki ciri-ciri persis dengan apa yang ditulis di sini. Dan tanggal 12, adalah hari pertama aku melihat gadis itu.”
“Dan kemarin kau melihatnya lagi?”
“Ya.” Jawab Trevor. “Di tempat yang sama.”
“Berarti dia saat ini berada di kawasan kita ini?” tanya Matilda. “Trevor! Apa yang harus kita lakukan? Gadis itu mungkin butuh pertolongan kita.”
“Apa mungkin dia tersesat?” tanya Tracy. “Tapi rasanya mustahil, ‘kan? Kota Boulder hanya berjarak lima kilo dari pertanian ini. Dan apa yang ia lakukan di tengah area ladang?”
“Dia berkata, temannya akan menjemputnya.” Ucap Trevor. “Paling tidak itu yang ia katakan.”
“Lalu sekarang bagaimanaya?”

Trevor bangkit dari kursi yang ia duduki, lalu bergerak ke arah jendela. Langit di sebelah barat mulai menghitam, dan mungkin sore nanti akan turun hujan lagi. Jika Trevor ingin menemukan gadis itu, mungkin saat ini adalah waktu yang tepat.

“Adam, bantu aku!” ucap Trevor seraya bergerak meraih jaketnya. “Bawa Pollie! Dia mungkin bisa membantu.”
Dalam sekejap, Trevor dan Adam sudah berada di perempatan dimana gadis itu terlihat sebelumnya. Namun sejauh mana mereka mencari, mereka tetap tidak menemukan keberadaan gadis berkaos hitam itu. Bahkan tidak ada tanda-tanda sama sekali.

“Terlalu aneh untuk gadis muda berdiri di tengah ladang seperti ini.” Ucap Adam. “Kurasa memang ada yang tidak beres.”
“Dia juga bersekolah di Boulder University. Kau tidak mengenalnya?”
“Ada ribuan murid di sana.” jawab Adam. “Tentu aku tidak mengenal semuanya.”

Setelah lelah mencari dan tidak menemukan apapun, Trevor dan Adam kembali ke rumah. Langit hitam mulai membuung tinggi, siap untuk mengguyur kawasan itu.

“Sebaiknya aku melaporkannya pada polisi.” Ucap Trevor.

Malam harinya, hujan turun dengan deras. Jarum jam sudah menunjukkan pukul sepuluh malam namun Trevor masih belum bisa tidur. Ia masih memikirkan soal gadis yang ditemuinya di tengah hujan itu. Apakah benar gadis itu adalah Cassandra? Dan kenapa Cassandra ada di tengah pertanian seperti ini? Apakah ia mencoba lari dari sesuatu? Sesuatu yang mengancam nyawanya?
John yang mulai merasakan matanya berat lambat laun terserap ke dalam alam mimpi. Namun baru satu menit, ia bangkit ke posisi duduk dengan seketika saat ia mendengar gonggongan Pollie dari lantai bawah. Tidak biasnaya Pollie bersuara di malam hari. Ada yang tidak beres.

Trevor memutuskan untuk tidak membangunkan Matilda yang sedang tertidur pulas. Setelah meraih jaket, ia bergerak turun ke lantai satu, dimana ia menemukan pollie sudah berdiri di pintu depan dan terus menggonggong tidak tenang.

“Ada apa, Pollie?” tanya Trevor. “Ada yang tidak beres?”

Pollie terus menggaruk-garukkan kaki depannya pada pintu, seolah ingin dibukakan pintu. Trevor menuruti permintaan anjingnya itu. Pollie langsung berlari ke halaman, di tengah hujan, begitu pintu dibukakkan. Namun gonggongan anjing itu tidak berhenti.
Pollie berlari ke sana-kemari. Trevor sadar bahwa Pollie meminta dirinya untuk mengikuti anjing itu.

Trevor dengan segera meraih jas hujan dan senter dari dapur, lalu seketika keluar dair rumah. Hujan masih mengguyur dengan deras, dan kawasan pertanian seperti itu di malam hari terlihat begitu gelap, apalagi di tengah badai. Perlahan, Trevor mengikuti Pollie yang bergerak menyusuri jalan keluar dari area pertanian. Dan anehnya, Pollie mengarah pada perempatan yang bermasalah itu.

“Apa yang ingin kau tunjukkan, Pollie?” gumam Trevor sambil menyorotkan senternya ke setiap tempat. Dan beberapa saat kemudian, barulah Trevor tahu apa yang Pollie inginkan.

Di kejauhan, Trevor dapat melihat sosok gadis berkaos hitam itu, yang lagi-lagi berdiri di perempatan, di bawah tiang lampu. Ini adalah kesempatan Trevor untuk menolong gadis itu.

Trevor segera berlari ke arah gadis itu. Namun sebelum ia sampai, gadis itu mulai bergerak menjauh dari area lampu.

“TUNGGU! KAU!” Trevor berteriak. Namun suaranya sia-sia saja di tengah guyuran hujan yang lebat itu.
“Kejar gadis itu, Pollie!” seru Trevor sambil terus berlari. Pollie bergerak di depan, mengikuti ke mana arah perginya gadis itu. Akan tetapi…

Trevor menghentikan langkahnya seketika saat ia mencaai sebuah jalan buntu. Ya. Jalan buntu. Gadis itu mengarah langsung pada ladang jagung. Tidak ada jalan lain. Dan gadis itu telah hilang.
Trevor tidak begitu saja menyerah. Ia berteriak, berseru mencoba untuk memanggil gadis itu keluar. Ia berpikir, mungkin gadis itu bersembunyi di antara tanaman jagung. Tapi…, Trevor tidak menemukannya.

Pollie pun sepertinya sudah menyerah. Ia sudah berhenti mengonggong. Hujan yang deras masih mengguyur. Langit hitam, di tengah kawasan pertanian yang gelap. Gadis itu menghilang tanpa jejak.

“Mustahil!” seru Adam keesokan harinya saat Trevor menceritakan kejadian semalam. “Kau benar-benar melihatnya? Kau tidak berteriak memintanya untuk berhenti?”
“Tentu aku sudah melakukan hal itu.” Ucap Trevor. “Tapi seperti kataku, gadis itu aneh. Seolah ia sudah tidak memiliki emosi lagi di dalam dirinya, dan yang tersisa hanya senyuman tipis itu. Seolah bagian dalam dirinya sudah mati.”
“Kenapa kau berkata seperti itu?”
“Apakah orang normal akan terus berdiri di tempat yang sama selama beberapa hari, di tengah hujan?”

Tidak ada yang mempertanyakan ucapan Trevor itu. Sebab memang betul, tingkah laku yang ditunjukkan oleh gadis itu sudah tidak wajar. Dan kenyataan bahwa Trevor melihatnya berkali-kali, semakin menunjukkan bahwa keadaannya tidak beres.

“Biarkan Pollie di rumah selama seminggu.” Ucap Trevor kemudian.
“Mungkin ia bisa membantuku menemukan gadis itu lagi.”

Adam dan Tracy kembali ke Boulder di hari Senin. Trevor hari itu tidak melakukan kegiatan seperti biasanya. Ia merasa terlalu khawatir dengan gadis berkaos hitam itu. Apakah betul ia Cassandra Lowe yang menghilang itu?
Trevor, bersama dengan Pollie kembali ke perempatan jalan yang bermasalah itu. Trevor memeriksa segala tempat, segala permukaan tanah, ada kemungkinan benda dari gadis itu ada yang terjatuh, yang bisa ia gunakan sebagai petunjuk. Namun nyatanya tidak ada. Hingga matahri meninggi, Trevor tidak menemukan satupun petunjuk. Ia akhirnya pulang tanpa hasil.

“Sampai kapan kau akan terus memikirkan soal gadis itu?” tanya Matilda.
“Mungkin dia kabur dengan pacarnya, atau temannya ke suatu tempat.”
“Tapi kenapa dia selalu muncul di tempat itu?” balas Trevor. “Aku tahu hal ini memang aneh, dan…, ya. Memang bukan urusanku. Tapi aku merasa tidak akan tenang sebelum menemukan kenyataan mengenai menghilangnya Cassandra. Aku seolah ikut terlibat dalam hal ini.”

Hujan kembali mengguyur sore itu, hingga malam. Pukul sepuluh malam, Matilda sudah tidur. Tapi Trevor masih duduk termenung di meja dapur sambil menikmati secangkir kopi. Pollie tidur di sebelahnya. Trevor masih menunggu, seandainya saja Pollie bangkit lagi seperti malam sebelumnya. Hal itu pun terasa begitu aneh bagi Trevor. Kenapa Pollie yang berada di dalam rumah bisa tahu keberadaan gadis itu di perempatan jalan?

Trevor hendak menyicip kembali kopinya, saat tiba-tiba saja ia bangkit berdiri dari kursi yang ia duduki. Telinganya baru saja menangkap tajam sebuah suara di kejauhan, yang terdengar seperti teriakan seorang gadis. Sepertinya bukan hanya Trevor saja yang mendengar. Pollie pun bangkit dan mulai mengarah ke pintu.

“Ayo, Pollie!” seru Trevor seraya meraih senter dan berlari ke tengah hujan tanpa mempedulikan jas hujan.
Dengan cepat, Trevor mengarahkan kakinya ke arah perempatan yang bermasalah itu. Dan tiba-tiba saja ia melihat sosok gadis itu berlari menuju ladang jagung. Dan Trevor mendengar kembali teriakan itu.

“Pollie, kejar gadis itu!”

Trevor mengejar gerak Pollie hingga perempatan jalan. Namun mereka sudah kehilangan jejak gadis itu. Trevor menyorotkan senternya ke segala arah, mencoba mencari. Namun ia tidak menemukan apapun.

Satu hal aneh yang Trevor sadari kemudian adalah, tidak adanya jejak kaki seorangpun di perempatan jalan yang basah itu. Yang ada hanya jejak kakinya dan kaki Pollie. Untuk sesaat, pikiran Trevor terpenuhi dengan hal itu. Namun sedetik kemudian…

“TOLONG!!”

Trevor seketika memutar tubuhnya ke arah teriakan, yang asalnya dari dalam ladang jagung. Pollie, tanpa disuruh, langsung berlari menerobos tanaman jagung, diikuti oleh Trevor.
Trevor sudah tidak tahu seberapa jauh ia masuk ke dalam formasi tanaman jagung itu. Namun sedetik kemudin, ia seketika menghentikan langkahnya. Kedua matanya terbelalak melaihat apa yang ada di depan matanya. Senter yang ia pegang nyaris terjatuh dari tangannya saat ia melihat benda yang mengejutkan itu, yang tergeletak di tengah-tengah ladang jagung. Yang Trevor temukan adalah, mayat Cassandra Lowe yang sudah membusuk.

Malam itu menjadi malam yang begitu berat bagi Trevor. Setelah ia menemukan jenazah gadis itu, ia kembali ke rumah dan menghubungi polisi. Polisi pun datang tidak lama kemudian, dan jenasah Cassandra diambil dari antara tanaman jagung. Hasil penyelidikan sementara menunjukkan bahwa mayat itu memang benar adalah mayat dari Cassandra Lowe, yang sudah menghilang sejak tanggal 12.

“Bagaimana Anda bisa menemukan jenasah korban?” tanya inspektur polisi yang berwenang saat itu. Trevor sedikit kesulitan untuk menjelaskan hal itu. Ia sudah mencoba bercerita mengenai pengalamannya selama beberapa hari terakhir. Namun hal itu tentu saja tidak masuk akal. Cassandra Lowe sudah meninggal sejak tanggal 12. Lalu, gadis yang selalu ia lihat di perempatan itu…

“Sulit untuk dipercaya.” Ucap Adam beberapa hari kemudian saat ia memutuskan untuk pulang setelah mendengar kabar mengenai ayahnya yang menemukan tubuh Cassandra.
“Jadi siapa yang kau lihat selama ini, Ayah?” tanya Tracy. “Mungkinkah…, aku sulit untuk mempercayai hal ini tapi…, kau mungkin bertemu dengan arwahnya?”
“Banyak hal yang belum bisa dijelaskan oleh manusia hingga saat ini.” Jawab Trevor. “Mengenai hantu, dan hal-hal spiritual lainnya. Namun apa yang kulihat saat itu adalah kenyataan. Mungkin hantu memang ada. Atau paling tidak, arwah yang belum tenang di alam kubur. Cassandra seolah memintaku untuk menemukan jenasahnya, agar ia dapat dikuburkan dengan tenang.”
“Mungkin seperti itu.” Sahut Matilda.

Trevor tahu di kemudian hari bahwa pembunuh dari Cassandra adalah kekasihnya sendiri, teman satu kelas di Boulder University. Pada tanggal 12, Cassandra pergi minum-minum dengan teman-temannya di suatu baru. Namun karena suatu alasan, Cassandra pergi dengan kekasihnya.

Meski begitu, Trevor masih tidak tahu apa motif di balik pembunuhan Cassandra. Apakah mungkin karena kecemburuan atau masalah romantikan semacamnya? Ia rasa hal itu menjadi urusan polisi, dan bukan miliknya.
Namun yang pasti, kini Trevor dapat mengatakan bahwa hidup di pertanian tidaklah membosankan seperti apa yang sering orang-orang bicarakan. Sehari setelah penemuan mayat itu, banyak wartawan yang datang ke rumahmnya.
Trevor tentu saja merasa senang. Ia tidak pernah sepopuler itu sebelumnya. Semua hal itu, berkat Cassandra. Dan Trevor hanya bisa berdoa, agar Cassandra beristirahat dengan tenang di alam sana.

Cerpen Karangan: G. Deandra. W
Blog: www.mysteryvault.blogspot.com

Cerpen Girl In The Rain merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


The Shadow

Oleh:
Tetes air ke sepuluh. Aku melenguh. Menepi dari guyuran hujan. Hujan di bulan November ini membuatku cukup menggigil dan sial aku lupa membawa mantel. Tak ada pilihan lain selain

Tak Tergapai

Oleh:
Aku terbangun dari tidurku dan “Hei! siapa di sana?” aku buru-buru menyalakan lampu kamarku. Tadi aku melihatnya, bayangan hitam bertopi itu kembali muncul. Perlahan-lahan aku turun dari tempat tidurku

Ghost Cafe

Oleh:
Ini merupakan kisah nyata yang kualami sendiri bersama keluarga. Sekitar lebih kurang 2 tahun lalu, perekonomian keluarga kami mulai membaik sejak pasca masalah keuangan keluarga kami anjlok. Aku yang

Ruangan itu

Oleh:
Hari ini tidak seperti hari-hari biasanya, semua siswa ketakutan setelah mengalami insiden itu. Temanku yang memasuki ruangan itu meninggal, temanku yang bernama Chanzeol biasa kupanggil chan-chan, dia suka sekali

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

3 responses to “Girl In The Rain”

  1. Joseph says:

    ceritanya keren

  2. Sri Main says:

    ceritanya cukup menghibur

  3. Agungw says:

    keren bro

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *