Gudang Misterius Pengungkap Sebuah Rahasia (Part 1)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Horor (Hantu), Cerpen Misteri
Lolos moderasi pada: 22 October 2016

Hari ini hari sabtu, hari dimana seluruh warga SMA Bina Bangsa Malang mengadakan kerja bakti membersihkan seluruh lingkungan sekolahnya. Aku salah satu siswi kelas XII IPA 3 yang letak kelasnya berseberangan dengan perpustakaan. Namaku Khanza Syasya Nabilla. Aku mempunyai adik kandung namanya Khanza Syilsia Nadifha. Dia duduk di kelas X IPA 2. Kami semua menjalankan tugas kami masing-masing. Aku menyapu ruangan kelasku bersama temanku, kiky dan chaca. temanku yang lainnya juga mengerjakan tugasnya masing-masing. Setelah semuanya beres, aku pun keluar kelas untuk membeli secangkir Cappocino Cincau kesukaanku. Namun belum jauh langkahku, tiba-tiba ibu sella yang terkenal sebagai guru kiler di sekolahku memanggilku dan menyuruhku untuk membersihkan gudang di belakang sekolah.

“syasya, kamu sudah selesai membersihkan ruangan kelasmu kan?” tanya ibu sella padaku dengan sinis
“iya bu, ada apa yah?” sahutku
“tolong bersihkan gudang di belakang sekolah sekarang juga!” perintahnya padaku
“taaapi bu”. Belum selesai aku berbicara bu sella langsung meninggalkanku.
“katanya minta tolong, kok kaya gitu banget sih sama aku, emang aku punya salah apa”. Gerutuku.

Dengan lemas kulangkahkan kakiku menuju gudang itu, suasananya tampak sepi. Tak ada satu pun siswa lain selain aku yang disuruh untuk membersihkan gudang ini. Kubuka gudang ini…
“ya Ampun, gudang macam apaan ini, apa benar bu sella menyuruhku membersihkan gudang sekotor ini sendirian?” gerutuku senonohnya

Kumasuki gudang itu dengan perlahan-lahan, banyak barang-barang yang sangat berdebu. Dan gudang ini tampak sangatlah kotor. Ya jelas saja, kan gudang ini sudah dibiarkan 20 tahunan tanpa dibersihkan. Yang aku bingungnya lagi kenapa harus aku sendirian yang harus membersihkan gudang sekotor ini.

Craaakkk braggghkk. Suara pintu gudang itu pun tiba-tiba mendadak tertutup. Kucoba membukanya namun pintunya tak bisa terbuka. Aku pun terkurung di gudang ini tanpa sepengetahuan teman-temanku.
Aku menangis sejadi-jadinya walaupun kutahu tak akan ada yang bisa mendengar suaraku. Tak ada satu pun orang yang bisa menolongku. Bahkan aku pun lupa membawa handphoneku sebelum pergi ke gudang ini. Kesialan menghampiriku kali ini, pikirku. Aku tak berdaya, tak ada satu pun celah tempatku untuk ke luar. Semuanya tertutup rapat.

Brukkk!! Tiba-tiba ada suatu benda jatuh dari atas lemari, dan tepat jatuh di samping kakiku. Kuambil benda itu. ternyata sebuah botol kecil berisi cairan. Entah cairan apa itu aku tak mengetahui sepenuhnya. Kupegang botol itu dengan tampak heran dan kebingungan.
“cepat kau minta permohonan pada botol itu, maka permintaanmu akan diwujudkan, usapkan sedikit cairan itu ketelapak taganmu dan ucapkan permohonanmu” suara lelaki paruh baya yang tak jelas keberadaanya.
“Namunnn… kau tidak boleh menggunakan botol itu untuk pergi dari gudang ini, kemanapun kau pergi aku akan menemukanmu gadis kecil” sahut seorang perempuan paruh baya dengan tawanya yang menggelegar membuat jantungku hampir saja berhenti berdetak mendengarnya
“cepat gadis kecil, mintalah permohonan pada botol itu, jangan kau dengarkan kata-kata perempuan ini” sahut lelaki paruh baya itu.
Lelaki paruh baya itu menampakkan wujudnya, keliatannya dia seperti tukang kebun sekolah ini pikirku.
“bapak siapa?” tanyaku dengan hati-hati
“namaku Joko susanto, cepatlah pergi gadis kecil” perintahnya padaku
“apa-apaan kau lelaki jelek, kenapa kau melindungi gadis itu” bentak perempuan paruh baya itu.
Aku pun mencoba menuruti perkataan lelaki itu.

“aku tak tau apakah ini benar-benar nyata. Aku hanya berharap keluarkan aku dari gudang ini, aku mohon, aku takut.” kupejamkan mataku dan kubuka ternyata aku sudah berada di depan gudang dan segera ku berlari pulang ke rumah karena hari sudah tampak gelap. Kumencoba memanggil mobil taksi untuk pulang namun tak ada satu pun mobil taksi berhenti untukku. Terpaksa kulangkahkan kakiku menuju rumahku yang jaraknya cukup jauh dari sekolahku.

Setibanya di rumah, kulihat pintu rumahku terbuka. Langsung saja aku masuk ke dalam rumahku. Kusapa mama, papa, adik, bi iyem pak sudirman yang sedang mondar mandir di dalam rumah. Namun mereka tampaknya tidak menyadari kehadiranku. Aku tak ambil pusing, karena aku merasa lelah, langsung saja kunaiki anak tangga menuju lantai dua tempat kamarku berada. Kurebahku tubuhku yang lelah ini di atas Kasur yang empuk kucuba memejamkan mata ini untuk menghilangkan beban yang kuderita, ingin ku tak mempercayainya tapi ini benar-benar nyata kualami.
“arghhh aku lelah, aku mau tidur” ucapku senonohnya.

Ketika aku memalingkan tubuhku ke arah kiri, betapa terkejutnya aku, kenapa di kamarku ada Rio syahputra dan Diki Armadjaya di sampingku dan ada pula adikku tertidur pulas di kasurku paling pojok.
“eh kalian ngapain di rumahku, tepatnya lagi ngapain kalian berbaring di sampingku” bentakku pada mereka.
Mereka hanya senyum-senyum tak jelas dan tak mempedulikanku.
“kalian budek atau apaan sih, cepat ke luar dari kamarku,” bentakku lagi
“kamu kenapa sya teriak-teriak gak jelas gitu, mending bobo cantik aja di sampingku” sahut diki.
“kamu jangan macem-macem ya dik, aku bakal teriak nih” ancamku.
“biar kamu teriak-teriak gak bakal ada yang peduli sama kamu, mending kamu diem aja disini, toh adikmu aja bobo cantik dengan tenang” ledek rio padaku.
“kok duniaku jadi aneh kayak gini sih, dari aku masuk rumah semuanya pada cuekin aku, ketika ku masuk kamar, adikku tidur pulas tanpa meyadari keberadaanku dan paling parahnya lagi kenapa ada dua orang gila di kamarku juga” gumamku dalam hati.

Tanpa kusadari akhirnya aku pun tertidur pulas setelah berdebat dengan dua lelaki itu. mungkin karena lelah inilah yang membuatku tertidur. Setelah aku terbangun dari lelapku, kulihat di sampingku masih ada Diki, Rio dan sylsia (adikku) masih tertidur pulas. Dan ketika aku menoleh ke kanan, aku melihat sesosok perempuan menatapku dengan tatapan yang tajam, melotot dan menyeringai padaku. Aku sangat ketakutan, kugerak-gerakan tubuh diki untuk membangunkannya karena aku ketakutam.
“dik, Diki bangun dong, aku takut dik” pintaku dengan gemetaran.
“ada apa sih sya, aku masih ngantuk nih” sahutnya tanpa mempedulikanku
“arghh, bangun dong dik, aku takut nih” pintaku lagi
“aishh ada apaan sih kok ribut-ribut segala?” tanya rio yang terbangun karenaku
“aku melihat sesosok perempuan menatapku dengan tajam dan menyeringai padaku di balik pintu itu” sahutku dengan ketakutan.
Rio pun mengecek ada apa di balik pintu yang kumaksud tadi.
“tidak ada seorang pun disini sya, kamu ngigau kali” timpalnya padaku
“enggak yo aku gak ngigau aku beneran ngeliat kok, ahh tau ahh kesel aku sama kalian” jawabku cemberut
Aku pun pergi meninggalkan kamarku dan pergi ke ruang tamu dengan cemberut.

“kamu marah ya sya sama aku?” Tiba-tiba rio mengejutkanku
“tau ahh” sahutku rada kesel dan pergi ke kamar mandi dan bersiap-siap melakukan aktivitas seperti biasanya.

Kali ini aku diacuhkan lagi, tidak biasanya aku ditinggal sarapan sendiri seperti ini. Mama, papa, sylsia, bi iyem dan pak sudirman semuanya panik, mondar mandir gak jelas, entah permasalahan apa yang membuat mereka mengacuhkanku seperti ini.
“galau tingkat nasional deh aku kayak gini, masa dicuekin orang seisi rumah, yang bener aja. Baru aja ketimpa kejadian sial masa ditambah sial lagi sih” gerutuku tak jelas
“mau aku temenin sya?” rio menawarkan dirinya
“gak ahh mending aku sendiri aja,” sahutku ketus
“sya selesai sarapan, aku tunggu di depan yah, kita berangkat bareng ke sekolah” teriak diki dari ruang tamu.
“okey” sahutku singkat.

Sepulang sekolah aku langsung ke luar gerbang sekolah, berjalan menyendiri melihat-lihat lingkungan sekolah yang kurasa tampak aneh ini. Tiba-tiba ada yang menyentuh pundakku
“mamah” sontak ku terkejut melihat mama di sampingku
Mama hanya membalasku dengan senyuman.
“Kamu tidak bisa menyelesaikan masalah ini sendirian sayang, sekarang kamu belumm benar-benar lolos dari makhluk itu, kamu harus melawan dan melumpuhkannya” sahut mamaku dengan ramah
“maksud mamah” aku tampak kebingungan dan kurang menyerap setiap perkataan yang mama lontarkan itu
“mamah akan membantumu untuk terbebas dari makhluk itu” jelas mama lagi

Brukkkk
Seseorang dari belakang menabrakku..
“sylsia…” teriakku
“mah, aku mau ke gudang belakang sekolah dulu, aku mendapatkan secarik kertas dan dipinta kesana” jelas adikku
“jangan syl jangan, disana berbahaya” pintaku pada adikku
“gak usah khawatir sayang, ini adalah kesempatanmu untuk melumpuhkan makhluk itu, percayalah kamu pasti bisa sayang, mamah akan selalu bersamamu” mamaku membelai rambutku dengan lembut
“mamah yakin aku bisa?” tanyaku ragu
“sangat yakin sayang” balas mama dengan yakin
Aku, mama dan sylsia adikku pun pergi menuju gudang itu…

Setibanya di depan gudang, jantungku berdegup kencang, hatiku tak karuan, sebenarnya aku ragu datang ke tempat ini kembali dan rasanya jiwaku terpisah dengan ragaku. Ahh aku harus bisa, harus” kataku dalam hati meyakinkanku.
Langkahku makin pelan, keraguanku terlihat tampak di mata mama.
“jangan takut sayang, kamu harus yakin” mama menguatkanku dan memegang tanganku erat.
“baiklah mah” balasku meyakinkan
Kubuka gembok pintu gudang itu, dan tiba-tiba adikku meyelundup duluan masuk ke gudang itu.
“syll… tunggu kakak” teriakku padanya
“Aaaaaaaaaa…” sylsia berteriak dari dalam gudang.
Aku dan mama pun langsung berlarian menghampiri sylsia, dan tampaklah sesosok perempuan yang pernah kulihat di kamarku itu tersenyum menyeringai padaku.
“siii…aa..pa kamu, apa yang kamu inginkan dariku?” Tanyaku terbata-bata karena menahan rasa takutku ini
Dia tersenyum menyeringai dan terus menatap tajam padaku dan berkata “Nyawamu.. nyawamulah yang aku inginkan, kau harus mati di tanganku sekarang juga?” tawanya menggema.
“apa salahku?” tanyaku lagi dengan agak memberanikan diri

Diaaa mendekat… mendekat.. mendekat dan mencekik leherku, mamah dan adikku yang ingin menolongku dilemparnya jauh dariku. Sekarang hanya aku yang berhadapan dengannya, “napasku… napasku” lirihku. Aku hampir kehabisan oksigen karena dicekiknya.
Kulihat mama dan sylsia tak sadarkan diri.
“ahhh, botol itu…” gumamku dalam hati
“wahai pemilik bumi ini, aku mohon kepadamu musnahkanlah perempuan ini musnahkan dia dari dunia iini dan jangan pernah kembalikan dia kesini, aku mohon musnahkan dia sekarang juga” teriakku di dalam gudang
Sosok perempuan tersebut berubah menjadi asap, dia berteriak histeris dan kumasukkan asap itu ke dalam botol ini serta tak lupa kututup rapat botol ini.
Tak lama, penglihatanku menjadi kabur, kepalaku pusing, napasku menjadi sesak semuanya menjadi gelap … gelap dan gelap. Aku pun terjatuh terkulai lemah tak berdaya, aku tak sadarkan diri di gudang ini.

Sepintas aku mendengarkan suara pintu gudang terbuka dan suara langkah kaki menujuku serta dia memanggil-manggil namaku
“sya, syasya kamu kenapa? Kumohon sadarlah, sadarlah sya, aku gak mau ditinggalin kamu, aku sayang kamu sya, aku sangat mencintaimu, aku mohon tetaplah bersamaku, bertahanlah sya” lelaki itu meneteskan air matanya sejadi-jadinya.

Kreekkkk..
Pintu gudang terbuka lagi. Kali ini suara langkah kakinya tampak berlari menujuku.
“sya, kamu kenapa sya? Ada apa dengan syasya dik? Apa yang terjadi?” Lelaki itu bertanya-tanya dan kedengarannya terlihat panik melihat keadaanku.
“aku gak tau rio, ketika aku masuk ke gudang ini, aku mendapati syasya dalam keadaan seperti ini” jawab diki dengan suara serak.
Rio dan diki pun memopong tubuhku membawaku ke luar dari gudang ini dan setelah itu aku tak tau lagi apa yang terjadi padaku.

Aku telah sadarkan diri dan mendapati diriku berada di ruangan yang tampak asing bagiku yaitu Rumah Sakit.
Kubuka perlahan-lahan mataku, dan kutemui mama, sylsyia, Diki, Rio dan pak sudirman di sampingku.
“kakkk…” panggil sylsia lirih padaku
Aku hanya balas dengan senyuman
“sya, kamu kenapa? apa yang terjadi denganmu? Kamu udah bener-bener baikan? Apa yang sakit? Kenapa seminggu ini kamu berada di gudang itu?” rantaian pertanyaan terlontar dari mulut wartawan, ya dia Diki lelaki tampan dengan tinggi dan berat badan yang ideal, baik hati dan banyak plus nya deh. “Tampaknya sekarang dia berbakat juga jadi wartawan yah” candaku dalam hati.
“kok kamu senyum-senyum sya, selama seminggu ini apa yang terjadi dengan kamu disana?” tanya diki lagi
“What, aku gak salah denger nih, selama seminggu aku berada digudang itu, yang bener aja” pikirku tampak kebingungan
“kok malah bengong gitu sih anak mamah ditanya temennya tuh, kamu kenapa sayang, apa yang terjadi?” tanya mama tampak khawatir padaku.
“Tungggu..” sahutku liirih
“Apa bener aku seminggu disana?” tanyaku keheranan
“Dan mamah kok nanya aku sih kan mamah dan sylsia kan tau yang terjadi denganku kemarin di gudang itu, mamah juga yang memintaku untuk melawan dan melumpuhkan makhluk itu kan” jelaskuu
“mamah dan sylsia kak?” tanya adikku keheranan
“mamah dan adikmu baru nemuin kamu di Rumah sakit ini sayang, Diki dan Rio yang ngabarin mamah kalau kamu ditemuin mereka di gudang belakang sekolah” sahut mama dengan lembut
“terus yang kemarin mamah dan sylsia yang aku lihat itu siapa, yang ngajak-ngajak aku ngelawan makhluk itu?” gumamku pelan.
“Ohh iya tadi kata Diki aku berada di gudang itu selama seminggu kan? Aku aja baru kemarin kembali ke gudang itu, sebelumnya aku udah pulang ke rumah tapi kalian semua nyuekin aku dan paling parahnya lagi Diki dan rio ikut tidur di kamarku” jelasku dengan detail
“akuu?” sahut diki dan rio serentak
“iya kalian ngapain kemarin tidur di sampingku?” jawabku kesal
“aku dan rio gak mampir ke rumahmu sya, selama seminggu kami semua sibuk mencarimu, Tanya aja sama mamahmu, iya kan tante?” sahut diki
“iya sayang, diki dan rio gak ada ke rumah kita apalagi tidur ke kamar bareng kamu, dan kamu gak ada pulang selama seminggu ini” sahut mama meyakinkan perkataan diki
“kalian kenapa sih, jadi bingung deh aku”. Arghhh aku memegang kepalaku, rasa pusing kembali menyerangku.
“kamu istirahat aja dulu sya, gak usah mikir yang macem-macem dulu?” saran rio padaku sambil menyelimuti tubuhku
“aku benci kalian, kenapa kalian gak percaya sama aku. Aku gak bohong” bentakku dan kesal pada semuanya.
“apa yang salah sih, aku atau mereka yang aneh” gumamku dalam hati.

Cerpen Karangan: Hayatus Shaleha
Facebook: yatus tushee

Cerpen Gudang Misterius Pengungkap Sebuah Rahasia (Part 1) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Museum Madame Tussauds

Oleh:
Liburan kali ini berbeda dengan sebelumnya. Biasanya, aku menghabiskan waktu liburan di depan tv dengan penuh harap agar orangtuaku pulang dari luar kota lebih cepat, sehingga dapat menikmati waktu

Asrama Kematian

Oleh:
Aku, Citra, dan Tiara duduk melingkar di kamar kami saat malam menjelang. Lampu redup menerpa wajah kami, hanya hening dari tadi. Bibir kami kelu sedari tadi, entah bagaimana akan

Merinding

Oleh:
Suatu Hari, aku pulang mengaji malam-malam, lewat Kuburan Delima. “Cateline!” aku terkejut, ada yang memanggilku dari belakang, tetapi tidak ada siapa-siapa. Aku merinding. Kupercepatkan langkahku, agar bisa sampai ke

Jubah Hitam

Oleh:
Namaku caroline, pada hari itu aku berada di rumah kakekku yang berada di daerah tangerang, pada sore itu aku sudah merasa bahwa ada yang menggangguku, tiba-tiba ibuku memanggil dan

Mall Yang Horor

Oleh:
Hari ini aku diajak mama Claude dan Claude pergi ke mall yang baru dibuka. Aku juga boleh mengajak ibuku, tentu saja aku mengajak ibuku. Mamanya Claude. Kan orang kaya.

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

One response to “Gudang Misterius Pengungkap Sebuah Rahasia (Part 1)”

  1. Aisha putri zahrana says:

    jadi penasaran

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *