Halusinasi

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Horor (Hantu)
Lolos moderasi pada: 5 December 2017

Hari ini pertama kalinya aku bekerja. Di sebuah pabrik kertas yang letaknya di perbatasan kota. Aku merasa sangat beruntung. Karena selang dua minggu sejak kelulusanku dari sebuah universitas, HRD pabrik itu langsung meneleponku untuk bekerja di sana tanpa ada interview juga tes-tes yang harus kulalui sebagai syarat untuk melamar kerja.

Mulanya aku juga heran. Padahal aku tidak pernah sekalipun memasukkan lamaran di pabrik itu. Tau nama pabrik itu saja juga baru sekarang. Tapi dua hari lalu seorang lelaki yang mengaku sebagai HRD pabrik itu bilang padaku, katanya aku menjadi salah satu kandidat mahasiswa dengan nilai terbaik yang pantas untuk mengisi jabatan kosong di pabrik itu. HRD itu mendapatkan data-data tentangku lewat biro kemahasiswaan kampus. Kupikir kedengaran aneh juga dengan alasan seperti itu. Tapi aku mencoba mempercainya. Ya meskipun aku juga harus waspada. Kupikir saat aku tiba di tempat kerjaku nanti aku harus melihat apakah pabrik itu tempat yang layak untuk bekerja. Aku hanya takut jika ternyata aku cuma menjadi korban penipuan.

Aku tiba di pabrik itu pagi sekali. Maklum, sebagai anak baru aku harus menciptakan citra yang bagus di mata atasan juga teman-temanku. Dari luar tampak pabrik itu sangat megah. Lebih mirip bangunan mall menurutku. Ada dua lantai tampak dari depan. Di belakangnya ada bangunan-bangunan besar yang bisa kutebak pasti itu tempat beraktivitas buruh-buruh dalam memproduksi kertas. Di samping kanan kiri bangunan depan ada taman-taman yang indah dengan bunga-bunga warna-warni. Lebih mirip tempat wisata bunga yang sering kita temukan di daerah dataran tinggi.

Sejenak kekagumanku berubah karena fokus mataku pada lingkungan sekeliling pabrik. Aku hanya heran saja, di kanan kiri pabrik ini masih banyak pohon-pohon jati, pohon bambu, juga pepohonan besar yang mengitarinya. Tempat ini lebih mirip hutan belantara. Lalu beberapa meter di dekat pabrik banyak bangunan-bangunan mangkrak yang tidak dilanjutkan untuk dibangun. Rasanya cukup bergidik juga melihat situasi di sekitar sini. Sepi, tidak ada aktivitas manusia yang meskipun hanya berjualan atau hilir mudik dengan kendaraannya.

Aku mencoba menghibur diri. Meski di luar sini tampak mengerikan, aku yakin di dalam pabrik sana pasti ada ratusan bahkan ribuan orang yang akan meramaikan hari saat mereka berhamburan pulang kerja atau pergantian shift. Dan kupikir pabrik ini cukup menyenangkan untuk dihuni karena model bangunannya yang sangat menarik.

Aku melangkahkan kaki menuju lobi. Seorang receptionist cantik berlesung pipit menyapaku. “Selamat pagi? Ada yang bisa saya bantu?”
“Saya mau bertemu dengan HRD mbak?” jawabku sambil tersenyum.
“HRD siapa namanya? Di sini ada beberapa HRD.” tanya recepcionist itu memperjelas.
“Aduh, saya juga tidak tau namanya Mbak. Dua hari lalu dia menelepon saya. Saya disuruh langsung masuk kerja hari ini tanpa interview dan tes.”
“Oh, itu pasti Pak Hamdani. Pak Hamdani memang suka merekrut karyawan lulusan sekolah-sekolah ternama yang mempunyai nilai bagus. Sebentar Mbak saya panggilkan Pak Hamdani. Mbak silahkan duduk dulu.”

Aku duduk di sudut ruangan sambil mengamati sekeliling. Lobi ini lebih mirip lobi hotel. Tidak menunjukkan gambaran sebuah pabrik di dalamnya. Interiornya juga bagus dan mewah. Nyaman sekali berada di dalamnya. Tapi entah kenapa tiba-tiba bulu kudukku berdiri. Aku tidak tau apa penyebabnya. Tapi sesaat aku memang merasakan sesuatu yang aneh namun aku mencoba menepis. Mana mungkin ruangan semegah ini dihuni oleh hantu. Yang ada hantunya ngeri untuk tinggal di sini.

“Selamat pagi.” seorang lelaki paruh baya menghampiriku. “Saya Pak Hamdani.” katanya mengenalkan diri sambil mengulurkan tangan.
“Saya Vina, Pak.” balasku.
“Selamat ya Mbak Vina. Anda langsung diterima menjadi karyawan di sini. Anda langsung saya tempatkan di bagian administrasi gudang.”
“Tapi Pak? Saya tidak harus tes atau interview dulu?” tanyaku meyakinkan.
“Oh tidak usah. Mbak sudah masuk kriteria perusahaan ini. Saya sudah mengecek langsung ke sekolah Mbak. Untuk kelengkapan Mbak seperti KTP, surat kelulusan, CV dan lain-lainnya nanti bisa menyusul. Masa training tiga bulan dengan gaji UMK. Kalau sudah melalui masa training, Mbak bisa mendapatkan insentif. Untuk peraturan-peraturan lain tentang hak dan kewajiban karyawan, nanti saya jelaskan lebih lanjut setelah satu minggu Mbak bekerja di sini. Untuk job description Mbak, nanti bisa dijelaskan sama kepala bagian. Baiklah, mari saya antar ke ruang kerja Mbak.” Pak Hamdani menjelaskan panjang lebar lalu mengantarkanku ke ruang kerjaku.

Sekarang aku sudah berada di sebuah ruangan yang cukup besar. Tiba-tiba aroma melati menyeruak dari dalamnya. Aku cukup terkejut karena baunya menyengat tepat di hidungku. Lalu aku mengusap hidungku perlahan mencoba menghilangkan bau itu.

Seorang wanita berumur empat puluh tahunan menyambutku dengan hangat. Namanya Bu Ranti, kepala bagianku. Setelah Pak Hamdani dan Bu Ranti berbincang sejenak, Pak Hamdani mengenalkanku dengan Bu Ranti. Kemudian Bu Ranti menunjukkan tempat dudukku. Tempat kerjaku lumayan nyaman. Dengan meja yang cukup luas dilengkapi dengan fasilitas untukku bekerja. Mulai dari komputer, printer, mesin scanner, almari, rak, semua siap dan sangat rapi.

“Wah, dapat kerja pertama aja sudah disambut semanis ini. Pengalaman yang menyenangkan.” batinku.
“Mbak Vina, nanti Mbak akan didampingi Mbak Lita dulu. Nanti Mbak akan diajari pekerjaan yang berkaitan dengan bagian Mbak. Semoga nyaman ya?” kata Bu Ranti sambil tersenyum. Aku mengangguk sambil membalas senyum.

“Hai, aku Lita.” seorang perempuan cantik kira-kira berumur tiga tahun diatasku menyapaku dengan lembut.
“Aku Vina.” balasku.
“Oke, kita bisa mulai bekerja sekarang.” katanya kemudian. Dia menarik kursi di sebelahku lalu mulai mengajariku dengan sabar.

Aku mencium wangi yang aneh. Kali ini berasal dari tubuh Mbak Lita. Baunya tidak seperti parfum-parfum bunga pada umumnya. Kurasa ini adalah perpaduan dari aroma mawar, kenanga, kantil, melati dan entah wangi bunga apalagi sampai aku tidak bisa menjelaskan. Lama-lama baunya menyengat di hidungku dan membuatku tidak nyaman. Aku sangat ingin menutup hidungku tapi aku merasa sungkan dengan Mbak Lita. Karena aku sudah tidak sanggup menahan wangi Mbak Lita, aku meminta izin ke kamar mandi sebentar walaupun sebenarnya aku tidak merasa ingin buang air kecil.

Di depan kamar mandi aku menarik nafas panjang. Tapi bukannya udara segar yang kuhirup, tapi justru aroma aneh yang kutangkap dari hidungku. Kali ini ada bau-bau amis darah dan bangkai yang sangat menusuk hidungku sampai membuat aku mual. Tiba-tiba aku merasa sangat pusing, lalu aku menuju ke pantry yang tidak jauh dari kamar mandi untuk mengambil minum.

Deg!!! Betapa terkejutnya aku ketika sebuah tangan dengan jari-jari yang menghitam menepuk pundakku. Aku tidak berani menoleh. Aku ketakutan. Badanku gemetar.

“Mbak lagi ngapain?” terdengarlah suara seorang lelaki.
Aku memberanikan diri menoleh. Lalu mengelus dada begitu melihat seorang lelaki muda yang sekarang berhadapan denganku.
“M-mau ambil m-minum, Mas.” kataku masih dengan gemetar.
“Mbak sakit?” lelaki itu bertanya lagi.
Aku menggeleng. “Mas ini siapa?” tanyaku kemudian.
“Saya OB, Mbak.”
“Oh iya, kenapa itu jarinya?” tanyaku penasaran melihat kulit jari-jarinya yang menghitam yang sempat membuatku takut tadi.
“Ini kebakar Mbak.”
Aku terkejut. “Kenapa tidak dibawa ke rumah sakit?”
“Tidak usah, Mbak. Sudah terlambat. Ndak apa-apa. Sudah tidak sakit kok.”

Aku menahan miris. “Mas, aku mau tanya, apa di sini sering tercium bau-bau aneh?” tanyaku penasaran.
“Iya. Sering.” jawab lelaki itu santai.
“Macam bau bunga, amis dan bangkai?” kejarku.
“Itu sih wajar, Mbak. Namanya juga pabrik. Kan banyak obat-obatan yang dipakai dalam produksi.”
Aku manggut-manggut mendengar penjelasan OB itu. “Wajar gimana? Bau obat nggak kaya gitu-gitu juga kali? Orang aneh.” batinku.

Aku melangkah menuju ruang kerjaku dengan sisa rasa mual yang masih menjalar di perutku. Aku masih saja terbayang-bayang aroma tidak sedap saat aku di kamar mandi tadi. Begitu sampai di ruang kerjaku, aku disambut Mbak Lita yang sepertinya kebingungan mencariku.

“Kamu dari mana saja, Vin?”
“Maaf Mbak tadi aku habis dari kamar mandi aku ambil minum dulu ke pantry.”
“Tapi kamu ndak apa-apa kan? Kamu tampak pucat.”
Aku menggeleng. Sebenarnya aku ingin menceritakan kejadian di kamar mandi tadi pada Mbak Lita. Tapi aku mengurungkan niatku karena kupikir Mbak Lita akan menjawab dengan jawaban yang sama dengan OB tadi.

“Vin, kerjaan sudah mulai menumpuk. Ayo kita belajar lagi biar kamu bisa mengejar ketinggalanmu.” kata Mbak Lita kemudian.

Lagi-lagi aroma parfum Mbak Lita menusuk hidungku. Sebenarnya aku sangat tidak tahan. Tapi aku mencoba menutupinya dengan sesekali menutup hidung. Untunglah beberapa saat kemudian Mbak Lita pamit untuk mengerjakan pekerjaannya sendiri. Aku bernafas lega. Meskipun aku belum banyak memahami pekerjaanku dan masih membutuhkan Mbak Lita, paling tidak aroma parfumnya tidak mengganggu pernafasanku.
“Emangnya di dunia ini ada ya yang jual parfum kaya gitu. Parfum Mbak Lita sangat aneh. Kira-kira di toko mana ya yang jual?” batinku iseng.

Aku mencoba memahami pekerjaanku. Lama-lama aku bisa juga menguasainya meski belum satu hari bekerja. Tak terasa karena asyik mengutak-atik komputer waktu istirahat pun tiba. Mbak Lita mengajakku ke kantin tapi aku menolak. Tau sendiri alasannya karena aku tidak mau selera makanku terganggu karena parfumnya itu. Saat beberapa teman menawariku ke kantin aku menolak juga. Bukan karena apa-apa, tapi hari ini kebetulan aku membawa bekal. Aku pun memilih makan siang di ruangan.

Cuaca di luar sangat panas. Tapi entah kenapa ada angin dingin menyayat di dalam ruanganku. Kupikir karena AC ruanganku diseting dengan suhu dingin, tapi setelah aku cek di remote AC, setingan suhunya normal. Dan cenderung ke arah panas. Ditambah lagi dengan kondisi ruangan dengan banyak jendela kaca dan mengarah ke arah matahari juga dengan atap yang sebagian seng harusnya kondisi di ruangan panas atau minimal hangat. Tapi kenapa rasanya dingin menyengat seperti saat cuaca mendung dengan suhu udara rendah.

Aku mencoba berpikir positif dan tetap melanjutkan waktu istirahatku sampai tiba-tiba.. “Oh, tidak!!! Lampu padam. Duh, kenapa ruangan ini menjadi gelap. Padahal ini kan siang hari? Aduh, mana aku tidak tau di mana karyawan sini menyimpan senter lagi. Duh..”

Aku semakin ketakutan karena suasana semakin mencekam. Aku merasa ada derap langkah kaki yang tiba-tiba berubah menjadi kaki-kaki yang berlari ke arahku. Padahal aku tau betul bahwa di ruangan itu hanya ada aku. Aku mencoba berlari sebisa mungkin sambil mengutak-atik handphoneku mencari dimana letak senter agar aku bisa menerangi diriku.

Aku sudah mulai keringat dingin karena menahan takut. Entah kemana arahku berlari, aku pun menabrak sesuatu. Jantungku masih berdetak kencang dan tak beraturan. Tapi aku bersyukur karena ternyata yang kutabrak adalah Bu Ranti.

“Kamu kenapa, Vin?” tanya Bu Ranti sambil memegang kedua lenganku.
“S-saya t-takut, B-bu?” jawabku terbata-bata. “T-tadi m-mati l-lampu l-lalu gelap g-gulita.”
“Oh, mati lampu. Biasa di sini mati lampu. Perusahaan baru mengajukan tambah daya ke PLN. Tapi belum direalisasi.”
“T-tapi B-bu, gelap Bu.. ada suara-suara aneh juga.”
“Gelap? Gelap apanya? Ya pantas saja gelap, kamu menutup mata gitu. Ayo buka matamu, Vin.”

Dari tadi aku memang menutup mata saat berlari. Itu karena aku sangat ketakutan dan aku juga takut jika tiba-tiba sesuatu yang mengerikan muncul di depan mataku. Aku terbelalak sesaat. Tidak kusangka bahwa ruangan yang tadinya gelap gulita menjadi terang oleh sinar matahari yang masuk melalui jendela.

Aku hanya bisa melongo. Apakah aku hanya berhalusinasi? Tapi itu tadi nyata terjadi. Dan aku mengalaminya. Tapi aku mengurungkan niatku untuk membela diri atas kebenaran kejadian tadi. Aku hanya tidak ingin Bu Ranti mengira aku hanya mengada-ada atau parahnya menganggapku gila.

“Mungkin kamu mengantuk, Vin?” kata Bu Ranti.
“Mungkin, Bu. Mungkin saya juga lelah. Saya ke kamar mandi dulu.”

Aku menuju wastafel untuk mencuci muka. Lalu aku mendengar kran air kamar mandi mengalir padahal tidak ada yang menyalakannya. Lalu ada suara gaduh dari dalamnya. Aku beranikan diri menuju kamar mandi tempat asal suara. Tiba-tiba aku bergidik. Tidak ada orang. Aku segera berlari menuju lobi untuk menghilangkan rasa ngeri.

Aku mengutak-atik handphone mencoba bermain game untuk menghilangkan rasa takut. Setengah hari ini aku dibuat kacau oleh kejadian-kejadian yang tidak sewajarnya. Aku berpikir mungkinkah gedung ini berhantu? Tapi aku menepisnya. Ah, mungkin ini akibat dua hari ini aku terlalu sering menonton film horor.

Waktu menunjukkan pukul empat sore. Waktunya pulang. Aku membereskan pekerjaan yang masih tersisa untuk kulanjutkan besok. Bu Ranti dan Mbak Lita mengajakku keluar ruangan bersamaan.

“Kamu pulang naik apa, Vin?” tanya Mbak Lita.
“Naik bus, Mbak.”
“Halte bus jauh dari sini. Kamu ke sana naik apa?” sambung Bu Ranti.
“Jalan kaki saja. Tidak begitu jauh kok. Lagian masih sore.”
Bu Ranti dan Mbak Lita manggut-manggut.
“Saya duluan ya Bu Ranti, Mbak Lita.” pamitku.
“Iya. Hati-hati. Aku sama Bu Ranti masih menunggu jemputan.” kata Mbak Lita yang kemudian mengambil tempat duduk di lobi bersebelahan dengan Bu Ranti.

Aku melangkahkan kaki bersamaan dengan karyawan juga buruh-buruh yang pulang maupun ganti shift. Tapi ada yang aneh dari mereka. Mereka berjalan seperti zombie. Dan ada beberapa juga yang membawa potongan kardus dan koran untuk mengipasi tubuh mereka. Mereka tampak seperti kepanasan. Wajah mereka pun tampak pucat.
“Mereka kenapa ya? Apa iya kerja di sini ada penyiksaan?” batinku sambil menunjukkan wajah miris.

Aku terkejut bukan main ketika sampai di kos. Jam dindingku menunjukkan pukul satu malam. Yang benar saja. Aku tadi keluar pabrik pukul empat lalu naik bus kota dengan waktu yang tidak lama kenapa sampai di kos sudah jam segini. Aku diam berpikir. Lama-lama kepalaku pusing memikirkannya. Aku merebahkan tubuh di kasur. Aku merasa sangat lelah sekali.

Tak lama kemudian Rina dan Doni sahabatku masuk ke kamarku.
“Wah yang baru dapat kerja, loyal banget kerja pertama sampai jam segini.” sindir Rina.
“Aduh, Rin, ndak usah bercanda. Aku capek.” balasku malas.
“Kerja di mana sih lu? Kok ndak kabar-kabar. Tau-tau sekalinya kerja sampai jam segini.” Doni ganti bertanya. “Tapi elu tidak jadi korban penipuan kan?” sambung Doni lagi.
“Ya enggak lah. Aku kerja di tempat yang bonafit tau?” protesku.
“Bonafit sih bonafit. Tapi perusahaan mana yang memulangkan karyawannya jam segini. Mana karyawan baru lagi.” Doni tidak mau kalah.
“Aku kerja di pabrik kertas PAPER.” jawabku pasti.
Rina dan Doni saling berpandangan. Mereka seperti tidak percaya.

“K-kamu y-yakin?” tanya Rina dengan mulut gemetar.
“Yakin lah. Aku sudah kerja sehari tadi. Baru percaya kan kalau aku kerja di tempat yang bonafit.” kataku percaya diri.
“T-tapi Vin, bagaimana bisa?” kejar Doni.
“Jadi critanya dua hari lalu aku ditelepon sama HRD pabrik itu. Dia minta aku kerja di sana. Padahal aku belum melamar lo. Tau nama pabriknya aja baru sekarang. Tadi juga sudah ketemu langsung sama HRD nya. Tanpa tes tanpa interview aku langsung kerja.” jelasku dengan antusias.
Tiba-tiba bulu kuduk Rina dan Doni merinding. Mereka menatapku tajam.

“Kenapa? Ada yang salah?” tanyaku begitu melihat respon mereka.
“T-tapi kamu yakin sudah bekerja di sana?” kejar Rina.
“Sudah dong. Ini hari pertama aku kerja. Kamu tau ndak friend, pabriknya itu bagus banget. Interiornya mewah dan megah. Kaya perpaduan mall sama hotel. Orang-orangnya juga ramah-ramah. Baik-baik. Ya meskipun..”
“Meski apa, Vin?” Doni penasaran.
“Meski ada beberapa kejadian aneh yang aku alami seharian ini.”
“Misalnya?” tanya Rina tidak mau kalah.
“Ya, semacam mencium bau-bau wangi yang tidak sewajarnya, bangkai, amis, lampu mati sampai gelap gulita padahal siang hari, ya gitulah. Tapi tidak apa-apa, wajar kan kalau bangunan-bangunan pabrik ada penunggunya. Kupikir itu sebagai ucapan selamat datang lah?”
Rina dan Doni lagi-lagi saling berpandangan. Kemudian mereka bergantian memandangiku. Aku sendiri bingung. Seperti ada yang salah pada diriku di mata mereka.
“Kalian kenapa sih?” tanyaku heran.

Doni langsung menuju meja belajarku dan meyalakan laptopku. Aku bingung dengan anak satu itu. Dia nampak seperti orang ketakutan. Dia buru-buru membrowsing internet untuk mencari sesuatu.
“Vin, Vin, sini deh?” pintanya padaku untuk melihat hasil browsingannya.
Aku dan Rina mendekati Doni. Doni memintaku membaca tulisan yang tertera di layar laptopku.

“PABRIK KERTAS PAPER TERBAKAR. SEBAGIAN BESAR KARYAWANNYA MATI TERPANGGANG”

Aku melongo. Lidahku kelu. Jantungku berdetak sangat kencang. Bulu kudukku tiba-tiba berdiri. Ada semilir angin dingin yang tiba-tiba menusuk kulitku. Malam itu berubah menjadi mencekam. Aku, Rina dan Doni saling berpandangan.

“T-tapi a-aku tadi bekerja d di sana.” kataku terbata-bata menahan takut.
“Aku heran kenapa kamu bisa bekerja di sana. Kamu juga tidak cerita padaku dan Rina kalau kamu diterima kerja disana.”

Aku seperti orang kebingungan saat ini. Aku merasa seperti di antara mimpi dan nyata. “K-kejadian i-ini seperti mimpi. S-semua terjadi begitu saja. B-bahkan aku tidak bisa mengingat kalian saat itu.” kataku dipenuhi rasa ketakutan.
“Wajar kalau kamu tidak tau pabrik itu terbakar lima belas tahun lalu. Toh kamu bukan warga asli sini yang pernah mendengar cerita itu. Tapi pabrik itu memang terbakar dan sebagian besar karyawannya mati terpanggang di dalamnya karena mereka tidak bisa menyelamatkan diri. Ditambah lagi lokasi yang cukup jauh dari kota membuat mobil pemadam kebakaran terlambat menjangkau tempat itu. Sampai sekarang lokasi pabrik itu memang masih sangat angker. Buktinya tidak ada satu pun jenis usaha yang didirikan di tempat itu berhasil dijalankan. Dan hasilnya hanya bangunan-bangunan mangkrak yang ditinggalkan yang kemudian membuat suasana semakin mistis.” Doni menjelaskan.

Aku masih belum bisa percaya dengan yang aku alami kemarin. Semalam pun aku tidak bisa tidur dan gelisah memikirkan tempat kerja baruku yang ternyata sudah terbakar bertahun-tahun lalu. Pagi itu aku mengajak Rina dan Doni ke lokasi pabrik. Sebenarnya Rina dan Doni menolak dengan alasan takut kalau terjadi sesuatu. Tapi karena mereka juga penasaran dengan yang aku alami akhirnya mereka ikut denganku.

Suasana mistis terasa begitu kami memasuki jalanan menuju pabrik. Sunyi senyap mencekam padahal saat itu jam delapan pagi. Aku dan Doni menghentikan kendaraan kami tidak jauh dari halaman pabrik. Aku melangkah cepat menuju dalam pabrik.

“Kamu mau ke mana, Vin?” Doni meraih tanganku.
“Itu, Bu Ranti, Mbak Lita sama Pak Hamdani melambaikan tangan memintaku ke sana.”
Rina dan Doni saling berpandangan. Mereka bergidik sambil menahan takut.

“Bagus kan friend bangunan pabriknya? Megah dan mewah lagi.” kataku kemudian. “Ayo masuk ke dalam. Kalian pasti akan terkagum-kagum.”
“Sadar dong, Vin?” kata Doni sambil mengguncang tubuhku. “Yang elu liat itu bukan bangunan megah. Melainkan bangunan berlumut yang hampir runtuh. Elu lihat dong, di sana cuma bangunan yang ditumbuhi tanaman liar.”
“Ngaco kamu, Don? Di sana ada banyak orang yang lalu lalang. Itu ada yang menyapaku juga. Mereka ramah-ramah, tau?” kataku sambil sesekali mengangguk dan tersenyum membalas sapaan buruh-buruh pabrik yang akan mulai bekerja.

Tak lama kemudian seorang lelaki tua berjenggot menghampiri aku, Rina dan Doni. Sorot matanya tajam dan terkesan menakutkan.
“Ada perlu apa kalian ke sini?” tanyanya penuh selidik.
“M-maaf, Pak. Ini teman saya berhalusinasi.” kata Rina.
“Jadi begini, Pak. Teman saya ini melihat bahwa bangunan pabrik di depan sana sebagai bangunan yang masih beroperasi. Bahkan kemarin dia merasa sempat bekerja di sini dan berinteraksi dengan karyawan di sini. Dan baru saja katanya dia melihat orang-orang di sana melambaikan tangan padanya.” Doni menjelaskan.

Pak tua itu manggut-manggut. “Nak, apa sebelumnya kamu pernah lewat dan berhenti di daerah sini?” tanya Pak tua itu padaku.
Aku diam sejenak mengingat-ingat sesuatu untuk menjawab pertanyaan Pak tua itu. “Iya, Pak. Saya ingat satu minggu yang lalu saya pernah lewat dan berhenti di ujung jalan sana. Saat itu saya tersesat setelah pulang dari rumah teman saya.”
“Lalu apa kamu pernah berkata sesuatu tentang pabrik itu.”
Aku kembali terdiam untuk mengingat. “Oh iya, saya pernah bilang bangunan yang mengerikan. Itu saja, Pak.” kataku kemudian.
“Mungkin berawal dari perkataanmu itu. Ketahuilah Nak, jika kalian melewati daerah ini, jangan sekali-kali kalian mengucapkan kata-kata apapun yang menyangkut pabrik itu. Kalau memang ingin berkata, lebih baik dalam hati saja. Mungkin para penjaga pabrik itu tidak mau disinggung oleh manusia. Sudah banyak kejadian aneh di sini, Nak. Ada beberapa orang yang sengaja atau tidak berkata tentang pabrik itu. Tak lama kemudian mereka ada yang dibikin bingung, gila, bahkan ada juga yang sampai meninggal. Untung kamu belum sampai kenapa-napa, Nak.”

“Lalu Pak, apa yang harus saya lakukan untuk teman saya agar dia sadar?” tanya Doni.
“Begini saja, Nak, kamu bantu teman kamu ini mencari bunga tujuh rupa dan juga kemenyan. Lalu letakkan di bawah pohon besar itu dan mintalah temanmu untuk minta maaf secara tulus dan doakanlah arwah-arwah yang meninggal di sini agar tenang. Semoga saja temanmu tidak diganggu oleh penunggu pabrik ini lagi.” begitu pesan Pak tua tadi.
Doni mengangguk. “Baik Pak. Tapi, Bapak ini siapa ya?”
“Saya ini dulu karyawan pabrik sini juga. Tapi saya berhasil menyelamatkan diri meski dengan luka bakar yang cukup parah. Tapi syukurlah nyawa saya masih tertolong. Setiap malam Jumat biasanya saya ke sini sama teman-teman yang masih selamat untuk memberi sesaji agar arwah-arwah di sini tidak mengganggu. Tapi entahlah, mungkin di antara yang meninggal masih ada yang belum ikhlas. Jadi mereka masih suka mengganggu kebanyakan orang.”
“Semoga saja teman saya cepat sadar ya, Pak.” Rina mengharap.
Pak tua itu mengangguk. Aku, Rina dan Doni menerawang jauh ke arah bangunan pabrik berhantu itu.

Cerpen Karangan: Diyah Ika Sari

Cerpen Halusinasi merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Surat Terakhir

Oleh:
Poooss…! Teriakan tukang pos membangunkanku dari tidur siangku, aku yakin sekali surat kali ini untukku. Ini pasti dari sahabatku,Dini. Aku dengan Dini sudah hampir setahun saling bertukar surat, awalnya

Diary Albert

Oleh:
Mobil Jeep berhenti tepat didepan teras balkon lantai satu. Aku turun seraya menghirup udara segar. Rasa penat hilang seketika. Hawa di bukit ini sungguh menyegarkan. Mataku mengitari sekeliling Villa

Tulisan Rindu

Oleh:
Lama rasanya tak kutorehkan sebaris tulisan dalam handphoneku ini. Biasanya setiap berkutat dengannya kususun kata demi kata yang terngiang di kepalaku, kuketik perlahanan dengan keyboard virtualku, dan kusimpan dalam

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *