Hantu di Rumah Tua

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Anak, Cerpen Horor (Hantu)
Lolos moderasi pada: 13 May 2013

Hai, Namaku Ira Melisa. Panggil saja aku Melisa. Aku duduk di bangku kelas 6 SD. Aku tinggal di sebuah desa terpencil di kota Bogor, Jawa Barat. Letak rumahku tak jauh dari Rumah tua yang cukup angker. 5 tahun yang lalu, Rumah tua itu sudah lama di tinggalin oleh pemiliknya. Dulu, Rumah tua itu pernah di tempati oleh Pak Yanto. Beliau adalah seorang pelukis yang terkenal di desa kami. Namun, dia meninggal karena dia di bunuh oleh seorang perampok yang ingin mencuri sebuah lukisan milik Pak Yanto. Ketika Pak Yanto sedang melukis, Perampok itu langsung membunuh Pak Yanto.

Istri Pak Yanto dan Kedua Anak Pak Yanto menjadi sangat sedih. Mereka pun segera pindah ke rumah Nenek mereka. Kata Warga desa, Arwah Pak Yanto sering bergetayangan di depan rumahku. Salah satu tetanggaku pernah melihat hantu itu ketika tetanggaku pulang dari tempat kerjanya, dia pun terkejut melihat hantu Pak Yanto sedang melukis. wajahnya sangat mengerikan, punggungnya pun mengeluarkan darah segar, dan pakaiannya yang di pakai sudah dipenuhi tetesan darah. Tetanggaku sangat ketakutan dan sempat berlari menuju ke rumahnya. Tetanggaku pun segera menceritakannya kepada seluruh warga di desa ini.

Sejak saat itu, banyak orang yang tak berani melihat rumah tua itu. Aku pun sangat penasaran dengan rumah tua itu. Bahkan, Aku pun sempat mengajak teman temanku untuk menyelidiki rumah tua itu. Namun sayang, banyak temanku tidak setuju.
“Emang kamu tidak takut dengan hantu itu?” tanya lily keheranan.
“Sebenarnya, sih, aku takut. tapi, aku pun penasaran dengan rumah tua itu. jadi, aku ingin mengajak kalian untuk menyelidiki rumah tua itu, “jawabku.
“Tapi, kan, Rumah tua itu sangat angker” ujar Winda ketakutan.
“Kalau kalian tidak mau, iya sudah. aku akan menyelidiki rumah tua itu sendiri” ujarku sambil berlalu pergi.
“Iya, sudah deh. kami ikut” kata Rina.
Mereka tak tega melihatku menyelidiki rumah tua itu sendiri. Aku pun terseyum manis.

Malam harinya, Aku dan teman temanku segera pergi menuju rumah tua itu. Sampai di rumah tua itu, kami pun segera membuka pagar kayu yang sudah rusak. Halaman rumahnya pun sudah kotor. Kami pun segera membuka pintu rumah tua itu, lalu kami pun segera masuk ke dalam rumah tua itu. Di dalam ruangan rumah itu yang sepi dan gelap, kami pun terkejut melihat sesosok hantu muncul di hadapan kami. Kami pun sangat ketakutan.
“AAAAAAAAAAAAAAAA!” teriak kami.
Kami pun segera berlari. namun, kami pun malah sudah berada sebuah ruangan yang sangat gelap. Tiba tiba, Kami pun terkejut melihat sebuah kursi kayu terjatuh sendiri. Kami pun semakin ketakutan. hampir saja kami jatuh pingsan. Tiba tiba, kami pun melihat sebuah lukisan buatan Pak Yanto. Namun, lukisan Pak Yanto belum selesai. Kami pun segera mengambil lukisan itu.
“JANGAN AMBIL LUKISANKU!”
tiba tiba, kami pun terkejut mendengar suara teriakan. Kami pun segera menaruh kembali lukisan itu. Lalu kami pun segera keluar dari ruangan itu. ketika kami melewati sebuah kamar Pak Yanto, tiba tiba kami pun melihat hantu Pak Yanto yang sedang menangis di kamarnya. Wajah kami pun sangat pucat dan buluk kuduk kami pun terus merinding. Kami pun segera berlari. Tiba tiba, kepala kami mengenai sebuah benda jatuh. Kami pun terjatuh. kepala kami pun terasa pusing dan akhirnya kami pun pingsan.

Ketika kami siuman, kami pun sudah berada di rumahku. Ibu dan Ayah melihat kami sudah sadar.
“Syukurlah, kalian sudah siuman” kata Ayah dan Ibu lega.
“Yah, Ma, kenapa kami bisa berada di sini?” tanyaku heran.
“Tadi, tetangga kita melihat kalian pingsan. jadi, tetangga kita membawa kalian ke sini” jawab Ayah.
Kami pun mengangguk tanda mengerti. Sejak saat itu, kami pun tidak berani datang ke rumah tua itu.

The End

Cerpen Karangan: Zalika Melati
Facebook: Zalika Melati

Cerpen Hantu di Rumah Tua merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Si Ulat Sutra

Oleh:
Ada sepasang suami istri yang berumur sekitar 60 tahunan. ia merupakan seorang petani yang memiliki perkebunan murbei dengan berkecukupan yang sederhana. ketika sore hari pak tani pergi ke ladang

Sahabat Sejati Tak Sejati

Oleh:
Hari ini adalah hari pertama aku masuk Sekolah Menengah Pertama. Namaku Ulfah, aku seorang anak perempuan yang sangat suka dengan kata Sahabat. Tapi selama enam tahun di Sekolah Dasar

Aku Lupa Berdoa

Oleh:
Hallo teman-teman, perkenalkan namaku Ilyasa NurFauzi. Kalian boleh panggil aku Iyas. Aku duduk di kelas 5 SDN Sukaraja 2 dan aku tinggal di Sumedang. Aku mempunyai 1 orang kakak

Ulat Yang Sombong

Oleh:
Di sebuah hutan yang lebat, hiduplah 2 ekor ulat. Yang satu bernama Fintu yang bersifat ramah, rendah hati dan baik. Sedangkan yang satunya bernama Tuvi yang bersifat angkuh dan

Happy Ramadhan

Oleh:
Siang hari ini cuacanya sangat panas, Annisa yang sedag berpuasa pun jadi sangat haus, tapi ia berusaha untuk menahan hausnya. “Siang ini panas banget ya kak” kata Aminah adik

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

9 responses to “Hantu di Rumah Tua”

  1. Dwi Erika says:

    Gak Seberapa serem….

  2. Nada says:

    Betul bngtsss ka?

  3. Izar says:

    kata “pun” nya banyak bnget..
    gk enak bnget di bacanya.
    sorry!

  4. yuni says:

    Izal : iyaa 😀 gue aja heran krna kata PUN nya bnyk bgt !!

  5. Adiva says:

    terlalu banyak kata “kami pun”

  6. michael aurora says:

    kata pun nya terlalu banyak,trs tidak terlalu seram tapi sdh bagus kok cerpen nya ; )

  7. novie says:

    terlalu banyak kata “kami pun” ada 21 kata “kami pun”

  8. Febrinda Galuh Kirana says:

    Kata “Pun” sama “Kami pun” banyak banget, jadi gak enak dibacanya. Trus ceritanya gk terlalu serem

  9. Rara says:

    Duhh kak, gak serem, kata “Kami pun” buanyak banget… Gak terlalu bagus

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *